The Future King

The Future King
Eps 155


__ADS_3

Tim Basarnas pun datang, namun bukan anggota dari sebuah lembaga yang ada di kota itu melainkan Basarnas dari tim Divisi yang menjadi bagian Mafia.


Evakuasi pun tengah di lakukan, Asnee dan Rayya menunggu hasil dari pencarian dan hasilnya masih belum terlihat.


"Rayya" Suara dengan nafas memburu pun masuk ke dalam pendengaran. Rayya juga Asnee menoleh di antara banyak orang yang tengah mencari korban.


"Han" Rayya berhamburan ke dalam pelukan nya. Dari belakang Ahan pun terlihat Simon berjalan dengan tergesa dan juga mata nya terus mengedarkan tatapan.


"Bagaimana kondisi nya? Apa sudah ada hasil?" Tanya Ahan setelah melepas dekapan nya pada Rayya.


"Masih belum, sepertinya sangat dalam sehingga mereka kesusahan mengevakuasi!" Sahut Rayya. Asnee hanya diam tanpa menyahuti apapun. Pikiran nya sedang tidak fokus untuk saat ini.


"Aku sudah menyarankan dia untuk berusaha tidak terlibat dalam masalah istana, tapi kenapa sekarang dia yang menjadi sasaran?" Dada kembang kempis, suara pun masih memburu, rahang menegas dan sorot mata semakin tajam. Simon tidak mudah mengkontrol emosi nya jika sudah mengenai masalah Daniza.


"Kau tahu masalah istana?" Tanya Asnee dengan mata selidik.


"Lebih dari yang kau bayangkan, Pangeran!" Seraya melengos, Simon mendekati tim Basarnas yang masih melakukan pencarian.


"Apa iya?" Gumam Asnee perlahan menatap Ahan begitupun dengan Rayya. Ahan mengangguk membenarkan.


"Astaga" Asnee juga Rayya membuang nafas seraya mengusap kening masing-masing.


"Tuan_" Teriak semua orang saat Simon menceburkan diri ke laut tanpa pengaman setelah berbincang dengan tim Basarnas yang tengah kesulitan.


Asnee, Rayya juga Ahan menoleh cepat dan menghampiri orang-orang. "Dia masuk ke sana?" Tunjuk Rayya.


"Benar nona, bagaimana ini?"


Tentu saja siapa yang tidak kaget dan khawatir melihat seseorang menyelam ke dalam luat tanpa pengaman satu pun.


"Tidak perlu khawatir, dia tidak akan mati hanya menyelam tanpa menggunakan pengaman!" Ujar Ahan ikut bersiap menyusul Simon, membuka sepatunya dan juga menyingsingkan lengan baju nya.


"Apa sepandai itu? Di dalam sangat berbahaya." Cegah Rayya. "Dan kau mau kemana?" Tahan Rayya.


"Tidak perlu khawatir, aku akan membantu mereka melakukan pencarian agar lebih efektif!" Ucap Ahan.


Rayya memberengut, dia tidak melanjutkan cegahan nya.


"Aku akan baik-baik saja" Ucap Ahan mengelus pucuk kepala Rayya dan langsung menuju tepi laut.


"Kak, mereka ini emang bukan pengawal biasa " Seru Asnee.


Proses pencarian pun masih berlanjut, Simon dan Ahan pun muncul ke permukaan dan mengkode tim Basarnas agar mendekati nya.


Tidak lama semua orang bersiap untuk menarik mobil yang tenggelam. Asnee juga Rayya pun mendekat saat Ahan dan Simon ke luar dari air dengan basah kuyup.


"Tidak ada siapapun di dalam mobil, tapi keadaan mobil itu sudah rusak parah" Ucap Simon dan juga Ahan.


"Daniza tidak ada di sana? Kalian yakin?" Seru Asnee semakin khawatir.


"Tidak ada jejak Daniza di sana. Dia pasti ke luar sebelum jatuh ke sana" Ucap Simon kembali sembari menyugar rambut nya.


Mobil pun berhasil di tarik ke luar dengan sempurna, di dalam nya sudah kosong, tidak ada siapapun dengan pintu sudah dalam keadaan terbuka semua.


Asnee, Rayya pun mendekati mobil itu. Simon dan Ahan pun sama ikut mencari sesuatu di mobil itu dengan jaket hangat tim Basarnas di kenakan di pundak mereka.


"Kaca ini bukan pecah karena benturan pembatas jalan, sangat beda!" Asnee memperhatikan kaca pintu mobil yang retak dan tengah nya bolong.


