
Kegemparan terjadi seketika, penghuni sekolah berbondong-bondong ke luar dari kelas mereka saat mobil polisi terdengar masuk.
"Luke?" Olivia membenarkan kacamata nya dari jarak yang lumayan jauh.
Glory juga kedua teman nya pun penasaran. "Ada apa ini?"
"Lihat-lihat di sana!" Tunjuk Kelly ke arah koridor. Posisi mereka di lantai dua dan melihat beberapa siswa di amankan oleh Badan Narkotika, terlihat dari logo di baju kemeja navy.
"Ada apa ini?" Ujar Glory bergumam begitupun dengan kedua teman nya. Tidak hanya mereka, hampir semua penghuni sekolah bertanya-tanya, gaduh dan bising.
Mobil polisi dan dua mobil dari Badan Narkotika mengamankan Luke dan teman-teman nya.
Orang tua dari pelaku pun mengikuti dan masuk ke dalam mobil mereka masing-masing.
"Pihak Asrama tadi datang, mereka siap membantu jika harus di periksa!" Ucap pak Ferdinan.
Sean pun angkat bicara. "Kami akan mengurus mereka dan mungkin pihak sekolah akan memberi keterangan lebih lanjut! Bagaimanapun mereka semula siswa di sini! Jadi nanti kami akan menghubungi anda!".
"Untuk meminimalisir berita tidak menyenangkan, anda dapat menggunakan dokumen yang kami serahkan malam tadi!" Lanjut Sean seraya berlalu pergi ke pintu mobil.
Shane menimpali. "Dan sepertinya, beberapa staf di sekolah ini harus segera di perbarui! Tahap seleksi untuk staf dan tenaga pengajar harus di seleksi ulang!" Ucap nya sesekali melirik pada staf pengajar yang sepertinya mereka ikut andil dalam pengedaran obat-obatan terlarang.
Si kembar pun berangkat, mengikuti mobil-mobil yang sudah jauh pergi. "Pastikan anak-anak itu mendekam di penjara!" Tatapan lurus ke depan, Sean tanpa menoleh ke arah Shane mengatakan hal itu.
"Tentu! Kita sudah memastikan jika kelurga mereka tidak akan mampu menyogok pihak kejaksaan!" Dengan enteng Shabila bersuara.
Bukan nyawa yang melayang, tapi masa depan para bangsawan itu yang mengenaskan. Dari duduk di singgasana yang terbuat dari emas, seketika jatuh duduk di kursi yang terbuat dari rotan bekas yang sudah tidak bernilai di pasar.
"Lehernya ada bekas sayatan?"
Leyka yang sudah tiba di Swedia pun langsung melihat gadis yang berani-berani nya mencelakai putra sulung nya. Saat masuk, kedua mata Leyka menangkap luka di leher, dia berpikir apakah Nara sekejam itu? Tapi sepertinya itu bekas belati dan yang dia dengar, Nara hanya membanting nya.
"Putri mu yang melakukan nya, Ley!!" Edward datang dari ambang pintu kamar. Leyka pun menoleh dengan kemeja panjang masih rapih masuk ke dalam celana, serta di lapisi dengan mantel panjang selutut.
"Anak dan ibu sama saja!" Seakan nafas tercekat di tenggorokan, Leyka tidak habis pikir. Dia mengira jika putri angkatnya tidak akan berani melakukan itu, tapi ternyata dia salah total.
"Kita tidak bisa menolong gadis ini. Ley! Ruby dan Rayya akan ngamuk kalau mainan mereka di sentuh orang! Biar mereka melakukan rencana mereka, kita lihat saja apa yang akan mereka beri untuk gadis malang ini"
__ADS_1
...**...
Sidang pertama akan di lakukan satu bulan setelah mereka masuk ke sel tahanan dan yang sebagian dari mereka akan di masukan ke tempat rehabilitasi terdahulu.
Kreaatt!!
Pintu terbuka, dua orang yang berada di dalam pun merasa takut. Keringat mereka tidak pernah surut saat sampai di Swedia.
