The Future King

The Future King
Eps 28


__ADS_3

Di belahan wilayah, rombongan mobil berkapasitas puluhan orang tengah berjejer menuju sebuah tempat penampungan yang sepertinya itu adalah tempat di mana orang-orang rendah dan siap diperjualbelikan.


"Niza bersiaplah, jika aku memberi aba padamu kau langsung segera lari"


Iswara, menatap selidik semua tempat yang telah menjadi penampungan mereka. Banyak sekali penjagaan ketat di sana, tidak hanya yang berpakaian preman tapi juga orang berjas dan berseragam kemiliteran berada di area itu.


Seratus lebih dari mereka di tahan dan kebanyakan mereka yang berusia dua puluh tahun ke bawah dan sisanya nya tiga puluh tahun ke bawah.


Masih muda-muda dan mereka semua adalah seorang perempuan.


Tidak ada wajah yang tidak takut, mereka semua terlihat sangat terganggu dan tegang, takut dan juga pedih.


Daniza dan Iswara adalah salah satu dari mereka.


"No, Wara ! Kita akan kabur bersama, sesuai dengan rencana dan tidak ada bantahan. Mengerti ?!"


Tegas Daniza, memegang erat tangan Iswara dan pancaran mata seolah-olah menguatkan dan meyakinkan.


"Niza, komplotan penjual itu pasti akan menangkap kita dengan mudah jika kita berlari bersamaan!!"


Suara dari Iswara sudah bisa di tebak, Daniza sesekali mengusap wajah dan meyakinkan Iswara.


Ruangan luas itu terlihat tidak memiliki celah, Iswara dan Daniza sangat pandai. Mata mereka bukanlah mata biasa orang punya, mata mereka istimewa untuk itu kejadian pembantaian terjadi karena mata mereka.


Orang-orang di sana masih berjaga, Daniza begitupun Iswara tengah bersiap mencari celah. Tahanan yang lain hanya bisa menangis dan berpelukan.


Mereka pasrah untuk di jual di pelelangan sebagai budak tapi tidak dengan Daniza.


"Wara, berjanjilah padaku!"


Wara tak menatap mata Daniza, dia terus melihat sekeliling dengan tubuh sedikit bergetar.


"Wara tatap aku. Waraa!!" Suara Daniza sedikit meninggi dan reflek melihat sekeliling. Mata tahanan yang lain kembali sendu dan tidak lagi melihat ke arah Daniza.


Wara pun menatap lekat.


"Berjanjilah padaku kau akan tetap hidup!!"


"Aku memaksamu untuk berjanji dan jika kau melanggar maka aku sendiri yang berhak mengakhiri hidup mu !"


"Wara, di kantong ini ada beberapa lembar uang, kau ambil lah.!!"


Daniza mengeluarkan kantong berukuran sedang dan Wara menerima nya dengan wajah bertanya-tanya.


"Ini hanya seumpama, Wara ! Kita akan tetap bersama sampai kapanpun dan kita akan saling melindungi. Bukankah itu yang kita katakan pada Ayah dan Ibu ?!".


Daniza terus membuat keadaan semakin membaik, Wara sangat gelisah karena kata-kata dari kakak nya itu sangat dia mengerti.


"Wara, ayo kita harus ke luar dari sini ! "


Langit semakin redup hanya ada penerangan yang terbatas, mereka tidak tahu akan di bawa kemana oleh bandar-bandar itu, sama sekali tidak tahu.


Wara memegang erat Daniza, mata mereka sangat awas. Sekeliling mereka sangat ketat hanya satu jalan yang bisa mereka lalui tapi di sana ada empat penjaga yang harus mereka atasi tanpa suara.


"Niza"


Isyarat kepala Wara menunjukkan jika ada penjaga di dekat nya.


Niza melangkah senyap.


DUGH !!!!


Pukulan Daniza kuat, penjaga itu hanya dalam satu pukulan langsung terkapar. Tidak sempat bersuara langsung pingsan begitu saja.


