The Future King

The Future King
Eps 141


__ADS_3

"Apa kau bilang?"


Reaksi Asnee menunjukkan jika dia kaget karena berita yang dia dengar. Dengan kasar, Asnee memutuskan sambungan telpon nya.


"Ada sesuatu yang mengganggu mu?" Daniza datang dengan membawa buah-buahan segar.


Asnee menoleh, memasukkan kembali handphone nya ke dalam satu celana dan Daniza pun meletakan buah-buahan itu di meja namun kedua mata menatap lekat pada Asnee mencari jawaban.


"Eumm itu, itu Karl. Dia baru saja menyampaikan jika siang ini pihak Bank ingin segera bertemu!"


Daniza masih menatap selidik dan itu membuat Asnee tergagap.


"Ah iya, ada yang ingin kau sampaikan? Tidak biasanya berkunjung di jam-jam segini!" Seru Asnee mengalihkan pembahasan sambil mengecek jam di pergelangan tangan nya.


"Tidak! Hanya saja saya teringat kalau hari ini Ibu Suri mengajak ke Gallery perhiasan dan dia ingin aku yang menemani nya!" Seru Daniza tidak jadi mengorek apa yang sebenarnya Asnee sembunyikan.


"Jam berapa? Kenapa baru bilang?" Tanya Asnee beruntun.


"Tadi pagi saat jamuan teh di paviliun" Sahut Daniza.


"Baiklah hati-hati di jalan. Jika sudah sampai kabari saya!" Asnee menyelipkan jari jemari nya di leher Daniza dan mengecup kilas kening Daniza.


"Okey" Seru Daniza melebarkan senyum nya, begitupun dengan Asnee.


"Kau tidak akan ke luar? Tadi Raja dan Pangeran serta kakek -mu ke luar bersamaan!" Daniza mengingat sesuatu.


Asnee curiga tapi dia tepis kembali.


"Nenek pasti sedang menunggumu. Berangkatlah!" Ucap Asnee.


"Eum" Daniza mengangguk penuh walaupun masih ada pertanyaan di benak nya.


"Haaaahh" Nafas terbuang lega.


"Kenapa dia bisa bebas? Bukan kah Ka Sean memenjarakan nya dengan pasal yang sangat berat? Siapa yang menjamin nya?!" Asnee memijit kening, mendengar jika Lukyanova sudah ke luar dari sel tahanan, siapa sebenarnya Lukyanova ini, kenapa dia mudah untuk di keluarkan.

__ADS_1


Masalah baru mulai berdatangan, belum isu dan berita-berita di pagi hari dan sekarang bertambah dengan informasi Lukyanova yang bebas dengan jaminan yang tidak main-main.


...**...


"Tuan Putri, Tuan Ahan baru kembali dan dia menuju ruangan nya" Lapor seorang pelayan bagian dalam yang khusus di tempatkan di samping putri.


Rayya menghentikan aktifitas nya. Sulaman yang sangat indah dan rapih, di rancang oleh tangan nya sendiri dengan penuh ketelitian.


Suara geseran kursi pun terdengar keras, Rayya dengan cepat ke luar dari tempat duduk itu dan langsung pergi begitu saja. Semua Pelayan yang di lewati pun memberi sapaan salam dengan hormat.


Brakk


Rayya tidak segan mendorong pintu dengan kasar dan keras sehingga Ahan yang hendak menggantungkan jas nya terhenti dan langsung menoleh.


"Biasakan mengetuk pintu sebelum masuk! Dulukan mulut mu jika masuk ruangan orang!"


Ucapan Ahan membuat Rayya merengut dalam langkah nya.


"Ada sesuatu yang mendesak, Baby? Kenapa kau begitu tidak sabaran jika sudah mendengar prihal kedatangan ku!" Ucap Ahan sambil bertanya dan menghampiri Rayya.


"Terus saja bicara, aku akan mendengarkan!" Dengan tangan berayun, Rayya pun duduk memalingkan wajah nya ke arah lain.


"Kemarilah" Ahan pun ikut duduk dan menepuk kedua pahanya ahar Rayya duduk di atas nya.


"Kau akan lama di sini? Urusan nya sudah selesai? Jangan kemana-mana dahulu, sebentar lagi Asnee bertunangan. Seharusnya kakak nya dulu, tapi dia lebih cepat di pertemukan dengan jodoh nya!" Pinta Rayya menatap Ahan lebih dekat, di tambah kini dirinya telah duduk di atas kedua paha Ahan sekarang.


"Saya tidak akan lupa dengan acara itu. Baby!" Sahut Ahan menahan tengkuk leher Rayya dan menatap lekat.


Wajah Ahan menggoda di mata Rayya apalagi di pandang lebih dekat seperti itu.


Para pelayan di luar sudah meninggalkan area kediaman Ahan dan memang di sana tidak ada penjaga.


Sejenak, Rayya mengulas senyum terus menatap Ahan dari dekat. Bibir Ahan pun menjadi pusat perhatian.


'Cup'

__ADS_1


Tiba-tiba, Rayya mengecup bibir Ahan singkat.


"Itu hukuman untuk mu" Ujar nya mengelus bibir Ahan dengan ibu jari nya.


Ahan menatap lekat dan kembali bibir mereka bertemu, menyatu satu sama lain. Awalnya biasa saja, tapi semakin lama lidah mereka semakin bermain.


Jari jemari Ahan menahan tengkuk leher Rayya dan lengan yang lain menaham pinggang ramping itu agar tidak jatuh. Mata tertutup, menikmati setiap gerakan.


Semakin lama semakin dalam, Ahan yang lembut semakin rakus dak Rayya menerima itu tanpa ada nya penolakan.


"Ah"


Rayya menghentikan aktifitas itu dan Ahan pun membuka mata nya dengan suara yang ke luar dari mulut Rayya.


'Hoshh'


'Hoss'


Rayya menghirup banyak udara karena nafas nya terputus-putus. Ahan pun sama, tapi dia bisa mengkontrol nafas nya.


Sepasang mata itu kembali bertemu dan ciuman pun terjadi lagi namin yang kedua semakin dalam. Suara kecupan pun terdengar jelas.


Ahan membawa Rayya ke dalam pangkuan nya, berjalan sambil berciuman dan akhirnya mentok di ranjang.


"Sampai di sini cukup!" Ahan menurunkan Rayya dan berbisik setelah melepas ciuman mereka. "Tidak enak jika ada kabar seorang putri bermadu dengan seorang pengawal dan tidak hanya itu, sebutan Putri Yodrak pun tidak akan pantas di serahkan pada mu!"


Lirikan mata Rayya begitu tajam, begitu runcing dan berbahaya


Plak


Tidak segan, Rayya memukul kepala Ahan dengan keras dan kasar. "Itu hukuman untuk mu saja. Jika tidak ada hukuman, untuk apa aku melakukan ini?!" Rayya tersinggung, dia pun ketus dan beranjak berdiri.


"Saya tahu" Ahan mendorong Rayya kembali agar duduk, mengelus pucuk kepala nya seraya dirinya membuka baju luar.


"Tapi anda menikmatinya, kan?!" Ledek Ahan segera menjauh dan masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Yak yak yak" Rayya berteriak, dia kesal dengan candaan Ahan itu


"Kalau dia pulang, apa Simon juga pulang?" Pikir Rayya, namun otak nya tidak mau berpikir lagi, karena sudah di penuhi oleh Ahan.


__ADS_2