
"Niza" Teriak Iswara, terbangun dari tidur nya.
Malam pekat, mansion pun sudah sepi dan jam menunjukkan pukul sebelas malam.
Iswara beranjak bergeser, duduk di tepi ranjang dengan kaki menapaki lantai.
"Daniza kau baik-baik saja, bukan?!" Gumam Iswara, menepuk-nepuk dadanya dan setelah itu kembali membenarkan ikat rambut nya, menggelung rambut dengan cepolan sempurna.
Krieeett
Iswara menarik pintu kamar untuk pertama kali nya, perlahan supaya tidak ada yang terbangun ataupun terganggu.
Baju tidur berwarna putih menutupi mata kaki, lengan baju pun panjang. Langkah Iswara sangat pelan saat menuruni anak tangga.
Mansion gelap dan hanya ada beberapa ruangan yang bercahaya dan itupun temaram saja.
"Kaka sedang apa?"
"Astaga"
Hampir Iswara terjatuh tersandung kaki sendiri. Mengelus dada karena kaget, bahkan dia tidak jadi memegang gelas di atas meja yang ada di dapur saking kaget nya.
Mata Iswara malah mengedar ke sana kemari, tidak melihat Zevan yang sudah duduk di samping yang lain.
"Kak" Tepuk Zevan sekali lagi.
"Astaga" Iswara kembali berucap, dia pun langsung menoleh pada Zevan.
"Kakak lapar? Mau aku buatin susu hangat? Aku mau bikin, jadi biar sekalian!" Ucap Zevan beranjak dari duduk nya dan menyiapkan coklat, lalu mendidihkan air.
Zevan masih tidak mendengar sahutan dari Iswara, lalu menoleh kembali.
"Atau kakak mau makan?" Tanya Zevan kembali, Iswara menatap mata Zevan lalu kemudian menunduk sesekali memalingkan tatapan nya ke sana ke mari.
"Susu hangat boleh?"
Akhirnya Iswara bersuara. Zevan mengulas senyum lebar.
"Tentu boleh. Sebentar akan aku buatkan!" Zevan tambah semangat.
Aroma dari susu coklat di tengah malam semerbak, semua penghuni sudah terbiasa dengan aroma itu di tengah malam karena pasti Zevan pelakunya, tapi untuk malam ini bukan hanya Zevan tapi juga Iswara yang ada di dapur.
__ADS_1
Iswara duduk di kursi, menghadap Zevan yang sedang mengolah susu coklat itu dengan cekatan.
"Ini untuk kaka cantik!." Lebih dulu Zevan membuatkan untuk Iswara.
Binar dari mata Iswara terlihat, Zevan pun kembali tersenyum dengan lembut. "Kakak pasti akan suka" Ucap Zevan kembali.
"Apa kakak pernah minum susuk coklat di malam hari? Kami semua terutama putra-putri mommy sangat suka" Zevan malah berceloteh. Memang Zevan banyak bicara, apapun dia katakan.
Terbukti dari binar mata Iswara, jika dia tidak pernah menikmati aroma susu coklat yang sekarang ada di hadapan nya. Kepulan asap terus di resapi oleh Iswara.
"Aku bisa membuatkan ini setiap malam jika kakak mau!" Zevan menawarkan diri namun Iswara masih tetap menikmati susu coklat itu.
"Benarkah? Apa boleh?" Sari-sari kesenangan perlahan muncul dari wajah Iswara.
Walaupun dia memiliki ibu angkat dan adik angkat yang baik, tapi dia tidak pernah senyaman ini. Apalagi kakak angkat nya yang begitu gadungan dan nakal, membuat nya tidak betah di rumah.
"Boleh dong kak. Dengan senang hati!" Seru Zevan.
Senyum Iswara melebar sampai mata pun menyipit serta cekungan dangkal di pelipis terlihat jelas.
"Oh iya, Panggil Zevan saja kalau kakak ada apa-apa. Kamar kita bersebelahan!" Ucap Zevan.
