The Future King

The Future King
Eps 152


__ADS_3

Pagi sekali, Aat pun sampai di istana namun tidak biasa nya Aaron, Asnee juga Rayya berdiri berjejer di pintu masuk.


Aat tentu kaget, dia memperlambat langkah nya seraya menatap selidik pada mereka. Perangai yang kalem dan seakan tidak ada beban apapun selalu terpancar dari wajah Aat.


"Wohh ada apa ini, tumben pagi buta sudah bangun? Eue'eum apa tengah menunggu kedatangan pria tampan ini?" Setu Aat dengan tingkah nya yang sama sekali tidak ada yang berubah.


Aaron, Asnee juga Raya menatap lurus saja, sampai di mana senyum Rayya melebar. "Paman, haruskan proyek itu aku yang urus? Rayya pikir itu lebih baik karena proyek itu membuat Paman jarang sekali pulang! Apa ada masalah? Rayya bisa membantu nya." Tutur Rayya menggandeng tangan Aat.


Kedua alis Aat menaut, dia heran dengan sikap keponakan tersayang nya itu, tumben sekali bangun di pagi buta dengan menanyakan proyek yang sedang dia garap.


"Tidak masalah sayang. Kenapa kau mengkhawatirkan hal itu?!" Seru Aat.


"Lalu apa yang seharus nya di khawatirkan?" Timpal Asnee. Aat menoleh begitupun yang lain nya.


"Ssshh entahlah!" Seru Aat semakin menautkan alis nya, ada apa ini sebenarnya.


"Ada yang ingin kita bicarakan. Kalian datang lah ke ruang kerja!" Aaron pergi terlebih dahulu sesaat setelah mengatakan itu.


"Heuum tadinya mau langsung istirahat" Gumam Aat namun masih terdengar oleh Rayya


'Tapi kau tidak akan tidur nyenyak setelah pertemuan ini. Paman!' Batin Rayya bergemuruh, mempererat gandengan nya pada Aat prihatin. Aat merasakan pegangan Rayya yang semakin erat membuat nya semakin aneh.


Ruangan kerja Aaron sunyi, belum ada yang buka suara sekarang. Aat terlihat menatap ketiga insan itu bergantian, masalah nya mereka tengah menatap dirinya intens.


"Oh ayolah, ada apa ini?"


Aaron menegakkan duduk nya. "Aat kau tidak ada yang ingin di bicarakan dengan kami?" Ucap Aaron.


"Mengenai apa? Oh ayolah kenapa kalian jadi serius begini?" Seru Aat.

__ADS_1


"Aku tahu apa yang paman rencanakan" Asnee mulai menggertak.


"Rencana apa? Jangan melihat Paman seperti itu!" Aat duduk menyamping dan sekarang kaki nya menyilang dengan kaki kanan menumpu di atas kaki kiri.


"Apa paman tidak sadar kalau apa yang paman lakukan itu bisa jadi pemberontakan terhadap kerajaan?"


"Sebenarnya paman ini kenapa? Apa ada yang salah? Apa jangan-jangan selama ini paman mengincar tahta kerajaan?"


Reaksi Aat terkejut, gerakan kaki nya terhenti kala Asnee mengucapkan hal segamblang itu.


"Kau sedang menuduh paman mu sendiri As? Kau mencurigai Paman mu sendiri?"


"Jaga ucapan mu itu. Asnee!" Lanjutnya. Aat menekan dalam setiap kata nya


"Aku kira ada apa pagi buta berkumpul seperti ini. Hahaha ternyata malah menuduh yang di mana sama sekali tidak ada bukti! Kalian pun tahu aku bagaimana, sesetia apa aku ke kerajaan ini. Tapi kenapa hari ini kesetiaan pria ini di pertanyakan?! Kita akhiri di sini saja!"


Aat bereaksi tidak terima, walaupun benar tuduhan itu tapi dia merasa di tikam dari depan.


"Hanya bukti kecil saja tidak akan membuat tuduhan itu benar!" Seru Aat tanpa membalikkan badan nya.


"Tapi dengan cara Paman pergi seperti ini malah membuktikan jika tuduhan kami benar!" Timpal Asnee tidak memberi celah.


Perlahan Aat membalikkan badan nya dengan kedua tangan masuk ke dalam saku, seraya kedua sudut bibir nya melebar.


"Dengan cara seperti ini pun malah membuat Paman mu ini juga tidak nyaman. Pangeran! Oh lupa, sedari awal Paman mu ini tidak memiliki siapapun, tidak seorang pun, bahkan kedua orang tua pun sama, jadi kenapa Paman mu ini harus tidak nyaman?" Ujar Aat.


"Tch Tch menyedihkan" Decih Asnee. Dengan langkah lebar, Aat mendekat dan


Grepp

__ADS_1


Aat menarik kerah baju Asnee sampai kursi pun terdorong kasar.


"As—" Rayya pun berdiri hendak mencegah paman nya, tapi Asnee menghentikan.


"Menentang perintah raja adalah sebuah Pengkhianatan, kau harus menanggung nya!" Aaron berdiri, melepaskan cengkaraman tangan Aat pada Asnee.


Aat mendorong Asnee dengan sangat keras sehingga menubruk meja.


"As" Teriak Rayya.


"Pengkhianatan? Memang nya apa yang aku lakukan sampai harus menanggung nya?" Tekan Aat mendorong-dorong sebelah dada Aaron dengan telunjuknya.


"Aat sadar!" Aaron menepuk-nepuk pipi Aat dengan tangan nya. "Kita bisa bicarakan ini baik-baik!" Seru Aaron yang begitu sakit kala adiknya sendiri memilih menjadi musuh dalam selimut.


"Tidak penting" Tekan Aat lalu menoleh pada Asnee. "jaga Etika anda. Pangeran!" Tunjuk Aat, tidak menunggu lama langsung pergi.


"As kau tidak apa?" Aaron menghampiri.


"Ternyata Paman sendiri yang merencanakan itu! Sangat tragis sekali!"


Bukan nya mereka tidak tegas, tapi posisi Aat pun di istana tidak kalah tinggi dan tidak kalah penting.


Brak


Brak


Bruk


Barang-barang di dalam kamar berserakan, Aat mengamuk dengan amarah yang meluap-luap.

__ADS_1


"Sial. Keparat kalian!" Teriakan Aat begitu ngeri. Bersamaan dengan itu tidak luput wine dia teguk per gelas nya


"Karena sudah tahu, aku tidak akan segan lagi pada mu!" Smirk terbit.


__ADS_2