The Future King

The Future King
Eps 156


__ADS_3

Di depan gerbang istana, massa semakin sedikit, kemungkinan tenaga mereka semakin menurun.


Dari keramaian itu, Ryu menyelinap masuk seorang diri. Jika terlalu banyak yang masuk ke istana akan mengundang banyak mata.


"Istana Barat ya. Aku akan ke sana!" Gumam Ryu.


Jleg


Ryu turun dari tebing dan kini menatapi tanah area kerajaan, hilir mudik para pengawal tidak luput dalam pantauan mata Ryu.


Sedangkan di dalam ruang kerja Aat, dia nampak tengah menatap sebuah dadu dengan tiap balok nya masih berantakan. "Hampir selesai" Senyum itu begitu aneh. "Aku akan bahagia setelah ini" Lanjut nya dalam gumaman.


"Pangeran" Asisten yang juga tangan kanan Aat menghadap.


Aat menatap lurus pada kedatangan bawahan nya itu.


"Mereka masih ada di istana dan sama sekali tidak beranjak ke mana pun!"


"Bagus! Biarkan mereka tetap di sana. Selesaikan tugas mu." Sembari menyilangkan kaki dengan menumpu ke atas lutut kiri, Aat menyodorkan sebuah belati tajam ke arah sang asisten.


Kelopak mata membulat sempurna, Asisten itu pun perlahan mengambil belati dengan perasaan tidak enak. "Maaf Pangeran, untuk apa belati ini?" Asisten itu pun berlutut seraya bertanya.


"Tujuan saya hampir mencapai keberhasilan. Pasti akan indah nanti dan belati itu pun yang akan memberi saya kebahagiaan dan keindahan di akhir pencapaian."


"Kau sangat setia, bisakah sampai akhir mematuhi perintah saya? Saya akan sangat senang!"


Walaupun entah apa maksud dari tuan nya, tapi asisten sekaligus tangan kanan itu pun kembali berdiri. "Baik, Pangeran!"


Dia pun pergi.


"Huffhhh"


Wine pun masih Aat teguk setelah sang asisten pergi. Sorot mata nya belum bisa ketebak apa sebenarnya rencana yang dia rancang sampai melibatkan semua lembaga.


...**...


Asnee dan juga Rayya berada di istana Barat, mereka tidak beranjak pisah sampai kondisi di istana membaik.


Puk


"Maaf tuan—"


Pria bertopi itu terperanjat kaget saat bersembunyi di tempat yang gelap, seakan tengah mengintai mangsa dari kejauhan.


"Anda sedang apa?" Ryu. Ya Ryu sudah berganti pakaian layaknya seorang pelayan istana pada umum nya.


"Uh? Oh saya sedang mengawasi sekitar!" Sahut nya sedikit menjauh dari tubuh Ryu, seraya tangan kiri menyembunyikan lebih salam belati itu.


"Baiklah jika begitu saya permisi" Ucap Ryu namun nyatanya dia tidak pergi jauh dan terus memperhatikan gerak-gerik orang itu dengan tangan menyilang dari belakang dan jarak nya tidak jauh.


Orang Aat masih saja berjalan kesana kemari sampai akhirnya berhenti saat bayangan Asnee terlihat jelas di istananya. Ryu pun ikut melihat dengan jelas Asnee tengah berjalan bersama dengan Karl di samping nya.


"Kita bertemu lagi, tuan?!"


Orang suruhan Aat kembali terperanjat kaget saat seseorang menepuk pundak nya. Tangan kanan yang hendak menarik belati dari belakang punggung pun Ryu hentikan dengan menekan nya.


"Kau jelas-jelas bukan sedang memantau keadaan istana, tapi mengintai Pangeran Asnee. Tuan!" Bisik Ryu dari belakang telinga orang itu sampai orang itu terperanjat kaget.


"Anda salah paham, tuan!" Sangkal nya dengan nada suara kaget dan Ryu pun merasakan itu.


"Salah paham? Heum, otak saya masih normal dan mata pun masih tajam." Ryu mendorong pria itu sampai belati terlempar menjauh dari sang pemilik.


"Kau salah jika sudah mengincar kesayangan kami, Tuan! Pergilah dan Laporkan pada atasan mu jika percuma saja melakukan ini. Mangsa kalian yang sedang kau bidik itu terlalu banyak penjaganya."


