
...**...
Daniza berhenti di depan kolam kecil yang di tengah nya berdiri air mancur.
"Wara dengar kan aku," Ucap Daniza. Iswara pun menatap mata Daniza dengan patuh.
"Iya, Wara dengarkan.kok!" Sahut nya dengan tegap.
"Ahan sedang ada pekerjaan, apa kau tidak kasihan pada nya? Lagipula keluarga angkat dari Pangeran Asnee orang-orang baik dan aku menjamin itu!."
"Terlebih, Putri Rayya dan Ahan memiliki hubungan walaupun tidak banyak orang tahu termasuk keluarga kerajaan! Apa kau tega memisahkan mereka?"
"Wara, Ahan pasti akan menerima permintaan mu tapi bagaimana dengan Putri Rayya? Apa kau tidak kasihan pada nya?"
Tutur Daniza panjang lebar dan Iswara mendengarkan sesekali mengangguk. Entah itu anggukan paham atau bukan, yang penting dia mendengarkan dahulu.
"Kau mengerti, Wara?" Ucap Daniza kembali.
"Wara paham, tapi kenapa Wara harus mengalah? Wara tidak meminta Ahan bersama Wara selamanya, tapi Wara hanya minta sampai selesai pengobatan saja!"
"Niza, Wara tidak mengenal mereka semua." Air mata Iswara menggenang kembali. Iswara benar-benar cengeng di depan Daniza, padahal saat bekerja di kasino dia paling badas dan kasar.
"Apa Niza berpikir Wara akan mengekang Ahan dan mengikat dia? Kenapa Niza berpikir seperti itu? Apa Niza sudah tidak sayang lagi sama Wara?"
Perlahan air mata Wara menetes. "Wara tidak mau ! Dan lagi untuk apa pengobatan itu? Wara sehat, Wara tidak sakit apa-apa. Niza!" Wara masih bersih kukuh dengan keinginan nya.
Iswara mengguncang tangan Daniza, dia pun sadar ada perbedaan antara Iswara sekarang dan dulu. Mental Iswara sekarang memang sedang tidak baik dan Daniza melihat itu terutama dari sorot mata Iswara yang kosong namun ketakutan.
"Semua nya akan baik-baik saja" Daniza memeluk Iswara erat.
Pelukan Daniza pun terlepas. "Begini saja, nanti Saat kau di Irlandia Ahan akan menjenguk mu. Lagi pula sebentar lagi aku akan bertunangan, jadi kau akan kembali ke sini dalam waktu dekat!" Seru Daniza.
"Wara engga mau—" Wara masih tetap kukuh dengan pendirian nya. "Apa Wara juga bertunangan saja ya?" Mulai, Iswara malah memiliki ide seperti itu.
"Wara patuh. Dengarkan aku! Kita sekarang hanya tinggal berdua dan akan bergantung satu sama lain. Kita coba dulu tawaran mereka! Aku bersumpah akan membunuh mereka jika kau kenapa-napa. Kau masih mempercayai aku, kan?!"
Entah harus meyakinkan Iswara dengan apalagi, Daniza pun mengatakan itu agar Iswara percaya.
"Tapi aku ingin tinggal di sini. Niza! Rumah Papa, Paman dan Bibi juga ada di sini. Aku akan mudah menjenguk mereka kalau tinggal di sini!" Wara terus merengek, Daniza bingung harus mengatakan apa lagi.
"Oke oke, itu bisa di bicarakan setelah pengobatan mu selesai!" Seru Daniza.
"Janji dulu"
Daniza mengangguk dengan pasti, menatap dalam mata Iswara.
"Kalau begitu fiks, kamu kembali dahulu Ke Irlandia" Ucap Daniza.
"Iya" Angguk Wara.
__ADS_1
Orang-orang di dalam ruang keluarga kerajaan masih di sana. Daniza dan Iswara kembali masuk dan menjadi perhatian kembali.
"Wara setuju" Ucap Daniza. Ruby dan yang lain nya ikut senang.
Perbincangan selesai. Asnee dan Daniza hanya akan melaksanakan pertunangan dahulu dan Iswara melakukan pengobatan.
Sore hari setelah semuanya selesai dan kembali sibuk ke dalam pekerjaan masing-masing, Asnee berdiam di depan meja dengan beberapa pekerjaan yang di serahkan oleh Karl mengenai kandidat pemilu untuk provinsi dan juga permasalahan di Struktur organisasi yang tugasnya sudah di serahkan kepada Asnee dari Raja.
"Karl, kau yakin tidak mengenal Simon Schaller?" Asnee sejenak menghentikan pekerjaan nya dan menatap lurus Karl yang tengah membaca berita di layar iPad nya.
"Maaf Pangeran, saya tidak mengetahui nya" Jawab Karl jujur, dia pun memang tidak kenal dengan Simon.
"Berani sekali dia menyentuh tubuh nya!" Rahang Asnee menegas, menatap nyalang lurus ke depan.
Karl bergumam di dalam hati nya. "Jika anda tidak bermain-main saya yakin Nona Daniza yang terbaik"
Masih tabu, Karl mengikuti Asnee dari saat kecil dan dia tahu bagaimana Tuan nya itu. Dari saat kasus Lukyanova, Karl pun mengetahui jika Tuan nya tidak lagi percaya akan cinta, namun sekarang apa? Tuan nya secepat kilat mengumumkan akan bertunangan dengan Daniza.
