
Keesokan harinya, sesuai dengan perintah dari Raja, pejabat-pejabat negara hadir satu persatu dengan membawa rasa penasaran mereka.
Undangan yang tersebar tiga jam pagi menggemparkan seisi ruang pemerintahan dan tatanan yang masih berkaitan dengan kenegaraan.
'Ada apa, ada apa?'
Rasa penasaran mereka tentu sudah begitu membuncah, untuk sekarang pun para wartawan dan reporter di izinkan hadir, begitupun pengunjuk rasa yang semalaman berdiam di depan istana.
"Salam Raja"
Semua orang menunduk, memberi salam menyambut kedatangan Raja Aaron di ikuti oleh ajudan Bian di belakang nya.
Tentu ruang rapat itu masih terlihat berantakan walau tidak seperti semalam, sudah lumayan di rapihkan.
Pihak yang memang tidak tahu menahu soal pemberontakan akan semakin bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi.
"Seperti yang kalian tahu, pengunjuk rasa tidak ada hentinya berteriak di luar istana dan tidak sabar mengkudeta posisi Raja."
"Saya, Raja Aaron dengan tegas memberi peringatan pada siapa saja yang terlibat dan berkompromi. Semua pihak terkait akan di hukum dengan pasal pemberontakan terhadap raja dan hukuman terberat adalah hukuman mati. Peraturan ini akan berlaku dari sekarang dan untuk ke depan nya"
Suara berat Aaron mendegupkan jantung para mentri dan anggota nya. Bisik-bisik dan sanggahan yang hendak terlempar pun kini tidak Aaron izinkan.
"Tidak ada sanggahan, apalagi protes. Berlaku untuk semua rakyat!"
Perkataan Aaron benar-benar tidak ada yang memotong, bola mata mereka pun seakan protes ingin ke luar saking terkejut nya.
Dughh
"Raja maaf lancang, sebenarnya ada apa ini? Anda tiba-tiba membuat ultimatum hanya dalam waktu beberapa jam yang lalu? Kami di sini masih bertanya-tanya mengenai pasal ini!"
Dengan berani, mentri yang selama ini berpihak pada Raja bertekuk lutut dengan gemetar.
"Pemberontakan terjadi di dalam istana, benar-benar terbuka seakan menantang seisi kerajaan ini—"
Aaron menoleh ke sebelah kiri di mana orang-orang itu yang berada di daftar hitam milik Rayya yang beberapa waktu lalu di serahkan pada nya.
"Dia sudah di tangkap"
Kericuhan mulai terjadi, keringat mereka yang bersalah dan merasa terlibat bercucuran dengan lutut gemetar pun semakin merasa tidak akan terselamatkan
"Raja, semua tahu begitupun kami. Pihak itu adalah pendukung Pangeran Aat! Lalu bagaimana dengan Pangeran sendiri? Kami tidak melihat beliau di sini!"
__ADS_1
Ucap nya masih dengan berlutut.
"Mereka semua sudah kami amankan dan akan di jatuhkan hukuman penjara seumur hidup di bawah tanah tanpa di izinkan kerabat dan teman mengunjungi."
"Titah raja sudah pasti namun Pangeran Aat tidak akan mendapatkan hukuman seperti pemberontak lain nya. Kami menemukan hal yang tidak terduga dalam kasus ini dan keputusan raja sudah di tetapkan"
Tutur Bian memperjelas kondisi dan peraturan baru.
"Raja, dalam hal ini akan ada ketidakadilan yang akan di lihat masyarakat. Semua pendukung dari Pangeran Aat mendapat hukuman pencopotan jabatan dan hukuman berat atas pemberontakan, tapi untuk Pangeran Aat keputusan nya adalah di bebaskan. Bagaimanapun opini publik yang akan ramai dengan keputusan ini"
Tutur nya, semua orang pun mengangguk membenarkan.
"Hukuman mati hanya untuk pemberontak tadi malam dan selain itu hanya hukuman ringan. Hanya jabatan yang hilang, bukan nyawa! Bukan kah itu sepadan?!"
Tukas Aaron. Kembali semua orang di dalam ruang rapat berargumen satu sama lain.
"Maksud anda?" Serunya masih dalam berlutut.
"Apakah penjelasan Raja masih kurang di pahami—"
Aat masuk bersama dengan Karl di belakang nya, walaupun masih ada sedikit luka lebam di wajah namun Asnee tetap hadir di acara rapat.
