
...**...
Di parkiran pasar, Ning dan Kepala Dapur sudah lama menunggu Daniza kembali, tapi tidak kunjung terlihat batang hidung nya.
"Ning, coba kau telpon lagi" Ucap Ibu Kepala Dapur yang dia pun mencari-cari Daniza dengan kedua mata terus mengedar, sampai terasa pusing.
"Tidak aktif, sepertinya dia tidak bawa handphone deh, bu!" Ning sudah resah, ini sudah dua jam mereka menunggu. Supir pun ikut mencari keberadaan Daniza dari ujung pasar sampai ke ujung lagi.
"Nona Daniza tidak saya temukan. Bu!" Lapor Supir itu dengan keringat di kening nya.
"Anak itu kemana?" Ibu Kepala Dapur pun sudah resah dan khawatir.
"Bu, kita kembali dulu ke istana! Mungkin Niza sudah pulang lebih dulu" Ning hanya bisa menerka, dia tidak mau menambah keresahan semakin meluap.
Mereka pun kembali dengan pak Supir melajukan mobil nya dengan lumayan cepat.
Sampai di istana, Karl, Asnee dan juga Ahan yang tengah berada di halaman pun mengerutkan kening mereka karena tidak mendapati Daniza bersama mereka.
"Tuan Ahan. Tuan, gawat—!" Ning berlari ke arah Ahan tanpa menyadari jika di sekitar nya ada sang Pangeran bersama dengan tangan kanan nya.
"Mana Daniza?" Asnee mendahului Daniza. Ning mematung, dia perlahan menoleh pada asal suara, seketika Ning menelan ludah nya sendiri, mata membulat penuh, jantung pun berdetak tidak normal.
"Salam, Pangeran_" Ibu Kepala Pelayan mendekat, memberi salam sopan pada Asnee.
"Bu, kalian tadi bersama dengan calon istri saya. Bukan?"
Ibu kepala Dapur juga Ning mengangguk serempak.
"Lalu di mana dia?" Lanjut Asnee bertanya.
"Maaf Pangeran" Ibu kepala Dapur dan Ning berlutut di hadapan Asnee dengan cepat, mereka merasa bersalah dengan hilang nya Daniza.
"Di mana terkahir kalian melihat Daniza?" Giliran Ahan yang bertanya, mendahului Asnee yang sudah membuka mulut nya, tatapan Asnee tidak biasa pasa Ahan karena dia pun melihat sorot mata aneh dari manik Ahan.
"Katakan bu, dimana terakhir kalian melihat Daniza?"
Ning dan Ibu Kepala Dapur pun menjelaskan kronologi nya, Karl pun langsung menuju kamar Daniza hendak mengecek apakah ada handphone milik Daniza di sana.
__ADS_1
Tidak lama, Karl kembali dengan handphone Daniza di tangan nya.
"Sial! Kenapa dia tidak membawa handphone nya" Hardik Asnee.
"Dia tidak terbiasa memegang benda itu" Ahan menimpali namun segera pergi ke Istana Timur di mana di sana Rayya tinggal.
"Karl, siapkan mobil dan kau bawa dua bawahan mu!" Titah Asnee. Karl pun segera pergi.
Ning dan Kepala Dapur pun masuk ke dalam istana dengan segala rasa bersalah, apalagi Ning yang mengajak Daniza tadi.
"Putri" Ucap Ahan menghadap.
Rayya tengah menghirup aroma cairan yang sudah terpisah perbotol, sepertinya Rayya tengah meracik cairan parfum.
"Tolong ambilkan botol mawar yang ada di etalase itu" Ucap Rayya menunjuk etalase di belakang Ahan tanpa menatap orang nya.
Tubuh Ahan pun mengikuti perintah majikan nya begitu saja tanpa menolak sedikit pun.
"Silahkan, Putri!" Ahan menyerahkan botol kaca tipis dengan cairan merah di dalam nya.
"Anggrek lebih membias bau nya" Ahan memberi masukan saat batang itu dia dekatkan ke hidung nya.
"Kalau mawar? Dia wanginya akan bertahan berapa jam menurut kamu?" Rayya menyerahkan batang yang lain pada Ahan.
"Bertahan seharian, tapi jika terkena sinar matahari akan sangat menyengat" Ahan kembali memberi pendapat nya. Ahan masih tidak banyak bicara, tidak agresif seperti biasa nya padahal tidak ada pelayan di dalam rumah kaca itu.
"Ada apa?" Tanya Rayya tapi masih fokus pada kesibukan nya.
"Saya izin mencari Daniza" Dengan tidak sabar, Ahan meminta izin. Rayya menghentikan aktifitas nya.
"Daniza?" Ucap Rayya mengulang, dia belum menerima informasi dari luar. "Dia memang nya kemana? Bukankah tadi di ruangan Asnee?" Rayya pun meletakan batang itu dan penuh menatap Ahan.
"Tidak. Dia ke pasar dan tidak ikut kembali dengan ibu Kepala Dapur!" Seru Ahan.
"Pasar?"
Ahan menaikkan salah satu alis nya dengan ekspresi Rayya.
__ADS_1
"Ayo kita cari berama" Rayya ke luar dari meja dan sedikit menggeser tubuh Ahan karena melewatinya.
"Anda tinggal saja di istana, biar saya yang mencari. Pangeran Asnee pun sudah bergerak!" Tahan Ahan pada tangan Rayya.
"Ikut" Pinta Rayya.
"Tidak. Anda tinggal di sini!" Tolak Ahan.
"Ikut" Rayya masih tetap dengan keinginan nya.
"Tidak. Saya bilang anda tinggal di istana san tunggu saya kembali" Ahan menarik tengkuk leher Rayya dan memeluk nya. "Tunggu di sini. Ini permintaan pertama dari saya" Ucap Ahan kembali menjauhkan wajah Rayya agar terlihat lebih jelas.
Cup
Ahan pun tidak segan mengecup kening Rayya. Manik mata Ahan benar-benar tengah meminta, Rayya pun tidak pernah melihat sorot mata itu muncul dari pria yang sudah dekat dengan nya.
"Pastikan kau membawa gadis nakal itu pulang dengan selamat"
Rayya merasa keadaan sedang tidak baik-baik saja. Dia pun tidak mengetahui sebenarnya apa tujuan Daniza, yang dia tahu, dia adalah seorang putri dari kerajaan agung Keira dan memiliki pengetahuan luas dan kemampuan yang luar biasa di bidang pertahanan. Untuk selebih nya, dia tidak tahu, untuk itu Rayya mempekerjakan dia berbeda dengan pelayan lain.
"Saya berangkat" Pamit Ahan kembali memeluk Rayya sebelum akhirnya pergi.
Hanya hubungan Rayya dan Ahan yang belum di ketahui oleh siapapun kecuali pelayan inti di istana Timur yang di tinggali Rayya.
Rayya pun beranjak ke luar, dia menuju ke dapur istana Barat untuk menemui Kepala Pelayan.
"Salam Putri" Sapaan demi sapaan hormat terdengar dari pelayan istana sampai akhirnya Rayya sampai.
"Tolong sampaikan pada Kepala Dapur jika saya ingin menemuinya" Ucap Rayya pada pelayan yang ada di liar dapur.
"Baik, Putri!" Sahut nya sopan menundukkan kepala.
Tidak lama, seorang ibu berlari dengan stelan koki membalut permukaan tubuh nya.
"Saya menghadap, putri" Ucapnya sopan, menautkan kedua tangan nya di depan.
Rayya ingin mengetahui kronologinya, kenapa Daniza bisa tidak kembali bersama mereka.
__ADS_1