Zevan perhatikan Iswara beda dari yang lain, dia tidak berani lama-lama menatap mata nya, padahal dirinya masih terbilang anak bocah.
Zevan harus lihat lagi, apakah Iswara hanya pada dirinya saja tidak berani menatap? Sepertinya jika salah, itu berarti dari sekian banyak keluarganya, baru Iswara gadis yang menjaga mata nya dan malu menatap saat bicara.
"Kalau gitu Zevan kembali duluan ya, Kak!" Pamit Zevan. Namun Zevan kembali menghentikan langkah nya sejenak.
"Kak kalau lapar, mommy tidak menyediakan mie instan di sini, jadi paling malam ini kakak makan buah dulu aja ya!" Seru Zevan kembali mendekati kulkas.
"Di sini juga tidak ada makanan, sepertinya sudah habis tadi! Ada buah saja. Kakak mau?!"
Zevan sedari tadi terus nyerocos, Iswara pun mendengarkan dengan baik sesekali senyum di kedua sudut bibir nya melebar. Kemungkinan dia senang mendengar perkataan dan juga intonasi serta nada bicara dari Zevan.
"Zevan" Ucap Iswara menghentikan Zevan yang hendak mengulas buah. "Kau istirahat saja, saya bisa sendiri mengupas buah nya!" Iswara hendak mengambil alih pisau tajam itu dengan tatapan lembut.
"Ah ini tidak masalah kak, aku bisa kok!" Tolak Zevan dengan kekehan kecil nya.
"Tidak perlu, saya juga bisa!" Iswara pun tidak ingin kalah.
"Ini—" Zevan mendorong piring dengan secepat kilat buah apel dan melon sudah terkupas bersih. Iswara melohok, perasaan begitu cepat bocah di depan nya mengupas buah.
__ADS_1
"Zevan ke atas duluan ya! Selamat istirahat." Pamit Zevan dan sekarang tinggal dirinya duduk di kursi dapur.
Tidak lama, Iswara pun kembali ke kamar dengan membawa sepiring buah dan coklat susu di tangan nya. Perlahan menaiki anak tangga seperti pertama turun tadi.
...**...
Rayya tengah berbincang di telpon, suara khas Leo terdengar berat, di tambah usia nya yang sudah tidak muda lagi.
"Hanya itu kan urusan nya? Jika di luar itu cukup selesaikan saja yang ada sangkut pautnya dengan keluarga mu, terutama Asnee."
"Iya Paman"
"Pasar itu sudah legal, sayang. Jadi jangan terlalu dalam mengorek nya! Urusan calon istri Asnee akan selesai, jadi usahakan jangan ada yang terlibat lagi dengan mereka"
"Iya Paman, Rayya tahu!" Ucap Rayya.
"Simpan saja plakat itu, untuk berjaga-jaga..." Ucap Leo kembali dari seberang sana.
"Tapi Paman Tunggu—" Rayya menajamkan pendengaran nya.
"Iya sayang kenapa?" Sahut Leo kembali.
"Paman sedang di mana?" Mata Rayya pun menyelidik di dalam kamar nya masih menajamkan pendengaran.
"Paman sedang dalam perjalanan pulang. Kenapa?" Lanjut Leo bertanya.
"Bohong" Cetus Rayya.
"Bohong bagaimana? Sudah larut malam, kau istirahatlah!"
Sambungan terputus, Rayya semakin curiga dengan keberadaan paman nya dan lagi kontak yang tersambung adalah kode negaranya.
"Paman, kau masih saja ceroboh" Gumam Rayya namun dengan senyum licik nya.
Di istana sudah sepi, sepertinya orang-orang sudah bersiap untuk istirahat.
Rayya pun mengganti pakaian nya dengan jeans juga kaos di lapisi jaket tebal. "Mereka baru kembali?" Di persembunyian, Rayya melihat Ayah dan juga Paman nya baru kembali.
"Tumben" Gumam Rayya. Dia pun ke luar dengan sembunyi-sembunyi.
...***...
__ADS_1