Karl tidak tahu ada niat apa, tapi dia bersumpah tidak terima jika Daniza menjari pelarian tuan nya saja.
...***...
"Paman" Iswara menarik-narik lengan baju Eiji saat mereka bersiap kembali pulang.
Eiji tidak menjawab, dia hanya menoleh saja seraya menatap dengan mata bertanya ada apa.
"Waktu penerbangan masih beberapa jam lagi, boleh kah aku menghubungi Ahan dulu? Dia pasti mencari kalau aku tidak bilang!"
Di sana, Ruby dan Edward serta David pun melihat dan mendengar walau mereka tengah berbincang. Mereka berpikir Iswara berani nya hanya pada Eiji walau masih terlihat canggung dan takut.
"Ayo ikut" Ucap Eiji.
Di ruang kerja, Rayya tengah fokus dengan kerjanya karena tadi dia tidak masuk ke kantor untuk itu asisten di perusahaan membawa kan tugas nya ke istana.
Tok
Tok
Tok
"Putri, Tuan Eiji ingin bertemu" Suara dari luar terdengar walau pelan tapi Rayya mendengarnya.
"Masuk" Ucap Rayya.
Pintu pun terbuka dan Eiji juga Iswara pun masuk. "Yaya" Panggil Eiji.
"Iya kak?" Rayya pun menyambut kedatangan Eiji namun seketika menaikkan satu alis nya karena keberadaan Iswara di belakang tubuh Eiji.
"Bisa tolong hubungi Ahan? Gadis ini ingin berbicara sebelum berangkat!" Pinta Eiji. Rayya pun mengambil handphone nya di samping komputer.
__ADS_1
"Boleh, Sebentar!" Ucap Rayya. Iswara pun perlahan menatap Rayya, walaupun setengah tubuh nya tertutup Eiji.
Tut
Tut
Tut
Masih belum tersambung, Rayya kembali mencoba menghubungi Ahan.
"Halo baby?" Sapa Ahan dari seberang sana.
Rayya tidak menjawab, dia langsung memberikan handphone nya pada Iswara dengan pengeras suara telah di aktifkan. "Ini" Ucap Rayya. Iswara pun mengambil nya dengan dua tangan saking sopan nya.
"Halo baby ada apa?" Suara Ahan dari seberang sana kembali bertanya.
"Ahan ini Wara" Ucap Iswara. Suara jadi hening.
"Kau baik-baik saja? Saya pulang sekarang, jangan kemana-mana!" Suara Ahan sangat terdengar khawatir, nada bicara nya naik turun dan cepat pertanda jika Ahan benar-benar khawatir.
Eiji dan Rayya mendengarkan.
"Wara baik, tapi sebentar lagi Wara pulang ke Irlandia. Wara cuman mau memberitahu Ahan aja!" Suara Wara mulai membulat dan tentu saja Eiji dan Rayya melihat air mata wara sudah menggenang lagi.
Jika yang tidak menyukai Wara mungkin akan mengejek jika Wara sangat cengeng.
"Kenapa kembali ke sana? Tunggu, saya akan pulang. Jangan berani beranjak selangkah pun dari istana!" Suara Ahan menekan. Perasaan Rayya semakin tidak enak, kenapa Ahan sebegitunya pada Iswara. Di banding pada Daniza, Ahan lebih lengket dengan Iswara dan membuat Rayya semakin tidak nyaman.
"Tidak tidak, kau selesaikan saja urusan mu dahulu baru bisa pulang! Aku hanya ingin memberitahu mu saja. Kau pasti akan mencari aku jika tidak tahu"
"Sebentar lagi aku berangkat bersama Paman, jadi jangan khawatir!" Seru Iswara.
"Jam berapa penerbangan nya?" Tanya Ahan.
"Jam tujuh malam" Sahut Iswara.
"Ok" Jawab Ahan.
"Pakai baju hangat, di kamar saya ada baju hangat. Pakai saja itu! Nanti saya hubungi Niza biar mengambilkan nya untuk mu!"
Dengan lugas nya Ahan berkata, entah apa yang ada di pikiran nya. Antara Iswara dan Rayya, kemungkinan bagi ahan posisi mereka berdua sama, tidak ada yang tinggi tidak ada pula yang rendah untuk sekarang.
"Ih engga perlu. Aku sudah memakai baju hangat dari Paman! Aku pamit ya," Ucap Iswara kembali.
"Sebentar Wara, saya belum selesai bicara!" Tekan Ahan.
"Udah ah," Seru Iswara mematikan telpon nya.
Sambungan pun terputus, Iswara kembali memberikan handphone itu pada Rayya. Suasana sepi, Iswara melirik Rayya juga Eiji bergantian.
__ADS_1
"Putri maaf, saya meminjam handphone anda lama" Iswara sangat menyesal dan Rayya pun mengambil alih Handphone nya kembali.
Ahan dan Iswara, mereka berdua kadang berbicara formal kadang pula seperti teman. Rayya pun menangkap hal demikian, Ahan pun seperti itu pada nya tapi tidak seberani seperti pada Iswara.