"Ini sengaja di terobos masuk, pasti ada yang memecah kaca ini." Lanjut Asnee.


Mata mereka pun ikut memperhatikan.


"Dan jika memang ini kecelakaan karena menubruk pembatas jalan, kecil kemungkinan bagian belakang mobil akan rusak! Tapi lihatlah ini—" Tunjuk Simon. Ahan pun ikut memperhatikan. Asnee juga Rayya pun memeriksa.


Asnee pun kembali mencari sesuatu di dalam mobil itu sampai di mana dia menemukan sobekan baju yang warna nya sangat dia kenali. Warna baju khusus untuk supir istana,. Ya, pasti milik supir yang pergi bersama Daniza.


"Tuan"


Belum juga selesai dengan penyelidikan yang lain. Tim Basarnas yang tadi kembali menyelam dan beberapa memakai Speedboat pun kembali dengan membawa mayat yang sudah terbujur kaku. Hampir tidak di kenali karena wajah nya yang tergores kaca dari setiap sudut.


"Benar, ini supir istana"


Rayya sangat mengenali karena dia yang ikut merekrut bagian supir untuk istana.


Dari hanya tim intel yang menemani, kini tim Basarnas turun untuk itu area pantai itu sangat ramai di tambah dua mobil polisi yang tiba-tiba datang entah dari mana.


Atensi mereka pun menatap kedatangan dua mobil polisi itu. Empat polisi turun dengan dua pemuda yang hanya memakai jaket kulit berwarna hitam.


"Tuan Kecil. Nona" Sapa mereka.

__ADS_1


Tentu saja siapa yang tidak kaget dengan sapaan mereka, terutama Simon dan juga Ahan. Bahkan polisi pun menyapa Asnee juga Rayya dengan panggilan kesayangan dari keluarga mafia.


"Iya?" Asnee masih menatap tanya.


"Kalia—n?" Rayya pun ikut menunjuk.


"Maaf sebelum nya, Tuan kecil, Nona— Kami di bawah perintah tuan Collen yang baru saja sampai di kantor dengan membawa informasi mengenai kecelakaan ini, untuk itu kami akan membantu penyelidikan!" Tutur salah satu dari mereka dengan melebarkan senyum ramah.


"Paman Collen ada di sini? Sekarang dia di mana?" Tanya Rayya.


"Beliau sedang berada di kantor layanan masyarakat. Mungkin ada keperluan di sana!" Ucapnya. "Saya izin untuk memeriksa korban" Lanjutnya meminta izin. Asnee pun mempersilahkan.


"Kita tidak bisa mencari hanya sekitar ini. Kemana sebenarnya mereka membawa Daniza?" Gumam Asnee memijit kening bingung.


Pikiran mereka pun kosong, belum bisa menduga-duga ke arah mana harus mencari Daniza.


"As kita harus tenang. Pasti Daniza akan di temukan! Untuk saat ini kita tidak boleh pulang larut, pasti akan ada mata-mata paman mengintai istana kita." Tutur Rayya.


Kondisi saat ini akan sangat ricuh jika massa mengetahui jika Asnee berada di luar.


"Robert dan Kevin pasti sedang sibuk dengan pelatihan mereka, aku tidak bisa membuat mereka terbebani—"


"Memang nya kenapa?" Seru Rayya pada Asnee.


"Meminta bantuan untuk ikut mengamankan pengunjuk rasa dan meredam tenaga mereka yang walaupun sangat sia-sia itu, tapi tetap saja akan semakin ricuh!" Ucap Asnee.


"Kenapa harus meminta bantuan mereka, tuan kecil?!"


"Kakak?"


Serempak Asnee juga Rayya meninggikan suara mereka.


Si Kembar berdiri berdampingan satu sama lain dengan Shabila berada di tengah.


"Kalian ada di sini?"


Senyum lebar dari Shabila menghipnotis orang-orang di sana, seakan seketika bumi terhenti dan detik kemudian kembali normal.


"Bagaimana kita bisa berdiam diri saat ada pihak yang dengan gamblang nya hendak mengacaukan tanggal acara pertunangan tuan kecil kami?" Shane pun ikut mendekat menepuk pundak Asnee berulang.


Simon semakin mendekati Ahan dan menyikut tangan nya.


"Hati-hati, nona itu sudah bersuami" Ucap Ahan mengingatkan. "Oh dan satu lagi. Suami nya bisa menyabut nyawa mu saat ini juga kalau tahu dia menatap istri tercinta nya dengan mata cabul mu!"


