
Suasana kamar kembali hening, deru nafas dari kedua insan terdengar beraturan, sepertinya mereka sudah terlelap.
"Huksh... Hikss.. Ma, Pa.. "
Dalam tidur nya, Daniza bergumam, air matanya ke luar dari sudut. Keringat di kening nya semakin banyak, kedua tangan pun mengepal keras.
"Ma.. Pa! Paman jangan pergi... Ma.. Pa" Suara Daniza semakin tinggi.
Asnee terlonjak kaget, dia bangun dan langsung berlari ke arah Daniza.
"Hey bangun.. "
Asnee menekan tangan Daniza dengan telunjuk nya.
"Ma.. Pa.. Aku sakit ! Ma.. Pa.. " Semakin tidak bisa di kontrol. Peristiwa itu membuat nya trauma parah sampai setiap tidur akan memimpikan kejadian yang sama.
"Iswara" Daniza masih mengigau.
"Hei bangun, bangun!" Asnee duduk di samping kasur dan menepuk- nepuk pipi Daniza.
"Ma.. Pa.. " Daniza berteriak memanggil, dia langsung bangun dan terduduk. Rambut panjang nya nampak basah dan berantakan.
Hoshh...hoshh..hoshhh. Hiks.. Hiks..
Daniza masih menangis, nafas nya belum kembali normal, air mata pun masih berhamburan ke luar. Bibir nya kelu, suhu tubuh nya dingin.
Grepp..
Tanpa aba, Daniza memeluk Asnee yang masih duduk di samping kasur. "Hikss... Hikss.. mereka sangat kejam. Aku harus membunuh nya?" Celoteh Daniza semakin mengeratkan pelukan nya pada Asnee.
Asnee tegang, dia kaget juga mendapat pelukan dari Daniza. "Tenang lah!" Asnee hanya menepuk pundak Daniza tanpa berlebihan.
Tubuh Daniza masih bergetar, tatapan nya pun masih kosong. Asnee memberi minum terlebih dahulu sebelum membiarkan Daniza meminum nya dengan tenang.
"Mau lagi?" Tanya Asnee. Jemari Daniza masih bergetar sampai minum pun tidak benar. Daniza menggelengkan kepala nya tanda tidak mau.
"Maaf merepotkan anda, Pangeran!" Daniza kembali merebahkan tubuh nya dan menutupi badan dengan selimut sampai leher. Asnee masih duduk menatap wajah Daniza di bawah temaram lampu tidur, dia tidak bicara entah apa yang tengah di pikirannya.
__ADS_1
Remaja yang hendak menginjak usia 17thn itu berdiri di depan jendela kamar, dia tidak bisa tidur. Mata nya menatap lurus keberadaan Daniza yang kembali tertidur lelap.
"Mimpimu pasti mengerikan!" Gumam Asnee, dia pun kembali mendekati Daniza dan membenarkan selimut yang tersingkap.
...**...
Keesokan hari nya, Penghuni rumah sudah tidak ada. Perlahan Daniza ke luar dari kamar, dia tidak enak karena bangun kesiangan.
"Ekhemm"
Deheman Ahan mengagetkan jantung, Daniza hampir tersandung di buat nya. "Ish" Gerutu Daniza kesal.
"Tumben bangun kesiangan? Kenapa, apa sangat nyaman berada di pelukan, Pangeran?!" Ledek Ahan. Stelan rapih dan jas menggantung di kedua pundak nya.
"Jangan asal bunyi! Stres dasar..." Cebik Daniza. Dia sangat kesal, baru saja bangun sudah mendengar ocehan tidak bermutu dari mulut manusia dingin itu.
"Mereka mengantar Pangeran ke Sekolah, mungkin sebentar lagi pulang! Kita juga akan kembali ke Thailand sore ini, jadi kau siap-siap lah!" Ucap nya memasukkan kedua tangan ke dalam saku.
Daniza berpikir sejenak. "Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Aku sudah tidak nyaman berada di sini!" Ucap nya ceplos.
