The Future King

The Future King
Eps 93


__ADS_3

"Selamat pagi, Putri" Sapa seorang pelayan istana di bawah pimpinan Asnee. Rayya yang tengah menikmati teh hangat pun menoleh dan merespon sapaan nya.


Daniza dan Ahan pun ada di sana, mereka tengah berbincang hangat di pagi hari.


"Ada sesuatu yang hendak kau sampaikan? Tidak biasanya kepala pelayan istana Barat berkunjung ke sini?!" Terdengar seperti sindiran, namun kenyataan nya memang ini pertama kalinya Raya melihat dia menapaki istana Timur yang sekarang dia tempati.


Kepala pelayan itu membungkuk, stelan formal dengan rok selutut pun menambah kesan elegan untuk nya.


"Putri, Pangeran Asnee mengundang nona Daniza ke istana nya!" Ucap Kepala Pelayan itu dengan hati-hati seraya mencuri pandang pada tuan putri nya.


Mata mereka pun saling lempar pandang, Rayya berdiri sesekali mengerlikan rambut nya. "Pangeran Asnee ingin bertemu dengan, dia?!" Tunjuk Rayya pada Daniza.


"Benar, Putri!" Sahut sang pelayan.


Sudut bibir Rayya melebar, melipat kedua tangan nya. "Baik!" Angguk Rayya.


Rayya menoleh pada Daniza. "Niza ikutlah dengan nya!" Titah Rayya, Ahan hanya duduk dan memperhatikan.


"Kau tidak ingin ikut?" Pertanyaan dari Rayya, Ahan pun tahu dia tengah menyindir nya.


"Baik lah!" Dorongan kursi terdengar, Ahan hendak berdiri namun Rayya menghentikan nya dengan pertanyaan kembali.


"Mau kemana?" Tanya Rayya menatap selidik.


"Wanita memang aneh! Bukan kah saya harus mengikuti bocah itu? Anda sendiri yang mengatakan itu!" Ucap Ahan heran, namun dia pun ingin tertawa dengan decakan yang terdengar di lidah Rayya.


"Kapan saya mengatakan itu?" Tekan Rayya.


"Tadi!" Sahut Ahan dengan segenap ekspresi wajah datar nya, namun sorot mata yang sayu.


"Tidak ada, ya! Kapan saya mengatakan itu? Tuli, emang! Makanya kalau punya telinga itu pake, bukan hanya buat pajangan!"


Ahan semakin mengerutkan kening nya, bukan kah dia bercanda? Tapi kenapa seperti mengeluarkan emosi nyata? Entahlah, Ahan tidak tahu.


"Jad—"


Rayya mengangkat telapak tangan nya saat Ahan hendak bicara. "Saya ada pekerjaan lain, siapkan mobil!" Ucap Rayya.


"Kita mau kemana?" Reflek Ahan bertanya. Rayya semakin menatap lurus manik mata Ahan.


"Ke perkebunan Anggur" Ucap Rayya seraya pergi menaiki anak tangga yang tidak begitu tinggi.

__ADS_1


Ahan masih berdiri, dia menatap punggung Rayya sebelum tertelan belokan tangga.


"Keras kepala!" Umpat Ahan seraya berlalu pergi dari meja makan.


Tok


tok


tok


Ketukan pintu terdengar, Karl yang masih berada di dalam pun membuka pintu.


"Silahkan, Pangeran sedang menunggu anda" Ucap Karl dengan gerakan tangan nya. Kepala Pelayan yang mengantar pun langsung pamit pergi sedangkan Daniza masuk ke dalam di pandu oleh Karl.


"Jika begitu saya pamit!" Izin Karl menunduk patuh dan segan pada Asnee yang terlihat masih menyesap teh hangat nya serta membuka selembar semi selembar koran terbaru.


Daniza masih berdiri, lurus dengan keberadaan di mana Asnee duduk. Kini tinggal mereka berdua di dalam.


"Salam, Pangeran!" Sapa Daniza.


Asnee menghentikan aktifitas nya, merubah posisi duduk dengan kedua sikut tangan menumpu pada paha.


"Langsung ke intinya, saya ingin mendengar kenapa kau bisa sampai di negara ini. Nona!" Ucap Asnee, gerakan tangan nya mempersilahkan untuk Daniza duduk.