Senyum dari kedua sudut bibir Iswara terpatri dan Daniza menempelkan jari telunjuk nya di depan bibir agar Iswara tidak mengeluarkan suara.


"Baiklah!" Ucap Iswara dengan gerakan bibir.

__ADS_1


Daniza menunjuk satu penjaga di depan dan tentu saja itu adalah bagian Iswara, namun sebelum itu dia mengingatkan dengan isyarat tubuh agar Iswara tidak brutal dan asyik menghabisi penjaga itu.


"Ok!" Seru nya sambil melangkah pelan.


Bugh!!


Satu penjaga lagi tumbang dan itu ulah Iswara.


Benar saja, itu seperti sebuah permainan untuk Iswara, dia terlihat bersemangat saat memukul. Daniza pun ikut senang karena semangat adik nya itu kembali lagi untuk itu dia tidak perlu kembali cemas.


"Siapa di sana?" Teriakan penjaga di depan mengagetkan.


Daniza menarik Iswara ke celah tembok yang cekung dan gelap.


"Niza tangan ku gatal" Ucap Wara dan Daniza mengerti apa maksud dari perkataan itu.


"Huss kau ini benar-benar nakal, Wara ! Lihatlah situasi nya dan apa darah mereka sangat menarik ? Sshh kau ini benar-benar menjengkelkan"


Daniza hanya bisa mencubit hidung Wara dan dalam situasi sekarang masih saja mereka sempat seperti itu.


Keadaan hening, sepasang bola mata cantik mereka terus awas. Tidak bisa di pungkiri juga, keadaan dua gadis itu sangat tegang namun mereka bisa menetralkan kembali.


Air keringat terus bercucuran, Kaos ketat membalut tubuh mereka sehingga terlihat basah sangat jelas. Celana panjang Jogger di lengkapi saku di bagian sisinya membuat tinggi mereka terlihat semampai.


"Daniza ayoo" Suara Wara sedikit meninggi


"Siapa di sana" Teriak dua penjaga yang masih mencari keberadaan Daniza dan juga Wara.


"Wara kau ke luar lebih dulu, aku akan mengatasi mereka"


Daniza mendorong tubuh Wara agar melewati gerbang belakang lebih dulu.


"Tidak tidak, tidak bisa begitu Niza!" Tolak nya memegang erat tangan Daniza erat.


"Wara" Tegasnya suara Daniza membuat Wara reflek melepas pegangan.


"Aku tunggu di luar"


"Berjanjilah untuk ke luar hidup-hidup, aku akan menunggumu "


Wara memeluk kilas tubuh Daniza.


"Berhitung sampai seratus, jika aku tidak ke luar saat itu kau harus lari, selamatkan hidup mu dan tepati janji mu".


"Wara kau percaya padaku bukan ?!"


Daniza pun ikut memeluk erat keluarga satu-satunya yang tersisa itu.


"Aku percaya pada mu, Niza !"


"Jika tuhan memungkinkan kita hidup, maka kita akan di pertemukan lagi. Aku akan berusaha menepati janji ini,"


"Daniza kau juga harus berjanji untuk tidak meninggalkan aku. Kau mengerti ?!"


Wara sangat tahu sifat kakak sepupunya itu, untuk itu dia sangat khawatir.


"Apapun untuk mu, Wara ! Cepatlah pergi.


Suara rendah mereka sangat redup seredup cahaya lampu yang kini kian padam.


"Lari" Dorong Daniza.


Wara pun berlari dengan memegang erat kalung elang dan ucap doa terus saja terucap.


Daniza pun bersiap siaga.


Kedua penjaga itu kembali melacak dan sekarang tidak hanya dua tapi ada enam penjaga yang ke luar.

__ADS_1


Daniza semakin pergi ke area belakang gedung untuk memancing mereka menjauh ke arah Wara berlari.


"Hai"


Jari lentik Daniza melambai, wajah kotor nya menyatu dengan keringat. Mimik dan juga tatapan nya penuh semangat saat ini di padukan dengan smirk sudut bibir yang sangat tipis.