"Dih, sok tahu!" Cibir Simon yang kenyataan nya dia memang tidak tahu menahu soal orang-orang baru yang datang.


Kini Shane, Sean dan Shabila berada di dalam kabin mobil begitupun dengan Rayya dan juga Asnee.


"As dengarkan kakak. Untuk saat ini jangan ke mana-mana! Seseorang pasti sedang memantau keberadaan mu dan pastinya jika dia akan mengincar nyawa mu jika keadaan sudah menyudutkan nya"


"Jadi serahkan Daniza pada kami dan untuk soal unjuk rasa itu akan kami bereskan sampai orang yang harus bertanggung jawab kami pantau"


"Collen tengah mengatur itu dan untuk Pangeran Aat jangan biarkan dia sejengkal pun ke luar dari istana. Kalian juga harus saling pantau! Rasa nya ada yang tidak beres dengan paman kalian ini!"


Sean memberi arahan kepada kedua adik nya itu. Masalahnya sistem kerajaan saat ini sangat lah berbeda. Bisa saja dirinya dan juga ketua mafia lain nya seperti Shane juga Shabila mendatangi Aat dan menyeret nya untuk di hakimi, tapi jika gegabah seperti itu masalah nya akan semakin rumit dan runyam.


"Bagaimana kalian bisa tahu jika kami sedang di sini dan masalah kerajaan? Bukan kah tidak ada lagi tim intai yang di tempatkan di sekitar?" Asnee mulai curiga.


"Hahaha kau ini lucu sekali, As! Kami tidak perlu menempatkan seseorang di sekitar kalian, jika sudah informasi itu harus sampai ya pasti sampai!" Shabila tertawa jenaka dengan kecurigaan Asnee.


"Kami memang sudah tidak, tapi kau tahu berapa bawahan yang di pimpin oleh keluarga mu ini? Owh tentu saja banyak, untuk itu tidak perlu repot-repot menjadikan mereka mata-mata" Timpal Shane.


Kenyataan nya memang seperti itu.


Kabar yang sampai dari Nara pun menjadikan kecurigaan mereka semakin membuncah, untuk itu si kembar malam itu juga langsung memutuskan untuk terbang ke Thailand.


"Tapi aku mau ikut mencari, kak! Bisakah seseorang menggantikan aku di istana?" Ucap Asnee.


"Tidak As. Jika Paman gila mu itu tahu kalau kau tidak ada maka keluarga mu yang lain akan menjadi korban nya! Otak seperti itu sudah bisa kita tebak ke mana arah kejahatannya." Tukas Shabila. Shane juga Sean mengangguk membenarkan.


Setelah perbincangan yang begitu lama, akhirnya Si kembar membawa Asnee juga Rayya pulang memakai pintu yang di mana mereka ke luar.


"As, pastikan kalian aman. Akan ada rekan kakak yang akan masuk ke dalam! Kalian tunggu mereka datang." Ucap Sean.


Ahan dan Simon pun ikut mengantar Asnee juga Rayya.


"Mereka akan ikut bersama kakak" Cegah Shabila mencekal pergelangan tangan Ahan. Saling tatap satu sama lain, Shabila mencegah Ahan dengan sangat yakin.


"Eum!" Angguk Rayya.

__ADS_1


"Usahakan kalian aman, rekan kakak akan masuk" Ucap Shane ikut mengulang kata-kata Sean.


"Kak, kalian hati-hati" Ucap Asnee. "Aku akan berusaha untuk menenangkan orang-orang di istana" Lanjut nya.


Si kembar, Ahan dan juga Simon belum beranjak pergi karena punggung Asnee juga Rayya masih terlihat.


"Ayo" Ucap Sean. Asnee juga Rayya sudah masuk ke dalam gerbang istana yang tadi mereka berdua lewatj untuk ke luar tadi, jadi Sean pun bersiap untuk ke tujuan selanjutnya yaitu mencari calon adik ipar.


Di lain tempat, Collen telah menangkap beberapa kepala yang telah dia tandai sebelum nya. Untuk mengorek kebenaran dari mulut-mulut penuh sumpel uang hanya akan sia-sia, tapi dia punya cara agar orang-orang itu buka mulut.


"Dengar. Saya masih lembut sekarang. Jika tidak, memotong ******** mu hanyalah sebuah hukuman yang ringan saja untuk ku, tapi sshhh ada yang lebih menyenangkan dari ini!" Collen duduk di atas kursi tunggal, menghadap ke arah di mana mereka tengah berlutut. Senyum smirk nya terpatri jelas dari sudut bibir nya.


