The Future King

The Future King
Eps 161


__ADS_3

Perkelahian di dalam rumah besar itu kembali terjadi dan semakin memanas. Tetap saja, Si kembar tetaplah Si kembar yang tidak sabar jika sudah di hadapkan dengan orang-orang macam mereka.


Tangkisan keras itu semakin tajam dan musuh terbanting ke sana-kemari.


Kreak


"Mau coba-coba?" Tekan Shabila.


Musuh terkunci di leher dan terbentur di dinding.


Bagh


Bugh


Bagh


Bugh


Dengan sekali serang musuh langsung terkapar, namun hal itu membuat Shabila juga Shane muram karena musuh langsung tergeletak begitu saja dalam sekali serang.


"Ah tidak seru lah. Kak kau saja yang menyelesaikan mereka! Biar Paman Aat bagian kami." Dengan konyol nya Shane malah mengeluh tidak suka, mimik wajah nya kentara.


Tentu tingkah si kembar menjadi perhatian saat ini.


grrerttrrr


Kaki kursi terdengar di tarik, bergesekan dengan lantai dan itu ulah dari Shabila.


Shabila pun duduk di depan keluarga Jeno yang sudah di ikat begitupun dengan Jeno sendiri.


Shane mengunci pintu kamar membiarkan Sean mengatasi musuh yang baru saja datang.


Greppp


"Aakkhh"


Cekikan pada leher Jeno nampak tidak lembut. Urat kening dan leher menonjol, wajah pun memerah. Cengkraman tangan Shabila semakin kuat pada leher Jeno.


Plak


Plak


Plak

__ADS_1


Dengan tangan lain, Shabila menampar wajah Jeno dengan keras sampai tamparan itu rasanya sampai di hati orang-orang yang ada di sana.


"Itu untuk kebodohan mu" Tajam Shabila. Shane memeriksa keadaan Aat yang sama sekali tidak terganggu dengan perkelahian di sekitar nya.


Nadi nya lemah dan Shane harus segera membawa nya ke rumah sakit, tapi jika ke Rumah Sakit akan ada berita yang pastinya tidak mengenakan. Kondisi Aat harus di sembunyikan sementara.


"Hahahaha, coba saja. Nyawa nya tidak akan lama! Obat pencuci otak dengan dosis tinggi jika tubuh nya tidak menerima akan mati dan tentu nya obat yang dia terima sudah melebihi kadar imun nya."


Jeno tertawa puas dengan pencapaian nya walaupun kegagalan sudah berada di depan mata, tapi dia terlihat sangat puas.


Palk


Plak


Plak


Shabila tanpa menoleh pada Shane yang tengah memeriksa Aat terus menampar wajah Jeno dengan tenaga dalam nya.


Ukhu


Ukhuu


Jeno terbatuk, sedikit menyemburkan darah dan menyentuh tangan Shabila.


"Ini, apa sekarang aku boleh melukis wajah mu? Sepertinya kau sudah tidak butuh dengan rupa mu ini kan?! Yang ada di dalam penjara seharus nya kau, tapi ada yang menggantikan mu dengan rupa yang sama, jadi bisa di katakan wajah ini sudah tidak berguna lagi.Kan?"


Mulai, Shabila mengeluarkan belati kesayangan nya dari saku celana yang terselip di depan, entah sejak kapan ada belati di sana.


Permukaan belati yang begitu bening sampai-sampai bisa bercermin itu sangat taja seakan di asah setiap hari. Shabila memainkan belatinya di wajah Jeno.


"Le-ppas!" Guncang Jeno berusaha melepas ikatan di tangan dan kaki nya.


"Jangan, kami mohon jangan lakukan apapun pada mereka. Hiks...Hikss Kau bawa lah pria itu dan pergilah, jangan ganggu kami!" Ucap bibi muda dari Jeni dengan isak tangis yang begitu memilukan dan ketakutan.


"Hahahaha mana bisa nyonya. Saya tidak sebaik itu melepaskan orang yang berencana melukai adik kesayangan saya!"


Shabila menarik rambut Jeno ke belakang, memainkan belati di sepanjang leher.


Jakun naik turun tanda Jeno terus menelan ludah nya dengan paksa.


"Kalian pikir siapa kalian?"


"Oh iya, bukan kah sekarang Mali sudah menjadi istri pria ini? Hahaha tidak tahu malu, dia di asingkan bukan nya tobat malah semakin menjadi-jadi"

__ADS_1


Pasti saja terkejut, tidak ada yang tahu dengan pernikahan itu kecuali keluarga sendiri.


"Tutup mulut mu" Suara Jeno semakin menekan karena cengkraman di kepala Jeno semakin keras.


"Oh benar ya hahaha!"


"Kak selesaikan cepat, kita harus segera bawa Paman Aat!" Shane bersiap menggendong Aat.


"Kau duluan saja, Shan! Kakak urus mereka, kau urus Aat dan biarkan Sean menghabisi mereka." Shabila berdiri, memainkan belati nya di samping Jeno dan anggota keluarga yang duduk ketakutan.


Shane pun membawa Aat dengan cepat di atas punggung nya.


Krek


Krek


Kunci di buka dengan cepat, Shane pun ke luar dan ternyata Sean berdiri di tengah-tengah musuh yang sudah tergeletak dengan darah mengotori lantai.


"Kak" Panggil Shane dengan suara menekan karena menahan berat tubuh Aat.


"Astaga Shane_" Sean segera menghampiri dengan cepat dan mengambil alih tubuh Aat.


"Kita harus membawa dia ke Rumah Sakit kak, tapi bagaimana ini, pasti mereka mengenali wajah dia!"


Sean mengerti apa yang dikhawatirkan adik nya itu.


"Ayo" Dengan langkah panjang melewati musuh, Sean berjalan cepat meninggalkan Shabila yang nampak nya belum puas bermain.


Tangisan masih terdengar walaupun kecil, namun ketakutan terus menyelimuti mereka.


"Mari bersenang-senang" Seru Shabila menarik tengkuk leher Jeno dan semakin menekan ujung belati ke pelipis nya.


"Tidak tidak, hentikan!" Suara itu tergagap, peluh keringat dan juga kegelisahan tercampur aduk.


Suara berat itu tidak lagi terdengar sombong dan tinggi, yang kini hanya terdengar nada memohon dan meminta untuk tidak membunuh anak nya.


"Saya bukan orang baik, tuan!" Seru Shabila dengan smirk khas nya.


"Tch tch tch miris sekali" Mimik wajah Shabila benar-benar mendebarkan jantung mereka sampai Jeno mengingat orang-orang yang dulu dia perintahkan untuk menghabisi Asnee dan mereka tidak kembali lagi, mungkinkan kematian mereka begitu menakutkan?.


Jika di lihat,si kembar masih menahan diri. Jika tidak maka kemungkinan besar malam ini adalah malam pembantaian di kediaman Mentri Keuangan.


"Mari kita selesaikan!" Bisik Shabila

__ADS_1


...**...


__ADS_2