
"Ken, jaga di luar gedung saja! Kalian membuat rumah sakit menjadi pengap!" Edward menutup pintu pelan dan di luar ruangan para mafioso masih berjaga ketat. Pemandangan yang membuat mata Edward sakit.
Kenzie mengerti apa yang di maksud tuan nya itu, karena tidak bisa di pungkiri dari arah kanan koridor terlihat si kembar dan juga Rayya serta Ruby berjalan mendekat.
"Dad" Panggil Shabila berjalan semakin cepat.
Para orang asing itu menjadi pusat perhatian yang tak berkesudahan. "Kalian sudah sampai? Bagaimana sudah mulai bermain?" Edward mungkin seorang ayah yang sangat peka akan kilatan dari sorot mata anak-anak nya dan tidak mungkin juga kalau mereka membiarkan orang-orang luar menyakiti kesayangan mereka.
"Rayya mau ke papa dulu, dia pasti sangat resah saat ini!" Ucap Rayya. Dia pun bergegas pergi ke arah roof top lantai tiga bagian timur rumah sakit.
"Kita mau lihat Asnee dulu" Ucap Shane. Sean dan Shabila pun mengikuti dari belakang.
"Honey" Kedua tangan Ruby memegang pinggang Edward. Edward pun mengusap lembut belakang kepala Ruby seperti muda dulu. "Temani aku mencari udara segar"
"Baby, kau tidak enak badan?" Edward sigap meletakan punggung telapak tangan nya di kening dan di leher.
"Bukan begitu tapi apa kau tidak sadar? Gadis yang bersama Rayya itu, honey!" Ucap Ruby pelan, namun jelas di telinga Edward.
Sedangkan di dalam, Asnee masih belum sadar, luka di kepala nya seperti luka biasa tapi setelah pemeriksaan lebih lanjut ternyata benturan itu mengakibatkan kesadaran nya semakin menurun.
"Lima keluarga, aku ingin bisnis mereka hancur malam ini juga" Kepalan tangan Shane begitu erat saat kedua matanya menatap Asnee yang masih terbaring lemah.
"Tidak, Shan! Biarkan besok menjadi hari terakhir mereka! Setelah pertemuan, kita atur kehancuran mereka! Hidup segan mati pun tidak mau. Itulah yang pantas untuk mereka! "
Rencana apalagi ini, serasa dirahasiakan untuk publik.
...**...
"Ini semua gara-gara kau. Lukya!"
Semua orang menyalahkan Yaya termasuk Luke, masa depan mereka di pertanyakan dari detik ini. "Sial! Kalau akan tahu seperti ini, kita tidak sudi membantumu! Kau harus bertanggung jawab Lukyanova!" Kilatan marah dari beberapa murid yang sepertinya mereka terlibat dalam kasus rencana pembunuhan.
"Hahah hello! Heh jangan seenak nya menyalahkan orang lain, ya! Kita di sini saling menguntungkan dan bahkan sangat-sangat menguntungkan kalian! Uang, barang-barang terlarang itu kalian dapatkan secara cuma-cuma dan itu hasil dari keringat ku sendiri"
Yaya tidak terima , dia tidak terima jika dirinya yang terus di salahkan.
"Aish sialan!" Umpatan terus terlontar.
"Lukya, habis kita! Pihak sekolah sudah mengirim undangan pada orang tua kita dan kau pun pasti akan di keluarkan dari sini secara tidak terhormat!"
__ADS_1
"Diaaam!!" Sentak Yaya. Keadaan nya sudah tidak membaik semenjak dua orang wanita tidak di kenal datang menemuinya tadi pagi.
Tidak bisa diam, mereka resah bukan main. Kenapa bisa menjadi mereka yang di rugikan?.
...**...
"Di mana dua supir itu? Kalian bawa kemana mereka?" Aaron sudah tidak aneh lagi, kegaduhan di rumah sakit pasti gara-gara mereka. Rayya memijit pundak Aaron dengan bertenaga.
"Tadinya aku menginginkan nyawa mereka, tapi sepertinya tidak berguna untuk ku! Jadi paman Lukcy mengambil mereka dari tangan ku.
"Huffhhh! Rayya kau bukan mereka, kenapa harus melakukan hal-hal seperti itu? Bukan kah cukup menjebloskan mereka ke penjara saja sudah cukup?"
