
Kebakaran Gallery membuat semuanya keluarga anggota kerajaan pulang ke istana termasuk ibu suri.
Mali dan juga Pensri duduk menunggu kedatangan Ibu Suri.
"Kejadian ini sangat-sangat mengejutkan ! Sekian tahun berdiri mengapa semua nya begitu saja terjadi, ini sangat aneh"
Ucap Pensri, bagaimanapun juga dia adalah Putri di Kerajaan Yodrak dan sekarang tengah menjabat sebagai pengawas lingkungan dan pengawas perkebunan istana serta bangunan personal milik kerajaan. Semuanya Aaron mempertanggung jawabkan pada Pensri.
Buruknya, keadaan itu membuat nya semakin tidak percaya jika dia lengah terhadap pekerjaan yang selama ini dia atur, dia bina dengan sedemikian ketat dan teliti.
"Apa ini kecelakaan atau kah di sengaja ? Kita tidak tahu sebelum menemukan bukti yang akurat!"
Pikir Pensri begiti kritis.
Mali, dia menahan kegugupan nya sekarang. Wajah nya yang sangat polos membuat nya berhasil melakukan akting dari tahun ke tahun seakan kejadian-kejadian yang telah terjadi bukan karena dia penyebab nya.
Aaron dan juga Aat datang bersamaan, di susul oleh Ibu suri juga Ananada-ayah dari Aaron juga Aat.
Mereka berdiri dan memberi salam.
"Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi saat kami tidak ada di istana ? Kenapa hanya dalam satu malam dari kedatangan kami begitu banyak berita yang simoang siur. Katakan dengan benar dan apakah benar berita-berita yang kami dengar adalah kebenaran nya,"
"Selama di London, tidak ada yang menyampaikan informasi mengenai perkebunan, tidak ada juga yang melaporkan kepalsuan lukisan yang di pajang di hotel pusat,"
"Apa itu ulah kalian ?"
Suara tua renta dan intonasi rendah juga irama yang pelan menandakan jika yang berbicara adalah Ibu Suri, mereka yang ada di sana diam menundukkan pandangan nya ke bawah tanpa ingin memotong perkataan Ibu Suri.
"Istana memang sudah menjadi tanggung jawab kalian, aku tabu itu. Tapi apa karena aku sudah tua membuat kalian menahan berita juga informasi agar tidak sampai padaku ? Jangan bercanda ! Aku masih bisa berpikir lugas dan jernih,"
"Setidaknya, setiap masalah bisa teratasi satu persatu. Tapi kenapa ? Kenapa malah semakin menumpuk ? Apa saja yang kalian kerjakan selama aku tidak ada di sini ?"
Ibu Suri menakan suara nya, dia sebenarnya bukan marah karena pekerjaan yang di lakukan oleh cucu-cucu nya tapi dia marah karena dia tidak mendengar apapun dari mulut mereka, terlebih apa yang terjadi ada sangkut paut nya dengan dirinya. Lukisan dan Gallery adalah milik nya dan itu semua adalah kenang-kenangan yang di tinggalkan suaminya yaitu kakek dari Aaron juga Aat.
"Mohon maafkan kami ibu suri"
Aaron, Aat juga Pensri langsung menekuk kedua kaki mereka di hadapan ibu suri. Ananada juga Istri nya menghembuskan nafas khawatir melihat ini semua.
__ADS_1
"Kami lalai, kami tidak terlalu memperhatikan dan menganggap enteng masalah-masalh itu" Ucap Aaron merasa bersalah dan terus menatap lantai dengan tatapan penuh rasa bersalah.
Mali, dia masih duduk di sofa tapi ikut merendahkan tatapan nya, tidak berani melihat ke arah Ibu suri juga ibu mertua nya.
"Bawa Rayya juga Asnee pulang"
Perkataan Ibu Suri membuat semuanya terpaku, diam membisu.
"Kenapa dengan mereka ibu ? Mereka tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini !" Tukas Ananada terkejut begitupun dengan semua nya.
"Iya Ibu Suri, kenapa anak-anak harus pulang ? Sekolah mereka belum selesai" Timpal Pensri di angguki oleh Aat.
