
Hembusan nafas empati, Ahan menatap punggung Daniza lekat. "Simon, gadis mu kelelahan!" Gumam Ahan kembali menghembuskan nafas nya dan kembali mengikuti Daniza walau telah jauh dari pandangan.
Keluarga kerajaan pun telah bersiap di ruang berkabung, semua nya jatuh ke dalam kesedihan dan keheningan. Hanya keluarga kerajaan yang ada dan terlihat Leo dan Moza pun ada di sana tengah membumbungkan doa di hadapan peti berukuran kecil.
"Niza" Ucap Rayya, dia pun bergegas menghampiri Daniza yang baru saja masuk dengan tatapan kosong. Tidak ada air mata saat ini, hanya wajah yang nampak merah dan mata bengkak.
"Niza"
Ibu Suri Rataporn pun ikut mendekat sedangkan yang lain nya menatap dengan penuh empati dan simpati.
Asnee belum ada di ruangan saat itu.
"Niza" Rayya memeluk Daniza erat, menepuk punggung nya layaknya seorang kakak yang tengah memenangkan adik nya.
"Sabar ya sayang, ada kami di sini! Kau gadis kuat dan pemberani. Ayah dan ibumu pasti bangga pada mu." Tutur Rayya. Ibu Suri Rataporn pun telah mendekat dan mengelus pucuk kepala Daniza lembut.
"Semua nya akan berlalu dan kau sudah hebat bisa melewatinya" Ucap Rayya kembali.
Air mata Daniza mulai menggenang kembali dan akhirnya luruh.
'Hiks'
'Hiks'
'Hiks'
Dada nya sesak dan berat, jantung nya bukan lagi berdetak melainkan bergemuruh seakan meminta untuk melompat ke luar.
"Hiks..Hiks.. Hiks. Apa yang haru aku lakukan setelah ini? Aku takut!" Daniza pun membalas pelukan Rayya dan itu sangat erat.
Ibu Suri Rataporn saling pandang dengan Rayya dan air mata mereka pun menggenang dan sakit di dada.
"Ada kami, kamu tidak perlu takut. Eum!" Seru Rayya. Ibu Suri Rataporn pun menganggu seraya mengelus kepala Daniza.
Ahan pun tiba di ruang berkabung dan Asnee pun terlihat berjalan masuk dengan Karl.
"Pangeran" Sapa Ahan dengan salam sopan.
Asnee pun masuk, berhenti di dekat Daniza yang tengah menangis pilu. "Mobil sudah siap, kita berangkat sekarang" Ucap Asnee hati-hati.
Semua orang yang ada pun berbaris di hadapan tiga peti kecil dan serempak berdoa, memberi salam dan hormat untuk yang terakhir kalinya.
__ADS_1
'Hiks
'Hiks'
'Hiks'
Daniza kembali menangis, air mata nya yang di pikir telah kering ternyata salah. Air mata itu begitu panas mengalir ke pipi.
Asnee bergeser dan menggenggam tangan Daniza erat. Daniza tidak menoleh, dia hanya menekan dadanya yang begitu sakit.
Peti Jenazah itu sangat menyakitkan, di dalam nya tidak ada raga yang utuh, hanya kedua bola mata yang saat ini tersisa dan itu semakin membuat Daniza sakit. Kewarasan nya masih terkendali saat ini, jika tidak dia akan gila melihat orang-orang yang di cintai nya tersisa hanya dua bola mata saja.
Rombongan Jenazah telah bersiap ke tempat persemayaman, Daniza di rangkul oleh Rayya. Ahan tidak bisa, dia tidak bisa menyaksikan ini, ini terlalu menyakitkan untuk nya.
Ahan yang biasa tenang dan tegar seketika runtuh saat melihat Daniza dan juga tuan nya yang kini berada di dalam peti dan itu hanya kedua bola mata saja.
"Han" Tepuk Satra, ternyata dia pun ada bersama dengan rombongan.
Ahan pun menoleh. "Pria itu jika tidak muncul hari ini akan aku pastikan tidak akan pernah bisa muncul, sekalipun dia ingin bertemu dengan, Niza!" Ucap Ahan dengan aura yang sedikit menekan, terdengar biasa saja namun perkataan itu mengandung ancaman.
"Dia tahu kapan harus kembali dan harus pergi, Han! Tenanglah, bukankah kita yakin jika dia masih hidup? Kembali sekarang atau tidak, yang penting dia masih hidup!"
