
Lain lagi di istana Timur, Rayya sangat santai dengan riasan yang dia lakukan sendiri. Pakaian pun dress sopan layak nya seorang putri dan memilih mengikat sebagian rambut nya, lalu di kasih jepit rambut.
"Segini juga sudah cantik, bukan?!" Ujar nya di depan Ahan yang juga sudah bersiap mengikuti majikan nya. Ahan hanya terdiam, tidak merespon ujaran dari Rayya.
"Dasar batu!" Cebik Rayya. Sepertinya Rayya akhir-akhir ini marah-marah terus, terkadang Ahan pun bingung dirinya harus bagaimana sampai-sampai dia meminta Lexi untuk menggantikan dirinya dengan orang lain.
Lexi tentu menolak, alasan nya karena dia melihat jika Rayya sudah nyaman dengan Ahan.
"Anda cantik, Putri! Pasti nanti banyak laki-laki yang mendambakan. Anda!" Ucap Ahan, namun Rayya bukan nya senang tapi malah semakin marah.
"Kau—!" Tunjuk Rayya kasar, dia benar-benar kesal.
Grephhh
Ahan tanpa aba, dia memeluk Rayya dari belakang dan hampir membentur pintu kaca. Pelayan yang ada di sana langsung membalikkan badan mereka, baik yang ada di luar maupun di dalam.
"Apa yang kau lakukan?" Tekan Rayya berusaha lepas, namun tenaga Ahan masih kuat.
"Kau ini kenapa?" Bisik Ahan tepat di telinga Rayya. Telinga Rayya memerah saat bibir Ahan mengenai daun telinga nya.
Perasaan aneh menjalar dari ujung kepala sampai kaki, Rayya ingin menolak tapi raga nya merasa nayaman, perlahan Rayya tersenyum.
"Kenapa?" Rayya Sedikit mengangkat dagunya ke samping.
"Jika ada yang tidak suka, sebaiknya langsung di bicarakan. Saya tidak terbiasa berbasa-basi apalagi dengan seorang wanita!"
Ahan melepaskan pelukan nya, menjaga jarak dari Rayya.
Tatapan mereka bertemu. Rayya semakin melangkah mendekat, meletakkan kedua tangan nya di pinggang Ahan.
"Apa yang anda lakukan?" Ekspresi Ahan bukan takut, tapi dia malah merasa aneh dengan Rayya.
Keberanian yang cukup besar untuk ukuran seorang putri kerajaan. Rayya menjetikkan jari jemari nya di pinggang Ahan sampai sang pemilik pinggang merasa keanehan.
"Kau milik ku!" Ucap Rayya pelan, menatap mantap manik hitam milik Ahan.
Kening Ahan semakin mengkerut bingung.
"Termasuk Daniza. Aku tidak suka kau berdekatan dengan nya!"
Rayya benar-benar berani, dia mengklaim seorang pria di hadapan nya. "Kau tidak suka? Tidak masalah untuk ku!" Ujar Rayya.
"Kau perlu bicara langsung tanpa basa-basi dan sekarang aku melakukan itu!" Lanjut Rayya.
"Jaga batasan anda, nona!" Tegas Ahan dengan suara rendah nya, namun tanpa melepas tangan Rayya yang masih menguasai pinggang nya.
"Apa yang akan kau lakukan jika aku menolak?!" Rayya malah menantang Ahan saat ini.
Rayya tidak tahu siapa Ahan sebenarnya, yang dia tahu Ahan hanyalah orang di bawah paman Lexi.
Tak terasa, bibir dingin nan lembut milik Ahan menyentuh bibir nya. Rayya mematung, jantung pun berhenti seketika namun kembali berdegup.
"Apa anda lupa jika saya adalah seorang pria?" Ucap Ahan saat dia melepaskan kecupan singkat dari bibir Rayya.
Pandangan Rayya nampak kosong saat ini, dia sesekali meneguk ludah nya sendiri.
"Mmmuaacchh"
Sekarang malah Ahan yang kaget, Rayya mencium nya tanpa malu.
__ADS_1
"Kau mengambil kesucian ku pun aku siap. Tuan! Asalkan dengan mu" Bisik Rayya. "Puaskan aku!" Lanjut Rayya.