Ahan dan Daniza yang berada di sekitar dan berdiri tidak jauh dari Rayya pun mendengar ucapan itu dengan sangat jelas.
"Tidak menyenangkan sama sekali!" Ketus Rayya.
"Oh iya, Daniza tolong berikan makanan ini pada ketiga kakak-ku! Mereka pasti ada di ruangan Asnee" Rayya baru ingat, dia memberikan kantong makanan yang sebelum nya dia beli tadi sebelum menghampiri ayah nya.
Daniza pun pamit diri, Ahan pun hanya mengikuti langkah Daniza. "Jika kau mau ikut, sana pergilah!" Seru Rayya, melihat hanya dengan sudut mata akan sikap Ahan.
"Tidak!" Sahut Ahan dingin. "Apa anda butuh sesuatu?" Tanya Ahan selangkah mendekat.
"Bodyguard mu itu sangat menarik!" Aaron terkekeh, terdengar meledek juga.
"Seksi kan, Pa!" Rayya malah tidak tahu diri.
"Husshh, jaga pandangan mu, putri!" Sentilan mendarat di kening Rayya.
...**...
"Permisi"
Daniza perlahan masuk, ini pertama kalinya dia melihat wajah pangeran Asnee. Selama di istana, dia hanya tahu cerita-cerita dari pelayan istana yang sudah lama bekerja di sana.
"Iya?"
Shabila menyahuti karena Daniza malah berdiri dan hanya menatap wajah pucat Asnee sembari memeluk paper bag berwarna coklat.
"Uuh? Oh maaf nyonya. Tuan putri memerintahkan saya untuk memberikan ini!" Daniza dengan sopan memberikan paper bag itu pada Shabila, namun Shabila masih belum menerima.
__ADS_1
"Biar saya yang memegang nya" Shane menawarkan diri dan mengambil alih paper bag itu. Tatapan Sean dan Shabila tidak biasa, membuat Daniza semakin canggung dan tidak berani menatap mata mereka.
Shabila mengalihkan tatapan nya pada Sean juga Shane.
"Kamu orang baru?" Tanya Shabila.
"Saya baru di rekrut menjadi pelayan di istana putri, nyonya" Gugup Daniza.
"Kau memakai lensa mata?"
Bukan Sean namanya kalau tidak langsung pada intinya.
"Tidak, sepertinya tuan salah melihat" Sesekali Daniza memalingkan pandangan nya. Jantung yang gugup semakin tidak terkontrol. Bertanya-tanya kenapa mereka langsung bisa melihat lensa mata nya, sedangkan dia menyembunyikan nya dengan begitu rapat.
"Ah, dia paling minus kak. Sudahlah!"
"Bisakah kau menemani Asnee dulu? Kami ada urusan sebentar! Tolong jaga dia dengan baik, kalau tidak kau akan tahu akibat nya!"
Padahal tadi Shane yang paling santai tapi sekarang malah dia yang sangat menakutkan.
"Baik tuan!"
Tidak lama mereka pun ke luar, meninggalkan Daniza di dalam bersama dengan Asnee. Suara alat medis terus terdengar berkala.
"Tampan" Gumam Daniza. Wajah Asnee seakan perhatian utama mata nya saat ini. Semburat senyum terpatri dari kedua sudut bibir Daniza.
"Anda sangat beruntung memiliki keluarga seperti mereka! Walaupun saya tidak tahu siapa mereka tapi kedekatan kalian sangat terasa!"
"Andaikan keluarga saya masih ada, mereka akan sama seperti keluarga anda saat ini! Tapi sepertinya harapan saya harua terkubur sedalam-dalam nya"
Tangan Daniza bergetar, perlahan menyentuh tangan Asnee yang berada di sisi badan. Daniza hendak membenarkan posisi lengan Asnee.
"Cepat sadar, mereka sangat mengkhawatirkan anda. Pangeran!" Ucap Daniza pelan, suaranya sangat lembut seakan tak bertekstur.
Grepphhh
Kaget, Daniza terperanjat kaget, dan menarik tangan nya saat tangan Asnee menggenggam tangan nya seketika.
"Pangeran?" Panggil-panggil Daniza tapi kelopak mata Asnee tak kunjung terbuka, namun jemari nya masih menggenggam tangan Daniza.
__ADS_1