The Future King

The Future King
Eps 174


__ADS_3

"Tuan"


Sapa Daniza saat dirinya sampai di depan pintu istana tempat tinggal Rayya. Dia bertemu dengan Lexi di depan gerbang.


"Putri Rayya sedang istirahat, jika ada urusan penting bisa di sampaikan pada saya saja!" Tutur Lexi layaknya penjaga yang begitu menjaga majikan nya.


"Ada apa? Biarkan dia masuk, Paman!"


Rayya datang dari dalam.


"Paman belum makan bukan? Makanlah dahulu, nanti temani Rayya berbincang!" Tutur Rayya lembut, seraya menarik pelan tangan Daniza untuk mengikuti nya masuk.


Lexi tidak bisa menolak nya, dia pun pergi ke arah ruang makan yang biasa dia tempat untuk mengisi perut nya.


"Kau datang untuk menanyakan keberadaan Simon mu kan. Untuk itu kamu mencari putri cantik ini!" Sembari bercanda dan mengibaskan rambut panjang nya, Rayya duduk di kursi gazebo area istana nya.


"Heueum, belum ada kabar mengenai mereka!" Angguk Daniza lalu ikut duduk di sana.


Tangan Rayya menopang dahu sesekali jaru telunjuknya dia jentikkan ke permukaan pipi. "Yang penting saat pernikahan mu, mereka pulang dengan selamat. Jadi tenang saja! Mereka sekarang sedang di jemput oleh orang-orang dari mommy!" Tutur Rayya.


"Tapi aku masih aneh kenapa mereka berdua di tugaskan ke negeri yang begitu jauh? dan lagi secara keanggotaan, mereka bukan bagian dari organisasi keluargamu tapi kenapa bisa?!"


Tutur Niza seraya berpikir keras, karena bagaimanapun hal ini tidak masuk di akal nya.


"Kau juga akan tahu nanti, kenapa mereka yang di tugaskan ke sana!" Tukas Rayya.


...**...


Dua hari berlalu, persiapan pernikahan pun sudah matang di persiapkan dari hal terkecil sampai yang rumit. Berita pernikahan Pangeran Asnee dan juga Putri Daniza langsung tersebar luar dan menjadi tranding topik.


"Sudahlah Jane, jodohmu itu memang aku!" Celetuk Robert yang tengah berada di rumah Kevin begitupun dengan Jane, mereka berkumpul seperti biasanya namun tanpa Asnee sekarang.


"Apa bagus nya gadis itu, coba?!"


Dengusan kecil terdengar kesal. Kevin menatap aneh pada sepupunya itu dan Robert malam meledek akan ucapan Jane.


"Babat bebet bobot nya lebih agung, kau masih tidak tahu siapa gadis itu? Atau pura-pura tidak tahu?! Ck,,, kau akan di pukul mundur tanpa gerakan. Jane!"


Jane langsung duduk dengan kesal, dirinya pun tahu jelas kini kalah oleh Daniza walau gadis itu tidak melakukan apapun. Orang diam itu memang emas nya dunia.


"Berisik!"


"Its ok—" Kevin menggapai pucuk kepala Jane seraya menepuk nya berulang, namun Jane masih saja cemberut hingga Robert hanya melebarkan senyum.


...**...


Pesta pernikahan sang Pangeran di adakan di aula istana dan kini persiapan nya sudah 100% selesai. Asnee dan Daniza tidak dibiarkan bertemu dan kini Niza berada di istana Timur di mana Rayya tinggal.

__ADS_1


Satu persatu keluarga dari Asnee berdatangan, baik yang dekat maupun jauh, baik yang akrab maupun tidak.


"Paman ayo"


Dengan tidak sabar, Iswara terus menarik tangan Eiji agar cepat sampai di kediaman.


"Ji?"


Lexi ke luar, dia mendengar suara teriakan yang tidak asing di telinga nya, untuk itu segera ke luar dari ruangan.


Eiji pun menyapa Lexi dan menahan Iswara agar tidak berlarian dengan seenak nya.


"Yang lain nya sudah sampai? Kau berangkat dengan siapa? Julian dan Eva sama Aya sudah ke sini?"


Lexi mengabsen anak-anak dari saudara angkat Ruby itu.


"Belum Paman, baru Eiji saja dan anak ini!"


Mimik wajah Eiji sangat di mengerti oleh Lexi.


"Tapi Aarav mungkin sebentar lagi sampai sama kak Xavera" Lanjut Eiji. Lexi yang mendengar cucu dan putri nya hampir sampai seketika bergegas pergi sesaat setelah menepuk pundak Eiji.


"Ayo"


Iswara terus menarik baju Eiji.


