
...***...
Malam natal penuh arti untuk Asnee, dia sangat senang untuk malam natal tahun ini. Tidak hanya itu, dia pun bisa menikmati malam natal bersama dengan kedua teman nya tanpa harus mengkhawatirkan hari esok.
"Eh, Asnee sebentar lagi ulang tahun kan ?."
Malam semakin larut, tinggal beberapa menit lagi menuju hari natal. Anak-anak sudah tidur dan para ibu menemani anak-anak nya ke kamar.
Di sana tinggal orang dewasa dengan perkumpulan berbeda namun kalau bicara masih nyambung dan terdengar.
David beranjak berdiri dan akhirnya duduk di samping Asnee yang tengah duduk di atas alas bersama kedua teman nya.
"Jangan lupa saja hadiah untuk ku" Ucap Asnee tidak tahu malu dan langsung ke intinya, seperti anak kecil yang bodoh.
"Tinggal minta saja, pasti akan kami berikan.Kok !"
Jawab David dengan enteng nya.
"Apapun itu kan ?." Seru Asnee.
"Tentu" Timpal Shabila sedikit menoleh di saat posisi nya duduk membelakangi Asnee.
"Kalian cukup hadir di perayaan ulang tahun ku di Thailand ! Aku tidak ingin hadiah apapun lagi. Keberadaan kalian sudah menjadi hadiah terbesar untuk ku !,"
"Aku tidak suka merayakan ulang tahun, tapi Papa dan juga Nenek menginginkan nya karena status pewaris, jadi apa boleh buat ?!." Seru nya, salah satu sudut bibir nya tersungging.
"Haisshh mana bisa calon raja lembek seperti ini ? Buktikan ketegasan mu, As ! Tuh, jangan kalah sama si Aarav."
Shabila beranjak berdiri dari senderan nya pada dada Reagan. Dia mendekati Asnee.
"Sini berdiri lah!"
Tangan jenjang nan mulus itu mengulur, bahkan sampai Robert dan Kevin menganga ingin meraih nya.
Asnee pun menerima uluran tangan Shabila dengan ragu.
"Sssh kau sudah tinggi ya, tampan dan berkarisma,"
"Dada mu ini, busungkan ! Dagu mu jangan di tekuk dan luruskan tatapan mu. Buktikan jika kau pantas menjadi pewaris tahta kerajaan"
"Rapihkan rambut mu dengan benar karena setiap yang ada pada dirimu akan di komentari sekecil apapun itu selama hal-hal berada pada dirimu"
Mereka memperhatikan.
Shabila mengusap bergantian dada Asnee dengan bangga seolah mengatakan jika dia sangat menyayangi adik nya itu.
"Bukan paksaan, tapi sudah menjadi takdir alam kau menjadi seorang raja. Asnee !,"
"Dengar ! Tidak akan ada yang mengatur hidup mu sekalipun ayah mu sendiri ! Kau berjalan di atas kaki mu sendiri tanpa perintah dan keinginan siapapun,"
"Hidup mu, kamu yang tentukan. Jangan sampai di kendalikan oleh siapapun termasuk keluargamu sendiri !,"
"Bukan kami memberi pengaruh negatif pada mu dan mencoba mencuci otak mu, tapi kami sangat menyayangi dirimu melebihi cinta keluarga kandung mu pada mu !"
"Kau dapat membuktikan itu" Lanjut Shabila membenarkan postur tubuh Asnee.
Robert dan Kevin saling sikut saja mendengar kata-kata indah yang ke luar dari mulur Shabila.
prok
prok
prok
prok
"Good Job, Sha" Shane bertepuk tangan seorang diri, sedangkan yang lain tertawa kecil.
"Tapi tetap saja, dia adalah tuan kecil keluarga ini hahaha" Timpal Revin.
"Ya kan ?!." Goda nya.
Tidak perlu di sebutkan juga hadiah apa yang akan mereka kasih untuk Asnee yang nyata nya sudah punya segala nya. Harta dan tahta bahkan keluarga yang bisa di bilang utuh.
