The Future King

The Future King
Eps 143


__ADS_3

Ketukan pintu terdengar. Ahan pun telah mengenakan pakaian nya dan Rayya tengah di lilit dengan selimut di atas ranjang yang kini basah semua.


"Tuan, silahkan!" Ucap Pelayan membawakan baju baru milik Rayya. Ahan mengambil alih dan mengkode agar tidak orang-orang tidak tahu.


"Baby pakai ini" Ucap Ahan. Dia pun masuk ke kamar mandi agar Rayya leluasa mengganti pakaian nya di luar.


"Sudah" Teriak Rayya dan Ahan pun kembali ke luar dari kamar mandi.


"Gadis nakal" Ahan mencolek hidung Rayya.


"Kenapa ada minuman itu di kamar mu?" Rayya menatap selidik. "Itu milik mu? Kau mau bermain dengan perempuan lain?" Kecurigaan Rayya membuat Ahan tidak menyangka jika pertanyaan itu bisa ke luar dari mulut sang putri.


"Itu Simon yang meminta, dia ada sedikit rencana untuk para bajingan itu!" Jawab Ahan dengan meyakinkan Rayya.


"Kenapa dia meminta itu? Bajingan yang kau maksud itu penjahat itu kah?"


Ahan mengangguk.


"Baby, dia tidak suka melihat musuh nya hidup di penjara dengan tenang!" Ujar Ahan mengingat permintaan nya pada Simon untuk membunuh mereka.


"Dia tidak terlihat galak!" Seru Rayya.


"Semua orang hampir mengatakan itu, baby! Tapi sebenarnya dia buas. Kau bisa melihat nya pada diri Daniza!"


"Daniza? Kenapa jadi pada dia? Apa hubungan nya?" Rayya semakin tidak mengerti.


"Niza di latih oleh Simon, pelatihan yang akan membuat semua orang merasa ngeri. Dia seorang perempuan tapi prajurit yang ada di sana tidak kuat jika Simon yang turun tangan"


"Benarkah? Daniza anak manis, Simon pun terlihat humoris, mereka berdua tidak terlihat buas sama sekali!" Sangkal Rayya. Kenyataan nya seperti itu, sama sekali tidak terlihat di permukaan.


Ahan memalingkan wajah nya.


"Apa lagi saat Niza cemberut! Menggemaskan"


Rayya pun mengakui kegemasan Daniza. "Kau jangan mengada-ngada!" Ucap Rayya masih belum percaya karena dia tidak melihat bagaimana saat Daniza membanting penjual dari mata orang tua nya.


"Dan kau lihat Wara? Ada perbedaan Daniza dengan nya, karena dia di tanggung jawabkan pada ku. Harus ektra melatih nya"


Saat Ahan menyebut nama Iswara, Rayya seketika melirik nya tajam.


"Kau terlihat begitu menyayangi nya—" Selidik Rayya.


"Bahkan jika dia minta nyawa ku pasti akan aku berikan" Ucapan Ahan melemah, kedua mata nya kosong seketika menatap kaca lemari di depan nya.


"Sungguh se-berharga itu?" Timpal Rayya.


"Kami akan tetap hidup dan menjadi wali pernikahan nya, memilih calon suami yang baik dan sabar untuk nya, terutama Iswara!"


"Kalau kau tahu bagaimana mereka, sumpah setia pun mungkin tidak cukup. Baby!" Ahan mengusap wajah Rayya dengan ibu jarinya.


"Terus kenapa tidak kau nikahi saja dia? Itu mudah, dia juga pasti mau!" Rayya sedikit cemberut.

__ADS_1


Ahan mengulas senyum nya. "Bagaimana kami bisa menikahi dua gadis yang sudah kami anggap sebagai adik kami terutama Simon, jika di telusuri dari keturunan, dia dan Daniza masih satu darah. Untuk itu wajah nya tetap segar dan muda walau usia nya lebih tua dari kita berdua"


Rayya sedikit menjauhkan wajah nya. "Tunggu, maksud nya apa?" Tanya Rayya kembali.


