The Future King

The Future King
Eps 172


__ADS_3

Di Canada, Simon dan juga Ahan nampak tengah mengejar tiga pria berbaju hitam.


"Kita berpencar" Seru Simon. Dia pun berlari ke arah kanan sedangkan Ahan terus berlari lurus.


"Ashiaal" Umpat salah satu dari pria berperawakan Eropa itu saat Simon telah mencegat nya di depan.


Mereka pun hendak berbalik badan, berlari ke arah belakang, namun sayang Ahan berdiri tegap di belakang mereka.


Perkelahian pun terjadi, beberapa orang yang melintas seakan tidak terganggu, seolah-olah di area itu sudah terbiasa dengan orang berkelahi.


Simon juga Ahan meringkus musuh dengan begitu cepat.


"Di mana gadis itu?" Tanya Simon. Ahan pun masih mengunci pergerakan mereka.


"Motel no.55!"


Simon dan Ahan saling lempar tatap. "Tunjukkan jalan nya!" Simon mendorong salah satu dari mereka seraya menghentikan Taxi yang melintas ke area itu, diikuti oleh Taxi ke dua yang di tumpangi oleh Ahan dan kedua pria berbaju hitam.


Supir taxi tentu tidak peduli dengan penumpang nya, yang penting dia sampai di alamat tujuan dan di bayar.


Sampai di Motel, Simon masih mendorong pria itu agar sampai di tempat. Naik ke lantai dua di mana motel itu terletak di samping hotel berbintang.


Tok


Tok


Tok


Simon mengetuk pintu kamar yang di tunjuk oleh pria itu. Ketiga Pria berbaju hitam itu masih sengaja di buat sadar agar apa yang mereka katakan terbukti adanya.


Kreaaat.


Pintu kamar terbuka. Perlahan seorang gadis mengintip dari sela pintu yang sudah terbuka.


"Siapa?" Tanya Lukyanova.


Ya, dia adalah Lukya Nova yang sekarang berada di Canada dan itu ulah Jeno juga antek-antek nya. Rencana mereka untuk Lukya adalah menghancurkan hubungan Niza juga Asnee yang sudah terjalin dan mereka yakin Lukya bisa melakukan itu, secara Lukya adalah cinta terindah terburuk di hati Asnee.


"Saya" Pria itu berdiri di depan pintu. Reaksi Lukya nampak lega akan pria yang ada di depan nya karena mereka sudah saling mengenal semenjak dia di bawa ke Canada.


Brughhh


Dari samping, Simon Memukul pundak belakang pria itu hingga dia pingsan. Lukya reflek membuka lebar pintu nya dan ke luar dari balik pintu.

__ADS_1


"Kalian siap—a?"


Ahan yang juga sudah membuat pria-pria itu pingsan menerobos masuk ke dalam tanpa permisi. Simon pun kini menarik kasat tangan Lukya ke dalam.


"Lepas—"


"Lepas"


Guncang Lukya, dia meronta-ronta minta di lepas pada Simon yang masih mencekal pergelangan tangan nya kasar.


"Kalian ini siapa? Saya peringatkan, jangan macam-macam!" Lukya teriak histeris.


Brughh


Dorongan Simon lumayan keras sampai tubuh Lukya terjatuh ke atas sofa panjang yang ada di dalam kamar, walau terlihat sudah lusuh.


Ahan sudah lebih dulu duduk, kini Simon pun duduk, merentangkan kedua tangan nya ke pundak Sofa dan menyilangkan kaki nya. Ahan kini beranjak berdiri, melangkah ke samping yang ada jendela kecil di sana.


"Jangan macam-macam" Lukya meraih pisau untuk mengupas buah yang ada di depan nya. Seluruh persendian nya bergetar begitupun dengan bibir nya.


Setiap detik menelan ludah seakan-akan tenggorokan nya mengering.


Tangan Simon mengkode di udara seakan mengajak, sesekali menaik turunkan. "Duduk lah!" Ucap Simon.


"Ternyata kau sudah besar. Lukya!" Ucap Simon namun tanpa ekspresi, tatapan nya tidak lepas dari Lukya.


"Kau—Ka-u kenapa bisa mengenal nama saya?" Pisau itu kembali menunjuk pada Simon. Kini kedua tangan Lukya memegang gagang pisau.


Tatapan nya begitu dalam dan penuh dengan ancaman, namun lembut. Pantas saja Asnee tidak bisa terlepas jeratan Lukya waktu itu.


