
Collen tidak lama di istana, dia telah kembali melajukan mobil nya menjauh dari gerbang istana. Rayya juga Asnee mengantar ke depan dan kembali ke dalam namun bukan ke aula melainkan ke ruangan kerja Aaron.
"Nona" Panggil Lexi.
Rayya yang tengah melangkah pun seketika berhenti, begitu juga Asnee. Lexi dengan hormat memberi salam.
"Paman mau ke mana?" Tukas Asnee bertanya lebih dulu karena Lexi terlihat sudah bersiap-siap.
"Iya paman, kan aku masih di sini! Bukan kah kau mengatakan akan mengantar aku kembali nanti?"
"Aku akan lebih aman saat paman di samping aku" Ujar Rayya dengan tidak lagi canggung mengguncang lengan Lexi.
Kesan nya sekarang Rayya tengah merayu sugar daddy, namun tidak apa, sikap Rayya yang seperti ini yang keluarga mafia inginkan. Harus manja tapi mandiri!!
"Paman ada urusan sebentar! Nanti malam akan kembali, jadi hubungi paman jika ada apa-apa" Ucap Lexi menepuk berulang pundak Rayya.
Tatapan Lexi beralih pada Asnee. "Tuan kecil, paman pamit dulu!" Ucap Lexi hormat sopan.
Adik kakak itu masih berdiri, memperhatikan punggung Lexi yang kian membugar, tidak ada bongkok-bongkok nya walau sudah tua.
"Ayo" Ucap Asnee setelah keberadaan Lexi tidak terlihat lagi.
Krieeeett!!
Pintu tinggi terbuka perlahan setelah ketukan berulang terdengar.
Aaron dan Aat reflek meluruskan pandangan mereka yang kini tengah melangkah masuk.
Layar di depan wajah Aaron dan Aat berdiri di belakang Aaron, dia juga tengah menatap layar sesekali memeriksa berkas yang tadi di berikan oleh Collen pada Asnee.
Langkah kaki semakin terdengar cepat. "Sudah di periksa?" Tanya Asnee. Rayya pun menatap dengan penasaran.
"Ini tengah Papa periksa. Kemarilah_!" Sahut Aaron sembari mengetuk meja panjang nya mengkode agar Asnee lebih mendekat.
"Paman biar aku yang bantu" Ucap Rayya saat Aat masih mengamati berkas-berkas di tangan nya.
"Waahh sangat menakjubkan! Ini bukan lagi sebagai narang bukti, tapi sebagai senjata untuk membunuh nya! Tch tch tch ternyata selama ini pak Betta bermain di belakang kita, kak!"
Aat di buat menganga atas apa yang dia baca. Rayya pun ikut memeriksa berkas yang telah di baca oleh Aat.
Asnee sibuk bersama Aaron, sedangkan Rayya pun sibuk bersama Aat di sofa ruang kerja itu.
__ADS_1
"Bukan kah istana yang kau tepati tidak terpasang perekam di dalam kamar nya? Tadi sudut dalam perekaman ini sangat sempurna, terlihat jelas" Tutur Aaron menyanggah dagu nya dengan kedua tangan yang tertaut dan menumpu di atas meja.
Asnee pun heran. "Asnee pikir juga seperti itu, Pa!"
"Jadi ternyata benar luka yang dia miliki bekas pukulan yang kau lakukan!" Seru Aaron sesekali menatap Aat. Asnee pun mengikuti tatapan ayah nya.
"Pah, apakah paman Aat akan sebodoh itu? Dia pria cerdas, jadi tidak mungkin jika tidak tahu sesuatu!" Ucap Asnee sangat pelan sehingga hanya sang ayah yang mendengar nya.
Huffhhh
Hembusan nafas Aaron terdengar menghela. "Jika dia memang tahu pasti tidak akan segan pada teman nya itu! Tapi sepertinya bukan itu yang dia cari"
Asnee mendengarkan, penasaran dengan apa yang akan ayah nya ucapkan.
"Lalu?"
Aaron mem-pause tayangan di layar laptop dan fokus menatap Aat. "Tidak ada yang tahu bagaimana sifat paman mu itu, termasuk papa mu ini. Asnee!" Ujar nya.