"Di antara kami. Aku, Satra, Simon paling tua. Sepertinya usia nya tidak beda jauh dengan laki-laki yang di sebut Paman oleh Wara"


"Aaaa benarkah?" Rayya tentu kaget, dia pikir Ahan yang lebih tua. "Hahahah wajah mu kolot berarti sayang" Rayya malah tertawa meledek.


"Semua keturunan Keira memili jenis daras yang spesial, untuk itu Daniza, Wara dan Simon masih terlihat seperti anak sekolah pada umum nya" Tutur Ahan.


"Owh iya iya! Itu berarti nanti di pernikahan mereka Simon yang akan menjadi Wali. Paman David tidak perlu maju, kan ya?!" Pikir Rayya mengingat perbincangan kemarin.


"Bisa juga seperti itu" Angguk Ahan.


"Kau seperti tidak rela" Ceplos Rayya.


"Siapa bilang? Kau ini jangan mancing-mancing!" Hidung Rayya menjadi sasaran Ahan sekarang.


"Aaa sakit" Keluh Rayya.


"Ceritain semua tentang kalian. Aku ingin dengar semuanya karena kesan pertama pada Daniza saat bertemu!" Ucap Rayya.


Ahan pun menceritakan dengan lengkap dari awal dirinya masuk bergabung ke dalam kerajaan itu, yang diapun awal nya tidak mengira jika tanah yang dia injak adalah sebuah kerajaan.


Ahan berasal dari negara tetangga sebelah kerajaan Keira yang pemerintahan nya sangat absolut dan dia menjadi salah satu prajurit terbaik yang di miliki negara itu.


Suatu hari dia di tugaskan ke negara bagian timur tengah dan menjadi salah satu militer yang banyak di tugaskan di samping mentri pertahanan dan pejabat sipil.


Dari sejak saat itu dia di cap sebagai militer pemberontak dan menjadi prajurit larian. Ada yang tidak beres dengan pertemuan mentri pertahanan dan juga mentri negara itu, karena waktunya sangat pas, Ahan pun melarikan diri sejauh mungkin sampai di mana dia bertemu dengan Simon yang juga tengah di kejar sekelompok orang di negara Eropa.


Flash Back


"Han di sini!" Simon berteriak, dia dengan terburu-buru memanggil agar tidak tertangkap.


Ahan memegang bagian perut nya yang semakin mengeluarkan banyak darah.


"Simon" Ahan pun menggerakkan bibir nya menatap Simon di balik tiang di area stasiun kereta bawah tanah.


Mereka berdua pun ke luar dari stasiun itu dengan Simon memberikan jaket nya agar darah Ahan tidak terekspos di luar.


Ruang sepit ukuran kos-kosan hanya sedikit cahaya yang masuk. Ringisan ke luar dari bibir Ahan saat Simon menjahit luka itu. Banyak darah berceceran, ranjang sempit pun sudah berubah warna menjadi merah.


Kepulan asap untuk penghangat ruangan pun terus menguap.


Krek


Jahitan terakhir menandakan jika Simon selesai.


"Arghhhh sshhhh" Ahan terus meringis. Luka Sayatan itu dalam dan Simon kesusahan yang akhirnya selesai menjahit dalam waktu yang lumayan panjang.


"Jangan terus minum itu" Simon merebut kasar botol wine yang terus Ahan teguk. Memang bermanfaat untuk menghangatkan tubuh, tapi jika di konsumsi berlebihan tidak baik.

__ADS_1


"Baringkan tubuh mu di sana" Tunjuk Simon pada sofa panjang di samping jendela dan dirinya sibuk menggulung seprei dan kain lain nya ke dalam tong sampah.


"Kenapa kau di kejar seperti itu? Masalah apa yang kau alami sampai menginjak negri orang yang sangat jauh jarak nya dengan negara mu?" Tanya Ahan pelan tanpa menoleh pada Simon. Bibir pucat pasi begitupun dengan wajah, keringat pun terus membasahi tubuh.


Simon pun menceritakan penyebab nya. Ahan pun menoleh.