Tidak enak perasaan, Ahan terpaku di tempat dengan darah dan jantung yang mendadak tidak normal.
"Hahaha" Rayya pergi begitu saja dengan cekikikan geli akan ekspresi Ahan, dirinya bercanda mengatakan itu tapi lain dengan Ahan. Nafas memburu, Jiwa predatornya muncul, dia ingin sekali menikmati tubuh Rayya saat ini juga.
Perasaan aneh muncul, kenapa Rayya sangat menggiurkan di matanya nya, dia pun tidak ada alergi jika dekat dengan Rayya.
Rayya mulai nakal ternyata.
...**...
Mobil kerajaan telah memasuki kawasan pelabuhan, di mana di sana terdapat gedung besar markas militer dengan halaman yang sangat luas.
Penjagaan sangat ketat, tidak sedikit masyarakat pun ikut merayakan di sekitar tempat perayaan.
Riuh keamanan silih berdiri di posisi mereka masing-masing. Tidak luput media pun ikut bergabung di sana, saluran tv pun penuh dengan berita sang penerus raja hari ini.
Jepretan kamera, cahaya blitz terdengar bersahutan. Jendral tinggi militer berjalan beriringan dengan Raja Aaron, di sana pun Kevin dan Robert ikut serta terlebih ayah mereka berdua seorang mentri pertahanan dan seorang Jendral.
Upacara pun di buka, semua anggota duduk menyaksikan upacara. Jane, dia yang juga ikut serta tidak lengah terhadap Asnee yang sangat-sangat tampan sekarang ini.
Raja Aaron memimpin jalan nya upacara dan setelah itu menyampaikan amanah nya dan menyampaikan ucapan selamat hari ulang tahun ke-50. Raja Aaron juga menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas peran seluruh keluarga besar militer yang terus menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara.
Setelah upacara mencapai titik akhir, giliran Asnee yang berdiri di atas podium. Putra tunggal Raja Aaron serta penerus tahta kerajaan itu tampil beda di dukung oleh wajah yang tampan serta berkarisma.
Dulu, Aaron pun turut ikut ke dalam perayaan upacara kemiliteran dari usia nya 13thn san sekarang putranya sudah dewasa, dia melihat cerminan dirinya dalam diri Asnee.
"Dengan bangganya saya kepada seluruh prajurit, yang siap menghantarkan nyawa mereka ke medan perang demi kutuhan negara nya, membuat kerajaan merasa memiliki banyak hutang. Bahkan bukan kerajaan saja, melainkan seluruh rakyat. Kami sekali lagi bangga memiliki seluruh prajurit pemberani"
"Kami berhutang nyawa kepada seluruh prajurit pemberani! Tetaplah jaga kepercayaan kami dan selamat atas jadi prajurit militer yang ke-50"
Tepuk tangan riuh pun terdengar, suada tembakan ke langit terdengar bersahutan. Aaron bangga begitupun dengan yang lain nya.
Ahan juga Daniza berdiri di sisi tempat acara, mereka tidak ingin ikut terlibat jauh dalam perayaan.
Setelah upacara selesai, acara di lanjutkan pada sebuah atraksi dari anggota militer.
"Jangan kemana-mana!" Tahan Ahan pada lengan Daniza. Dan pada Daniza pun Ahan tidak merasa alergi.
"Hah? Aku mau pipis ih!" Tepis Daniza pada tangan Ahan. Dari ujung lain, Asnee juga Rayya melihat adu tepis antara mereka berdua.
"Kenapa?" Bisik Rayya. Asnee memalingkan tatapan nya dan kemudian mengarah kembali pada Rayya.
"Kakak yang kenapa! Itu tangan di cengkram segala?" Ledek Asnee.
"Siapa juga!" Cebik Rayya berderu kasar. Ekspresi Asnee mengejek namun dia pun merasa tidak nyaman jika Daniza berdekatan dengan Ahan, entah kenapa padahal sebelum nya biasa-biasa saja.
...**...
Pagi di Thailand, berarti siang di Irlandia dan seperti biasa Iswara bekerja di Kasino. Menyambung hidup nya juga membiayai orang tua yang dulu membawa nya pulang setelah Iswara membagi makanan untuk nya.
