The Future King

The Future King
Eps 140


__ADS_3

Ruby dan yang lain nya sudah bersiap, mobil pun sudah kembali terparkir di depan istana.


"Kenapa?" Tanya Asnee saat Daniza memijit kening nya.


Asnee dan Daniza ikut mengantar ke Bandara dengan beberapa pengawal ikut di belakang.


"Ahan telpon, dia sepertinya sudah menunggu di bandara! Sepertinya Wara menelpon nya tadi."


"Memang nya kenapa?" Asnee tidak mengerti, apa ada masalah jika gadis itu menelpon Ahan.


"Ah entahlah!" Daniza tidak ingin membahas nya. Kalau tahu bagaimana Ahan begitu menggenggam Iswara dengan kedua tangan nya, maka keputusan Daniza tidak memberitahu Ahan akan mereka benarkan.


Ruby dan yang lain nya tidak memakai Jet Pribadi, mereka menggunakan pesawat umum untuk penerbangan.


Sampai di Bandara.


"Wara" Panggil seseorang dan sudah di pastikan jika suara itu milik Ahan.


"Kan! Seru Daniza. Asnee pun mengerti sekarang betapa sayang nya Ahan pada Iswara.


"Anda di sini?" Bahkan Edward dan David yang menanggapi keberadaan Ahan sekarang. Tentu saja adik kakak itu sudah tahu kenapa Ahan begitu menyayangi Iswara.


"Tuan" Sapa Ahan.


"Ish aku bilang tidak perlu ya tidak perlu! Ngeyel ya jadi pria. Aneh deh!" Decak Iswara.


"Ya mana bisa Wara, kecuali kamu tadi tidak menghubungi nya." Celetuk Daniza. Wara nyengir kuda saja walau hatinya masih sakit akan kepergian orang tua nya, namun Wara masih bisa tersenyum.


"Kenapa jadi aku?" Decak nya.


"Anda tidak perlu khawatir. Selama dia ada bersama kami maka kemanan nya akan dipastikan!" Ucap David menepuk pundak Ahan.


"Tuan, Nyonya, maaf merepotkan anda" Ahan merasa tidak enak dengan orang-orang di depan nya. Mereka baik bukan sekedar baik, tapi benar-benar baik.


"Tenang saja" Sahut David kembali.


"Wara—" Belum juga Ahan selesai bicara, Iswara sudah menukas nya.

__ADS_1


"Aku akan patuh, tidak akan nakal dan akan kembali ke sisi Ahan dengan selamat dan sehat. Apa itu penawaran yang baik?!" Ujar Iswara.


"Sangat menggiurkan. Nona!" Tepuk Ahan di pucuk kepala Iswara. "Dan jangan melupakan ajaran saya, anda akan hidup di lingkungan asing sekali lagi. Jadi jangan menyerah, ok! Kami ada di sini untuk, anda!" Lanjut Ahan berbicara.


"Ih kolot, Ahan kaya orang tua" Celetuk Iswara dengan ejekan nya, tidak lupa tawa jenaka nya.


"Kau ini" Ahan semakin gencar menepuk pucuk kepala Iswara berulang.


"Yak yak yak, jangan menepuk di situ terus. Aku sudah besar!" Protes Iswara menepis tangan Ahan.


Tentu saja Iswara dari pagi sampai sekarang menjadi pusat perhatian dua keluarga beda organisasi itu.


"Oh iya, tadi manggil Putri Rayya Baby kan? Apa hubungan kalian? Kenapa aku tidak di panggil Baby?" Selidik Iswara.


Edward melebarkan kelopak mata nya atas protes Iswara, karena dirinya pun sampai kini masih memanggil Ruby dengan panggilan Baby.


"Katanya sudah besar!" Ejek Ahan.


"Ah sudah lah" Gerutu Iswara menarik tangan Eiji reflek.


"Mohon bantuan nya" Tatapan Ahan kembali sendu saat meminta pada Eiji.


Mereka pun masuk ke dalam. Ahan, Daniza san Asnee melihat keberangkatan mereka.


Asnee tidak melepas Daniza walau dia tengah bertukar cakap dengan Ahan. Entah kenapa dia tiba-tiba cemburu dengan kedekatan mereka.


"Niza, ada beberapa orang yang perlu kami urus dan sepertinya akan sangat sibuk"


Ahan menghentikan ucapan nya, namun kembali berucap.


"Huffhhh"


Bukan berucap, Ahan malah membuang nafas berat nya seraya menepuk berulang lengan Daniza.


"Saya pamit" Ucap Ahan.


Daniza dan Asnee membalikkan badan nya kala Ahan sudah tidak berada lagi di antara mereka.

__ADS_1


"Aneh" Gumam Daniza.


...**...


Gerakan menentang kenaikan tahta selanjutnya perlahan terlihat. Tiba-tiba di pusat kota ramai banyak orang berbondong-bondong menentang kenaikan tahta Pangeran Asnee.


"Kau sebenarnya sama sekali tidak memberi informasi yang benar. Karl?"


Di tempat duduk ruang pribadi, kaki menumpu dengan tatapan tajam dan selidik ke arah Karl yang nampak menegang.


"Maaf jika saya lancang, Pangeran! Kejadian ini di luar informasi dan kendali saya. Tidak ada pihak yang menentang sebelum nya dan mereka telah hilang sejak kasus tuan Jeno dan nyonya Mali, untuk itu sejauh dan sedalam apapun saya mencari nya tidak nampak"


Karl membela diri, kejadian pagi ini di luar kendalinya, dia pun hendak membereskan masalah ini namun Pangeran Asnee lebih dulu memanggil.


"Kau tahu, Karl. Saya tidak rugi kehilangan orang yang tidak jujur apalagi tidak setia!" Asnee menunjuk sarkas namun dengan salah satu alis naik tajam.


Karl menunduk. "Saya mengerti!" Seru Karl.


"Cari ulang informasi dan perintahkan yang lain nya untuk berjaga-jaga dan atur ulang pertemuan saya dengan pihak bank negara. Sebelum itu sampaikan berkas ini pada Raja, sebelum Pangeran Aat berangkat, berikan flashdisk ini dan sampaikan jangan melakukan apapun!" Tutur Asnee sembari memberikan berkas dan Flashdisk. Karl pun mengangguk patuh.


"Baik. Pangeran! Saya pamit undur diri" Ucap Karl.


Karl pun ke luar dan Asnee kembali melihat perkembangan berita mengenai isu pagi ini.


Di dalam istana pusat pun sedang gaduh akibat dari berita yang tayang di media tentang penolakan tahta kerajaan.


"Asnee sepertinya memiliki caranya sendiri untuk mengatasi ini! Supaya tidak berkepanjangan, kita juga harus cari cara agar semua nya nampak baik" Ucap Aat sesaat setelah Karl menemui nya tadi. Aaron pun mengangguk setuju.


...**...


"Apa?" Lirik Simon pada Ahan yang sedari tadi menatap nya dingin.


Mereka masih berada di tahanan dan belum usai dengan urusan mereka.


"Kalau di penjara, aku rasa akan mereka beli dengan uang. Uang mereka banyak, kecil kemungkinan untuk mendapat hukuman, bahkan kata setimpal akan tidak berlaku untuk orang sadis seperti mereka".


"Jika kita melakukan hal yang sama, itu berarti sama saja kita dengan mereka. Lama tidak nya mereka di tahan yang penting kita tidak membalas mereka dengan hal sama!" Tutur Simon.

__ADS_1


"Karena apa? Karena ini baru permulaan!" Senyum Smirk salah satu bibir Simon.


__ADS_2