
"Dia kesayangan kami, terutama saya! Usianya masih muda dan masa depan nya masih panjang. Walaupun ada kelengahan dalam penjagaan waktu tragedi itu, tapi kami tidak berhenti mencari"
"Dari cerita yang saya dengar, bukankah seharusnya kini saya mempertanyakan nya? Tidak mungkin tiba-tiba seorang pria yang baru patah hati begitu saja mengajak gadis baru untuk menikah"
Bukan menyudutkan, tapi Simon tahu setelah mendapat informasi. Yang menyangkut Daniza tidak lepas dari mata dan telinga nya.
Asnee belum buka suara.
Kini mereka tengah bertemu untuk berbincang di salah satu kafe yang di mana di sana terdapat penginapan untuk turis.
...**...
Daniza hendak ke dapur istana, tapi langkah nya terhenti kala melihat Asnee yang dari arah pintu masuk.
"Bukannya tadi bilang tidak akan ke mana-mana?" Daniza menghentikan Asnee.
Asnee menoleh ke samping di mana Daniza berdiri.
"Eeeee—?"
Asnee malah menarik tangan Daniza sehingga kini dia memeluknya erat. Entah apa yang terjadi sehingga Asnee seperti ini, Daniza merasakan deru nafas panas dan rahang Asnee menegas.
"Biarkan seperti ini sebentar"
Bukan nya apa, tapi tidak sedikit pelayan istana itu melihat, walau mereka menunduk tapi tetap saja ujung mata mereka penasaran.
"Ada apa? Istirahatlah, kau terlihat lelah. Pangeran!"
Kini mereka berada di dalam kamar, Daniza memperhatikan Asnee yang benar-benar nampak lelah. "Kau bisa berbagi masalah mu dengan ku. Tidak apa-apa, semuanya pasti akan berakhir!"
Daniza begitu dalam menatap mata Asnee. Kelembutan dari belaian Niza pun terasa sampai ke tulang wajah, Asnee mengeratkan pelukan nya.
"Niza, berjanjilah tidak akan pernah meninggalkan aku apapun yang terjadi. Aku hanya perlu kau percaya pada ku, aku akan tenang!"
Pelukan terlepas, Asnee menatap Daniza begitupun sebalik nya. "Tergantung. Aku akan percaya jika itu masih dalam logika dan masih bisa di selesaikan!" Tutur Daniza.
Asnee semakin menatap Daniza lekat.
"Kenapa? Apa hatimu ini masih belum terbuka? Apa masih ada gadis itu di sini?" Dengan ringan nya, Daniza mengusap dada Asnee. Reaksi Asnee tentu muram dengan ucapan Daniza.
"Kau meminta untuk aku tidak meninggalkan mu di saat hati ini masih ada penghuninya? Tentu tidak. Itu tidak mungkin, aku akan kesulitan! Aku tidak bisa masuk jika kunci nya saja masih di pegang oleh gadis itu. Jadi hubungan kita berdua saat ini tidak lain hanya berdasarkan kebutuhan dan keuntungan bersama"
__ADS_1
"Kau membutuhkan aku dan aku membutuhkan kamu, Pangeran! Bukan kah itu benar? Jadi, jika suatu saat nanti kamu membuat saya benar-benar kecewa maka maaf, tidak ada lagi yang harus di pertahankan dan aku akan mengingat permintaan mu untuk tidak meninggalkan aku hanyalah sebuah alasan agar kau tidak merugi karena sebuah tujuan mu itu"
Ternyata Daniza gadis yang sangat logis di samping memakai hati, Asnee tertegun dengan ucapan Daniza yang begitu membuat nya bungkam.
"Jadi saat ini, kamu meminta aku untuk tidak meninggalkan mu apakah karena takut tujuan mu tidak tercapai atau ada rasa cinta di sini?"
Daniza kembali menunjuk dengan telunjuk dada Asnee. Asnee menunduk menatap telunjuk Daniza.
"Belum tahu?" Seru Daniza. Asnee terdiam, dia tidak pernah tersudutkan seperti ini.
"Niza" Ucap Asnee pelan.
Niza menghirup udara dan melebarkan kelopak mata serta telinga nya bersiap mendengar apa yang hendak Asnee katakan.
