
Tidak perlu di tebak, usia Celine dan Rayya tentu sangat beda jauh, seperti seorang ibu yang tengah memeluk putri nya. Jika yang hanya sekilas melihat mereka, pasti akan di bilang mirip, namun tentu keluarga yang dekat tidak akan mengatakan itu.
"Oh apakah mereka pelakunya? Apa boleh kalau mereka kau serahkan kepadaku? Sialan berani bermain-main dengan bisnis saya!"
Celine terus mengumpat dengan bibir merekah nya, tolak pinggang sehingga belahan bajunya memperlihatkan paha yang pucat.
Rayya hanya bisa melebarkan senyum nya geli." Tenang lah, Celine! Mereka akan kami urus" Rayya menggeleng kan kepala berulang dengan umpatan Celine.
Rayya mendekati Asnee yang masih berada di depan para tetua dan menghadapkan badan nya pada Betta juga Jeno yang masih berlutut meminta ampun.
"Tidak tahu malu!"
"Kau sangat lancang sekali, berani membuat gaduh istana dan mencoba membelah perpecahan di antara keluarga!"
"Kalian pikir untuk apa adik saya berada jauh dari istana? Untuk bersenang-senang? Oh tidak!"
"Sungguh bodoh rakyat yang menganggapnya seperti itu! Jadi lihatlah, karena kebodohan kalian ini kena batu nya sendiri.Bukan?!"
"Kalian yang tidak setuju dan tidak puas jika Asnee menjadi penerus raja, apakah ada alasan nya ?"
"Tch, tch,tch sampai kalian nekad membunuh nya—"
Rayya menghela nafas berat, namun dia tidak sadar jika ucapan nya kini membuat penghuni aula tertegun kaget. Betta dan Jeno, jangan di gambarkan lagi, mereka yang menjadi pelaku utama nya tentu saja merasa tersambar petir di tengah terik nya matahari.
"Kak" Asnee memegang lengan Rayya.
Rayya yang sadar reflek melihat sekeliling dan ternyata semua sorot mata tengah mengarah pada nya.
"Putri, apa yang anda katakan? Pembunuhan? Pembunuhan siapa?" Dengan suara kaget, Aat mendekat.
"Putri anda—" Apalagi Aaron, suaranya tercekat di tenggorokan sehingga dia tidak dapat melanjutkan ucapan nya. Kepala pun pening seakan darah rendah nya tiba-tiba kambuh.
"Uuh? Astaga apa ucapan saya berlebihan?"
"Asnee kau tidak ada mengatakan soal itu pada keluarga? Atau jangan-jangan sebelum kakak datang ke aula kau tidak ada menyinggung soal pembunuhan?!"
Rayya kaget, namun kaget nya itu seperti dibuat-buat agar terlihat meyakinkan, maka di dukung oleh ekspresi wajah agar semakin meyakinkan jika dia sedang salah bicara sekarang.
Asnee menggeleng. Di sini menggeleng nya kepala Asnee entah memberitahu jika memang sedari tadi dia tidak menyinggung soal pembunuhan, entah memberitahukan agar Rayya jangan dulu menyinggung lebih dalam tentang pembunuhan.
Bos hotel dan Celine pun, mereka tentu tengah terkejut sekarang dengan perkataan Rayya.
"Haih, dia masih saja berbicara seenaknya!" Gumam Celine namun bos hotel tentu mendengar nya.
"Kalian sepertinya sangat dekat" Seru bos hotel dengan suara rendah nya.
Celine menarik nafas nya. "Dia juga berbicara seenak nya saat pertama kali bertemu dengan saya! Tapi saya suka!" Ujar Celine dengan sunggingan di sudut bibir nya
Setiap sudut ruangan pengap, jendela yang terbuka seakan tidak berguna. Oksigen di dalam aula seakan-akan hampa sehingga nafas mereka pengap.
"Maaf saya menyela —"
Seakan sudah bukan urusan istana lagi, tetua peradilan dan tetua badan sensor melangkah maju karena masalah ini ternyata bukan masalah biasa, bukan pula masalah ringan.
"Pengadilan istana akan mengintrogasi mereka sampai perkataan tuan putri Rayya di buktikan! Kami akan menyelidiki ulang mengenai masalah ini bersama dengan aparat yang bersangkutan!"
__ADS_1
"Mohon kiranya untuk mengizinkan kami membawa mereka"
Betta juga Jeno kelabakan, mereka saling lempar pandang.
"Tidak Raja, kami hanya di fitnah di sini! Berikan keadilan untuk kami!" Oceh Betta juga Jeno, mereka sangat-sangat teguh dengan pendirian nya
hahahah di fitnah? Ingin sekali Rayya juga Asnee mencabik-cabik tubuh mereka dengan cakaran nya.
"Ini bukan yang anda mau?" Asnee membisik di telinga Jeno dengan ledekan nya.
"Sial!" Umpat Jeno dalam tunduk nya.
"Baik tuan! Sebaiknya saya menyerahkan mereka pada kalian"
"Untuk bukti-bukti konkrit nya akan saya serahkan pada anda nanti sore!" Seru Asnee sopan dan mengkode Karl agar mendekat.
Dengan kedua tangan tersulam sopan di depan badan, Asnee memberi salam pada tetua peradilan juga badan sensor.
"Dia yang akan menyerahkan nya dengan aman! Jadi interogasi mereka sesuai kode etik yang sudah berjalan ! Saya takut jika bukan hanya ini kejahatan mereka" Ucap Asnee.
