The Future King

The Future King
Eps 167


__ADS_3

"Kalian tidak pernah berpikir konsekuensi dari apa yang sudah kalian rencanakan? Pihak yang terlibat pun tidak akan pernah saya lepaskan walaupun hanya sebagai perantara ataupun pendengar saja!"


"Lantas kalian bagus nya saya buat seperti apa, heum? Kalian pikir Anggota kerajaan adalah sebuah pion saja yang bisa kalian atur dan berhentikan sesuka hati? Ssshh bahkan Raja sendiri yang pangkat nya lebih tinggi dari kalian tidak pernah memutus jabatan kalian walaupun beliau sendiri tahu jika apa yang terjadi itu ulah kalian. Jadi apa, jadi bukankah Raja kalian itu terlalu baik?"


Nara benar-benar tidak habis pikir dengan orang-orang picik seperti mereka dan golongan orang-orang yang tidak jauh beda dengan mereka. Pikiran nya begitu sempit, padahal peluang untuk tetap menjabat dan masuk ke ranah instansi ataupun kelembagaan akan aman jika 90% kejujuran terlibat dan hal itu akan mempertahankan reputasi mereka, Nara benar-benar sangat menyayangkan hal itu.


"Collen_" Ucap Nara.


Dengan tiba-tiba Collen masuk. Aat palsu yang kini masih terduduk lemas namun matanya masih melihat jelas tentu penasaran dengan orang-orang itu.


"Bawa mereka"


"Baik Aresha" Bungkuk Collen menerima titah daru Nara dan memanggil rekan nya untuk membantu.


Di luar, Edward dan Ruby berlari saat kedua mata mereka menangkap keberadaan Asnee dan Ryu yang tengah menggendong seseorang.


Jauh dari gerbang utama, membuat pasang mata tidak terlalu jelas melihat itu begitu penasaran.


"Rayya?" Suara Ruby seakan tersedak saat kedua bola mata nya melihat seseorang di atas punggung Ryu.


"Istana nona kecil aman, tidak ada yang menyerang ke sana" Ucap Ryu.


Mereka pun membawa Rayya ke istana nya dengan langkah gusar, di tambah keadaan Rayya yang tidak bisa di katakan baik-baik saja.


Suasana semakin memanas, penyerangan itu tidak di biarkan berlarut oleh para mafia dan sekarang sisanya di tangani oleh aparat kepolisian dan polisi militer di kota itu.


Keluarga Mafia untuk sekarang tidak bisa terlalu ikut campur, untuk itu mereka hanya melenyapkan keangkuhan musuh dengan kesadisan mereka tanpa menunjukkan hubungan kerajaan dan juga organisasi mafia.


Tidak semua orang percaya jika mafia itu baik, semua pasti menyangka yang di namakan mafia isi nya orang-orang jahat semua. Untuk itu Nara dan yang lain nya menjaga agar tidak ada berita yang tidak mengenakan terkait dengan tahta seorang raja dan keluarga kerajaan saat anggota nya bergerak.


"Raja" Bian menghadap. Aaron membalikkan badan nya, sesekali memegang dada sebelah kanan entah apa yang tengah Aaron alami, namun Bian tetap tidak berani bertanya.

__ADS_1


"Mereka semua sudah di amankan" Ucap Bian membungkukkan dada nya dengan tatapan patuh ke bawah.


Aaron seakan tidak terlalu menanggapi, dia malah bertanya keberadaan kedua anak nya


"Pangeran dan Putri bagaimana keadaan mereka?" Tanya Aaron.


"Tuan Putri di amankan ke istana nya, beberapa keluarga menuju ke sana dengan Dokter Leyka berada di antara mereka" Sahut Bian.


Tanpa berpikir panjang, Aaron pun menuju istana Rayya.


Dari area luar, Aaron bisa melihat masih banyak orang di sana. Lampu dari mobil polisi pun bergantian berubah warna, seakan tempat yang kini dia pijak memang tempat penyerangan.


"Tuan Rayzen dan anak-anak nya menangani pengunjuk rasa dan juga para wartawan juga rekan nya. Anda tidak perlu khawatir!"


Bian seakan mengerti dengan apa yang di pikirkan oleh Raja nya. Sedikit kerutan di alis pun menghilang saat mengetahui hal itu, seakan lega.


Di Istana Timur, Rayya di baringkan dan Leyka segera memeriksa nya dengan teliti.


"Aman, Mom!" Seru Leyka. "Stamina nya bagus, imun tubuh nya juga bagus. Dia hanya kaget menerima serangan bertubi-tubi dan saraf di otak nya lambat menerima perintah, untuk itu walau begitu dia sudah bertahan dengan baik!" Tutur Leyka membenarkan posisi baring Rayya.


"Tapi kayanya kakak pingsan karena terlalu mencium bau amis darah, Papa! Soalnya tadi dia baik-baik saja sebelum mama datang."


Perkataan Asnee malah mendapat tatapan aneh dari Ruby dan yang lain nya.


"Kenapa? Kenapa kalian menatap ku seperti itu?" Asnee salah tingkah dengan tatapan mereka.


Tidak ada sahutan, sampai di mana suara Aaron masuk.


"Bagaimana keadaan Rayya?" Tanya nya dengan nada yang begitu khawatir.


Sampai di tepi ranjang, Aaron duduk menyamping menatap putri nya.

__ADS_1


"Rayya baik-baik saja, sebentar lagi juga akan sadar" Ucap Leyka.


Asnee menatap Aaron dengan selidik. "Pah. Kau baik-baik saja?" Tanya Asnee.


"Seperti yang kau lihat. Papa sangat baik-baik saja"


Wajah mereka yang bertarung dengan musuh sudah tidak berupa, terutama Aaron yang begitu terlihat kelelahan.


"Besok panggil semua mentri dan pejabat-pejabat di luar istana. Pelaku akan di hadirkan di sana dan keputusan pengadilan istana harus yang utama. Ada banyak konflik di sini dan semua urusan itu tidak akan kami ikut campur!"


"Selain musuh yang berasal dari selain prajurit, maka itu akan menjadi urusan kami. Kalian urus saja mereka!"


Tentu saja, mafia sekelas Ruby sangat mematuhi kode etik, dia tidak sembarangan bertindak semena-mena.


"Aku sudah mengamankan Jeno palsu, Karl mengamankan dia" Timpal Asnee.


"Jeno?"


Tentu saja akan kaget, yang palsu itu mereka kira hanya Aat saja, tapi Jeno pun demikian.


"Tapi tidak semudah itu. Mama mu tidak akan puas hanya dengan melihat pelaku di jatuhi hukuman mati dengan cepat_" Seru Ruby.


Semua pun tahu bagaimana karakter Nara, terutama Shabila.


"Apapun untuk mama!"


Asnee malah mengatakan itu, seakan mendukung apa yang akan di lakukan oleh Nara. Membuat pasang mata mengarah tajam kepadanya, Asnee hanya mengangkat kedua bahu nya.


Di istana barat, di mana tempat kediaman Asnee masih nampak perkelahian berlanjut.


"As"

__ADS_1


Asnee menoleh, ternyata Kevin dan Ronald melambai namun sesekali menangkis musuh yang tengah menyerang.


__ADS_2