"Waktunya sama, apa jangan-jangan mereka ada kerjasama satu sama lain? Tapi aku tidak melihat kau di sana waktu itu" Ahan pun duduk.


Simon pun menatap lurus Ahan. "Pasti ada hubungan nya" Tidak perlu pembahasan panjang, Simon mengerti.


Satu minggu bersembunyi di sana, Ahan dan Simon pun mengunjungi kota yang di mana di sana kerajaan Keira berada.


Satu minggu tinggal di sana, Ahan dan Simon menjadi pembunuh bayaran tapi mereka tidak dengan mudah menuruti, banyak sekali peraturan dan Syarat yang mereka berikan pada klien mereka.


Sampai di mana mereka di pertemukan dengan sepasang suami istri yang menyewa mereka untuk membunuh seseorang.


Setelah berhasil, sepasang suami istri itu mengenalkan Ahan dan Simon pada atasan mereka yang tidak lain Raja Keira dan Pangeran Endra.


Dan Sampai dimana Ahan dan Simon menjadi kepercayaan kerajaan dengan menyerahkan pelatihan Daniza juga Iswara pada mereka, namun sesekali bertugas ke luar menjadi mata-mata.


Lama mereka tinggal di sana, Simon pun sering berbincang dengan Pangeran Endra-papa Iswara dan ternyata Simon masih ada keturunan dari Kerajaan itu.


Flash back off


"Jadi kalian benar-benar sudah saling kenal sangat lama, ya! Lalu bagaimana dengan teman satunya lagi? Siapa namanya, aku lupa" Ucap Rayya


"Satra, dia asli orang sini! Kami berteman di universitas dan kembali komunikasi saat kami berdua sudah berada di kerajaan Keira waktu lalu. Dia pun terlibat dalam tugas kerajaan dan mengambil sumpah di samping sumpah sebagai militer negara nya, untuk itu dia tahu bagaimana kehidupan Daniza dan Iswara" Ahan kembali menjelaskan.


"Owh seperti cerita nya" Rayya mengangguk paham.


"Jadi apakah Simon bisa melepaskan Daniza untuk Asnee atau tidak?" Celetuk Rayya.


"Tergantung! Simon tahu bagaimana Daniza"


"Begini saja, jika kau memiliki adik perempuan yang sangat kau sayangi, kau tahu bagaimana kehidupan nya, semua yang dia lakukan setiap hari nya bahkan sebagian besar hidup nya bersama dengan mu, makan dari tangan mu dan terluka pun kau yang menyembuhkan"


"Apa kau akan begitu saja melepaskan adik mu pasa pria asing yang sama sekali tidak tahu bagaimana dia, apakah dia bisa memperlakukan adik mu dengan baik, sama seperti perlakuan yang kau berikan pada adik mu. Tentu saja tidak semudah itu!"


Tutur Ahan.


"Tapi kalian bukan saudara kandung" Celetuk Rayya. Ahan menatap lembut.


"Lalu bagaimana dengan keluarga mafia itu terhadap mu dan juga Asnee? Apakah harus menjadi saudara kandung dulu?" Ucap Ahan.


"Ya jangan samain dengan mereka juga yang, kan engga sama" Ucap Rayya dia masih tidak bisa menerima.


"Tidak sama nya dari mana? Kasih sayang seseorang itu sama hanya beda jenis saja! Tapi di tekankan dari sekarang, kami akan tetap melindungi mereka dan hal itu tidak bisa di ganggu gugat. Sumpah kami bukan terhadap ayah ibu mereka saja, tapi dengan Tuhan"


"Huffhhh" Rayya malah menghembuskan nafas. Ahan mengelus pucuk kepala Rayya serasa mengulas senyum hangat.


"Mama Wara, apa dia—" Rayya menjeda ucapan nya.

__ADS_1


"Putri Rania meninggal saat Nona Wara berusia lima tahun" Jawab Ahan seadanya, karena dirinya pun tidak terlalu tahu penyebab dari meninggalnya Putri Rania.


__ADS_2