The Future King

The Future King
Eps 119


__ADS_3

...***...


Peluh keringat membasahi baju. Asnee sesekali memijit keningnya karena terik matahari semakin di atas kepala. Belum menemukan titik terang, dia terus mencari ke tempat-tempat yang memungkinkan Daniza lewati.


Dari setiap tempat yang dia lewati ternyata masih banyak rakyat nya yang kekurangan, lantas semua bantuan yang selama ini di berikan apakah tidak tersampaikan dengan benar? Pikiran Asnee menjadi bercabang ke sana kemari.


"Maaf tuan, apakah anda pernah melihat gadis ini?" Asnee kembali bertanya tanpa lelah, mungkin hampir setiap orang di tanya tentang keberadaan gadis yang dia tunjukkan lewat layar handphonenya.


"Tidak tuan, maaf" Ucap nya kembali melewati Asnee


Sedangkan Daniza istirahat di bawah reruntuhan pohon di tepi hutan, kaki nya semakin kebas dan dirinya tidak merasakan apapun yang di injak.


Asnee terus mencari ke setiap sudut dan setiap arah yang memungkinkan di lalui oleh Daniza sampai di mana dia pun menginjakkan kaki di sekitar pasar gelap.


"Maaf tuan, apakah anda pernah melihat gadis ini?" Asnee kembali bertanya pada orang-orang di sekitar.


Dan mereka adalah orang yang sama saat Ahan bertanya.


Mereka menatap Asnee dengan seksama, sepertinya tidak ada yang mengenali wajah dari sang Pangeran penerus Raja selanjutnya.


"Tadi ada seorang pria juga yang menanyakan gadis ini" Ucap nya. Asnee semakin penasaran.


"Lalu gadis ini kalian melihat perginya ke mana?"


Mereka pun memberitahu kemana Daniza pergi dan menjelaskan persis seperti yang di jelaskan pada Ahan tadi.


"Terimakasih atas informasinya" Ucap Asnee beranjak pergi.


Asnee berdiri di depan gerbang yang di katakan oleh orang-orang tadi dan memang benar gerbang itu akan di bukan di tanggal tertentu khusus untuk umum, itu berarti jika yang memiliki plakat resmi tidak perlu menunggu tanggal itu.


Asnee pun berjalan menyusuri tebing itu sampai di mana di sampai di ujung tebing dan itu sudah menjorok ke tepi hutan.


"Tidak ada yang pernah mengatakan keberadaan tempat ini" Batin Asnee terus bergumam, dia semakin merasa belum tahu apapun tentang negara nya.


Tebing yang di telusuri Asnee bersebrangan dengan tebing yang di lewati Ahan juga Daniza sehingga dia tidak mendengar perkelahian yang tidak ada habis nya itu.


"Bagaimana cara melewati tebing ini?" Semakin ingin di lewati, semakin tidak bisa. Tebing itu sangat tinggi dan sangat kokoh, tidak ada sama sekali yang roboh.


Asnee terus berjalan ke arah yang lain semakin dekat dengan keberadaan Ahan.

__ADS_1


Asnee berusaha menggapai tebing itu karena dari ujung tebing yang dia lewati tidak ada yang rusak kecuali ti tebing yang sekarang.


Saat kaki Asnee hampir memanjat untuk menyebrangi tebing, Seseorang berteriak keras.


"Jangan ke sini"


Asnee tentu kaget, dia pun seketika melihat siapa yang berteriak.


"Ahan?" Mata Asnee semakin membulat, keadaan Ahan sudah babak belur namun dia masih tegap menggenggam senjata tajam di tangan nya.


"Kejar Daniza, dia masuk ke hutan" Teriak Ahan kembali. Asnee tidak memiliki pilihan lain, dia kembali turun menuruti teriakan Ahan tadi setelah titah dari Ahan terus menggema.