"Kami menangkap orang yang begitu keji menyandera Pangeran Aat yang asli dan di gantikan dengan Pangeran Ast palsu—"
Belum perkataan Asnee selesai, suara di dalam aula rapat semakin terdengar bersahutan satu sama lain.
"Dia sudah kami tangkap dan kami beri hukuman yang setimpal. Pangeran Aat pun sudah kami amankan dan di beri perawatan intensif oleh dokter!"
Langsung pada intinya, Asnee selalu seperti itu.
"Bawa mereka masuk" Titah Asnee sedikit berteriak.
Darah arah pintu masuk, polisi memborgol Jeno dan juga ayah nya, mereka berdua di bawa masuk ke ruang rapat dan setelah itu mungkin akan langsung di hukum mati tanpa persidangan.
'Pak Mentri?'
'Bukankah mereka ada di penjara?'
'Ada apa ini?'
'Lihatlah wajah nya!'
__ADS_1
Seruan orang-orang yang ada di dalam bukan lagi bisik-bisik melainkan saling lempar tanya satu sama lain.
Ekspresi Jeni dan juga sang ayah begitu memprihatinkan, bawahan mereka pun semakin ketakutan dan semakin bungkam kala mereka datang.
"Langsung di bawah perintah Raja, mereka berdua akan di jatuhkan hukuman mati dengan pasal pembunuhan berencana, penyanderaan seorang Pangeran dan juga pencucian uang, serta memanipulasi anggota kerajaan dengan memasukkan Aat palsu ke dalam kerajaan! Satu lagi, penculikan calon istri dari Calon Raja. "
"Tanpa sidang"
Tegas Asnee. Tidak ada yang berani buka suara. "Silahkan jika di antara kalian ingin menemani mereka, kami malah bersyukur kalian jujur dengan perbuatan kalian sendiri"
Sekiranya mereka paham walau ada sedikit menduga-duga tentang permasalahan yang terjadi. Mereka yang benar begitu tenang, namun untuk pelaku kejahatan sudah tidak dapat berdiam diri dengan benar.
Di pusat kota, namun tidak hanya di pusat kota, berita di layar televisi menjadi tanding topik. Siaran langsung yang di lakukan pada aula rapat sangat terbuka dan di tonton oleh publik.
Pengunjuk rasa yang masih saja ada seketika terdiam dengan berita itu, mereka sekejap langsung terdiam dan bungkam.
'Ternyata kita di jadikan alat oleh mereka'
'Bakar, bakar, bakar'
Seruan dan teriakan itu semakin menggema dan malah berbalik menyerang orang yang berada di belakang mereka.
Entah apa maksud dari kata 'Bakar' itu, tapi mereka terus berteriak.
Kembali ke aula rapat, seakan sidang langsung di pimpin oleh Raja. Jeno dan ayah nya berlutut dengan kepala sudah terasa kebas karena hajaran dari Shabila yang tidak kunjung usai, bahkan sepertinya siksaan itu belum selesai.
'Kita lanjut nanti'
Bisikan itu perlahan masuk ke dalam kepala dan terus terngiang dari setiap detik nya. Siksaan itu seakan menyuruh mereka untuk tetap hidup walau pun sudah mati, sangat sadis dan tidak berperasaan.
'Kemarin Sipir itu menelpon dan Pak Ketua langsung pergi ke bandara bersama dokter bedah yang menangani orang-orang itu, jadi kau tenanglah, kita pasti tidak akan terseret'
Bisik orang di pojok itu pada rekan nya yang berada di samping barisan para mentri keuangan dan juga politisi yang lain. Keringat mereka benar-benar seperti air hujan.
"Semua sudah di amankan, begitupun dengan mereka yang hendak kabur ke luar negeri. Dokter bedah yang terkenal di negara ini pun sudah kami amankan dan mereka akan menjalankan sidang karena profesi yang berbeda, ada kode etik dalam menjalani hukuman dokter"
Baru saja hendak tenang, Asnee bersuara dan perkataan nya seakan mematahkan ranting yang tadinya segar menjadi kering.
Berita besar itu begitu menggemparkan belahan dunia saat ini. Kekacauan dalam tatanan pemerintahan itu menjadi sorotan utama bagi para kepala negara yang berbentuk kerajaan, sistem yang lemah menjadi celah untuk musuh maju, untuk itu negara yang sama menjadikan berita itu acuan untuk lebih di perketat.
...***...
__ADS_1