
"Rumah sakit Lovina bukan?" Seru Ahan kembali. Niza menegang, Ahan pun terundang untuk mendengarkan.
"Kau tahu?" Selidik Daniza semakin mengeratkan genggaman tangan nya pada Ahan.
"Niza, bisakah kau diam saja di istana. Jangan kemana-mana! Biarkan ini menjadi urusan ku, kau tunggu dan biarkan aku menyelesaikan ini!"
"Tapi jika kau keberatan, maka bisakah kau menjaga nya. Pangeran?!" Ahan pun menolehkan tatapan nya pada Asnee. Asnee berdiri tegap dan menghampiri Daniza.
"Apa yang bisa saya lakukan? Informasi ini masih tabu!" Seru Asnee.
Ahan menatap lekat Asnee. "Keluarga angkat mu seorang mafia bukan? Tentu saja ada ajaran tertentu yang mereka berikan saat berhadapan dengan situasi ini"
"Anda bisa memanfaatkan plakat itu untuk mendapatkan informasi"
Ahan berdiri dan kini duduk di kursi.
"Anda akan tahu siapa saja yang menjadi anggota di sana serta anda akan tahu petinggi negara ini yang melakukan bisnis kotor dengan menjual nama negara"
"Pangeran, semua kemungkinan itu ada. Masalah ini tidak hanya akan berpengaruh pada kami, tapi juga pada sistem yang akan anda jalan kan sebagai penerus raja"
"Saya rasa seperti itu. Kau mau mencoba nya?"
Ucapan Ahan itu serasa sangat meyakinkan, sampai Asnee semakin curiga pada Ahan. Identitas yang tidak di ketahui itu mengganggu nya.
Ahan seperti orang yang tahu banyak mengenai bisnis seperti itu.
"Tunggu." Daniza menukas obrolan mereka.
"Kau ini siapa sebenarnya?" Niza semakin menyelidik, semakin ke sini dirinya semakin melihat sisi lain dari Ahan di mana kini Niza samar mengingat seseorang dengan nada intonasi dan pembicaraan seperti itu.
"Kau tidak perlu tahu siapa saya, Niza! Cukup seperti ini saja"
Ahan kembali berbicara formal. Asnee pun penasaran.
"Hanya seperti ini. Aku selalu bilang jika ada apa-apa katakan, jika di masa depan mereka menyakiti mu, kau bisa pulang pada ku. Hanya itu yang bisa aku tawarkan pada mu!"
Ahan mengelus kepala Daniza. Daniza menepis tangan Ahan.
"Tidak, aku mau tahu siapa kau sebenarnya? Kenapa sampai seperti ini? Kau selalu ada dan ikut campur dalam urusan ku?"
"Kau hanya pengawal tuan Putri, tapi kenapa semakin ke sini kau selalu memperhatikan aku? Aku tidak nyaman, kau tahu itu!"
Daniza memalingkan tatapan nya.
Dan pada akhirnya Daniza tetaplah seorang gadis yang beranjak dewasa di mata Ahan.
__ADS_1
...**...
Drtt
Drtt
Handphone Ahan berbunyi. Niza juga Asnee pun telah pamit kembali saat ini.
"Halo" Sapa Ahan.
"Kau baik-baik saja?" Tentu saja itu suara Lexi.
"Baik. Kenapa?" Seperti biasa Ahan tidak pernah menyahuti orang-orang dengan kalimat panjang, terkecuali pada Niza juga Rayya untuk sekarang.
"Tenyata itu alasan mu tetap tinggal di Thailand? Bukan kah kau yang mengatakan hanya satu bulan saja? Tapi kenapa sekarang ingin menetap dan menjadi pengawal Rayya?"
Tutur Lexi, Ahan pun tahu pasti Lexi akan tahu dalam waktu yang cepat.
"Kau tidak senang? Jika iya, saya akan kembali ke negara asal saya dan akan berterimakasih secepat nya pada anda!" Ahan malas menjawab nya.
"Ow galak sekali kau ini bocah! Tentu tidak, mana bisa pengawal terbaik Putri saya tarik kembali?" Seru Lexi dari seberang sana.
"Cihh" Decih Ahan.
"Sebentar" Tahan Ahan.
