The Future King

The Future King
Eps 138


__ADS_3

Mereka berbincang-bincang. Rayya pun berbincang dengan Eiji, sampai seorang pengawal datang


"Tuan muda, Tuan David memanggil" Ucap nya di samping Eiji.


Iswara pun ikut menoleh saat Eiji beranjak berdiri.


"Paman mau kemana?"


Mereka semua tersentak kala Iswara memanggil Eiji paman. Dari tadi Iswara mengabaikan Eiji tapi giliran Eiji berdiri Iswara dengan cepat bertanya.


Rayya ingin sekali tertawa, baru kali ini anak seusia Iswara yang tidak beda jauh dengan Asnee memanggil Eiji Paman. Permasalahan nya, Dirinya dan juga Asnee di larang memanggil Eiji dan Julian Paman karena itu terlalu tua menurut mereka.


"Ayo" Eiji mendekat, mengulurkan tangan nya pada Iswara.


"Kak, Aku pergi dulu sebentar" Dan Iswara menyambut uluran tangan Eiji. Semburat senyum terpatri tipis di kedua sudut bibir Eiji saat Iswara dengan patuh membalas uluran tangan nya.


"Mau kemana? Ayo aku temani!" Ahan menawarkan diri dan beranjak berdiri saat ini.


"Duduk saja. Kau ini kenapa ah?" Simon menarik Ahan kembali duduk. Begitupun dengan tangan kiri di tarik Satra alhasil Ahan kembali duduk.


"Ayo" Ucap Eiji menautkan tangan nya pada Iswara.


"Bisakah kita bicara. Pangeran?" Ucap Simon menatap Asnee.


Sebelum Asnee menjawab, telpon Satra bergetar dan kemudian izin untuk menjawabnya. Satra menjauh.


"Bisa" Dengan tenang Asnee menjawab.


"Simon kau akan ikut sekarang atau nanti? Aku sudah harus kembali ke barak!" Tanya Satra setelah selesai berbicara dengan seseorang.


"Kau sudah mau bertugas lagi. Sat?" Timpal Ahan.


"Sekarang ayo! Ada banyak urusan dengan pihak mereka dan Han, kau harus ikut!" Tutur Simon.


Ahan pun berdiri. "Dengan senang hati" Tatapan Ahan sudah berubah lagi, tajam dan berbahaya.


"Saya akan kembali. Untuk sekarang sampai di sini dahulu!" Simon mengulurkan tangan nya pada Asnee, Asnee pun membalas jabat tangan Simon.


"Eve, aku akan kembali nanti! Kau di sini dahulu, jangan kemana-mana. Jangan mencoba untuk bepergian sendiri. Kau mengerti?!"


Simon tidak segan menepuk pucuk kepala Daniza. "Oh iya, Anak ini menjaga mu dengan baik kan? Kalau tidak adukan saja pada ku!" Tunjuk Simon pada Ahan.


"Sepertinya kau harus menghukum nya. Simon!" Daniza dendam karena Ahan tidak mengatakan siapa dia sebenarnya, dia hanya diam untuk itu Daniza ingin sekali mencincang Ahan.


"Siap, sesuai keinginanmu!" Seru Simon.


Mereka pun berlalu pergi dari Gazebo itu namun Ahan menghentikan langkah nya dan kembali berbalik menuju Rayya.


Cup


"Baby, tunggu aku pulang!"


Begitu saja, Ahan mengecup kening Rayya tanpa permisi.


"Akan aku pastikan kau akan mendapat hukuman. Sayang!" Bisik Rayya.


"Apapun untuk mu" Sahut Ahan kembali mengecup pucuk kepala Rayya.

__ADS_1


Sikap orang-orang baru itu membuat nya bimbang dan penasaran. Begitu dekat seperti tidak ada dinding yang memisahkan, Rayya sampai curiga pada Ahan dan Iswara dengan sikap mereka tadi.


Asnee, Rayya dan juga Daniza masuk ke istana di mana Keluarga nya ada di sana.