"Sana sarapan dulu. Di dapur ada nasi goreng untuk mu!" Ucap Ahan melengos pergi. Daniza yang hendak bertanya pun tidak sempat, begitulah si Erickson itu, orang nya tidak mudah di tebak.
...**...
"Kalian hati-hati, jangan sampai lengah lagi!" Ucap Nara. Dia masih ingat betul bagaimana keadaan Asnee beberapa waktu lalu, untuk itu terus mengingatkan agar lebih waspada.
"As, Papa mungkin nanti tidak bisa menghadiri upacara kelulusan kamu. Tidak apa bukan?! Tapi Papa akan tetap mengusahakan untuk hadir, kalau tidak bisa pun akan Papa kabari!" Tepuk Leyka pada pundak Asnee.
"Iya, Pa!" Jawab nya.
"Apa?" Cebik Rayya.
"Dih, seharusnya aku yang marah. Kan! Kenapa jadi kakak? Bukan nya minta maaf malah manyun kaya gitu. Jelek ah!" Asnee malah menggoda kakak nya, dia pun tidak habis pikir kenapa malam tadi kakak nya menyuruh Daniza tidur di kamar nya.
"Ya kan aku pikir kau dan Papa akan kembali pagi!" Bela mya tidak mau salah.
"Husssh sudah sudah kenapa bertengkar nya malah di lanjut!" Ruby dan Nara memisahkan mereka. Akhir-akhir ini adik kakak itu suka saling menggoda satu sama lain, tapi jika sudah berbincang serius klop nya tiada dua.
__ADS_1
"Kakak yang duluan, Ma!" Adu nya pada Nara.
"Kenapa jadi kakak?" Rayya pun tidak terima.
Edward dan Leyka tidak ikut campur, mereka berdua hanya melihat saja apa yang akan terjadi.
"Iya iya, sekarang kau masuk lah! Tadi Prof Nero mencari mu!" Ucap Nara mendorong tubuh Asnee menjauh.
"Iya iya, sini peluk dulu!" Masih saja sempat manja. Asnee pun bergegas masuk setelah mendapat kecupan singkat dari sang mama.
"Anak itu tidak bisa di kasih tahu! Awas saja nanti kalau minta-minta Daniza padaku, sampai dia sujud di tanah pun tidak akan aku izinkan! Enak saja, siapa dia!" Ujar Rayya mendilak, mata nya memicing tajam dan berbalik ke arah mobil, mengabaikan Mommy dan juga Mama nya.
"Astaga bisa-bisanya dia seperti itu!"
"Hahahaha menggemaskan!" Timpal Leyka. Nara melotot tajam dengan respon Leyka.
"Yaak urus itu putri mu!" Tunjuk Nara pada Leyka dan bergegas pergi. Ruby dan Edward hanya menggelengkan kepala mereka, sudah tua tapi masih saja menyaksikan pertengkaran imut dari anak cucu nya.
...**...
Jam empat sore, kelas selesai dan Asnee kembali ke asrama bersama dengan Robert juga Kevin.
"Dahsyat, staf pengajar hari ini baru semua! Yang lama kemana ya?" Seru Robert benar-benar di buat terkejut saat kembali masuk sekolah.
"Banyak yang bilang sebagian di ganti dan di lantik ulang sesuai standar pengajar! Razia oleh keamanan sekolah pun rutin di lakukan. Selama dua minggu ini peraturan sekolah pun berubah total!" Timpal Kevin.
Asnee seperti biasa, dia hanya duduk sambil membaca buku.
"As... " Panggil Robert. Asnee menoleh sejenak.
"Jangan menanyakan soal itu pada ku!" Ucap Asnee malas.
Sikap Asnee asing di mata kedua teman nya, ada yang berbeda saat ini. "As, yakin tidak ingin mengatakan apapun pada kita? Masih prihal Lukya?" Ucap Robert hati-hati.
"Di jelaskan pun tidak akan ada ujung nya! Ada hal paling penting di antara informasi yang datang!"
Alis Robert juga Kevin mengkerut, mereka tidak paham dengan apa yang di maksud dari ucapan Asnee.
__ADS_1
"Ah entahlah!" Robert angkat tangan menyerah.