The Future King

The Future King
Eps 163


__ADS_3

'Hahahah'


"Kami pun tidak selugas ini sebelumnya, kami berani berhadapan karena memang situasi sudah tidak bisa di kendalikan. Meminta saran Raja yang sebentar lagi akan turun tahta mencerminkan hormat kami pada beliau. Apa tujuan kami sekarang ini sangat salah. Putri?!"


Dari ucapan orang itu, Rayya sangat tahu siapa dia, senyum licik nya bisa Rayya lihat walaupun sangat tipis. Sesekali Rayya pun melirik Aat yang berdiri rapih dengan kedua tangan menaut di depan.


Aaron nampak masih mendengarkan.


"Lalu kemana saja kalian selama ini? Baru berani menginjakkan kaki di aula rapat istana setelah banyak sekali masyarakat yang berbondong-bondong ingin mengkudeta Raja?!"


Mereka salah tingkah, tidak suka mendengar perkataan dari Rayya yang begitu tajam, mereka pun tidak menyangka Putri Yodrak itu ternyata bermulut runcing.


Rayya masih menjeda ucapan nya, menatap intimidasi kepada orang-orang di dalam aula.


"Sangat aneh dan jika dipikir dengan logika tidak akan sampai di orang-orang bodoh. Hahaha bukankah setiap permasalahan saat ini begitu banyak celah? Saya rasa orang yang menyusun nya terlalu terburu-buru!"


"Bahkan saya sendiri tidak mengenal kalian!"


"Kalian yang hanya duduk dan bersembunyi di belakang pimpinan bodoh yang serakah akan kasta dan reputasi juga harta, mana bisa berpikiran lugas dan positif. Tentu tidak akan punya rasa malu. Kan ?! Tapi sekarang dengan tidak tahu malu nya kalian menerobos masuk membawa permasalahan yang bahkan saya rasa bisa di selesaikan dengan baik, tapi malah berniat melengserkan Raja secepatnya dan menggantikan dengan Raja yang sudah kalian pilih, hahahaha kekanak-kanakan sekali!"


"Maaf tuan-tuan, ini Negara yang nyata, Kerajaan yang nyata. Bukan lah kerajaan yang ada dalam dongeng-dongeng dan sebuah kerajaan bukan lah mainan!"


Rayya terus berbicara, otak nya begitu encer dan bahasa yang tertutur begitu sangat bisa di cerna. Orang-orang di dalam aula pun tidak bodoh akan perkataan Rayya, perkataan yang menyindir dan menyudutkan mana bisa tidak mereka mengerti.


"Ucapan Putri terlalu berlebihan." Tukas Aat mulai angkat bicara.


"Mereka hanya ingin berdiskusi, tidak perlu sampai putri mengatakan hal itu!." Lanjut nya menukas kembali saat Rayya hendak kembali bersuara.


"Nampak nya, Putri Rayya pintar berbicara hahaha" Gurau orang-orang di sana.

__ADS_1


Rayya menaikkan satu alis nya dan langsung melirik orang itu. "Kenapa. Apa tuan baru tahu saya pintar berbicara? Makanya jangan bersembunyi terus, jadinya tidak tahu kan kalau saya ini terkadang menjadi juru bicara dari Raja!"


Ryu yang berada di sudut ruangan menahan tawa, dia ingin sekali tertawa dengan sindiran keras dari Putri Rayya. Ternyata Adik angkat dari tuan nya itu tidak beda jauh dari mulut-mulut Shabila dan Nara.


'Hahaha'


'Hahaha'


Tawa terpaksa dari orang-orang di dalam terdengar canggung dan pasti merasa tersindir.


"Kenapa Paman? Apakah Paman juga tidak tahu jika keponakan mu ini pintar berbicara? Setahu Rayya, Paman Aat orang yang paling depan tertawa jika keponakan nya melayangkan sindiran keras dan akan berakhir mengacungkan kedua ibu jari! Ssshh tapi kenapa sekarang tidak?"


"Owh apakah Paman sekarang sudah tidak sabar duduk di tempat Raja? Tch tch tch, Rayya bisa bantu kok kalau sudah tidak sabar!!" Seru Rayya mengulas senyum manis namun tatapan nya begitu nyalang. Bergurau namun maknanya serasa menyindir


Tidak kuat, Ryu sudah tidak bisa menahan tawa nya sampai dia perlahan berbalik badan, sampai Bian yang ada di samping Ryu menatap aneh.