Aaron dan Aat benar-benar terkejut, mereka tidak menyangka jika orang terdekat akan melakukan hal gila seperti ini.
Dengan bersamaan mereka memijit kening masing-masing.
"Aat, aku benar-benar di fitnah di sini! Tolong bebaskan aku" Jeno berlutut di hadapan Aat dengan gemetar, terlihat juga dari sorot mata yang sangat ketakutan.
"Jen aku akan membantumu jika kau benar-benar tidak bersalah! Sekarang saya tanya sekali lagi—"
Aat memejamkan sejenak mata nya, di selingi dengan nafas yang berhembus.
"Sumpah Aat, aku tidak tahu apa-apa tentang pembunuhan itu!" Bela nya meyakinkan Aat, dia percaya jika Aat tidak akan tega menghukum nya.
Kedua alis Aat menaut. "Lalu, luka yang kau dapatkan di lengan mu apakah benar karena terbentur?!"
Teug!!
Jeno membeku, isi kepalanya seketika mengingat penyerangan terhadap Asnee malam itu.
"In—ini benar terbentur Aat!" Seru nya berbohong.
Berarti Aat pun menaruh curiga sedari awal. Kenapa dirinya bisa melewatkan eskpresi Aat. Pikir Jeno!!
Betta sudah di borgol, tinggal Jeno yang terus meminta pertolongan Aat.
"Bawa mereka" Titah Aat. Aaron pun menggerakkan tangan nya mengkode agar secepat nya membawa mereka.
Posisi berdiri mereka rapih. "Siap" Seru badan sensor juga peradilan bersamaan.
"Jika begitu kami pamit. Raja"
"Salam"
Ucap mereka memberi salam serempak.
"Aat kau harus percaya pada ku" Teriak Jeno.
__ADS_1
Di luar, di sudut istana bagian luar, Mali melihat jika Jeno juga Beta di seret dengan kasar sehingga dia tidak henti-henti nya meneguk kembali ludah nya sendiri. Jemari pun bergetar sehingga dia merapatkan semua jari nya dan kembali pergi dengan langkah gontai.
Masih di dalam aula. Aat juga Aaron masih tidak percaya dengan yang mereka ketahui sekarang.
"Pihak berwenang akan menjatuhkan hukum jika bukti pembunuhan kita pegang!"
"Tapi Asnee, kita tidak memiliki itu bukan?" Ujar Aaron kembali.
"Benar Asnee! Jika hanya bukti luka di lengan Jeno tidak akan cukup tanpa bukti rekaman! Malah jatuh nya kalian hanya memfitnah mereka" Timpal Aat.
Rayya juga Asnee sudah memikirkan sampai sana, mereka pun belum memiliki solusi karena saat penyerangan malam itu hanya rekaman di luar istana yang ada. Untuk penyerangan di dalam kamar pribadi nya tidak ada.
"Nona" Ucap seseorang yang baru masuk, dia berdiri di ambang pintu.
Tentu saja mereka kaget, kecuali Rayya yang hanya menatap mereka dengan tatapan tenang.
Asnee pun seketika mengkode Karl untuk membawa Bos hotel juga Celine ke luar.
"Kalian di sini?" Tunjuk Aaron bertanya-tanya.
Ya, dia adalah Lexi dan juga Collen.
"Nona, Nyonya besar menitipkan ini untuk anda" Collen menyerahkan bingkisan paper bag kecil pada Rayya sesaat setelah memberi salam sopan pada Aaron juga Aat.
Rayya menanggalkan dahulu jas di pundak nya dan menyerahkan pada Lexi sang pemilik jas.
Aat, Aaron juga Asnee seketika lega siapa yang memasangkan jas di pundak Rayya. Sedari tadi mata mereka pun tidak luput dari jas yang di pakai Rayya, tapi pertanyaan mereka di simpan dahulu dan akan di tanyakan setelah pertemuan di aula selesai.
Itu tadinya. Tapi sepertinya tidak perlu lagi!!
"Dari Mommy?" Timpal Asnee. Collen hanya mengangguk.
Rayya mengambil alih paper bag itu dengan tangan nya.
"Ini apa?" Tanya Rayya. Mereka pun penasaran dengan isinya.
"Dan ini untuk anda, tuan kecil!" Collen pun menyerahkan paper bag ukuran medium sehingga isinya pun bisa terlihat dengan jelas.
Berkas dengan map oranye dan box kecil berwarna hitam pekat terlihat jelas.
"Dari siapa?" Bingung Asnee.
"Dari Nona Nara, tuan!" Jawab nya.
Tentu saja pasang mata mereka langsung melihat sekeliling dan Collen mengerti akan tatapan mereka. Lexi menyungging tipis dengan tingkah Raja dan Pangeran serta Putri Yodrak itu.
"Dan Nona juga Nyonya menyampaikan permintaan maaf karena tidak bisa bergabung dengan kalian hari ini! Mereka ada proyek yang belum tuntas, untuk itu memerintahkan saya untuk memberikan ini pada nona kecil juga tuan kecil!" Tutur Collen dengan sangat bersalah.
"Siapa juga yang mengharapkan mereka?" Gumam Aat juga Aaron begitu pelan, namum sayang pendengaran kedua tangan kanan para mafia itu masih tajam.
"Kalian bisa saja!" Seru Lexi dengan senyum tertutup brewok tipis nya. Collen hanya melebarkan senyum nya.
"Uuh? Hahaha" Tawa nya canggung. Aaron juga Aat jadi tidak enak di buat nya.
...***...
__ADS_1