"Ashiaaall" Umpat Asnee, dia pun masuk ke dalam hutan di belakang gedung itu, tapi sebelum masuk, dia pun menghubungi seseorang.


Asnee pun semakin masuk ke dalam hutan dengan langkah panjang nya, sekitar tiga pulih menit berlalu langkah kaki semakin banyak dan mendekat.


"Pangeran" Ucap mereka dan Karl pun ada di sana memimpin.


"Telusuri hutan ini dan kau ikut bersama saya"


Perintah Asnee langsung di lakukan, sekitar dua puluh orang masuk hutan dan Asnee juga Karl pun ikut mencari keberadaan Daniza.


Asnee pun berhenti. "Ada yang ingin kau katakan?" Tanya Asnee seraya menyelidik.


"Putri Rayya sepertinya turun tangan juga"


Asnee pun terdiam. "Astagaaa" Asnee semakin memijit kening nya. Dia yakin seisi istana akan sangat gaduh karena ini.


Ah pasti keluarga mafia nya pun akan turun tangan. Kepala nya akan sangat pusing jika itu benar. Rayya salah satu kesayangan mereka apalagi Kakek Lio dan Paman Leo mereka pasti sedetik kemudian akan menapaki area itu.


Asnee tidak bisa berkata-kata lagi, dia sekarang lebih fokus mencari Daniza.


"Gadis nakal itu sebenarnya mencari apa?" Batin Asnee terus bergemuruh.


"Nona" Mereka berteriak memanggil nama Daniza dan hampir saling bersahutan.


Daniza yang tengah memejamkan mata nya menyandar di reruntuhan pohon seketika membuka mata nya kasar.


"Siapa mereka?" Daniza berdiri sesekali berdesis karena memang fakta kaki nya semakin sakit.

__ADS_1


Darah kembali ke luar dan memar di atas telapak kaki nya lun semakin terlihat.


"Ssshhhh" Daniza menyeret kaki nya perlahan.


'Daniza'


'Nona Daniza'


Teriakan semakin terdengar di gendang telinga, Daniza menuju ke asal suara namun bibir nya kelu untuk menjawab teriak mereka.


Peluh keringat semakin membasahi, perut kosong membuat kondisi Daniza semakin down.


"Itu di sana" Teriak salah seorang bawahan dan cepat berlari ke arah Daniza.


"Nona" Panggi mereka dan membantu menahan tubuh Daniza.


"Silahkan duduk" Ucap salah satu dari mereka.


"Air, siapa yang bawa air minum?" Ucap Pria itu kembali.


"Saya, saya bawa!" Jawab nya seraya menyerahkan air minum dalam botol sedang itu.


"Silahkan, Nona!"


Daniza pun minum sampai air di dalam botol habis.


"Cepat beritahu pangeran" Titah nya dan beberapa dari mereka menuju arah yang di pijak oleh Asnee juga Karl.


Deru nafas yang sudah tidak beraturan dan kesadaran yang semakin menghilang namun Niza masih bisa menahan nya sampai di mana suara Asnee masuk di pendengaran nya.


"Niza" Asnee berlutut dengan satu kaki menapaki tanah, menarik Daniza ke dalam pelukan nya.


"Akhirnya kau datang" Ucap Daniza. Asnee semakin mengeratkan pelukan nya sampai dimana kesadaran dirinya pun lenyap.


"Biarkan saya bantu menggendongnya!" Karl menawarkan kan diri, namun Asnee tidak memberikan nya karena tidak ada yang boleh menyentuh Daniza selain dirinya.


Karl mengerti dengan sikap tuan nya, dia pun paham kenapa tuan nya seperti ini. "Anda mulai mencintai nya, Pangeran" Batin Karl bertutur seraya mengulas senyum tipis. Karl menyaksikan betapa khawatirnya sang tuan, melebihi khawatirnya saat tuan nya bersama dengan gadis terdahulu.


Mereka pun meninggalkan hutan dengan Daniza dalam keadaan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2