
"Nona kecil"
Rayya dan Aaron sudah terbiasa dengan sapaan serempak dari keluarga mafia itu, tapi tidak untuk Ahan dan Daniza, sampai mereka terkaget sesekali menatap satu persatu orang-orang di sana.
"Paman bagaimana keadaan adik saya?" Rayya maju dengan rasa gundah tak terbendung.
Nampak Kenzie juga Lucky memberi sapaan sopan terhadap Aaron yang bagaimanapun dia adalah sang Raja dari Thailand.
"Tuan kecil baik-baik saja, nona! Dokter dari kami pun ikut serta melakukan perawatan di dalam. Silahkan masuk!" Tutur Kenzie.
"Tangan ku gemetar" Ujar Rayya sesekali menyibakkan rambut dengan kedua tangan seraya di tahan, seolah-olah terlihat seperti orang yang tengah sakit kepala. Air mata pun masih terlihat menetes di pelupuk.
"Dia baik-baik saya, kami sudah memastikan nya" Timpal Lucky.
Mereka pun masuk, hanya Rayya juga Aaron sedangkan Ahan dan juga Daniza di tahan oleh Kenzie juga Lucky karena mereka belum memverifikasi identitas dua orang di hadapan mereka, mungkin lebih ke belum mengenal saja, untuk itu kewaspadaan memang sangat harus saat ini.
Di dalam ruangan, Asnee terbaring lemah dengan benda-benda medis berada di tubuh nya. Wajah pucat pasi, begitupun bibir pecah-pecah.
Rayya merapihkan rambut tebal Asnee, seraya duduk di samping kasur. "Siapa orang nya?" Ucap Rayya saat Kenzie baru saja berdiri di belakang Aaron.
"Kita akan merepotkan mu, sayang!"
"Mom!" Seru Rayya, dia berlari ke arah Ruby yang baru saja datang, nampak wajah nya yang belum istirahat. "Dad" Ucap Rayya saat tangan Edward membelai lembut pucuk kepalanya.
__ADS_1
"Tuan, Nyonya!" Sapa Aaron.
"Bagaimana keadaan nya?" Ruby berdiri di samping Asnee sesekali mengusap lembut wajah nya dengan jari jemari yang masih lentik.
Dokter Mafia yang baru saja masuk langsung menyampaikan kondisi tuan kecil nya.
"Anda tidak perlu melakukan apapun, tuan Aaron! Kami yang akan mengurus nya, serahkan masalah seperti ini pada kami, tapi saat ini kami perlu bantuan putri mu!" Ucap Ruby menoleh pada Aaron yang nampak lelah dan gusar.
"Bisakah saya menolak nya? Kejadian ini belum teridentifikasi secara menyeluruh, kami dan pihak asrama pun tengah menyelidiki kasus kecelakaan yang di alami Asnee"
Senyuman tersulam halus dari kedua sudut bibir Ruby. "Tentu saja, tuan! Anda bisa menolak nya karena mereka putra dan putri anda dan anda pasti sudah tahu apa yang boleh dan tidak di lakukan, tapi saya menjamin untuk prihal ini. Mereka akan bisa melakukan nya, untuk itu kami akan merepotkan putri mu!"
Walau bagaimanapun Rayya juga Asnee adalah anak dari Aaron, tidak dapat di pungkiri. Ruby serta keluarga yang lain tidak pernah seenak nya mengambil keputusan, Aaron berhak atas anak-anak nya, untuk itu mereka sangat menghargai Aaron.
"Apa kau yakin?" Tanya Aaron.
"Yakin Pa!"
"Baik lah, Papa percaya pada mu!" Ucap Aaron seraya menatap Asnee juga.
"Lady, untuk tuan kecil mungkin akan kembali sadar sebentar lagi jadi pastikan ada yang menemani di sini!" Tutur dokter mafia dengan papan data periksa di tangan nya.
Edward menunggu di dalam, dia pun duduk di samping Asnee. "Asnee lihat lah, mommy dan juga kakak mu begitu semangat balas dendam! Kau tahu, apa yang kami khawatirkan? Tentu, kami khawatir kakak mu akan menjadi seperti orang-orang di keluarga daddy. Daddy takut kakak mu menjadi wanita berdarah dingin hanya karena adik nya menjadi seperti ini, untuk itu mommy mu yang mendampingi kakak mu!"
__ADS_1
"Asnee, maaf terlambat menyelamatkan mu! Kami tahu apa yang terjadi, tapi kami membiarkan kamu menyelesaikan nya sendiri sampai terkena mangsa seseorang"
Edward menggenggam tangan Asnee, sesekali dia simpan di kening nya. "Kau tahu? Ternyata kau ini pintar, jadi kami hanya perlu membantu sedikit saja" Ucap Edward kembali.
"Cepat bangun, apakah kau ingin melihat gadis yang kau cintai kesakitan?"
Mengatakan kalimat itu membuat Edward geli. Gadis yang dicintai? Nampak nya hanya satu kekurangan Asnee, yaitu buta terhadap sikap baik seseorang, dia bisa tertipu oleh gadis polos seperti Lukyanova.
"Tapi tidak apa, wajar kalau jatuh cinta!" Ujar Edward kembali.
Sedangkan di luar, Aaron pergi bersama ajudan nya menemui pihak sekolah dan juga Asrama.
"Mom, kau tertarik dengan gadis itu? Dari tadi terus saja melihat nya, aneh!" Dalam duduk nya di kursi tunggu nampak Ruby seperti tertarik melihat Daniza
"Putri silahkan!" Ahan baru saja datang, memberikan sekantong makanan dan juga susu, air putih dan juga vitamin. Ruby mencoba menggapai tatapan Ahan, tubuh nya tinggi sekali sampai Ruby harus menengadah di tambah Ruby juga Rayya tengah duduk.
...**...
Rumah itu tidak terlalu besar tidak juga kecil, sepertinya itu tempat istirahat Kenzie juga Lucky serta yang lain nya.
Dua orang di kursi dengan baju pasien, diikat kencang sampai mengguncang pun tidak akan lepas. Entah kapan supir taksi juga kontainer itu di bawa kabur dari rumah sakit.
"Bangunkan mereka"
__ADS_1