Suara berat namun rendah, hampir tertelan kembali oleh tenggorokan sehingga terdengar sedikit menggeram.


"Ini yah?" Ryu berjalan mengambil belati dan menodongkan nya pada pria itu. "Kalian tidak melihat sedang bermain-main dengan siapa?" Ujung belati, Ryu todongkan seraya sedikit menekan, menggores kulit pelipis pria itu tipis-tipis.


"Soal nyawa, kami lebih tahu. Tuan!" Ryu menarik tengkuk leher pria itu dan membisikan kalimat yang lebih kejam.


Ekspresi pria itu ketakutan, keringat ke luar membasahi kening dan leher.


Grepp


Ryu terdorong saat serangan balik dari pria itu akhirnya terpancing. "Siapa anda? Hanya seorang pelayan istana saja sombong. Siapa atasan anda? Pasti bukan lah apa-apa di banding kan tuan saya yang sebentar lagi akan menguasai negara ini. Jadi jaga sikap anda. Tuan!" Lawan balik pria itu sembari membersihkan baju dan celana nya.


Ryu pun berdiri ikut menepuk-nepuk baju juga celana nya.


"Semua orang istana sudah tahu siapa yang benar dan siap yang salah. Kau yakin masih memilih kubu itu? Tch Tch Tch, kau akan rugi, tuan!" Nada meledek Ryu sama saja, cara bicara nya membuat lawan down dan langsung tidak percaya diri.


Pria itu menyusut darah di pelipis nya, tidak terima.


"Pelayan hina seperti mu tidak akan ada yang menampung jika sudah tidak berguna,. Tch tch!" Hardik pria itu dengan segala ucapan nya, dia menyepelekan seorang pelayan.


Tidak tahu saja, orang-orang di organisasi empat keluarga besar tidak ada yang namanya kasta. Mereka semua rata, tidak di beda-bedakan dan sayang nya orang-orang dalam mafia-mafia itu penuh dengan orang cerdas, jadi tidak mudah untuk mengelabuhi.


"Benarkah? Kalau begitu sampaikan pada atasan mu untuk lebih berhati-hati!" Tekan Ryu malah semakin menyunggingkan salah satu sudut bibir nya.


"Dan maafkan pelayan rendahan ini karena telah mengganggu pekerjaan anda!" Lanjut Ryu. Mimik wajah Ryu semakin tidak di sukai oleh pria itu.


Seakan di rendahkan oleh pelayan di bawah nya, pria itu menarik pundak Ryu dan memukul wajah nya.


Duaghh


Darah segar mengalir dari hidung, Ryu malah tertawa iblis seraya menyeka darah.


"Ah hahahah wow. Sudah lama darah ku tidak ke luar! Ssshh masih belum cukup. Ah hahah ini menyenangkan sekali!." Ryu malah kegirangan menatap darah nya sendiri, membuat orang yang melihat nya merinding. Tatapan Ryu pun perlahan nyalang tajam pada lawan nya.


Duaghh


Duaghh


Secepat kilat tanpa terlihat gerakan. Ryu memukul pria itu sampai terpelanting lumayan jauh, namum tidak terdengar keributan. Pukulan Ryu begitu senyap dan juga hening, tidak ricuh ataupun


Duagh


Duagh


Duagh

__ADS_1


Ryu memukul bolak-balik wajah pria itu. Jari jemari Ryu pun merah dengan darah dari pria itu.


"Lembek sekali!" Ledek Ryu beranjak berdiri, mengibaskan jemari nya agar terasa rileks.


Pria itu kabur begitu saja, terbirit ketakutan dengan keberadaan Ryu.


"Ah tidak seru" Ryu menekan earphone di telinga nya dan malah mengeluh sampai telinga orang-orang yang memakai earphone dan terhubung dengan nya menarik nafas heran dengan kelakuan rekan-rekan nya. Jika di lepas malah lebih girang, seperti anak kecil yang di beri mainan baru.


...**...


Brakk


"Aat kau jangan keterlaluan! Kau menghina leluhur kita dengan bertingkah serakah seperti ini!"


Bukan lagi Aaron tapi Ananada-raja terdahulu yang juga sebagai ayah dari mereka berdua yang kini marah. Semua orang di istana menjadi tahu dan kabar berita dari sudut ke sudut istana mengetahui kasus nya.


"Ingat Aat, Tahta raja akan di turunkan kepada anak sulung dan itu turun menurun. Kau juga paham dengan sistem itu!"


