
"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa dia seperti sangat marah saat gadis itu kena amuk kakak?!" Si kembar pun bingung, tidak ada yang tahu masalah hati. Sepertinya cinta untuk Yaya sangat besar, namun rasa kecewa pun tidak kalah besar.
"Adik mu itu sangat mencintai gadis itu! Daddy bisa melihat nya, tapi tidak sebesar cinta daddy pada mommy kalian! Biasalah, seperti pasangan muda yang di mabuk, tapi jika di teliti, Asnee masih bisa mengatasi nya!" Tutur Edward.
"Kaya contoh nya dulu Shabila. Bukan begitu sayang?!" Lanjut Edward. Mengupas kembali percintaan Shabila dan juga Collen dulu.
"Tapi aku tidak ada teriak-teriak begitu ya, dad!" Shabila pun nampak membela diri.
"Beda orang beda zaman, kita tidak bisa membandingkan anak-anak hanya karena apa yang dulu pernah terjadi!" Pungkas Ruby, si paling bijak kalau sudah menyangkut anak-anak nya. Aaron terutama, dia seperti orang tua yang tidak tahu apa-apa jika sudah berada di sekitar keluarga mafia itu.
"Jadi apa aku harus kecewa pada adik ku sendiri?" Rayya angkat bicara. Ruby pun menoleh.
"Kenapa harus kecewa? Asnee tidak salah dan mama mu juga tidak salah! Tidak ada yang salah di sini, yang salah hanyalah sikap over yang di miliki oleh mereka . Saat ini sikap over itu tidak berada pada tempat nya. Rayya!" Tutur Ruby kembali.
Semua orang mendengarkan termasuk Aaron dan juga ajudan nya, ada juga Ahan bodyguard Rayya.
"Kenapa mommy sesantai ini?" Rayya kembali bertanya.
"Siapa yang santai? Tidak ada, sayang! Mommy hanya perlu bersikap tenang jika menginginkan jalan ke luar yang tepat dan pasti! Dari dulu mommy tidak mengajarkan kalian untuk saling menyalahkan bukan? Segala sikap yang tertanam dan meledak tiba-tiba, pasti hanyalah sebuah ego singkat. Karena rasa takut itu sendiri, ego kita tumbuh!"
"Contoh nya Asnee dan Mama mu barusan! Tidak ada masalah besar, mereka hanya over satu sama lain tapi tidak pada situasi yang benar!"
"Bukan begitu?"
Tutur Ruby. Jika Ruby sudah bicara, semua orang akan rela mendengarkan walaupun menghabiskan waktu berjam-jam lama nya, karena perkataan nya selalu tepat dan menenangkan. Sehingga jarang ada perpecahan di antara keluarga dan persaudaraan, karena pengalaman yang mengajari nya.
"Terus apa yang harus kita lakukan sekarang.Mom?!" Rayya cerewet sebenarnya kalau sudah dekat mereka.
"Kenapa bertanya lagi, bukan kah rencana awal lebih bagus? Kakak-kakak mu juga sudah punya rencana, jadi biarkan masalah ini di selesaikan dengan rencana yang sudah di susun! Masalah Asnee setuju atau tidak, sudah bukan urusan nya lagi, karena ini menyangkut nyawa."
__ADS_1
"Mommy dan daddy mu tidak mengajarkan untuk membalas dendam, tapi dari dulu prinsip yang kita pegang siapa yang berbuat kebaikan maka kita akan membalas nya berkali-lipat, begitupun sebalik nya!"
"Kita membangun keluarga bukan hanya dengan sesuap nasi, tapi kita membangun keluarga dengan darah dan nyawa! Tapi bukan berarti kita dengan mudah melayangkan nyawa orang! Siapa yang salah maka dia pantas mendapat balasan nya!"
Mereka hanya mengangguk kala Ruby terus berbicara. Ahan pun serasa menyejuk kala mendengar perkataan Ruby.
"Mommy, mama di mana?" Asnee pun kembali dengan wajah yang mulai pucat kembali.
