
Benar saja, sesuai dengan perkiraan. Ada beberapa Fraksi dan beberapa lembaga yang sebelum nya tidak pernah muncul dalam permasalahan kerajaan, namun tiba-tiba malam ini mereka datang.
Seharus nya kepala pemerintahan yang datang karena mereka rekan dari seorang raja yang menduduki tahta tertinggi sebagai kepala negara setelah Raja, namun mereka tidak terlihat satu pun.
Bian, Ajudan dari Aaron melapor begitupun tangan kanan Aat yang kini sama tengah melapor akan kedatangan orang-orang dari parlemen yang tidak di undang. Ada pula lembaga keuangan yang di awasi oleh pak Mentri keuangan, sepertinya rekan rekan dari ayah Jeno datang bersamaan.
Aula rapat terbuka lebar, di tengah malam yang hampir semakin larut malah tidak bisa di gunakan untuk beristirahat.
"Selamat malam Pak" Sapa Aat yang baru saja tiba dan menghampiri mereka.
"Pangeran" Mereka pun menyapa dengan sopan lalu berjabat tangan.
Sekiranya ada sepuluh orang yang kini ada di aula. "Hampir berpikir negatif, kalau boleh saya tahu di tengah malam seperti ini bukan kah seharus nya tidak ada lagi yang harus di bincangkan? Apakah ada masalah yang begitu hebat sampai tidak bisa di tunda esok hari. Pak?!" Seru Aat bertanya di tengah orang-orang itu, yang pastinya salah satu dari mereka tahu siapa Aat.
"Maaf Pangeran, keadaan di masyarakat sudah tidak dapat di kendalikan. Kami harus segera menghadap raja" Ucap nya.
Padahal mereka memang berpihak pada Pangeran Aat, tapi mereka tidak tahu jika Aat yang sekarang adalah palsu.
"Selamat malam semua nya"
Dengan langkah tegap nan anggun, Rayya masuk ke aula di ikuti oleh Ryu yang kini sudah berganti pakaian formal. Atensi orang-orang di dalam tentu terundang untuk menoleh terutama Aat yang kini tengah menatap Ryu.
"Tuan Putri" Sapa mereka. Rayya pun ikut menyapa kembali.
"Sebelum nya saya meminta maaf harus menyampaikan ini kepada kalian semua. Maaf Raja tidak dapat menemui kalian dan sebagi gantinya saya mewakili beliau, untuk itu pertemuan ini akan di adakan di ruang makan. Kita berbincang santai saja, sambil mencari solusi dan mengambil keputusan"
"Pangeran Aat pun ada di sini, kita bisa bermusyawarah untuk mencari jalan terbaik"
Tutur Rayya sesekali melirik Aat yang tidak jauh berada di samping nya.
Nampak ketua fraksi sendiri mendekat. "Sebelum nya kami juga minta maaf, Putri! Masalah ini ada kaitan nya dengan pelengseran Raja dan mengangkat raja baru beberapa minggu lagi dan permasalahan ada pada titik itu"
__ADS_1
"Jika hal ini malah di limpahkan kepada anda, maka kami dan segenap lembaga akan terpaksa mengganti Raja baru untuk kedepannya" Tutur nya
Terlihat Aat sudah senyum tipis karena ucapan ketua Fraksi itu.
"Benar, putri!" Timpal nya.
"Kedatangan kami ingin menyelesaikan masalah dan Seharus nya anda mengerti hal ini!" Ucapnya tanpa menyaring perkataan nya.
Rayya pun tersenyum. "Dan seharusnya kedatangan kalian semua harus sesuai peraturan kerajaan yang sudah berlaku. Kalau tidak salah, ajudan dari Raja pun tidak tahu menahu permasalahan apa yang kalian bawa dan hendak di selesaikan itu. Kalian menerobos masuk tanpa permisi pada tuan rumah, bukan kah di lihat dari sikap itu tidak mencerminkan jika kalian tengah membutuhkan saran dari Raja?"
Sekalinya berucap pasti menusuk dan tidak ketebak, Rayya orang yang pandai menilai seseorang.
Mereka semua merasa tersudutkan sekarang. "Dan lagi saya tahu orang-orang di sini berada di pihak siapa!"Seru Rayya melanjutkan.
Aat semakin melebarkan kedua sudut bibir nya, tidak menyangka Putri Rayya begitu cerdik.
"Sudah sudah, kenapa putri jadi mudah tersinggung?" Seru Aat meredakan.
Aat penasaran. "Wajah nya asing dan baru kali ini Paman melihat dia, apakah Pengawal baru?" Lanjut Aat bertanya.
"Pria asing tidak di kenal sepertinya sangat mudah masuk ke istana Putri saat ini, apakah ada peraturan tambahan yang tidak Paman tahu?"
Rayya hendak menjawab, tapi Aat secepat kilat mengorek-ngorek kesalahan yang tidak perlu di suarakan.
"Kenapa, Paman? Apa Paman ingin mengajukan keberatan?" Celetuk Rayya.
"Tidak tidak, Paman tidak berani!" Seru nya.
Bian masuk dengan langkah tegap. "Raja datang" Ucap Bian di hadapan mereka. Rayya dan Aat pun ikut menoleh ke arah kedatangan Aaron.
"Papa?" Gumam Rayya.
__ADS_1
Atensi orang-orang yang ada pun serempak berbaris dan membungkukkan dada seraya memberi salam.
"Raja" Ucap mereka. Aaron tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri langsung saja berjalan ke atas singgasana nya.
"Sampaikan apa yang perlu untuk di sampaikan dan tidak ada yang diizinkan untuk mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal!"
Seraya duduk, Suara Aaron berat memperingati terlebih dahulu.
"Raja, pengunjuk rasa sudah tidak dapat terkendali. Jika terus seperti ini mereka dengan tidak sabar akan mengkudeta posisi Raja dan menggantikan nya dengan Raja yang mereka sudah pilih sebelum nya! Kemungkinan besar akan terjadi untuk periode tahun ini"
Tutur salah satu ketua lembaga di sana yang sepertinya anggota dari kementrian sosial dan keamanan masyarakat.
"Anda harus segera bergerak, jika tidak semua nya akan mengakar dan berakibat fatal. Lagi, pihak yang berada di samping dan belakang Raja hampir berpihak pada lembaga di bawah naungan Pangeran Aat!"
Perkataan nya sangat bisa di tebak, lagi pula mereka pun tidak berpihak pada Aaron. Rayya menggeleng dengan hal itu, seakan tengah bercanda dengan kondisi saat ini.
Aaron tidak menjawab ataupun menatap ke arah mereka, hanya mendengarkan membuat mereka terus berbicara ke sana ke mari seakan-akan merasa takut dengan keadaan sekarang, yang padahal hanya basa-basi semata.
Mereka pun tahu apa yang sedang mereka lakukan.
"Hufhhh"
Rayya membuang nafas malas dan serentak pasang mata yang ada di dalam menoleh padanya.
Rayya mengalihkan tatapan nya, bergantian ke arah orang-orang yang menatap nya.
"Sangat menggelikan, saya pikir kalian tidak perlu melakukan hal sejauh ini!"
Aat menatap Rayya lekat, Rayya pun sebaliknya, menatap lekat mata Aat dan tidak lama menatap orang-orang di sana atu persatu.
"Tidak perlu, kalian tidak perlu untuk terlalu peduli dengan kami. Picik sekali!" Dengan senyum tidak suka, namun Rayya tetap melayangkan nya
__ADS_1