Ananada murka, kemarahan nya tidak bisa di tahan lagi. Ibu Suri Rataporn pun ada di sana, diam dan hanya mendengarkan. Untung saja nenek Suri sudah di bawa ke rumah tempat liburan nya dan London sangat jauh dari Thailand.


"Kau tanya, apa Aaron awal nya mau menjadi penerus tahta? Kau juga tahu bagaimana kakak mu waktu itu, Aat! Kau juga jangan lupa apa yang kau katakan saat menolak untuk di beri tahta, tapi kenapa baru sekarang? Kau menelan ludah mu sendiri jika ujung nya seperti ini!"


Perseteruan dalam keluarga kerajaan semakin memanas. Ananada yang biasa nya tidak pernah marah kini naik pitam. Putra ke dua nya lepas dari pengawasan, entah dari kapan Aat memiliki tujuan selicik itu.


"Dulu dan sekarang sudah bukan lagi. Jika aku mau maka tetap akan aku lakukan dan tidak akan melihat siapa yang menjadi kerikil dalam tujuan ku maka tidak akan aku pandang siapa dia!" Seru Aat begitu kuat akan tujuan nya.


"Aat?" Ananada menekan dada hampir terjatuh dari berdirinya. Ibu Suri Rataporn reflek menahan begitupun dengan Aaron.


Duagh


Brugh


Aaron lepas kendali, dia memukul tidak segan wajah adik nya, yang faktanya pukulan itu baru pertama kali dia layangkan pada sang adik.


"Hahahaha" Aat yang tergeletak tertawa puas. Ananada dan Rataporn semakin heran dengan putra ke dua mereka, kenapa jadi jahat .


"Lancang sekali kau, Aat!" Teriakan Aaron menggema sampai pengawal dan dua pelayan wanita yang ada di luar langsung tersigap dan lutut mereka bergetar karena kaget.


"Apa sebenarnya tujuan mu ini hah? Kenapa, kenapa baru sekarang? Kenapa baru mengeluh sekarang? Sebelum ini ke mana, hah?" Aaron dengan kasar menarik kerah baju Aat dan mengguncangnya begitu kencang.


"Lepas brengsek!" Aat pun tidak kalah kasar. Cengkraman pada baju nya dia tepis dengan kasar pula sampai Aaron tersungkur.


"Kau mau mengelak sampai mana? Bukti pemberontakan mu sudah banyak. Aat! Pengadilan istana akan memanggil mu beberapa hari ke depan dan kau harus mempertanggung jawabkan apa yang kau lakukan itu!"


Suara Aaron benar-benar menekan, menunjuk kasar ke arah Ast dengan pasti.


"Kekacauan di pemerintah kota yang waktu itu pasti ulah mu juga bukan? Lalu di hari penyambutan wali kota serta di hari santunan dan juga malam natal waktu lalu, itu juga pasti kau yang merencanakan keributan kan?!" Sidak Aaron dengan beberapa keadaan yang mencurigakan waktu itu, namun dia terus berpositif.


"Ah berisik"


Sikap Aat semakin membuat keluarga terkaget. Dia kembali duduk di kursi seakan tidak terjadi apa-apa.


Ddrrrrgg


Namun sedetik kemudian, Aat kembali berdiri dengan suara kaki kursi menggesek lantai terasa ngilu.


"Mau kemana kau? Bicara kita belum selesai." Tahan Aaron.


Entah harus bagaimana lagi Aaron menyadarkan Aat, bahkan kedua orang tua nya bingung harus melakukan apa dengan aksi Aat itu.


Kabar kericuhan di dalam ruang istana sampai ke telinga Asnee dan juga Rayya, mereka hendak pergi ke istana tapi Karl lebih dulu mencegah mereka. Rayya lebih dulu pergi namun bukan ke arah istana Aat melainkan ke arah keberadaan Ananada.


"Tidak Karl, saya takut mereka menjadi korban dari Paman Aat! Jangan halangi jalan saya!" Tatap Asnee pada Karl.


"Maaf Pangeran, tapi Ibu Suri memerintahkan saya untuk menjaga tempat ini beserta isinya." Ucap Karl dengan berat hati, menunduk tidak berani menatap Asnee yang nafas nya sudah memburu.


"Minggir"


Asnee semakin tidak terima. Karl tetap menghadang tuan nya.


