The Future King

The Future King
Eps 177


__ADS_3

"Astaga"


Dengan masih memakai gaun pengantin, Daniza menjatuhkan tubuh nya ke atas kasur lumayan keras sakin lelah nya.


Pernikahan Sang Pangeran selesai pas di jam Dua siang dan sisa mya jamuan untuk para tamu yang belum pulang.


Asnee pun ke luar dari kamar mandi sudah mengganti baju nya dengan kaos biasa, sepertinya dia sudah bersih-bersih.


"Masih betah dengan baju berat itu?" Tunjuk Asnee pasa baju Daniza. Daniza menoleh di dalam baring nya.


"Sebentar"


Daniza sudah tak berdaya, kaki nya terlebih, sangat sakit bukan pegal lagi.


"Eeeeeee"


Tentu saja kaget, Asnee membenarkan kaki Daniza menaruh di atas paha.


"Tidak perlu,_ " Tolak Daniza. "Bantu buka resleting baju saja, leher aki rasanya tercekik sekarang!" Daniza beranjak dari ranjang dan berdiri di depan Asnee yang tengah duduk di tepi ranjang.


"Mana?"


"Ini" Tangan Daniza ikut membuka resleting.


"Sini"


Biasanya pengantin baru terlihat malu-malu apalagi saat sang istri meminta untuk Suaminya membuka resleting, tapi sepasang pengantin baru ini nampak biasa saja.


"Jangan sampai bawah, nanti kalau melorot semua gimana?" Tahan Daniza saat resleting itu Asnee turunkan semakin bawah.


"Ya tidak apa-apa, bagus juga. Kan?!" Asnee memutar tubuh Daniza.


"Apa?" Seru Daniza seolah tengah menantang.


"Tidak! Sudah sana, bersih-bersih!"


"Ish"


"Kenapa? Mau sekarang aja?" Celetuk Asnee. Dia jadi begitu jahil pada Daniza.


"Tidak, sekarang apanya?" Dengan cepat, Daniza bergegas masuk ke kamar mandi.


Tidak banyak riasan yang di pakai Daniza membuat dirinya tidak repot membersihkan riasan.


Asnee terlihat terbaring, matanya terpejam dengan kedua kaki menapaki lantai.


"As" Guncang Niza pada lengan Asnee.


Raut lelah terpatri, Niza paham dan mengerti. Kerutan halus sedikit terlihat dari kening Asnee.


"As, benarkan posisi tidur mu!" Seru Daniza pelan pada lengan Asnee, namun Asnee tidak terganggu.


Dengan canggung dan menarik ulur tangan hendak menyentuh wajah Asnee, Niza akhirnya mengusap lembut pelipis keras milik Asnee.


"As hey_" Usap nya seraya duduk di samping Asnee.

__ADS_1


"Eum" Sahut Asnee namun tidak membuka mata dan malah menjadikan telapak tangan Niza sebagai bantalan.


"Tidur nya yang benar, nanti kaki mu pegal kalau menggelantung seperti ini!" Dengan tangan yang lain, Niza mengusap wajah Asnee.


"Iya" Sahut nya pelan namun tidak beranjak.


Lama tidak menyahut lagi. "As—"


Asnee pun bangun, membuka matanya. Pandangan mereka bertemu dengan tatapan Niza begitu lembut di lihat, netra nya yang beda dari yang lain terasa spesial masuk ke dalam retina Asnee.


"Kau juga lelah, Istirahatlah dahulu lalu kita makan malam nanti!" Tutur Asnee tanpa lama menanggapi kelembutan Daniza.


"Eum_" Angguk Niza. Beringsut berjalan ke samping kasur satunya lagi, walaupun canggung tapi dia tidak bisa lagi nyari tempat istirahat karena tubuh nya memang se-lelah itu.


Malam menjelang, beberapa keluarga bersiap untuk makan malam.


"Paman, Wara mau manggil Niza dulu. Dia pasti belum makan apapun sejak tadi!"


Atensi keluarga menoleh, Eiji reflek menahan tangan Iswara.


"Oh ayolah nona!" Dengan tawa nya Finola menyeru.


Iswara pun bingung, dia mengedarkan tatapan nya karena semua orang lekat menatap nya.


"Apa?" Dengan gerakan bibir nya, Iswara bertanya pada Eiji yang masih duduk dengan menahan tanga nya.


"Nanti juga kalau dia lapar akan makan! Sudah, tidak perlu di panggil!" Tarik Eiji pada tangan Iswara.


Dari meja yang lain tentu bukan Iswara yang menjadi pusat perhatian, tapi sikap Eiji pada Wara.