Shabila yang jarak nya dekat dengan Asnee langsung mengecek suhu badan adik kecil nya itu. "Suhu badan mu panas Asnee!" Lengan Asnee di tarik sehingga duduk berhimpitan dengan Sean juga Shane.
"Mama di mana?" Asnee kembali bertanya.
Layak nya anak-anak biasa, suasana sekarang seolah tidak ada Raja dan tidak ada pangeran juga putri, mereka semua berbaur seperti keluarga harmonis.
Berbanding terbalik saat sudah masuk istana. Ada Raja yang bijak dan apa pula Putri yang mandiri dan berpikiran terbuka. Ahan benar-benar di buat terdiam, selama dia hidup di lingkungan yang keras, dia tidak pernah menyaksikan keharmonisan yang sekarang ini dia saksikan.
Dia pikir saat tadi Pangeran Asnee menyentak seorang wanita akan terjadi kegaduhan, tapi nyatanya tidak, dia di buat bingung sendiri.
"Lalu kau ini siapa?" Timpal Glory melipat tangan nya di depan perut.
"Saya orang tuan putri, nona!" Sahut Daniza sopan.
"Hahaha kamu pikir kita tidak tahu? Dari pakaian mu saja sudah terlihat bukan dari jajaran orang berada!" Glory malah menghina walau terdengar biasa di telinga Kevin, Julian juga kedua teman nya yang lain, tapi tidak dengan Daniza.
"Sudah lah, Glo! Kau malah menyinggung perasaan dia!" Malas Kevin.
"Lalu kapan dia kembali? Kondisi nya masih belum stabil seperti kita! Dia malah keluyuran seenak nya. Tidak tahu diri sekali! Sekalian mati saja, As kau ini!" Racau Robert, dia si teman sejati yang curcol kalau bersuara.
"Dih, parah kau ya. Bert!" Jessy menonyor kepala Robert akan ucapan nya yang tidak bisa di filter.
__ADS_1
"Aisshh berisik! Kalian bisa diam atau tidak? Sudah, kalian bertiga kembali sana! Bikin rusuh aja!" Umpat Kevin, kembali mendorong tiang infus nya kembali menjauh dari pintu ruang Asnee.
Di dalam pikiran nya, kenapa gadis itu bisa bahasa Glory? Bukan kah seharusnya tidak?.
...**...
Angin semilir masih berhembus. Nara masih belum kembali ke dalam, posisi orang-orang masih belum berubah, menunggu keadaan Nara membaik.
Asnee tertidur di atas sofa berbantalkan paha Shabila. Seraya dielus-elus dengan lembut. Ada yang berdiri ada yang duduk, mereka masih menunggu dengan sabar.
"Mama" Ucap Rayya. Nara pun terlihat kembali dengan mimik wajah yang sudah melunak. Semua orang menoleh ke arah nya.
"Kakak" Panggil Sean meraih tangan nya dengan lembut.
"Its ok!" Ucap nya.
"Bawa dia kembali ke rumah sakit! Jaga dia jangan sampai kabur seperti ini! Kakak akan mengurus gadis itu !!" Tutur Nara.
"Nara!" Pungkas Ruby.
"Sesuai rencana mommy! Aku cukup menemani Asnee saja ke depan nya! Aku percaya pada kalian" Tutur Nara. Hati mereka pun melunak seketika.
"Ok jika begitu kita tunggu besok! Orang tua mereka sudah menerima undangan dari sekolah dan kita akan datang besok! Terutama Tuan Aaron, dia harus ada di sana"
"Untuk masalah yang ini kami yang akan membantu" Timpal Shabila.
"Untuk urusan gadis itu bagian kami. Bukan begitu sayang?!" Ruby pun tidak mau kalah, Rayya mengangguk penuh semangat.
"Untuk masalah yang lain, daddy yang bertanggung jawab. Bukan begitu?!" Timpal Edward menatap Eiji juga Julian.
__ADS_1
Edward, Eiji dan Julian menjadi baking kala jika pendukung keluarga itu ikut campur. Untuk Rayya juga Ruby, mereka bertanggung jawab penuh atas LukyaNova. Sedangkan Si kembar bertanggung jawab atas keluarga Luke dan teman-teman nya.