"Sedang apa kau di sini, hah ?"


Tanya penjaga itu dengan nada tinggi dan awas.


"Aku ? Aku hanya ingin buang air kecil saja, tuan"


"Lagi pula di dalam tidak ada kamar mandi"


Ucap Daniza sangat santai namun sudut mata nya terus mengawasi Wara yang terlihat sudah bersembunyi.


Penjaga itu sing lirik, arti lirikan itu mengisyaratkan agar kembali membawa Daniza ke dalam.


"Cepat masuk kembali"


Tangan kokoh penjaga itu mendorong tubuh Daniza sampai rambut panjang yang terikat semeraut dan terguncang.


Dari semak tinggi, Wara melihat itu semua.


"Kau tidak melawan Daniza, kenapa ? Begitu takutkah aku tertangkap kembali ?"


Hati wara terus bergumam, kedua tangan nya mengepal kalung elang yang masih melingkar di leher.


"Daniza aku berjanji dan kau juga harus menepati janji mu !"


Daniza memutar otak, jika dia melawan para penjaga maka keributan akan menggema dan ketiadaan Wara akan sangat mudah di tebak, untuk itu Daniza memilih untuk tetap tenang dan akan mencari cara agar dia lolos.


Hitungan sampai seratus sudah habis, Wara pun berlari dari area gedung dengan sangat hati-hati.


Rapalan doa terus melangit, semua rasa tercampur aduk dan dari detik ini dia harus hidup tanpa perlindungan Daniza.


" Ayah, Ibu, Ma, Pa. Terus lindungi kami".


**


Daniza Evelyn berarti kegembiraan yang kokoh, namun sekarang nama itu sepertinya tidak cocok untuk nya karena sifatnya semakin palsu.


Kegembiraan yang dia pancarkan hanya di depan Iswara saja, sejak pembantaian keluarga nya di mulai sampai tidak tersisa apapun.


Iswara Qeiza berarti pemimpin cantik yang di senangi, namun sangat berbanding terbalik dengan namanya. Dia lebih ceria dan juga nakal, nakal dalam arti positif.


Jiwa mereka entah tertukar atau apa, namun nama mereka sangat tidak cocok untuk saat ini.


Sepertinya kedua orang tua mereka salah memberi nama.


Daniza adalah putri tunggal dari Raja Keira. Keira dalam arti Irland adalah "HITAM", tapi wilayah mereka sama sekali tidak terbayangkan oleh orang-orang, tidak gelap sama sekali. Kenyataan nya wilayah itu sangat mashur dan juga tertib.


Aturan dan kebijaksanaan dari sang Raja membuat rakyat begitu tentram dan sejahtera, salah satu wilayah yang sangat membangun dan cerah tidak seperti nama nya.


Warna Bola mata orang-orang di sana sangat unik dan keunikan itu yang mengundang para pelelang dan bandar-bandar membidik rakyat di sana.


Apalagi warna bola mata dari keluarga kerajaan yang beda dari yang lain, semakin membuat semangat para penggila uang bekerja keras.


Sedangkan Iswara Qeiza adalah putri tunggal dari adik sang raja, Pangeran Endra yang sangat tampan namun juga cantik, beda dengan Raja yang memiliki bentuk wajah yang sangat tegas.


Kalung burung elang adalah tanda dari kerajaan namun hanya untuk anggota kerajaan, lencana keluar masuk kerajaan pun di buat untuk mempermudah.


Jika di katakan tinggi dan sombong memanglah wilayah itu sangat membuat semua raja-raja di beberapa belahan dunia iri, seakan wilayah Keira sangat di berkati dan diberkahi oleh sang maha penguasa.


Usia Daniza dan Iswara terpaut tiga bulan. Daniza lebih dulu lahir dari Iswara namun di tahun yang berbeda.


Daniza lahir bulan Desember sedangkan Iswara lahir di bulan Maret akhir. Usia mereka sudah genap 17th sekarang.

__ADS_1


__ADS_2