"Sepertinya dia tahu sesuatu yang lain tapi tidak bisa mengungkapkan nya karena suatu alasan! Papa pun ingin tahu, tapi dia terlalu pandai menyembunyikan nya!" Lanjut Aaron. Asnee mengangguk-anggukan kepala, sembari mencerna ke arah mana ayah nya berbicara.
"Jadi sifat terbuka dan ramah nya itu bohong, kah?!" Terka Asnee.
"Tidak ada yang bohong di antara sifat itu, tapi baik nya itu yang bohong!"
Perbincangan Asnee juga Aaron pelan, untuk itu tidak akan ada yang mendengar, di tambah posisi meja kerja dan sofa berjarak lumayan jauh. Kini terlihat Rayya juga Aat tengah serius dengan berkas yang menurut mereka seperti nya sangat menarik.
Asnee tidak lanjut berbicara, apalagi bertanya. Sepertinya jika berbincang dengan Rayya akan menemukan jawaban nya.
Rekaman video kembali di play, setelah selesai ayah dan anak itu kembali membuka satu berkas lagi.
Klik klik !!
Telunjuk Aaron menekan berulang mouse yang sudah terpasang pada laptop.
Dua pasang mata menunggu apa yang ada di dalam rekaman itu, namun dengan tidak terduga apa yang di rekam benar-benar membuat kedua mata Aaron menajam merah.
"Astaga apa ini?" Ujar nya.
"Ada apa kak?" Kebetulan, Aat menghampiri di ikuti Rayya dengan melangkah cepat.
Asnee hanya terdiam, dia bungkam sambil hati bertanya-tanya kenapa penyerangan di Irlandia bisa terekam? Bukan kah jika di toilet seperti itu tidak di perbolehkan? Tapi kenapa bisa!
__ADS_1
Niat hati ingin damai saja, tapi akhirnya keluarga nya tahu sekarang.
Tidak ada yang melepas tatapan nya dari Asnee bergantian, setelah itu kembali menatap layar kembali.
Asnee hanya bisa memelas.
"Mereka mati?" Bibir Aat bergetar sedikit saat bertanya seperti itu. Rayya juga Aaron pun menunggu jawaban Asnee.
Hufhhh !!!
Asnee berdecak pinggang dengan tangan yang kanan, menutup mulut nya dan kembali melepas seakan-akan menyeka dengan jari penuh.
"Tentu tidak!"
Padahal Rayya pun tahu, tapi sepertinya dia baru melihat pertama kali gaya adik nya itu bertarung.
"Lumayan!" Ujar Rayya kembali membuat Aaron juga Aat terpaku dengan ucapan tuan putri itu.
"Psikopat" Ringis Raja dan Pangeran itu dalam gumaman nya.
...**...
"Ada apa?"
Setelah selesai melakukan pemeriksaan atas apa yang di berikan oleh Ruby juga Rayya. Asnee, dia bukan nya istirahat ke istana nya, tapi dia malah membuntuti Rayya sekarang.
"Aku penasaran apa yang ada dalam paper bag mu, kak! Pasti barang menarik! Aku mau lihat, boleh?!" Ucap nya memanyunkan bibir nya manja.
"Oh astaga wajah mu hey!" Rayya malah mencubit pinggang Asnee sehingga sang adik terperanjat kaget dan meringis.
"Dan aku juga ada yang mau di bicarakan, sepertinya akan melengkapi bukti kita tentang Bibi Mali" Ucap Asnee.
"Harus selesai dan bersih bukan? Maka jangan terburu-buru! Mari kita bermain-main sebentar"
"Kasihan kalai langsung ketahuan" Ujar Rayya dengan semangat namun mimik wajah nya masih santai dan tenang.
"Aku lelah, mana bisa main-main terus. Kan udah dari kemarin, kak!"
Asnee malah menggerutu, soalnya dia tidak suka basa-basi apalagi menunda. Dia sudah bermain-main sedari kemarin dan kini batas sabar nya.
"Itu kan kamu!" Acuh Rayya melenggang pergi.
__ADS_1
"Bisa menyebalkan juga ternyata, ya!" Decak Asnee, tapi masih saja mengikuti langkah kakak nya.