"Sayang, Paman dan Kakek mu akan pulang! Kau sehat-sehat di sini. Kapan-kapan kunjungi bibi mu di Jerman, dia pasti sangat senang dengan kedatangan mu!" Seru Leo.


"Kakek pun tidak pernah kau kunjungi, perasaan!" Protes Moza.


Lucunya, Moza dan Leo berusia tidak beda jauh tapi panggilan mereka berbeda.


"Kakek ku yang muda dan tampan, nanti cucu cantik mu ini kapan-kapan akan ke sana. Jadi siapkan saja banyak cemilan untuk ku nanti!" Goda Rayya.


Leo dan juga Moza pun pulang setelah pamit pada Aaron dan yang lain nya. Ruby dan juga Edward pun mengantar ke depan, mereka pun akan kembali lagi beberapa jam ke depan.


"Mommy" Asnee mengguncang tangan Ruby. Ruby pun menoleh dengan tingkah Asnee.


Daniza pun tidak luput dari tatapan Ruby saat ini.


"Ada yang ingin mommy bicarakan pada kalian" Ucap Ruby melirik Asnee juga Daniza bergantian.


"Sama Rayya juga tidak, mom?" Tanya Rayya.


"Sama semua nya, ini menyangkut pernikahan Asnee"Tutur Ruby kembali.


Walaupun sedang sibuk, Aaron dan Aat jika sudah menyangkut keluarga, mereka akan menundanya apalagi ini menyangkut pernikahan Asnee.


Di ruang keluarga khusus anggota kerajaan pun kini mereka duduk. Ada Aaron dan juga Aat, Ibu Suri Rataporn pun ada di sana. Ruby, Edward duduk berdua, sedangkan Asnee di apit oleh Rayya dan juga Daniza.


"Sebentar, Dev masih di luar bersama Eiji." Ucap Edward.


"Wara sini" Lambai Rayya menepuk tempat duduk di samping yang masih kosong.


Daniza merasa aneh, kenapa Putri Rayya tiba-tiba peduli pada Iswara, tapi dia menepis semua pikiran nya sampai Wara duduk di samping Rayya sekarang.


"Sekalian kami di sini, pertunangan Asnee akan di adakan sebentar lagi itu berarti jarak antara tunangan dan pernikahan tidak akan jauh. Untuk mempelai wanita akan di dampingi oleh David, apa tidak apa-apa?" Tutur Ruby.


"Peristiwa itu tidak menyisakan satupun keluarga dari Daniza, untuk itu David akan mewakilinya" Tutur Ruby kembali.


Semua nya mendengarkan.


"Bisakah langsung menikah saja?" Celetuk Asnee. Atensi semua orang menatap nya lekat.


"Jangan seperti itu Pangeran, pernikahan bukanlah ajang untuk main-main, ikatan itu sakral dan tidak bisa di ganggu gugat! Kau yakin dengan hal itu?" Aaron sebagai seorang ayah, mencoba untuk berbicara baik-baik.


"Asnee serius Papa!" Seru Asnee.


Tidak bertanya lebih lanjut, Aaron beralih pada Daniza.


"Bagaimana dengan mu, nona? Apakah siap dengan permintaan dia? Jika tidak, maka kau harus menolak nya dari sekarang!" Ucap Aaron bertanya, ingin tahu tanggapan dan jawaban dari Daniza.


Seharus nya dalam masa berkabung pembicaraan ini harus di tunda dahulu, kasihan Daniza dan Iswara, mereka pasti masih merasa tertekan, terutama Daniza.


"Saya—" Daniza nampak berpikir, dia tidak dapat menjawab pertanyaan ini.


"Boleh berikan waktu dahulu? Saya perlu memikirkan nya" Ucap Daniza kembali.


" Baik tidak apa, saya mengerti Daniza! Sekarang Saya sudah ada bayangan untuk kedepannya." Seru Ruby sama sekali tidak memaksakan.

__ADS_1


"Sekarang untuk Iswara" Lanjut Ruby beralih menatap Iswara dan di balas namun tidak lama, Iswara kembali menunduk dan duduk anggun layak nya seorang putri.


