The Future King

The Future King
Eps 76


__ADS_3

Olivia, di Sekolah mencari-cari Yaya yang belum kembali. Tadi dia ingat kalau Yaya mau ke kafetaria dekat sekolah, di samping sekolah tepat nya. Segala makanan sehat seperti sayuran khusus nya, di buat di sana untuk keperluan kantin sekolah.


"Eh ada Olivia?!" Cegah Jessy menghadang badan Olivia di ikuti oleh Glory dan Kelly. "Lagi cari siapa? Mana teman mu yang satu itu?" Celingak clinguk ke sana kemari tapi mereka bertiga tidak mendapati keberadaan Yaya di sekitar Olivia.


"Kalian lihat Lukya tidak? Aku sudah mencari dia ke sana ke mari tapi tidak menemukan nya!" Bukan Olivia namanya kalau tidak lugu dan polos. Seharusnya untuk seusia dia sekarang mengerti akan mimik dari Glory dan kedua teman nya.


"Engga tuh! Coba kau cari lagi dengan teliti, bisa saja di terselip di tong sampah hahahah!" Ujar Glory dengan tawa meledek nya.


"Benarkah? Oh iya lupa tadi aku tidak mengecek Lukya ke tempat pembuangan! Kalau begitu makasih yaa!"


Olivia ngacir, dia pikir benar juga, bisa saja teman nya ada di sana. Glory dan ke dua teman nya saling pandang dengan kedua pipi menggembung hendak tertawa.


Hahahaha


hahahaha


hahahahaha


Tawa keras sampai perut sakit masih terdengar. "Bisa bisanya sikap dia begitu polos?!" Kelly yang juga polos merasa geli karena ada yang lebih menggelikan daripada kepolosan nya.


...**...


Decitan pedal Rem silih bersahutan, dua mobil berhenti di depan pekarangan rumah tempat di mana Nara menyiksa Lukyanova.


Prang


Prangggg


Suara bantingan masih terdengar dari luar rumah. Nara terus mengguncang tubuh nya agar terlepas dari Lucky. Kaki nya menyenggol sana sini sampai beberapa barang seperti pot bunga, lemari kaca pecah tak berbentuk.

__ADS_1


"Nara" Teriak Ruby.


Lucky memelas meminta tolong. Tatapan Nara sudah bukan lagi dalam mode seorang putri sulung, melainkan sosok ARESHA, pemimpin tertinggi mafia yang ada di Jerman setelah papa dan paman nya.


"Dia harus mati" Sentak Nara dengan tajam nya suara.


Shabila dan juga Shane mendekati Yaya yang meringkuk mengenaskan di sudut ruangan.


"Nara sadar!" Ruby menepuk-nepuk pipi Nara sedikit keras.


"Dia harus di tangani dokter, Dad! Kondisi nya melemah, luka di tubuh nya harus segera di obati! Kita tidak akan bisa menuntut nya jika keadaan nya saja seperti ini!" Seru Shane Memeriksa keadaan Yaya dari atas sampai bawah.


"Ken, hubungi dokter Fian!" Titah Edward. Kenzie pun langsung merogoh handphone nya


"Sial! Ini tidak seberapa. Mom! Berani sekali dia menyentuh putra ku!" Kedua bola mata Nara memerah, kepalan tangan pun masih membulat keras.


Nara mengamuk tentu saja sudah menjadi hal yang biasa, tapi untuk kali ini seakan berbeda, dari tatapan Nara tersirat seorang ibu yang tengah sakit hati nya.


"Tenang, tenang lah. Sayang!" Edward memeluk Nara, mengusap punggung putri sulung nya dengan lembut. "Asnee sudah sadar, dia baik-baik saja!" Lanjut Edward kembali memeluk tubuh putrinya yang masih bergetar karena marah.


"Daddy ada di sini! Tenang lah!" Ucap Edward memeluk erat kesayangan nya.


Ruby memijit kening, dia lupa kalau Nara adalah ibunya, petinggi mafia terbesar di Jerman, di tambah seorang dokter terkenal di belahan dunia. Kenapa dia bisa lengah kali ini? Dia pikir Afrika adalah jarak yang sangat jauh untuk di jangkau oleh Nara, namun ternyata dia salah.


"Tenang, tenang lah!"


Ruby pun ikut menenangkan putri nya, sedangkan Sean menggenggam tangan sang kakak dengan lembut. Amukan Nara kembali bisa di tenangkan hanya oleh mereka, terutama oleh Sean dan juga Edward.


Detak jantung Nara terasa semakin normal, tidak seperti tadi. "Ayo duduk! Kau pasti lelah, kan?!" Seru Edward perlahan menenangkan Nara, sampai akhir nya amarah pun mereda.

__ADS_1


Yaya sudah di bawa ke kamar untuk pemeriksaan. Tidak ada yang bicara, keberadaan Nara yang di luar dugaan dan di luar rencana membuat mereka memijit kening masing-masing


"Aku akan membuat mereka hancur sehancur-hancur nya!" Gumam Nara namun masih terdengar oleh orang di samping nya.


"Tahan, Sayang! Kita tidak boleh memberi celah pada mereka yang bersalah, untuk itu jangan gegabah"


Nara diam, tatapan nya masih penuh dengan amarah. "Hiks hiks, aku takut Asnee kenapa-napa, mom! Aku dan Leyka tidak fokus di Afrika mendengar kabar Asnee! Hati aku sakit, dad!"


Isak tangis masih terdengar, Edward menyeka air mata Nara dengan penuh kasih seorang ayah. "Dia baik-baik saja! Kau lihat lah nanti, dia bukan anak lemah! Dia putra mu dan dia kuat seperti ibu nya!"


Memang benar, Edward paling bisa menenangkan putri-putri nya, sedangkan Ruby pawang dari anak laki-laki nya.


"Ma!" Teriakan Rayya mengundang telinga dan mata. Keluarga tukang teriak itu sudah terbiasa di telinga para bawahan, namun tidak membuat mereka tidak suka, tapi malah sebalik nya.


"Hey hey, jangan teriak-teriak!" Eiji, Julian berjalan beriringan dari belakang. Tangan Julian membekap mulut Rayya.


Dan terjadilah, perkumpulan keluarga besar di rumah singgah milik Kenzy juga Lucky.


"Sayang" Nara menarik Rayya ke dalam pelukan nya.


Drama keluarga yang tidak ada habis nya, posesif, protektif, sesama anggota keluarga masih sangat kuat. Ruby dan Edward membangun keluarga yang sangat harmonis, terlihat dari hal-hal kecil yang terjadi.


Dokter Fian sudah datang bersama dengan Eiji juga Julian! Mereka sepertinya masih tinggal di markas utama.


"Bagaimana keadaan nya?" Shabila bertanya saat Fian selesai menangani Yaya. Shane pun ikut menimpali pembicaraan.


"Kau tangani gadis itu sampai sembuh! Kami masih ada urusan dengan nya!" Ucap Shane kembali menatap lekat wajah gadis itu dengan teliti.


"Baik" Sanggup nya. Dokter mafia di bawah naungan mereka tidak pernah bilang tidak siap, selalu siap dalam keadaan apapun.

__ADS_1


__ADS_2