"Kenapa ? Kenapa kalian semua protes ? Aku tidak pernah protes terhadap apapun ! Lalu sekarang kalian berani protes terhadap perintah ku ?"
"Kalian tidak becus, aku hanya menitip satu galery pemberian kakek kalian, tapi apa ? Semuanya sudah terbakar"
Ibu Suri masih di selimuti kemarahan, namun pada dasar nya marah ibu suri bukan lah karena dia jahat ataupun licik bahkan bukan karena tidak sayang terhadap keluarga, namun dia begitu kehilangan sekarang.
"Maaf" Ucap mereka serempak dengan suara rendah.
"Ibu, kau belum istirahat setelah sampai di sini. Ayo aku anatar ke kamar!" Ananada angkat bicara. Pembicaraan seperti ini tidak akan ada habis nya membuat dia harus mengakhiri.
"Asnee juga Rayya harus pulang, mereka sangat lama berada jauh di istana. Ibu khawatir!!" Ucap ibu suri tiba-tiba. Naluri seorang nenek yang begitu dekat dengan nya begitu saja terasa. Tatapan meminta itu tertangkap oleh Ananada.
"Baik baik bu, nanti kami akan mencoba menjemputnya dan berbicara dengan pihak sekolah" Timpal Ananada.
Ananda pun kembali memapah ibu suri bersama istri nya.
"Suamiku" Mali membantu Aat berdiri.
"Kita harus bagaimana, kak ?" Tanya Aat.
Aaron duduk berpikir sejenak mencerna apa yang ibu suri katakan barusan, kenapa dia tiba-tiba bicara seperti itu.
"Ada yang aneh Aat" Ucap Aaron.
Pensri ikut menatao selidik begitupun dengan Aat. Mali, dia hanya menggenggam tangan kirinya, menutupi ke gugupan nya.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak boleh katahuan" Batin Mali.
...**...
"Sial ! Kita harus bergerak cepat" Mali mengepalakan kedua tangan nya. "Jika Asnee berada di sini, untuk membunuhnya adalah hal mustahil. Bisa tapi kemungkinan nya kecil, kita harus bergerak cepat, Jen!"
Mali tidak bisa lagi menunggu, dia harus bergerak cepat sebelum semua nya terlambat.
Jeno meletakan telunjuknya di atas bibir memberi kode agar Mali diam.
"Tenanglah, aku akan menangani nya ! Kau tunggu info selanjutnya" Tegas Jeno meyakinkan.
"Aku tidak mau tahu, kau harus segera membunuhnya, Jen ! Ini demi anak kita" Ucap Mali.
"Tentu"
Dengan lantang nya, dia menarik tangan Mali sehingga dia terjatuh di pelukan Jeno. Setiap bertemu, mereka selalu mesra dan melakukan hubungan suami istri tanpa memperdebatkan apapun, tanpa takut pula pada Aat.
Jeno adalah ayah dari Pim, dia juga adalah teman akrab dari Aat yang bertanggung jawab sebagai guru kerajaan bagi para kaum muda, di tambah dia pun adalah putra dari mentri kanan.
...**...
Duduk tenang di bawah rembulan, di temani buku sebagai penemang jiwa. Asnee, dia duduk di balkon asrama dengan tenang tanpa gangguan dari kedua teman nya.
"Sepertinya masalah ini bukan lah masalah biasa, aku harus ikut turun tangan sebagai penerus tahta" Hembusan mafas terasa menjalan ke setiap permukaan kulit. Mata memang membaca tapi otak tengah berperang di dalam nya.
Jiwa Asnee sudah melanglang buana memasuki masalah yang ada di dalam kerajaan, sedangkan raganya duduk diam di Asrama yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Asnee merogoh handphone nya dan menggulir layar mencari kontak yang biasa menghubunginya untuk melapor.
"Bagaimana ?"
"Sedang dalam pencarian, pangeran !" Sahut nya dari seberang sana.
"Pastikan apa yang kita duga adalah benar" Ucap Asnee dengan penuh aura.
"Baik"
__ADS_1
Sambungan pun terputus saat informasi tersampaikan.
"Benar-benar aneh"