"Untuk Iswara akan kami bawa kembali ke Irlandia, dia masih dalam proses pengobatan. Boleh bukan?!"


Dengan lembut, Ruby kembali menatap Daniza selaku keluarga satu-satu nya. Daniza pun ikut melirik Iswara, dia pun ingin yang terbaik untuk adik nya, di tambah ini kali pertama bertemu dari beberapa bulan lalu berpisah.


"Wara" Daniza memanggil Iswara dengan lembut.


Iswara menoleh, raut wajah nya berubah nampak dia tidak mau. Semua orang pun tahu dengan raut wajah penolakan itu.


"Ini akan baik-baik saja, percaya padaku. Eum!" Tatap Daniza, meyakinkan Iswara. Dirinya pun mencoba untuk percaya pada orang-orang di sekitar nya walaupun harus lebih waspada.


"Niza membuang Wara?"


Otak Iswara benar-benar tidak terduga, mulut nya terkadang membuat lawan bicara nya langsung merasa kasihan dan kadang kesal.


"Siapa yang membuang kamu? Jangan mengada-ngada, Wara! Aku pun tidak akan ke mana-mana, aku ada di sini menunggu kamu pulang. Kita akan tinggal bersama lagi!" Tutur Daniza.


Atensi mereka menatap beda pada Daniza, mereka seketika berpikir jika Asnee tidak salah pilih calon pendamping untuk sekarang dan masa depan.


Ruby tersenyum. "Kau takut pada kami?" Tanya Ruby. Iswara menunduk dan menggelengkan kepala nya.


"Lalu kenapa? Apa selama kamu di sana ada yang menyakiti mu?" Kembali Ruby bertanya. Wara kembali menggelengkan kepala nya.


Semakin heran, terutama Rayya, Asnee juga Eiji, masalah nya tadi Iswara begitu tengil dan riang, tapi sekarang malah kembali diam.


"Eiji akan mommy tugaskan untuk menjagamu selama di sana. Bagaimana?" Ucap Ruby melirik Eiji dahulu. Iswara pun mengangkat kepala nya dan melirik Eiji.


"Paman ini?" Mulut tipis Iswara begitu ringan memanggil Eiji Paman.


"Iya dia!" Seru Ruby walaupun ingin sekali tertawa.


"Boleh Ahan saja yang menjaga, saya?" Ucap Iswara melihat ke arah Ruby.


"Niza, aku akan ke Irlandia kalau Ahan ikut. Bolehkah?!" Iswara sedikit semangat. Rayya pun menoleh begitupun Daniza.


"Kalau dia mau, aku bisa apa?!" Jawab Daniza.


"Nyonya, maaf semua bolehkah saya berbicara berdua dahulu dengan nya?" Izin Daniza. Iswara tidak akan mengalah jika dia ingin dengan Ahan maka tetap harus, dirinya harus membicarakan sesuatu karena Rayya terlihat kembali menahan nafas nya.


"Baik, saya serahkan kepadamu. Niza!" Ucap Ruby.


Ruby benar-benar wanita yang sangat memperhatikan keluarga dan orang sekitar nya, sampai sejauh ini dia kekeh ingin merawat Iswara.


"Wara ayo, aku ingin bicara dengan mu" Daniza berdiri dan mengulurkan tangan nya pada Iswara, Iswara pun meraih nya.


"Paman, aku ke luar dulu" Izin Iswara pada Eiji. Eiji pun mengangguk.


Padahal tidak perlu ada Izin dahulu pada Eiji, tapi sepertinya Iswara reflek.


"Paman?" David mengejek Eiji menahan tawan.


"Tua sekali panggilan mu. Ji!" Timpal Ruby.


"Biarkan saja, lihat saya. Saya di panggil paman tapi tetap terlihat muda!" Aat malah ikut tengil, menyugar rambut nya ke belakang.


"Dih, paman emang udah tua kali!" Rayya menimpali. Suasana di dalam perlahan melembut.

__ADS_1


__ADS_2