Tapi lain lagi, hadiah itu sudah di siapkan dari belasan tahun lalu oleh keluarga mafia itu.
__ADS_1
Black card
mobil
jet
mansion
bahkan real estate milik Lio yang ada di Thailand
Sepertinya akan jatuh langsung pada Asnee.
"Peluk aku" Pinta Asnee manja.
"Cup cup cup, tuan kecil kita minta di peluk hahahaha"
Goda Shabila tapi dengan memeluk nya.
Hahahahaha
Tawa menggeliat, suasana haru sedetik kemudian jadi canda. Itulah mereka, nampak serius tapi sebetulnya bisa di ajak bercanda.
Keluarga yang disegani dan di pandang menyeramkan nyata nya tak semenakutkan itu.
"Terimakasih mau menjadi teman Asnee" Ucap David pada Kevin dan Robert membisik.
"Uuh ? Oh hahaha kami senang bisa berteman dengan nya, Paman !"
Mereka canggung hanya sekedar membalas ucapan saja, namun kemudian tertawa kikuk.
...**...
Teng,
jam dua belas malam, pohon natal menyala dengan sangat indah. Mereka duduk senyap di kursi masing-masing, memejamkan mata mereka dan berdoa dalam keheningan malam.
Mata lembut itu menatap satu persatu keluarga nya dan terhenti pada mata Rayya, kakak nya yang sangat dia sayangi.
Mereka berbagi senyum satu sama lain dan mulai membumbung kan doa pada sang pencipta
terimakasih telah mengirim mereka untuk ku'
' Tuhan doa ku masih sama'
Asnee terus berdoa, memejamkan mata nya dengan penuh penghayatan.
Nara, Leyka, Rayya dan Zevan mendekat pada Asnee saat semua keluarga sudah selesai berdoa, karena hanya dia yang masih memejamkan mata dan mengatupkan kedua telapak tangan nya.
Rayya dan Nara merangkul pinggang Asnee bersamaan, sedangkan Leyka meletakan tangan nya di bahu putra sulung nya itu dari belakang dan Zevan berdiri di depan Asnee ikut kembali memejamkan mata mereka.
Bayangan keluarga yang harmonis nampak merobohkan dinding batu di belakang, tidak ada yang tidak terharu dengan posisi mereka saat ini.
Bahkan Kevin dan Robert menahan tangis mereka akan pemandangan yang mereka tangkap.
Julian dan Eiji mengabadikan kebersamaan mereka agar menjadi kenangan yang dapat di lihat kembali.
...**...
Suasana natal masih pekat, banyak sekali kotak kado di lantai dasar mansion dan mengelilingi pohon natal di tengah nya.
Pagi hari, udara sangat dingin dan salju mulai turun namun tak begitu lebat sehingga masih bisa beraktifitas ke luar.
Berita-berita dan juga sinema natal tayang di televisi, mereka menikmati kebersamaan saat ini.
"Robert dan Kevin, apakah kalian senang merayakan natal bersama kami ? Maaf, jamuan kami mungkin tidak semewah di rumah kalian"
"Ah tidak bibi, aku pribadi sangat senang dan merasakan perayaan Natal bersama kalian ! Bahkan baru kali ini kami enggan untuk pulang hahaha"
"Iya bibi, di sini orang nya ramah-ramah ya ternyata ! Aku sampai tertipu oleh wajah-wajah yang pernah kami temui" Timpal Kevin.
"Mama, panggil mama saja seperti Asnee"
Tegur Nara.
"Sudah lah ma, mereka tidak akan mengerti !" Rayya memeluk leher Nara dari belakang sofa.
__ADS_1
"Ssst ah jangan begitu" Tegur Nara mengapit pipi putrinya, yang kebenaran nya gadis itu adalah tuan putri dari mereka. Robert dan Kevin sungguh akan mati mendadak jika sikap lain dari putri Rayya terus ke luar.