"Kalian tidak perlu takut seperti itu!" Ucap Rayya. "Kalian sudah makan?" Tanya Rayya lembut dan sopan.
Keadaan sepasang suami istri itu mengiris hati, mereka pasti masih teringat akan putri kandung mereka yang mati di bunuh depan mata mereka sendiri, untuk itu trauma mereka masih saja melekat.
"Paman" Panggil Rayya. Lucky yang ada di luar pintu pun masuk.
"Ada yang bisa saya bantu. Nona?!" Sahut Lucky.
"Tolong bawakan mereka makan ke sini! Sekalian minum untuk aku ya. Boleh ngga?"
Lucky membentuk lingkaran di antara telunjuk dan ibu jari, bersamaan dengan itu salah satu mata nya berkedip.
"Terimakasih" Ucap Rayya. Lucky pun ke luar.
"Silahkan!"
Tidak menghabiskan waktu lama, Lucky sudah dengan nampan besar berisikan cemilan, minuman dan dua piring nasi dengan lauk pauk nya.
"Kalian makan lah dahulu! Setelah itu istirahat lah!"
Benar, orang tua yang kini menjadi keluarga Lukyanova itu memang bukan dari keluarga yang kaya. Mereka seperti terlihat cukup, hidup nya. Tidak terlalu memaksakan, jika ada ya ada, jika engga ada ya berarti memang engga ada.
"Nama saya Rayya. Rayya Yodrak!"
Ukhuu
Ukhuu
Ukhuu
__ADS_1
ukhuu
Lucky reflek memberikan air dan tisu pada kedua orang itu.
"Maaf?" Bibir mereka seakan membeku kala mendengar nama belakang dari gadis yang berada di depan mereka.
"Kalian belum mengetahui kenapa di bawa ke negara tempat putri kalian sekolah?" Seru Rayya.
Mereka hanya kembali menggelengkan kepala mereka dengan gugup.
Selesai makan, sekarang Rayya masih menunggu di depan suami istri itu. "Maaf tapi kami benar tidak mengetahui apapun, tuan Leyka tidak mengatakan apapun sebelum nya! Pihak sekolah mengundang kami tapi kami tidak dapat datang!"
"Tuan Leyka mengatakan jika dia mengenal putri kami"
Seperti dua orang polos, entah apa yang Leyka katakan sampai kedua orang tua itu menyetujui ikut dengan nya.
"Benarkah? Tapi maaf sebelum nya, putri anda akan melakukan sidang pidana pertama minggu mendatang!"
"Apa?" Teriak suami istri itu, kaget tentu pasti. "Apa maksud anda? " Gagap papa Lukya.
Mulut Rayya tidak di pasang rem dan filteran saat ini, dia sudah greget.
"Dia terlibat ke dalam kasus pembunuhan berencana dan korban salah satu nya ada adik saya! Asnee Yodrak!" Ucap nya dengan suara berat.
"Kapan? Gila, gadis itu apa yang dia rencanakan sebenarnya?" Papa Lukya malah terlihat penasaran.
"Pa!" Tahan mama Lukya, memperingati.Tentu Rayya penasaran.
...**...
"Asnee"
Seseorang di atas kursi roda, dengan wajah pucat dan penuh luka. Dari belakang ada paman Kenzie mengawasi. Semua mata tertuju pada Lukya termasuk Daniza yang ternyata sudah ada di sana, bergabung.
Asnee menoleh sejenak dan kemudian mengabaikan nya.
"Mari ikut kami" Kenzie kembali mendorong kursi roda Yaya ke arah luar.
__ADS_1
"Kita bertemu di sidang nanti!" Sambil berlalu pergi, Asnee berbisik ke arah telinga Yaya. Semua orang hanya diam tak ikut campur.
Setelah Yaya ke luar, maka dari detik ini dia adalah orang asing yang jahat di mata Asnee. Tidak ada yang peduli, semua orang acuh pada Yaya, sampai-sampai semua nya seakan bisu dan abai.