"Minggir" Asnee mendorong Karl ke samping. Tenaga nya ternyata masih lah kuat.


"Pangeran saya moho—n" Karl memohon agar Asnee tidak pergi, tapi permohonan nya tidak di dengarkan. Asnee berlalu pergi dan Karl berusaha tidak berada jauh dari tuan nya.


Sampai di depan ruang kerja Aat, Asnee pun di hadang oleh dua pengawal penjaga. "Maaf Pangeran. Pangeran Aat sedang istirahat!" Cegah mereka.


"Minggir" Nada suara Asnee masih biasa, meminta pengawal itu untuk tidak ikut campur.


"Kalian tuli?" Sorot mata Asnee mulai berubah. "Minggir. Saya hendak menemui atasan kalian." Dengan kasar, Asnee mendorong mereka dan


Braakkkk


Asnee mendorong pintu itu dengan begitu keras. Aat yang sedang berada di dalam pun langsung berdiri.


Cara jalan Asnee begitu cepat dan melangkah lebar yang akhirnya Aat pun tidak sadar karena kini Asnee sudah berada tepat di depan nya.


Kreass Brakk


Asnee menarik kasar kerah baju Aat tanpa pandang bulu dan mendorong nya hampir menabrak rak kesayangan Aat di dalam.


"Pecundang!" Seru Asnee. "Berani sekali memukul Raja?"


Asnee kembali menarik tangan Aat dan mencengkram leher nya. "Aku peringatka—!"


Belum juga Asnee selesai bicara. Aat mendorong tubuh nya begitu kasar.


Aksi perkelahian pun tidak bisa lagi di hindari. Asnee dan Aat berkelahi dengan pintu ruang keja di kunci dari dalam.


Brughh


Duahhh


Duagh


Duagh.


Asnee menyerang Aat semakin membabi buta. Aat yang notabenenya sama sekali tidak mengerti bagaimana sesungguhnya pertahanan yang baik, terlihat kewalahan.


"Selama ini kami percaya pada mu, Paman! Tapi kenapa sekarang menjadi seperti ini?" Suara dan nada bicara Asnee sangat dingin, banyak sekali rasa kecewa yang terpancar dari mata.

__ADS_1


"Itu masalah kalian! Saya tidak peduli."


Krusuk.


Aat membanting tubuh Asnee sampai kertas-kertas yang ada di atas meja pun seketika berantakan.


"Hahaha ternyata ini wajah asli mu?" Asnee membuka kancing baju bagian atas nya, berdiri tegap dan menyeka darah di ujung bibir.


"Hahaha, ah ketahuan!" Seru Aat. Dia berjalan menuju sofa, dia malah duduk meraih segelas wine yang sudah tersaji.


Asnee menaikkan satu alis nya, dia berpikir sejak kapan paman nya suka minum. Kala Aat meneguk wine itu terlihat adanya paksaan untuk masuk, terlihat jelas dari kening dan jakun di leher nya.


"Ah iya, kau harus mengucapkan selamat tinggal pada seseorang!"


Asnee menyelidik saat Aat mengoperasikan handphone nya.


"Halo Tuan"


Sapa seseorang dari sana saat panggilan Video tersambung.


"Arahkan kamera pada gadis itu" Ucap Aat. Asnee sadar, dia mengepalkan tangan.


'Eumpphhh'


Teriakan Daniza terdengar dengan mulut tersumpal.


"Hai cantik" Sapa Aat dengan begitu puas. Aat menoleh pada Asnee. "Ayo jangan malu-malu, calon istri cantik mu ini ingin melihat wajah calon suami nya" Aat mengarahkan layar pada Asnee dengan tanpa merasa jika apa yang dia lakukan itu sangat tidak benar.


"Kemana kau membawa Daniza?" Tatapan Asnee begitu nyalang dan tidak terima.


"Kenapa? Kau merindukan nya?" Seru Aat malah mempermainkan Asnee saat ini.


"Cepat katakan selamat tinggal sebelum dia mati!" Aat terus menggertak Asnee. Raut wajah nya sangat suka melihat Asnee yang nampak sedikit ketakutan.


"Huffhh"


Asnee menarik nafas begitu dalam. "Kau yakin bisa melakukan itu? Aku merasa kau pun masih merasa ragu. Bukan begitu?" Asnee malah semakin membuat Aat mengaum.


'Eummphhh'


Teriakan Daniza semakin menyaring kala orang di sana menyiksa nya.