"Ya memang benar" Cebik Rayya.
"Sesuai perkataan putri" Seru Robert memberi rasa hormat walau setipis kertas.
"Ma, kita berangkat ya" Teriak Asnee juga Zevan nampak melangkah bersama dengan stelan santai.
Atensi orang-orang di sana seketika menoleh, terundang untuk memperhatikan.
"Asnee sialan tunggu aku!!" Teriak Finola dari arah dapur dan akhirnya muncul dengan lengan baju dia lipat bergantian.
"Apaan, ngga ada ah. Kita ke luar cowok semua masa harus ngajak-ngajak kamu sih, Fi!." Cebik Asnee.
Robert dan Kevin pun ikut bersiap, karena mereka hendak jalan-jalan dan membeli beberapa kado dan keperluan.
"Fifi" Revan menegur dengan mata memincing.
"Ah daddy, aku mau ikut juga ! Kan kali-kali mumpung di sini" Tukas nya masih kekeh.
"Aku juga tidak ikut Fi, sudahlah di sini saja ! Kita nonton drama korea, mau ngga ? Yuk!!" Rayya mendekat, menarik lengan Finola secara paksa dan akhirnya dia tertelan oleh belokan tangga.
"Kakak ayo" Teriak Asnee.
"Astaga Asnee, ini rumah bukan hutan ! Biasa aja deh teriak-teriak nya ! Sakit ini kuping" Protes Robert aneh dengan sikap bodoh pangeran nya itu.
"Ke luar sama daddy ayo!"
Edward muncul dari balik dinding ruang bar bersama dengan David.
"Ayo, Paman juga akan ikut" Timpal David.
"Aku juga" Suara Shane menimpali.
"Ayo" Sean pun datang dengan stelan sudah siap dan Aarav pun berjalan bersama daddy nya.
Leyka dan Reagan terlihat baru bergabung setelah mengecek mobil yang akan di pakai oleh Asnee dan juga dirinya.
Zevan dan Asnee serempak membuang nafas kasar, mereka pun bersamaan memijit kening mereka.
Nara, Ruby dan juga Shabila serta Xavera yang ada di sekitar mereka menahan tawa saja saat ini. Revan menyandarkan punggung nya di sofa dengan kedua tangan dia lipat seraya menunggu adegan selanjutnya.
"Astaga astaga dosa apa yang kita lakukan sampai harus serumit ini" Gumam Zevan namun Asnee pun mendengar nya.
"Mommy ! " Rengek Asnee pada Ruby.
"Mam!" Zevan pun merengek pada Nara .
Hahahaha
Tawa Annelis terdengar ternyata dia ada di atas di lantai dua yang terlihat dari bawah.
"Kak, aku saja yang akan ikut sekalian ada urusan di luar" Ucap Sean.
"Sudah sudah, kalian ini apa-apaan sih" Tegur Mommy Ruby. "Honey" Lirik nya tajam pada Edward.
"Iya iya"
"Ayo" Ucap Leyka.
"Ealah harus drama dulu, tradisi kali ya ?! hahaha" Ujar Shabila geli. Reagan menghampiri dan merangkul pinggang Shabila dengan posesif.
"Ma, mom kita ke luar dulu oke!" Pamit Asnee begitupun dengan adik Zevan.
Sean pun pamit pada Xavera, mencium sejenak bibir mungil istri nya itu. Aarav, dia acuh saja, tidak peduli dengan adegan di depan nya.
"Mom" Cebik Aarav.
"Hahaha iya iya" Cubit Xavera gemas pada pipi putra nya itu.
"Ayo"
"Aaaaaa daddy lepas"
Tiba-tiba saja teriakan Aarav memekik, ternyata Sean menggendong Aarav seperti karung beras. Aarav mengguncang agar dia di turunkan tapi nyata nya telinga Sean pura-pura tuli.
__ADS_1
"Hadeuh ada-ada saja" Seru Ruby.