Asnee masih diam menatap. "Jika kau berjanji, aku pun akan bersumpah tidak akan pernah meninggalkan mu"
Asnee kembali memeluk Daniza. Tentu saja Daniza semakin heran dengan situasi saat ini, dia bingung ada apa dengan Asnee. Asnee tidak mengindahkan ucapan nya dari tadi dan hanya mengeluarkan aura kegelisahan.
"Kau bisa mengatakan nya, padaku" Seru Daniza, Asnee masih memeluk nya dengan dagu bertumpu di atas pundak Daniza.
"Entah apa yang di pikirkan nya, tapi dia membantu perempuan itu bebas! Simon mengatakan nya tadi_" Ucap Asnee. Kedua alis Daniza mengerut.
"Simon? Kapan? Kenapa aku tidak tahu?" Daniza mencehcar Asnee dengan beberapa pertanyaan.
Asnee pun perlahan tahu bagaimana sifat Asli Daniza dari penglihatan nya.
"Apa yang Simon katakan?" Tanya Daniza kembali.
"Tidak ada, kita hanya berbincang biasa saja—" Sangkal Asnee tidak mau melanjutkan ucapan nya.
"Aku lelah" Ucap Asnee. Seperti biasa, kening nya mengkerut seakan banyak beban yang faktanya memang ada.
Daniza menatap, dia tidak mendapat jawaban dari Asnee.
"Tidak mandi dulu?" Ucap Daniza saat Asnee menelentangkan tubuh nya di atas kasur.
"Nanti saja" Ucap Asnee, menutup kelopak mata.
Niza masih menatap di samping, memperhatikan wajah Asnee. "Tidurlah!" Seru Niza meletakan jemarinya di kening seraya perlahan memijit.
Kedua mata Asnee perlahan terbuka. Kini tidak ada yang luput dari pandangan Asnee, seluruh wajah Daniza lekat dia tatap.
__ADS_1
"Temani aku" Asnee menarik pelan tangan Daniza yang berada di kening nya sampai tubuh Daniza condong. Hidung mereka pun kini bersentuhan.
Deg
Deg
Deg
Jantung terpompa begitu cepat, sepasang mata itu menyejukkan, nyaman di lihat.
"Asnee" Ucap Daniza.
Panggilan yang baru Asnee dengar dari bibir Daniza, begitu lembut dan menyejukkan.
Asnee pun semakin menarik Daniza ke dalam dekapan nya.
"Biarkan tetap seperti ini" Pinta Asnee, memeluk Daniza dalam baring nya.
Daniza tidak bicara, dia gugup saat Asnee semakin membawa nya ke dalam pelukan.
Tidak sadar, perlakuan di antara mereka mulai berbeda satu sama lain, panggilan pun mulai berbeda tidak canggung dan baku.
...**...
"Apa anda yakin hanya ini yang anda inginkan? Masih banyak kesempatan dan anda bisa menggunakan itu!" Ucap pria itu pada seseorang dengan jas hitam membaluti tubuh nya.
"Kenapa? Kau menginginkannya? Ohoo dia keponakan saya yang sangat sangat saya sayangi. Tidak, saya tidak akan merenggut apapun kecuali satu. Tahta itu" Seru nya begitu yakin, dari ucapan nya pun terdengar sangat yakin jika dia begitu menyayangi keponakan nya.
"Kita hanya perlu menunjukkan ketidakpuasan dan kekhawatiran jika tahta turun kepada nya. Tidak lebih dari itu, tidak ada menyakiti apalagi menyentuh keponakan saya sejengkal pun!" Tegas nya.
"Lalu anda yakin kalau rencana ini akan berhasil?" Ujar pria itu.
Dia hanya diam, kembali duduk dan berpikir keras. Sorot mata nya begitu kosong dan kesepian, seakan tidak ada orang di samping nya. Hidup nya nampak hampa.
"Biarkan seperti ini dulu dan yakinkan semua mentri" Ucap nya kembali berdiri menepuk lengan pria itu lalu pergi.
Pria itu membuang nafas nya kasar
"Bagaimana bisa merebut tahta, jika caranya saja seperti ini? Bukankah harus ada yang di korbankan? Dia terlalu lembut" Gumam nya..
Pria itu pun ikut melenggang pergi
__ADS_1
...***...