The Future King

The Future King
Eps 136


__ADS_3

Rayya dan Asnee merasa sakit di dada melihat pemandangan yang seharus nya tidak mereka lihat. Namun demikian, situasi nya berbeda saat itu, mereka di paksa harus mengerti dan paham walau banyak pertanyaan di dalam benak mereka.


Iswara masih menangis di pelukan Ahan. Tubuh Iswara masih sama saat terakhir Ahan peluk, lembut dan hangat.


Iswara pun melepas pelukan, menjauhkan wajah nya dari Ahan. Kedua bola mata Iswara memakai lensa dan itu menjadi hitam pekat yang seharus nya berwarna biru laut pekat.


"A—han?" Bibir Iswara bergetar, tergagap mengucapkan nama di luar dugaan nya.


"Ini Kau kah?" Tangan Iswara perlahan menggapai wajah Ahan dan akhirnya telapak tangan Iswara menempel di pipi Ahan.


"Ini Saya, Ahan Erickson!" Seru Ahan memberi senyum lembut.


Deug


Jantung Rayya semakin bergetar, dia tersenyum getir saat Ahan mengulas senyum lembut pada gadis lain.


"Wara" Suara Daniza kembali terdengar.


Grepp


Daniza seketika memeluk Iswara, dia menatap wajah Iswara dengan tangis nya. Kedua tangan Daniza begitu tidak sabar mengusap wajah Iswara seakan tidak percaya jika adik nya kini berada tepat di depan nya.


"Niza ini aku"


'Hiks'


'Hiks'


'Hiks'


Iswara pun menangis meraung, bahkan lebih keras dari Daniza. Semua orang bisa menyimpulkan jika Iswara gadis yang lebih lembut dari Daniza.


"Tenanglah, ada aku di sini" Ucap Daniza yang bahkan dia pun sebenarnya butuh seseorang yang bisa menenangkan hati nya.


Sebelum di kebumikan, untuk yang terakhir kalinya, Iswara membuka peti itu walau harus mengumpulkan keberanian yang tinggi dan mental yang kuat.


"Papa"


Iswara kembali meraung saat melihat hanya kedua bola mata papa nya yang di kebumikan. Iswara pun membuka lensa mata nya dan warna bola mata itu semakin pekat.


"Paman, Bibi, maafkan Wara. Wara nakal! Wara tidak bisa menjadi adik yang patuh hiks,, Hiks,, Hiks!"


"Paman, Bibi tolong jaga Papa Wara di sana, ya. Papa masih ceroboh, takut nya jika nanti bertemu mama malah semakin membuat mama sedih!"

__ADS_1


"Hiks,,, Hikss,, Hiks,, Bibi sebagai gantinya, Wara akan menjadi adik yang patuh dan akan melindungi Kak Niza di sini, tapi Bibi dan Paman harus berjanji menjaga Mama dan Papa Wara di sana. Berjanjilah hiks..Hiks..Hikss"


Dada Wara semakin sesak, semua orang pun menangis dengan perkataan nya. Pedih dan menyakitkan, terutama David selaku teman dekat dari orang tua Iswara juga Daniza.


Dia pun bersumpah akan melindungi sisa dari keluarga Keira.


"Hiks Hiks Hiks" Daniza memeluk Iswara, dua gadis yang di tinggalkan oleh seluruh keluarga nya dan hanya bergantung satu sama lain.


"Niza, mereka mendengar permintaan Wara tidak Ya?" Dengan air mata yang berhamburan ke luar, Iswara menatap Daniza yang juga tidak kuat menahan air mata nya.


"Niza coba kau yang meminta nya. Aku anak nakal, pasti mereka tidak akan mendengar permintaan Wara hiks... hikss.. hikss—"


Daniza tidak kuat, dia semakin memeluk Daniza erat.


"Kau anak baik, Wara. Kau anak baik!"


Tiga peti itu pun di kebumikan di tiga liang lahat. Iswara tidak ingin berdiri, dia masih tetap berada di samping makan sang Papa.


"Tenang lah, ada aku di sini" Daniza terus menenangkan Iswara, dia berusaha untuk kuat di depan adik Sepupunya itu.


"Niza hiks Hiks His... Niza kenapa mereka pergi? Apa Wara terlalu nakal? Apakah orang-orang itu juga tidak suka sama Wara sampai harus merebut Papa wara? Niza apa ini semua salah Wara hiks..hiks..hikss"


Tidak ada yang rela beranjak dari makam itu walau sudah selesai, mereka hanya menunduk, mendengar perkataan pilu dari Iswara, bahkan Ahan dan Satra memilih menjauh, mereka tidak ingin mendengar ucapan Iswara yang begitu menyakitkan lagi.


"Tidak Wara!" Guncang Daniza.