Ruby mendapat tatapan penasaran dari mereka. Brayn, Rayzen, Savira, David, Edward dan Rea yang kini sudah menjadi istri Brayn ada di sana. Reina pun ada di sana selaku istri dari David.


"Rea sependapat" Tukas Rea. Kini dia yang mendapat tatapan dari semua orang.


"Tipe nya bocil ternyata. Hahaha!" Savira tertawa namun tidak keras, hanya orang sekitar yang mendengar.


"Kita lihat saja bagaimana ke depan nya. Sampai sekarang, hanya Wara yang bisa menyeimbangi sikap Eiji! Perlahan kita akan mendengar keputusan dari Eiji." Tutur Ruby.


Sampai detik ini para orang tua tidak pernah ikut campur masalah cinta anak-anak nya, terkecuali itu membahayakan, maka mereka akan bergerak.


"Oh ya kak, kita akan menjadi besan nih!" Kedua alis David turun naik, menatap wajah Rayzen yang masih kalem.


"Huss" Tepuk Reina pelan pada belakang kepala David.


"Kabar baru apa lagi ini?" Seru Savira begitu antusias.


"Julian dan Aya yah?" Ruby mengangguk.


"Ya siapa lagi sweetie?" Potong David. Ruby hanya nyengir dengan intonasi bicara dari David.


"Masa? Perasaan Aya tidak pernah cerita masalah laki-laki!" Rayzen masih tidak percaya. Namun sedikit menjeda ucapan nya seraya mengingat sesuatu.


"Oh astaga, apa itu Julian?" Gumam Rayzen tapi masih terdengar oleh mereka.


...**...

__ADS_1


Lenguhan kecil terdengar, pembatas yang tadi Daniza pasang memakai guling kini bergeser ke samping dan dia malah berada di pelukan Asnee.


Pengantin baru itu semakin mengeratkan pelukan mereka dalam tidur.


Jam menunjukkan pukul lima subuh, derap langkah kaki pelayan istana sudah hilir mudik hendak beres-beres.


'Eughhh'


Niza terganggu dengan suara langkah kaki dan perlahan membuka mata.


Dia terdiam karena posisi nya sekarang tengah memeluk pinggang Asnee. Deru nafas Asnee terasa di kepala.


'Astaga'


Gumam nya dalam hati dan perlahan mengecek apakah Asnee sudah bangun atau belum.


'Aman' Gumam nya kembali dan perlahan menarik tangan nya dari pinggang Asnee.


"Euuumm"


Asnee malah memeluk Niza sekarang, mengunci pergerakan Niza agar tidak ke mana-mana.


"Aku mau pipis" Ucap Daniza. Padahal tidak terlalu ingin.


"Tahan saja" Seru Asnee namun semburat senyum terpatri dari sudut bibir nya.


"Tidak mau, nanti pipis di sini bagaimana? Lepas dulu, As!" Guncang Daniza.


"Pipis saja, saya tidak keberatan dengan itu!" Sahut nya. Suara berat Asnee begitu khas di pendengaran, serasa nyaman di telinga Niza.


"Lepas ngga? Sekarang beneran mau pipis, ih!" Bukan lagi tangan, sekarang kaku Niza yang mendorong tubuh Asnee.


"Berarti tadi bohong!" Dengan santai, Asnee malah semakin menarik tubuh Daniza dan mengulas senyum di atas pucuk kepala Niza.


"Asnee"


"Iya iya iya"


Kini senyum Asnee melebar, Niza pun terlepas dari pelukan nya. Dengan cepat Niza beranjak begitu cepat tanpa alas kaki ke arah kamar mandi.


Cruluuukk


Asnee menuangkan air ke dalam gelas yang ada di atas nakas. Setelah minum Asnee pun ikut beranjak dari kasur menghirup udara pagi dari sela tralis sesaat setelah menyuruh pelayan membawa makanan ke kamarnya.


"Ada banyak tradisi turun temurun untuk menantu anggota kerajaan, kai harus mengisi perut mu sebelum melakukan aktifitas nanti"


Ucap Asnee saat melihat Daniza melangkah ke luar dari pintu kamar mandi.


"Iya tau"


Sepasang pengantin baru ini terasa beda dari yang lain, seakan tidak ada keinginan untuk bermesraan orang lain lihat, namun padahal belum tentu seperti, mungkin mereka masih terlihat malu-malu.


Makanan pun datang, Daniza dan Asnee pun datang menyantap makanan yang hangat itu.


...**...

__ADS_1


__ADS_2