"Katakan!" Collen mulai kejam. Belati, tembakan serta beberapa benda tajam di atas meja dibiarkan tergeletak.


"Katakan, siapa yang membayar kalian!?" Tekan Collen, melilit rantai kecil panjang pada lengan nya sesekali menepuk-nepuk pada pipi mereka.


Otot dan otak memang juara nya para tangan kanan mafia itu, hasilnya tidak akan mengecewakan. Collen harus memberikan informasi lengkap pada Nara agar tuan nya itu memegang banyak bukti untuk menjatuhkan musuh.


...**...


Sebuah helikopter mendarat di tanah yang begitu luas dan sekarang si kembar, Ahan dan juga Simon pun berada bersama mereka.


"Tuan" Sapa pemuda yang usia nya tidak beda jauh dengan Ahan juga Simon.


"Pastikan kau masuk ke istana dengan sempurna, pantau keadaan dari dalam. Pastikan mereka aman! Kabari kami jika tugas kalian menemui kendala"


"Baik, akan kami pastikan semua nya aman!" Ryu. Ya dia adalah Ryu tangan kanan dari Sean.


Pertanyaan nya bagaimana mereka bisa masuk jika gerbang itu saja di jaga ketat. Ahan dan Simon masih berpikir sedangkan Mafia-mafia itu sudah di luar otak.


"Tuan sudah siap—" Dari belakang Ryu, satu pria menghampiri.


"Kalian bisa membantu kami? Keadaan di sini serahkan pada kami. Kalian akan di arahkan oleh rekan-rekan kami termasuk Paman Lexi._" Tutur Shabila terutama sembari menatap Ahan karena pasti dia tahu siapa Lexi.


"Tolong kerja sama nya" Timpal Shane saat Simon hendak menukas ucapan Shabila.


"Tapi apa yang kalian rencanakan? kenapa kami harus ikut terbang dengan heli ini?" Simon akhirnya bisa bertanya saat ucapan orang-orang asing di depan nya selesai.


"Untuk memastikan jika acara pertunangan adik kami lancar!"


Entah apa yang di maksud oleh si kembar, Simon serta Ahan masih belum bisa mencerna kalimat itu yang terus terlontar dari mulut mereka sedari datang.


"Silahkan!" Ucap Shabila. Sean tidak ikut bicara, dia tidak banyak bicara untuk saat ini setelah Asnee juga Rayya kembali ke istana.


"Kalian akan di beritahu tugas oleh mereka nanti!" Lanjut Shabila kembali mempersilahkan karena waktu nya tidak banyak.


Suara dari balik earphone pun kembali bersuara. Si kembar kembali menggunakan earphone itu agar terhubung satu sama lain.


"Kami menemukan jejak mereka" Informasi yang sangat cepat kini terdengar dari laporan rekan-rekan yang tengah bertugas mencari ke mana Daniza di bawa pergi.


Pencarian keberadaan Daniza seperti mencari jarum di antara jerami, tapi kemampuan rekan-rekan dari mafia pun tidak bisa di remehkan.


"Kami ke sana" Ucap Sean yang lebih dulu masuk ke dalam mobil dan sekarang diikuti oleh Shane juga Shabila.


Tanpa menunda waktu, si kembar pun akhir nya berangkat.


Ryu masih berada dengan mereka menatap Simon juga Ahan. "Jangan sampai mengecewakan kami" Ucap Ryu seraya berlalu pergi.


"Tuan mari—"


Simon dan juga Ahan pun naik ke dalam helikopter dan akhirnya mereka pergi pada tugas masing-masing.


Sedangkan keadaan di istana senyap seperti tengah kosong.


duk


duk


duk


Dari luar, Ibu Suri Rataporn membuka pintu dari balik tempat istirahat nya. Lorong itu benar-benar panjang, buktinya mereka baru sampai.


"Kalian sudah kembali?" Ibu Suri Rataporn membantu Rayya berdiri sesekali melirik ke belakang keberadaan dua cucu nya.


"Daniza nya mana?" Tanya Ibu Suri Rataporn.


"Masih dalam pencarian, Nek!" Seru Asnee menepuk-nepuk baju nya.


"Astaga, semoga dia baik-baik saja" Ibu Suri sangat khawatir, dia tidak pernah lagi khawatir seperti ini setelah dulu Asnee hilang.

__ADS_1


__ADS_2