
Merasa tersudutkan, Yaya reflek berdiri di tempat."Maaf nona, maaf nyonya, saya tidak mengenal kalian! Dan kenapa anda mengatakan hal-hal seperti itu pada saya?" Tubuh Yaya ketakutan, air mata pun sudah menggenang di pelupuk mata.
Ekspresi Ruby dari awal menatap Yaya tidak berubah, seakan-akan tidak memiliki ekspresi. Wajib di puji dan diberi tepuk tangan yang meriah untuk akting dari Yaya saat ini.
"Benarkah?" Yaya kembali duduk di samping Ruby dengan terus menatap Yaya lurus. "Lukyanova rakyat Thailand aku rasa tidak mungkin jika anda tidak mengenal saya, bukan?!" Bernada sombong, namun saat ini Rayya perlu sifat itu di hadapan orang yang tidak tahu diri seperti Lukyanova.
"Saya benar-benar tidak mengenal anda, nona!" Yaya terus menjawab dengan pasti jika dia tidak mengenal Rayya. "Saya memang dari Thailand tapi sudah lama tidak tinggal di sana!" Lanjut nya meyakinkan, dia duduk kembali menetralkan jantung nya dan getaran di tubuhnya dengan kedua tangan mencengkram baju.
Gerak gerik Yaya tentu masih di perhatikan oleh Ruby. "Baiklah!" Timpal Ruby. Rayya dan juga Yaya pun menoleh ke arah nya.
"Perkenalkan, saya Ruby! Nenek dari Asnee dan dia adalah Rayya, kakak kandung dari Asnee!" Tutur Ruby.
"Nenek? Bukan kah nenek Asnee nyonya Rataporn?"
Yaya malah membuka kebohongan nya sendiri, keterkejutan dan kereflekan dari mulut nya membuat tidak fokus. Ruby dan Rayya menyunggingkan senyum mereka.
"Begitu kah?" Pungkas Ruby kembali.
Kedua mata Yaya seketika membulat penuh, dia salah bicara sekarang, keadaan semakin menyudutkan nya.
"Kau cantik, saya akui itu tapi niat busuk mu membuat mu menjadi rugi. Yaya!"
"Mumpung masih baik, katakan lah apa niat mu mendekati adik saya?!" Lanjut Rayya seketika wajah nya begitu netral dan menyejukkan
Ruby menoleh. "Sean lihatlah adikmu ini, menakutkan sekali" Batin Ruby terus menggema akan sikap Rayya yang aneh.
"Saya tidak ada niatan apapun, saya mencintai nya dan Asnee juga mencintai saya, lalu untuk alasan apa saya mencelakai nya? Sangat tidak masuk akal, bahkan anda malah menyalahkan saya saat ini!" Yaya mulai bermain kata-kata.
"Bohong sekali saja itu sangat tidak mungkin! Orang yang berbohong tidak akan suka dengan kebenaran dan jika sudah satu kali berbohong maka akan ada kebohongan lain yang di umbar! Saya benar bukan?!" Seru Rayya ikut bermain kata-kata.
__ADS_1
"Tch tch tch bahkan bukan saja kebohongan tapi orang yang sudah memiliki hati dengki tidak rela memiliki saingan, seperti hal nya nona Payu!"
Siapa sangka, Rayya mengetahui siapa nona Payu, kakak angkat dari Yaya yang dia bunuh dengan keji.
"Diam! Jangan menyebut nama itu, jika tidak kau akan tahu akibat nya"
"Hahahaha memang nya siapa anda ini ? Putri Yodrak yang lemah dan tidak tahu diri, hidup cuman menyusahkan keluarga saja masih bangga! Apa? Kau pikir akan berhasil hanya dengan mengatakan hal itu pada ku?"
"Saya tekankan sekali lagi, saya tidak ada sangkut paut nya dengan kecelakaan adik anda! Saya tidak tahu apapun, sekalipun anda tetap menuduh saya, bukan kah harus ada bukti kuat? Sekarang mana?"
Kedua wanita beda usia di hadapan Yaya itu sama sekali tidak bergeming, mereka seakan tidak terpengaruh oleh omong kosong Yaya saat ini.
"Oh ya?"
"Nona ingin bukti kan? Apa kedua sopir itu cukup untuk menjadi bukti? Oh iya nona, kami mencari mu karena mereka mengatakan nama mu tadi malam"
"Jika di tambah dengan darah mu, mungkin akan sangat sempurna!"
Rayya berdiri, di tangan kanan nya belati ternyata sudah dia genggam. Ruby hanya diam, dia seakan-akan menikmati peran nya di sana.
"Anda mau apa?" Yaya ketakutan, dia menggeser duduk nya perlahan. "Jangan dekati saya atau anda tahu akibatnya!" Ancaman Yaya tidak mempan, Rayya terus mendekat.
"Silahkan!" Sahutan singkat namun menakutkan, membuat Yaya berdiri dan menjauh.
"Anda hendak ke mana? Kenapa? Mau berteriak silahkan, tidak ada yang akan mendengar mu"
"Jangan macam-macam, ada CCTV di sini!" Yaya menunjuk keras ke arah Rayya sesekali menunjuk CCTV.
"Aku tidak takut"
__ADS_1
Grepphhh
Rayya tidak tanggung, mendorong Yaya ke dinding dan meletakkan ujung belati di leher nya. "Kau mencelakai adik ku dan belati ini akan membalas mu berkali-kali lipat! Bagaimana?"
"Silahkan!" Tantang Yaya.
Ruby mengubah posisi duduk nya, melihat Rayya mengancam Yaya dengan begitu mulus tanpa jeda, lembut namun mematikan. Sebenarnya Ruby ingin sekali langsung menyeret nya saja tapi biarlah Rayya yang mengurus nya.
Beshhhh
Ujung belati itu terus menekan, darah segar perlahan ke luar dan mengotori belati itu.
"Aarr—rrghh" Yaya tidak berkutik.
"Saya tidak segan membunuh siapapun yang mencelakai Asnee! Dengar, kau sudah terlalu jauh bermain dengan kami! Akibatnya akan fatal dan kau tidak akan merasakan bebasnya dunia setelah saat ini."
"Saya bersumpah akan mencabik-cabik tubuh mu jika keadaan Asnee tidak lekas membaik!"
Brakkkk
Begitu keras dan kasar, Rayya mendorong tubuh Yaya seperti kapuk. "Kita bertemu lagi nanti" Tatapan seperti elang, seakan-akan masih mengintai mangsanya.
"Sudah?" Tanya Ruby.
"Eum!" Angguk Rayya melenggang ke arah pintu mendahului Ruby.
Yaya masih kesakitan, dia menekan luka di leher nya. "Tch tch tch, Rayya masih terlalu baik!" Tepuk Ruby pada pucuk kepala Yaya dan mendongakkan dagu nya. "Tapi tidak untuk kami! Tunggu saja kabar baik nya, sayang!"
Membelai lembut namun pada akhir nya Ruby pun mendorong kepala Yaya dengan kasar dan kembali berdiri, menjauh pergi ke arah pintu ke luar.
__ADS_1