
Bicara salah, tidak bicara malah di sebut bisu. Celine mondar mandir di dalam ruang tamu dengan bos hotel duduk sambil memalingkan wajah nya karena sudah pusing sedari tadi melihat kelakuan Celine.
Wanita itu terus nyerocos, terlihat juga buku tipis berukuran medium dia kipas-kipas kan pada lehernya.
Karl yang terus menyulam kedua tangan nya sebenarnya sudah sangat greget, dia terlihat berdiri di depan tiang penyangga dengan stelan jas nya.
"Yaak bicara! Sudah sana katakan pada putri nakal itu harus sampai kapan aku berada di sini? Panas sekali!" Ujar Celine masih dengan aktifitas nya, mengibaskan rambut dan mengipas leher nya.
Dengan malas Karl melangkah ke arah nakas dan dengan lumayan kasar memberikan remote AC ke tangan Celine.
"Silahkan untuk di atur suhu nya. Saya permisi!" Ucap Karl melebarkan kedua sudut bibir nya dan undur pamit dengan sopan.
Ekspresi Celine melongo tidak percaya. "Wahh ini orang—" Umpat nya kesal.
"Kau ini —"
Celine membalikkan badan nya. "Apa?" Garang nya. Bos hotel menghela nafas.
"Tidak tidak ! Hanya saja saya sedari tadi berpikir bagaimana anda bisa mengelola perusahaan dengan mulut mu yang sangat sarkas ini?!" Seru bos hotel.
Satu alis Celine terangkat, kemudian kedua bahu pun ikut terangkat. "Kau ingin tahu?" Sahut Celine berjalan dengan langkah seksi.
Tegukan ludah dari bos hotel itu menandakan jika dirinya memang salah berbicara.
"Begini—" Celine menjatuhkan dirinya di pangkuan bos hotel. Tentu saja kini keringat dingin ke luar membuat ekspresi bos hotel sedikit menggelikan.
"Dan begini—!!!"
"Ukhuuu ukhuuu"
"Hahahaha mau lanjut?" Sangat Celine. Yang terjadi adalah, tangan cantik Celine mencekik leher bos hotel tidak tanggung.
"Tidak tidak" Jawab nya cepat sesekali memegang lehernya . Celine berdiri dengan cepat dan wajah tanpa berdosa nya itu sangat menjengkelkan sekarang.
Pintu ruangan kembali terbuka. Mereka berdua kembali berdiri kala Rayya juga Asnee terlihat masuk.
"Celine, semuanya sudah aku selesaikan dan eum—" Rayya berhenti sejenak.
Celine nampak penasaran. "Kenapa?" Tanya nya.
"Nanti jika aku membutuhkan saksi untuk sidang selanjutnya apa kau mau membantuku ? Untuk balasan nya, aku sudah meminta Karl mengirim semua barang yang palsu ke hotel mu dan nanti jika kau ada butuh sesuatu atau ada yang kurang bisa menghubungi Karl!" Tutur Rayya.
Asnee dan bos hotel pun terlihat tengah berbincang, sedangkan Karl seperti biasa, dia berdiri di dekat pintu.
Tatapan Celine mengarah pada Karl. "Dia kah yang kau maksud? Pria setengah bisu itu?" Tunjuk nya dengan dagu, reflek Rayya pun mengikuti tunjukkan Celine.
"Benar, dia orangnya!" Ucap Rayya membenarkan, namun seketika merasa aneh. "Apa maksud mu tadi ? Pria setengah bisu ? Siapa ? Dia ?"
Celine mengangguk tanpa melepaskan tatapan nya. "Baiklah baby, kalau begitu aku pamit!" Celine memeluk kilas tubuh Rayya.
"Ayo, aku antar ke depan!" Ujar nya.
__ADS_1
"Putri, saya pun pamit! Senang bisa mengenal anda dan saya mengucapkan terimakasih banyak atas bantuan anda!" Ucap bos hotel dengan sopan.
"Anda terlalu berlebihan, tuan! Kami yang seharusnya berterimakasih pada anda—" Tutur Rayya.
...**...
"Kita akan membuka kedok bibi Mali setelah aku mendapat bukti kuat atas apa yang dia rencanakan terhadap ku!"
Asnee menatap Rayya tidak mengerti. "Maksudnya?"
"Aku ingin bermain-main dahulu sebentar! Kau sudah memegang bukti untuk menjatuhkan hukum pada bibi Mali, tapi aku juga ada sesuatu yang ingin di berikan pada nya"
"Orang yang kau kirim telah mati, kakak sudah membereskannya dan rekaman pengakuan dia sudah kakak satukan dengan bukti yang di kirim ke badan peradilan!!" Tutur Rayya, namun Asnee masih belum bisa mencerna nya.
"Kakak apakah ada sesuatu yang tidak aku tahu?" Asnee berdiri menatap selidik pada Rayya.
Helaan nafas terdengar, membuat Asnee semakin penasaran. "Ada yang ingin membunuh kakak di asrama"
Deug !!!
Jantung Asnee mendadak berhenti, namun sepersekian detik kembali berdetak namun tidak normal.
"Kaka tidak mengatakan nya pada ku! Apa aku lupa akan itu?"
Rayya menggeleng. "Tidak As ! Mereka berbahaya"
"Tidak mungkin jika hanya satu lingkup mereka saja! Kakak yakin ada orang kuat di balik ini, tapi siapa?" Seru Rayya.