"Kau terlihat sangat setia pada putri Rayya! Jika dia begitu baik pada mu itu berarti dia tahu apa yang terjadi, walaupun tidak sepenuh nya tahu! Jika kau setia pada nya, bukan kah seharusnya setia juga pada saya?"


Kata ambigu kembali Daniza dengar, otak nya belum sampai pada kesimpulan dari perkataan Asnee.


"Maksud anada, sa—"


Gerakan bola mata Asnee membekukan perkataan Daniza.


"Saya perlu informasi itu! Mungkin mau dapat membantu, Daniza!" Lanjut Asnee.


Daniza mengangguk, dia mengerti sekarang ke arah mana perkataan itu berpacu.


"Perdagangan itu maksud, Pangeran?" Daniza memastikan.


"Benar" Sahut Asnee. "Tidak ada yang boleh kurang dari informasi ini! Kau tidak perlu mengungkit latar belakang mu karena itu tidak penting untuk ku, yang ingin aku dengar dari awal kau di bawa dan wilayah mana saja kalian berlabuh sebelum akhir nya sampai di sini" Ucap Asnee.


Daniza terdiam, dia pun merasa memang latar belakang nya tidak penting untuk ukuran seorang Pangeran sepertinya. Dia hanya peduli pada informasi yang menyangkut pokok permasalahan dalam kerajaan nya.

__ADS_1


"Tapi saya tidak tahu pasti, hanya sebuah laut saja dan beberapa orang yang pernah saya temui" Seru Daniza.


"Sedikit informasi lebih baik dari pada tidak sama sekali" Ujar nya.


Daniza pun duduk, dia nampak mulai berbicara dan sesekali menjawab pertanyaan dari Asnee.


"Anda yakin bisa mengenali seseorang hanya dari perkataan saja?" Tanya Daniza. Asnee mendengarkan dan kedua bola mata itu tidak lepas dari Daniza mulai dari atas sampai bawah, manik mata Daniza pun tidak luput dari tatapan Asnee.


"Lanjutkan!" Titah Asnee


Tidak terasa, kedua insan itu hampir dua jam berbincang. Wawasan Daniza sepertinya bukan main-main, Asnee merasakan itu.


Dari penjelasan Daniza dari awal sampai akhir, tidak ada yang tidak dia mengerti. Daniza menceritakan dengan seakan-akan mencoba agar lawan bicara nya mengerti, dia punya cara tersendiri.


Pemaparan yang langsung bisa Asnee bayangkan, dia akan lebih mudah mencari tempat dan orang-orang yang terlibat hanya dari mulut Daniza.


"Tidak baik memakai lensa mata setiap hari! Kau ada di istana, keamanan mu terjamin!" Seru Asnee, Daniza mengangguk paham.


"Baik, Pangeran!" Sahut Daniza.


"Kau sudah boleh pergi!"


Ucapan Asnee merasa membuang Daniza, seakan akan dia seperti sampah yang sudah tidak berguna saat ini.


Daniza tidak bisa mengumpat di dalam, alhasil sepanjang perjalanan ke istana Timur dirinya terus mengumpat sesekali mengepalkan tangan nya erat.


Karl yang tengah berbincang dengan ajudan Raja melihat itu, menautkan alis nya.


Malam hari, Rayya baru saja kembali bersama dengan Ahan dan langsung menuju kediaman nya di istana Timur.


"Langit sudah menggelap dan cuaca dingin. Kaka baru kembali?! Pekerjaan apa yang begitu terlena dengan tenaga mu, kak?"


Rayya menghentikan langkah nya begitupun dengan Ahan.


Asnee nampak berjalan diikuti oleh Karl di belakang.


"Ada panen Anggur di perkebunan dan beberapa entry data yang harus di perbarui. Untuk itu kakak pulang terlambat!" Ucap Rayya. Asnee memakaikan selimut kecil pada pundak Rayya.


"Tidak ada masalah, kan?!"


"Tidak. As!" Ucap Rayya mengelus singkat wajah adik nya itu.

__ADS_1


Asnee melirik Ahan dan juga Karl. "Kalian sibuk lah dengan pekerjaan masing-masing!"


Karl dan Ahan mengerti dengan perkataan Asnee, untuk itu mereka langsung pamit undur diri.


__ADS_2