Gelengan kepala dari Aaron menjadi pusat perhatian. Aat yang kena sindiran keras pun ikut menoleh pada Aaron walau sekarang kedua tangan nya mengepal keras karena ucapan Rayya.


"Lalu apakah ada solusi untuk permasalahan ini? Nampak nya kalian sebagai ketua-ketua dalam pemerintahan pun sudah tidak bisa menyelesaikan ini, solusi pun malah ingin melengserkan saya secepat mungkin. Apakah sebenarnya tujuan kalian bukan prihal pengunjuk rasa? Tapi tujuan kalian sendiri ingin mengkudeta langsung Raja sekarang dengan terang-terangan. Bukan?!"


"Jika tidak memiliki solusi yang efektif, sudah membuktikan jika selama ini keberadaan kalian tidak lah ada gunanya!"


Aaron malah semakin menyudutkan orang-orang di sana. Tidak ada yang berani memotong ucapan Raja walaupun ingin.


"Bian, ajukan surat pemberhentian mentri-mentri yang datanya diberikan oleh Putri Rayya termasuk orang-orang yang datang malam ini. Tidak ada penangguhan dan protes, semua ada di bawah perintah saya. Jika ada yang memberontak segera bawa ke pengadilan istana dan langsung di hukum tanpa ada keringanan"


Jleb


Seakan di serang oleh ribuan panah. Orang-orang yang ada di dalam aula melebarkan kelopak mata mereka dan reflek menatap sang Raja yang tengah duduk dengan tegap, mata setajam elang dan mimik wajah tegas serta rahang yang menegas.

__ADS_1


Sekalinya buka suara, akan banyak orang kehilangan pekerjaan dan nyawa. Orang-orang sepertinya terlalu meremehkan sikap Raja Aaron yang baik hat selama ini.


Rayya menyunggingkan sudut bibir nya, akhirnya dia mendengar keputusan yang mengerikan dari Papanya selama menjabat sebagai seorang Kepala Negara.


Bian berjalan menghampiri, bersiap menerima titah Raja. Namun bersamaan dengan itu, Aat pun ikut maju.


"Raja, maaf atas kelancangan saya, tapi hal itu tidak akan baik untuk kedepannya. Mereka yang menjabat sebagai kepala pemerintahan sangat berkontribusi selama ini dan pemberhentian yang Raja putuskan akan menghina harga diri mereka"


"Saya selaku Pangeran sangat tidak setuju dengan keputusan ini. Keputusan ini tidak memberikan solusi terhadap permasalahan masyarakat pengunjuk di luar sana!"


Tutur Aat begitu membela orang-orang itu.


"Benar Raja. Keputusan ini bukan solusi terbaik dan pastinya keputusan ini akan semakin memperpanas keadaan di luar!" Timpal ketua dari metri sosial itu.


Bian kembali mundur dengan membungkukkan dadanya. Aaron menekan paha dengan telapak tangan dalam duduk nya.


"Keputusan saya mutlak, tidak dapat di ganggu gugat sekalipun oleh keluarga saya sendiri! Perlu di ingat, tidak ada keputusan Raja yang salah dalam kerajaan ini, terutama keputusan yang saya buat."


Perkataan Aaron benar-benar angkuh tapi Rayya sangat suka.


Mereka kembali menunduk begitupun dengan Aat. Aaron menatap selidik pada Aat yang nampak tidak seperti biasanya.


"Kenapa, Pangeran? Apa kau kurang puas dengan keputusan saya?" Seru Aaron seakan mengetes Aat saat ini. Rayya menunggu jawaban apa yang akan di lontarkan.


"Saya hanya berpendapat, Raja! Tidak lebih dari hal itu. Lagipula keputusan seperti ini bukan hanya sekali ini saja, pastinya waktu-waktu sebelum nya pun sudah pernah menjadi ultimatum!" Reflek Aat menjawab yang tentu saja membuat Aaron juga Rayya saling lempar tatap.


"Benarkah?" Seru Aaron semakin menyunggingkan salah satu bibir nya begitupun dengan Rayya.


"Ternyata kau memang bukan Paman Aat!"

__ADS_1


__ADS_2