"Flashdisk?"
Dengan cepat mereka memasangkan di laptop dan apa yang terjadi ? Tentu saja rekaman percobaan pembunuhan yang dilakukan teman sekamar Rayya di asrama, serta rekaman-rekaman mencurigakan di area asrama.
"Bukti ini bisa kita gunakan untuk memperkuat kalau bibi Mali salah! Tapi As, hati kakak masih belum tenang" Ucap nya dengan risau. Asnee menepuk-nepuk punggung Rayya.
"Potongan anting itu pun akan di sertakan nanti" Lanjut nya. Asnee mengangguk paham.
namun ada satu berkas lagi yang belum di lihat. Rayya oun kembali mengklik nya. Dan ternyata hanya suara saja yang terdengar dengan layar hitam.
Rayya juga Asnee mendengarkan dengan seksama. Suara-suara asing silih berganti saling adu argumen namun sesekali tawa serakah terdengar.
drrrttt!!!
drrtttt!!
Getaran handphone milik Rayya di samping laptop pun terdengar berulang. "Mommy?" Gumam Rayya juga Asnee bersamaan.
Ikon hijau pun di geser, lalu pengeras suara di aktifkan.
"Rayya kau di sana?." Suara khas milik Ruby tidak ada yang berubah, namun hanya bertambah berat saja.
"Mom? Kau baik-baik saja?" Tanya Rayya karena tidak biasa nya Mommy Ruby menghubungi dirinya di jam malam.
__ADS_1
"Mommy baik-baik saja! Yang lain pun baik-baik saja" Ucap Ruby di seberang sana.
"Aaaa mommy jantung kita berasa mau copot ini!" Keluh Rayya.
"Tau ini ! Jam segini telpon, tidak biasa nya. Kan kita jadi berpikiran negatif!" Timpal Asnee.
Namun apa. Di seberang sana malah banyak orang yang tertawa geli.
"Ya maaf! Mommy hanya mau bertanya bagaimana kasus nya, apa sudah usai?" Ruby kembali bertanya, suara serius nya terselip di sela tawa.
"Aman" Sahut Rayya dan Asnee.
Rayya menyunggingkan smirk nya "Ok bagus! Dan itu apa yang mommy berikan pada mu, kau cari tahu sendiri siapa sebenarnya mereka"
"Mommy menantang ku?" Seru Rayya.
"Sepertinya iya kak!" Timpal Asnee.
"Anak kecil jangan ikut campur" Teriakan dari seberang sana memekik telinga. Ya tentu saja itu suara Savira, bahkan di usia yang sudah lanjut pun suara nya masih cempreng.
"Wah benar-benar menantang ini" Asnee tidak terima.
"Hahaha jika itu yang kalian rasa ! Ya silahkan ! Tapi sayang, berhati-hatilah dan satu lagi ingat, kita tidak akan membiarkan kalian berada dalam bahaya. Mengerti?!" Seru Ruby.
"Baik Mom!"
...**...
Di kamar Aat, tentu saja aura di dalam nya tengah panas. Wajah Aat sudah memerah menahan marah begitupun dengan tangan sudah mengepal.
"Katakan sejujur-jujur nya, Mali! Apa hubungan mu dengan Jeno, hah?!" Tekan Aat.
Mali menghentakkan kaki nya dan berdiri dengan kasar. Wajahnya pun merah manahan marah.
"Hubungan apa? Apa yang sebenarnya ingin kau ketahui ? Kau juga tahu dia adalah teman kita, kan! Lalu sebenarnya kau mencurigai ada apa dengan kita?"
"Kau sedang menuduh ku, Aat? Kau punya bukti?"
Pertengkaran besar yang belum pernah terjadi, namun dengan tidak dipercaya akhirnya terdengar juga. Suara mereka terdengar menembus dinding kamar sehingga pelayan dan penjaga di sana hanya bisa menunduk mendengarkan.
"Teman kita? Teman kita dari mana? Dia hanya teman ku, teman yang menusuk ku dari belakang dan memang aku tidak ada bukti akan kedekatan kalian tapi dengar ini Mali, aku sudah tidak bisa lagi bersabar, tidak bisa lagi berpura-pura akan kenyataan!"
Aat yang biasa santai dan sabar, senyum pun tak luput tersebar di setiap sudut istana kini sirna dan hancur.
Perceraian keluarga kerajaan memang tidak bisa sembarangan, tidak bisa karena alasan sudah bosan apalagi alasan sudak tidak bisa saling mencintai karena kerap hal itu hanya di jadikan sebuah sandingan saja jika di istana.
Perceraian dalam istana akan di tanggap oleh pihak persidangan dan diterima oleh rakyat jika salah satu dari mereka membuat kesalahan besar yang tidak bisa di maafkan, maka perceraian akan terjadi.
Posisi nya sekarang, Aat mungkin tidak memiliki bukti kuat untuk menceraikan Mali untuk itu dia hanya bisa bersabar dan berpura-pura. Dia pun ingin menjaga nama baik keluarga nya agar terjauh dari cemoohan dan fitnah.
Tapi siapa sangka, mentari dan rembulan kerajaan memiliki semua bukti yang seharusnya di miliki oleh Aat. Jadi tunggu tanggal main nya!!
__ADS_1
Pertengkaran masih belum usai, sampai dentingan dan pecahan kaca terdengar bergantian.