"Apa lagi? Mau berhenti?" Goda Lexi.
"Yaak" Sentak Ahan.
"Sudahlah!" Lanjut Ahan malas dan menutup sambungan nya.
Tadinya dia ingin bertanya mengenai Iswara, tapi sudahlah mungkin bukan waktu nya. Untuk sekarang dia ingin memastikan jika orang-orang itu ada di sana, tugas nya ingin selesai tanpa menjadi beban di masa depan.
"Kau mau kemana?" Rayya sudah berdiri berdiri di depan pintu saat hendak masuk, tapi Ahan sudah bersiap untuk pergi.
"Saya ada urusan sebentar di luar" Ucap Ahan berdiri di ambang pintu.
"Saya?" Rayya mengulang, dia tidak suka dengan panggilan yang Ahan ucapkan barusan, kembali formal seperti orang asing.
Ahan pun mengembuskan nafasnya perlahan. "Baby, kau ada pekerjaan juga. Bukan? Kenapa belum berangkat?" Ahan menarik tengkuk leher Rayya dan mengecup kening nya.
Rayya tidak menyahuti, dia hanya menatap Ahan dengan seksama. "Terus kau mau kemana? Luka nya belum sembuh total. Kan?! Istirahat saja" Ucap Rayya memegang pinggang Ahan dan menggapai mata karena Ahan tinggi.
"Sudah baikan. Tidak perlu khawatir!" Ucap Ahan kembali memeluk Rayya. "Berangkat dulu, kalau ada apa-apa kabari. Jangan tidak!" Lanjut nya sembari mengusap lembut punggung Rayya.
__ADS_1
"Putri" Sapa pelayan yang baru saja datang. Menundukkan pandangan mereka karena pandangan di depan.
"Mobil sudah siap" Lanjut salah satu dari mereka.
"Kabari jika sudah sampai" Ucap Ahan.
"Iya" Sahut Rayya sedikit menjauhkan wajah nya namun kedua tangan masih menahan pada pinggang ahan dengan lembut karena dirinya tahu luka Ahan di sana masih basah.
"Ini" Telunjuk Rayya nakal mengetuk bibir nya sendiri, mengkode agar Ahan mengecup nya dulu. Rayya ternyata nakal, sepertinya sifat Nara benar-benar turun pada Rayya.
"Tidak baby, cukup sampai di sini saja!" Ucap Ahan mengusap pipi Rayya.
Akhirnya mereka pun pergi ke urusan masing-masing, sedangkan Asnee kembali ke Universitas, Daniza dalam pengawasan ketat di bawah perintah Asnee.
Ibu Suri Rataporn pun terlihat mengunjungi Daniza kembali dan berbincang ringan di sana.
"Ka Asnee" Teriak Jane memanggil Asnee dengan lambaian tangan nya.
Di depan gerbang Universitas.
"Yang lainnya mana? Tumben sendiri?" Ucap Jane karena tidak melihat Kevin juga Robert. Biasanya kalau di sana asa Asnee pastinya Kevin juga Robert juga ada.
"Ahaaa bagus bagus. Ayo masuk bersama aku aja!" Jane masih saja bertingkah seperti itu. Sebelum janur kuning belum melengkung, dia masih memiliki kesempatan mendekati Asnee.
Asnee tidak menepis apalagi menolak, dia sudah malas melakukan apapun saat Jane seperti itu.
"Halo" Sapa Jane pada teman sefakultas nya, seolah memperlihatkan kedekatan dirinya dengan Asnee.
"Weh weh weh apa-apaan ini?" Suara Robert membelah, rangkulan tangan Jane pun terlepas pada Asnee karena ulah Robert.
"Yaak" Sentak Jane.
"Sayang, kau berselingkuh?!"
Adu mulut pun di mulai. Asnee juga Kevin memilih pergi lebih dulu, membiarkan mereka dengan adu mulut mereka.
"Vin" Ucap Asnee. Kevin pun menoleh menanggapi.
"Aku perlu berbicara dengan papa mu, apa hari ini dia ada di rumah?" Lanjut Asnee bertanya.
"Ok! Nanti pulang kita bareng aja ke sana nya"
"Ada memang nya?"
"Ada, dia lagi libur!" Seru Kevin.
__ADS_1