"Aku sudah mengatakan nya semalam. Dan jika dia masih belum kembali dalam waktu lama, kita yang akan turun tangan! Tugas dia adalah tugas kita juga tapi sebelum mencari dia, kita harus mengeluarkan gadis itu dahulu"
"Kedua orang tua nya menitipkan dia pada kita, walaupun tidak di bawah sumpah dan janji, tapi mereka sudah seperti keluarga kita, jadi melindungi gadis itu adalah tugas kita"
Satra terus berbicara, Ahan pun setia mendengarkan.
"Huffhh!! Dia sudah salah, jadi harus mendapat hukuman nya. Kita tunggu saja sidang keputusan hakim! Kita juga yang salah karena terlambat menyadari niat nya." Giliran Ahan yang berbicara.
Satra mengangguk, dia pun tidak bisa berbuat apa-apa atas kejahatan gadis itu. Informasi yang mereka dapat terlambat sampai ke tangan.
"Mana photo gadis itu" Ahan terus meminta dan Satra pun malah berdecak heran akan otak dan penglihatan Ahan. Masalah nya teman satunya ini lemah dalam mengingat wajah perempuan apalagi namanya.
...**...
Sekitar lima mobil salah satunya berisikan pengawal kerajaan memasuki area pemakaman, di tempat pun sudah terlihat petugas makam dan pengawal dari kerajaan menunggu.
Hening dan sunyi, rombongan pun berjalan perlahan. Tiga pengawal memeluk peti kecil di depan masing-masing membawa satu.
Kondisi Daniza nampak membeku, wajah nya pucat dan bola mata merah pekat nya memudar, kembali ke warna merah bening.
__ADS_1
Suasana begitu hening, isak tangis Daniza begitu pelan di pelukan Rayya namun semua orang ikut sedih dengan keadaan ini.
"Niza"
Saat tiga peti hendak di masukkan ke dalam tanah, suara seorang gadis memanggil Daniza. Semua orang pun menoleh termasuk Daniza walau dengan keadaan lemas.
"Niza, siapa yang meninggal?" Suara itu bagai petir yang menyerang jantung Daniza. Parau dan lemah, namun lembut dan halus.
"Niza Hiks Hiks Hiks"
Ya, dia adalah Iswara yang berdiri tidak jauh dari berdirinya Daniza. Dia memakai baju biasa tanpa mengenakan warna hitam.
Di belakang nya ada Eiji dan juga David menemani, Ruby dan Edward pun baru sampai dan berjalan menghampiri.
"Daniza Evelyn katakan siapa yang meninggal?" Suara Iswara meninggi. Ahan dan Satra yang berada di barisan paling belakang seketika menerjang, mereka tahu pemilik suara itu.
"Wara?" Daniza masih mematung, namun air mata nya terus berjatuhan. Dia masih tidak percaya jika di depan nya memang lah Iswara, adik sepupunya.
"Wara, kau kah itu?" Daniza melepas pegangan tangan Rayya, yang ternyata Rayya pun menangis dan tidak bisa lagi menahan air mata nya.
"Wara, Wara kau di sini bukan?" Perkataan Daniza begitu menyayat, semua orang pun termasuk laki-laki menangis dengan raungan Daniza.
Brugh
Daniza terjatuh, dia tersandung saat menuju Iswara berdiri, dia takut jika ini hanyalah ilusi nya.
"Hiks,,, Hiks,, Hiks,, Wara" Dalam duduk nya, Daniza menangis. Dia pun kembali harus kecewa karena Iswara di depan nya memang lah ilusi.
Asnee hendak membantu namun dorongan dari Ahan juga Satra mengurungkan niat nya.
Ahan dan Satra mematung, mereka memperjelas penglihatan mereka dengan seksama. "Nona muda?" Ucap Ahan dan Satra bersamaan.
Iswara berdiri patuh, Mimik wajah nya bercampur aduk namun air mata terus membasahi pipi. Bibir nya bergetar begitu pun kaki dan tangan nya.
Eiji mendekat, memegang lengan Iswara namun secepat kilat, Ahan melepas pegangan Eiji dan langsung membawa Iswara ke dalam pelukan nya.
"Kau selamat, syukurlah Tuhan terima kasih" Dengan tidak peduli di mana dia berada, Ahan tidak segan mengecup kening dan kepala Iswara.
"Nona" Satra mendekat, mendekap kedua lengan Daniza.
"Dia memang adik anda." Bisik Satra, Daniza perlahan menengadah menyeka air mata nya dan menatap Iswara lebih lekat.
__ADS_1