"Oh dia gadis yang kita cari itu?"
Tunjuk Shabila, melipat kedua kaki nya di atas kursi bar kecil yang lumayan tinggi.
"Kelihatan lelah ya!" Lanjutnya dengan mimik empati dan anggukan berulang.
Sean duduk diam seperti biasa dan kedua adik kembar nya yang akan nyerocos tak bertepi.
__ADS_1
"Masih kecil. Kasihan dia! Eum kalau tidak salah usia nya sama dengan Fifi, ya?" Tebak Shane.
"Husssh ah masa? Orang dia itu kan adik sepupunya gadis Thailand itu, ya berarti usia nya di bawah dia dong!" Tukas Shabila menarik pipi kanan shane.
"Uahh? Berarti Fifi kita masih sangat cantik ya hahaha" Tawa jenaka kerap ke luar dari mulut Shane, tidak pernah berubah walau sekarang telah memiliki seorang putra.
Mereka bertiga masih kelihata muda, wajah baby face melekat di permukaan. Mungkin gen dari kedua orang tuanya menurun semua pada mereka.
Gadis Thailand yang di maksud Shabila adalah Daniza, menurut nya nama itu sulit untuk diingat.
Sean dan Shabila sampai di mansion beberapa jam lalu sebelum pergi ke Kasino.
...**...
Rumah biasa saja dengan halaman seadanga menjadi daya tarik tersendiri bagi David. David muncul setelah mendengar kabar jika putri dari teman baik nya itu telah di temukan.
"Dev kau sudah mendapat informasi mengenai pembantaian keluarga Keira?" Tanya Ruby.
"Sudah Sweety" Sahut Dev sesekali memperhatikan setiap sudut rumah kecil itu.
"Okey, kita urus setelah membawa gadis itu pulang!" Ujar Ruby.
Edward yang muncul dari belakang rumah itu segera menghampiri.
"Sepertinya tidak ada siapa-siapa."
"Tapi rumah ini banyak sekali ruang kamar dan beberapa baju laki-laki di jemur di belakang" Ucap Edward kembali mengedarkan tatapan nya.
Di sekitar rumah hening, sepertinya tetangga pun masih bekerja karena tidak ada kehidupan, tapi beberapa mil ada banyak anak kecil tengah bermain ria.
"Dia tinggal dengan banyak laki-laki, kah?" Hati David meringis, pasti gadis itu sangat menderita tinggal di sini.
"Maaf—"
Edward, Ruby serta David pun menoleh pada seseorang yang baru saja berdiri di belakang mereka.
"Ada yang bisa saya bantu? Kenapa kalian berdiri di depan rumah saya?" Ucap nya.
Seorang wanita tinggi berisi, wajah kemerah-merahan dengan penutup kepala seperti kerudung melilit rambut panjang nya. Kerutan halus di wajah menandakan jika usia wanita itu tidaklah muda lagi.
Pakaian khas berkebun, ranjang di tenteng pinggang dengan isi buah delima yang sudah matang, merah kehitam-hitaman dan ada beberapa yang nampak sudah busuk.
"Anda pemilik rumah ini?" Tanya Ruby sopan, tidak lupa perangai ramah nya.
"Iya betul, nyonya!" Jawab nya.
"Boleh bicara sebentar?" Tanya Ruby, takutnya ibu itu tidak bersedia.
"Baik. Tapi apakah ini ada hubungan nya dengan anak-anak saya? Jika benar, bisakah anda memberi kesempatan? Saya belum ada uang untuk membayar tagihan nya"
Perkataan Ibu itu mengundang rasa penasaran mereka.
"Baby kau bicaralah dengan nya. Aku dan Dev akan melihat sekitar dulu!" Ucap Edward.
"Sweety, jangan sampai ada yang terlewat!" Timpal David.
Ruby mengangguk paham dan mereka berdua pun pergi.
"Tidak nyonya. Saya ada keperluan lain kepada anda!" Ucap Ruby.
__ADS_1
Ruby pun masuk, dia berbincang serius dengan pemilik rumah dan sekitar dua jam kurang lima menit mereka pun kembali ke luar.