Di dalam istana Timur memang sudah ramai, para penanggung jawab pernikahan pun berada di sana dan tengah kembali mengecek gaun dan semua baju-baju yang akan di pakai oleh pengantin.


"Kakak pasti akan sangat cantik dengan gaun ini" Ucap Daniza.


"Tentu saja! Lihat saja besok, aku pasti tidak akan kalah cantik dengan pengantin" Canda nya.


"Tidak bisa di pungkiri, anda memang sangat cantik dan menarik. Ssshh semua orang juga tahu itu!" Seru Niza masih dalam canda nya.


Lama Rayya menatap Daniza. Orang yang tengah di tatap nya nampak gugup sampai-sampai Niza mengusap beberapa bagian wajah nya. "Apa ada kotoran di wajah saya?" Tanya nya polos.


"Heuumm" deru nafas Rayya terdengar lembut.


"Masih tidak menyangka saja" Cengir Rayya. Alis Niza hampir menaut saat mendengar ucapan dari Rayya.


Rayya meraih kedua tangan Daniza. "Rencana Tuhan memang yang paling indah ya. Za! Sebagaimana kita menolak, sekeras apapun menjauh tapi tetap saja kalau sudah takdir nya mau di gimanapun juga akan tetap pada jalan nya"


"Terimakasih sudah bertahan di saat dulu, kau pasti sangat menderita!"


Tatapan mereka bertemu, netra indah menusuk begitu dalam. Senyum manis dari kedua nya pun tak kunjung surut.


"Eum"

__ADS_1


Niza tidak bisa berkata apa-apa, dia sekarang sangat bahagia. Banyak simpul di hatinya di saat dulu namun sekarang perlahan memudar.


"Putri"


Pelayan istana datang menghadap.


Rayya mempersilahkan untuk bicara dengan gerakan tangan nya.


"Nona Iswara sudah sampai" Lapor nya.


"Langsung persilahkan masuk saja. Ini juga sudah menjadi rumah nya, tidak perlu laporan untuk ke depan nya!" Ucap Rayya, namun dia dan Niza malah hendak menemui Iswara di depan.


"Wara" Panggil Niza.


Iswara reflek menoleh, bukan hanya kepala tapi badan nya pun ikut berbalik.


"Niza" Teriakan Wara begitu memekik telinga, senang tak tertahan begitu terlihat.


Grephh


Mereka saling berpelukan. Rayya berdiri di samping Eiji sesekali memperhatikan.


Sedangkan di Istana Barat, tepatnya di kediaman Asnee para pemuda tengah mengadakan pesta kecil. Robert dan Kevin pun ada di sana termasuk Zevan yang ternyata sudah ada di sana tanpa orang tahu.


"Kalau kau di marahin sama mama, kakak tidak akan bela!" Seru Asnee seraya menyodorkan sepiring kecil buah-buahan dan juga susu, sedangkan teman-teman dirinya yang lain berpesta, layaknya pesta bujang.


"Kak, aku ke sini juga sama pengawal pribadi dan aku baik-baik saja. Lagi pula mereka pasti sudah tahu aku ke mana, orang banyak sekali Cctv mereka"


Sembari melahap buah di piring, Zevan menggerutu tidak henti-henti nya. Dia merasa dirinya yang paling alim, tidak di perbolehkan berpergian, tidak seperti keluarga yang lain.


"Usia mu masih kecil, Ze! Patuh saja lah. Jangan macam-macam! Toh kalau nanti besar, mereka tidak akan menahan mu untuk berpergian sendiri!" Tutur Asnee masih tidak habis pikir dengan adik angkat nya itu.


Zevan tidak menanggapi, dia hanya lahap memakan buah dan meminum susu di tangan nya. Robert juga Kevin serta teman-teman yang lain sesekali memperhatikan Zevan di sela obrolan mereka.


Handphone Asnee pun berdering, namun anehnya Zevan langsung merebut itu dari tangan sang kakak.


"Zevan" Tegur Asnee.


"Tidak, pasti ini mereka!" Zevan menyembunyikan handphone Asnee di belakang nya.


"Berikan!" Pinta Asnee.


"Tidak" Tolak Zevan kukuh.


Terus seperti itu sampai di mana tatapan Asnee terkunci pada seseorang yang datang dari arah pintu dengan posisi sekarang Zevan memunggungi pintu.


"Kau tidak akan selamat Ze—" Tutur Asnee seraya melihat tiga orang berdecak pinggang di depan pintu. Pesta kecil itu pun terhenti seketika kala tiga orang masuk.

__ADS_1


Zevan memelas, dia membuang nafas nya seraya merengut.


"Kak" Tutur nya dengan mimik wajah memelas. Asnee hanya menaikkan kedua alis nya dengan ekspresi wajah sang adik.


__ADS_2