Simon mengangguk paham. "Saya ikut serta memindahkan anda ke Canada, tapi untuk tempat tinggalnya saya kurang tahu karena pihak lain yang bertanggung jawab! Ternyata tujuan mereka membantu membebaskan mu dari sel tahanan untuk tugas khusus? Tch tch tch tapi sayang tugas tidak akan sempat di laksanakan karena kau sudah tidak di butuhkan lagi sekarang!"


Pisau itu masih belum turun dan masih menunjuk pada Simon. Simon pun tidak merubah posisi nya, begitupun Ahan yang hanya mendengarkan tanpa berbalik.


"Ap—apa masuk anda?" Suara Lukya semakin garang dan menekan.


"Cih" Smirk terpaut dalam dari sudut bibir Simon.


"Mustahil jika anda tidak tahu tujuan mereka. Bukan?!" Decih Simon. Simon dan Ahan masih belum memberitahu siapa mereka, tapi malah menekan Lukya untuk mengatakan apa tujuan mereka langsung dari mulut nya.


"Mengatakan apa?" Teriak Lukya, dia berdiri dengan baju tidur nya. Suara nya bergetar dan itu terdengar sangat jelas.


"Kalian ini siapa?" Kembali Lukya berteriak, mengayunkan pisau nya ke wajah Simon yang masih terduduk.

__ADS_1


"Kai tidak tahu jika orang yang membebaskan mu musuh dari mantan kekasih mu? Asnee, mantan kekasih mu tidak lain adalah dia! Kau masih tidak mengerti?"


Giliran Ahan yang bicara tanpa membalikkan badan nya. Simon menoleh begitupun dengan Lukya.


"Asnee?" Gumam Lukya, Simon kembali menoleh pada nya.


Kedua alis Simon hampir menaut, dia melihat tatapan kosong dam takut dari sorot mata Lukya.


"Siapa kalian?" Suara Lukya semakin sarkas dan


Brughhh


Lukya terjatuh, kepala nya membentur ujung meja, dia tidak sadarkan diri.


Simon langsung berdiri, Ahan pun membalikkan badan nya cepat membantu Lukya.


"Tubuh nya panas" Gumam Simon.


Ahan pun ke arah dapur hendak membawa air. Saat dirinya mencari baskom atau apapun tempat yang lumayan untuk menampung air banyak, dia mendapati banyak sekali obat tidur. Tidak hanya dua botol tapi hampir sepuluh botol dan lima di antara nya sudah kosong.


Tidak hanya obat tidur, Ahan pun mendapati obat sakit lambung dan obat sakit perut, ada juga obat migrain dan juga kolesterol. Sepertinya obat-obat itu tidak ada resep dokter.


"Han" Suara Simon memanggil. Ahan pun dengan cepat menampung air dan menarik handuk kecil yang menggantung di samping kamar mandi.


"Ini" Ahan meletakan wadah berukuran sedang itu di atas meja. Simon pun berulang kali meletakan handuk kecil itu di kening Lukya.


"Anak ini banyak mengkonsumsi obat-obatan. Kau bisa melihat nya di laci dapur!" Ucap Ahan, menyandarkan pinggang belakang nya ke pundak Sofa membelakangi mereka.


Simon mengentikan aktifitas nya dan berdiri melangkah ke arah dapur. "Malary pasti akan sangat sedih melihat putri nya menjadi seperti ini. Pembunuh, pelacur dan pengkonsumsi obat-obatan! Heumm watak seseorang memang mengerikan!" Ujar Ahan namun Simon masih bisa mendengar nya.


"Bisa dikatakan kau juga terlibat dalam pembebasan hukum yang menjerat gadis ini. Bukankah harus bertanggung jawab?"


Simon mendengarkan walau sambil menatap lekat obat-obatan itu.


"Jika dia masih di penjara mungkin tidak akan mengkonsumsi obat-obatan sebanyak itu!" Lanjut Ahan terus mengomel.


Simon pun menatap lurus Ahan. "Dan menariknya, keluarga angkat dari Pangeran Asnee mengetahui itu!" Simon benar-benar tidak bisa berkata-kata. Mafia itu seakan seperti Dewa yang maha tahu.


"Dia sudah terjebak dalam dendam nya sendiri. Malang sekali!" Seru Ahan melirik Lukya yang masih terpejam.


Ketiga pria yang ada di luar, mereka urus agar tidak lagi datang. Sepertinya Ahan lumayan kejam kepada mereka.


Sedangkan Simon masih belum beranjak dari kediaman Lukya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2