"Wara akan patuh, Wara tidak akan nakal lagi jadi jangan tinggalkan Wara. Ya!" Dengan bibir bergetar, sorot mata yang banyak ketakutan begitu kentara. Nafas Daniza semakin panas, dia kembali memeluk Iswara.


Keheningan masih menyelimuti, perlahan satu persatu anggota kerajaan pulang dan kini tersisa, Daniza, Iswara, Rayya, Asnee, Karl, Ahan, Satra, Eiji di sana. Keluarga Mafia pun pulang bersama dengan keluarga kerajaan yang lainnya.


Tidak ada suara, hanya tangis kecil yang terdengar. Daniza dan Wara masih terduduk di samping makam, sedangkan yang lain berdiri di belakang mereka sedangkan Rayya juga Asnee di sebrang mereka.


"Eve" Panggil seseorang. Suara beratnya begitu khas di pendengaran. Panggilan yang sangat Daniza dan Iswara kenal walau Iswara hanya beberapa kali mendengar nya.


Semua mata terundang menoleh, Ahan dan Satra pun kembali membalikkan tubuh mereka.


"Simon?" Gumam Ahan juga Satra saling lempar tatap akan kedatangan Simon yang beberapa bulan lalu hilang kontak.


Perangai nya masih sama, gagah dan tampan, tidak ada yang berkurang sedikit pun dari tubuh nya.


Kacamata hitam bertengger dengan gaya rambut Disconnected Under Cut semakin segar dan tampan.


"Simon" Daniza berdiri cepat, berlari ke arah Simon pun dengan cepat pula. Simon pun melangkah panjang dan semakin cepat.

__ADS_1


Sekarang, Wara bisa melihat jelas wajah Simon, karena dulu dia hanya dekat dengan Ahan dan Simon dekat dengan Daniza.


Mereka memiliki tugas masing-masing, untuk itu Daniza tidak mengenal wajah Ahan, karena dia lebih fokus bersama dengan Simon dalam membangun skill nya, begitupun dengan Iswara yang hanya mengenal nama Simon saja, namun tidak dengan wajahnya.


"Simon, kau selamat"


Pelukan Daniza begitu erat di leher Simon, Simon pun erat memeluk Daniza. Tinggi mereka pas untuk berpelukan. Asnee semakin terbakar, dia mengepalkan jari jemari nya dengan panas.


Rayya tahu, dia pun menggenggam tangan adik nya itu untuk menenangkan.


"Nona" Ucap Ahan, membantu Iswara berdiri dari duduk lemas nya.


"Ahan, Wara memang nakal ya? Kenapa Papa juga pergi dari Wara?"


Belum usai, Iswara masih menyalahkan dirinya sendiri.


"Ahan juga pergi dari Wara, Kak Niza pun sama. Apa kalian akan meninggalkan Wara sendiri? Ahan, Wara janji akan jadi anak yang patuh. Wara janji."


Air mata menggenang di pelupuk, kedua bola mata Iswara menatap dalam mata Ahan menengadah. Dia ketakutan, terbukti dari bibir san tangan nya yang bergetar.


Eiji memasang wajah dingin, manik mata nya menggelap menyaksikan kedekatan Iswara dan juga Ahan. Ternyata bukan Rayya dan Asnee yang seakan tertusuk jantung nya tapi juga dengan Eiji.


"Tidak akan ada yang meninggalkan mu, nona! Saya sudah berjanji atas langit dan bumi. Selama anda hidup, kami terutama saya akan menjaga anda dalam keadaan apapun!"


Ahan pun menatap lekat mata Iswara.


"Hikss... Hiks.. Aku takut" Iswara mudah menangis, dia nakal tapi juga cengeng. Siapa di kerajaan Keira yang tidak memanjakan Iswara? Semua nya termasuk Daniza dan juga orang-orang dari pertahanan negara. Anak kecil, janda maupun lansia, semua nya memanjakan Iswara.


"Wara" Ucap Daniza yang kini berada di samping Simon.


Simon dan juga Ahan saling jabat tangan dan berpelukan sekilas. Satra pun demikian.


"Niza, aku merindukan mu" Wara kembali memeluk Daniza.


Walaupun Daniza dan Iswara lahir berjarak tiga bulan, tapi Daniza dewasa. Mungkin Iswara terlalu di manjakan oleh keluarga, menjadikan dia seperti anak kecil. Tapi satu, Iswara gadis pemalu dan dia tidak bisa tahan menatap mata seseorang begitu lama, terutama seorang Pria.


Namun untuk Ahan, dia sudah terbiasa karena telah lama hidup bersama walau terkadang di tinggal bertugas.


"Salam, Pangeran"


"Salam, Putri"


Simon menghadap mereka berdua, memberi salam layaknya adat orang-orang di sana.

__ADS_1


...**...


Daniza Evelyn dan hanya Simon yang memanggil Daniza dengan sebutan Eve.


__ADS_2