"Kau mau melihat nya? Dia sangat cantik saat berteriak seperti itu!"


Asnee tanpa pamit dan menyahuti ucapan Aat langsung pergi dengan dada bergemuruh ingin sekali mengamuk saat ini juga, tapi tidak bisa, kegaduhan akan terjadi dan itu membuktikan jika pengunjuk rasa itu benar, kalau dirinya tidak pantas untuk menjadi penerus Raja.


...**...


Sedangkan di tempat lain. Si Kembar tengah berada di dalam mobil dengan Sean mengemudi menuju tempat yang ternyata jauh dari titik berhenti mobil yang membawa Daniza.


"Sepertinya itu" Tunjuk Shane saat mata nya melihat satu mobil di halangi banyak ranting di atas nya seakan terlihat seperti rongsokan, tapi nyatanya bukan.


Si kembar pun turun serta satu mobil di belakang di mana mereka dari tim intel yang menginformasikan jejak dari orang yang membawa Daniza.


"Tidak ada orang" Ucap Shabila saat memeriksa isi mobil begitupun dengan Shane.


"Ayo, kita cari mereka" Ucap Sean semakin masuk.


Tempat itu seperti kebun pada umum nya, namun tidak ada rumah satu pun di sekitar. Sean, Shane dan juga Shabila terus masuk dengan masing-masing memiliki jarak beberapa meter. Sedangkan rekan yang lain mencari ke arah yang lain nya.


Dengan kode, Sean menunjuk ke depan di mana ada orang yang tengah mondar-mandir entah tengah mencari apa.


"Lanjut" Kode tangan pun kembali bergerak.


Hampir dekat, Sean dan Shane berhenti dan membiarkan Shabila melanjutkan langkah nya.


"Maaf—"


Sepertinya suara Shabila mengagetkan orang itu sampai rokok di mulutnya hampir saja tertelan.


"Maaf, maafkan saya. Tuan!" Akting Shabila memang sudah tidak perlu di ragukan lagi. Dia semakin mendekati pria itu dengan raut wajah yang sebisa mungkin harus membuat lawan merasa kasihan.


Pria itu mengedarkan kedua mata nya, melihat-lihat sekeliling. "Seorang perempuan berkeliaran di tempat seperti ini sendirian?" Dari sorot mata pria itu pun sudah bisa di tebak.


"A'ah? Hahahahah—"


Duagh


Duagh


Duagh


Tanpa basa-basi, Shabila memukul pria itu dalam hitungan detik dan tentu saja musuh langsung tergeletak di atas tanah.


Tidak jauh dari sekarang dia berdiri, ternyata ada rumah yang jika di selidik, kaca pun sudah pecah. Keadaan rumah sudah tidak layak huni.


"Shan, Sean cepat!" Gerakan tangan dan gerakan mulut bersamaan memanggil. Sean juga Shane pun melangkah lebih cepat.


Sampai di depan teras yang sudah sangat kotor itu, si kembar menyelinap dengan tangan kosong tanpa senjata apapun.


'Eumppphh'


'Eumphh'


Suara itu samar, namun bagi si kembar jelas terdengar.


"Ada suara" Ucap Shane pelan. Tanpa rasa takut, si kembar malah melenggang masuk tanpa mengendap-endap.


Di ruangan paling awal, tidak seharus nya Shane terutama, walaupun sudah menikah tapi rasanya mata mereka seakan ternoda jika melihat hal yang berbau intim.


"Owh" Seru Shane juga Shabila bersamaan. Sambil duduk, dua orang itu terlihat tengah bercinta dengan lidah masih saling tertaut.


"Benar-benar biadab". Sean melengos, menarik nafas dalam dan membuang nya begitu berat.


Dua insan yang ketahuan malah terbengong, mereka telanjang dada dan seketika melebarkan kelopak mata karena orang-orang itu asing di mata. "Sial" Umpat mereka cepat membenarkan baju mereka.


Si kembar naik ke lantai atas satu persatu, seperti tengah menyurvei rumah yang akan mereka beli. Kode mata Sean pada kedua adik nya untuk masuk lebih dulu karena ada suara dua orang tengah berbincang.


"Ternyata di sini?"

__ADS_1


Menoleh bersamaan, mereka terbengong dengan keberadaan si kembar yang tiba-tiba muncul entah dari mana


__ADS_2