
Mali dan Jeno tentu saja tersenyum lega. Ayah nya benar-benar bisa di andalkan dan di ajak kerja sama.
"Maaf, boleh saya lihat" Ucap Aaron. Barang bukti itu pun di berikan. Aaron mengamati dengan teliti. "Asnee mana barang bukti yang kamu perlihatkan tadi?" Ucap Aaron.
Asnee pun memberikan dengan mudah.
"Ini sangat sama persis" Gumam Aaron. Aat pun mendekat dan mengamati nya.
Jeno dan Ayah nya saling lempar pandang, memberi senyum tipis satu sama lain.
"Ibu, bawa nenek ke kamar nya! Ini sudah bukan masalah keluarga lagi! Nanti jika ada kabar terbaru akan kami sampaikan" Ucap Aat mendekati ibu nya yang tengah ikut berdiri.
"Baiklah!" Ucap Rataporn setuju dan menghampiri sang nenek.
Ananada-raja terdahulu pun ikut mengamati.
"Untuk lebih jelas nya, putra saya yang akan menjelaskan nya, karena dia yang mendapati barang bukti ini." Alibi nya agar mereka yakin jika putra nya tidak bersalah.
Entah keberuntungan atau apa, tapi dia merasa datang di waktu yang tepat, di mana ternyata keluarga kerajaan pun tengah berkumpul dan membahas masalah kebakaran Gallery.
Asnee diam, dia ingin melihat permainan apa yang hendak mereka mulai agar Asnee bisa mengakhiri dengan indah.
"Sebelum nya saya minta maaf, tapi jiwa saya mendorong agar ikut melakukan penyelidikan dan akhirnya saya mengawalinya waktu itu"
"Setelah dua hari pasca kebakaran, saya menemukan cairan hitam itu di antara dua tiang yang saling berhimpitan"
"Setelah saya amati, cairan itu seperti nya saya mengenalinya dan tidak berlama-lama langsung bertanya pada paman"
"Semua pun tahu paman saya adalah pemilik dari penyulingan minyak, tapi tidak bisa di pungkiri jika hubungan kami pun kurang dekat bahkan sudah terdengar tidak akur satu sama lain. Untuk itu saya meminta bantuan ayah saya untuk menyelidiki asal muasal minyak itu, karena tidak mungkin sekali jika saya yang bertanya"
__ADS_1
"Maaf bila saya lancang mencampuri urusan kerajaan, tapi saya pun ingin kebenaran yang sesungguh nya"
Kata-kata yang sangat tertata rapih dan terdengar meyakinkan, semua nya masih mendengar dengan cermat
"Lalu saya pun memasang Cctv, ini pun hanya sebagai rasa penasaran saya saja" Ucap Jeno dengan sangat yakin dan lantang.
Asnee masih diam, dia tidak bersuara membuat Jeno dan Mali tentu nya mereka yakin tidak akan ketahuan jika sudah begini. Asnee pun menangkap tatapan tidak suka dari ayah Jeno tapi dia abaikan.
"Ini" Ucap Ayah Jeno memberikan secarik kertas photo kecil pada Jeno.
"Itu photo orang yang membeli minyak mentah dalam jumlah besar pada paman mu" Ucap nya. "Hanya sampai sini yang bisa papa bantu untuk menghilangkan rasa penasaran mu itu" Lanjut nya menepuk pundak Jeno seakan bangga dengan sang anak.
"Dan setelah pembelian itu, dalam jangka satu hari kebakaran Gallery terjadi! Bukan kah hal itu patut di curigai?" Ucap pak Betta semakin meyakinkan orang-orang.
"Papa pun sudah menangkap orang-orang di photo itu dan mengintrogasi nya"
Tentu saja siapa yang tidak tegang, bukti-bukti dari pak Betta berhamburan di keluarkan agar semakin membuat yakin para keluarga kerajaan.
Tiga orang di bawa masuk dengan tangan sudah di ikat dan juga mulut sudah di bekap dengan kain.
brugh
Mereka berlutut di hadapan Aaron dengan wajah lesu dan mengenaskan.
"Ampuni kami raja, kami hanya di suruh! Ampuni kami, ampuni kami" Mereka terus menyeru meminta maaf agar tidak di hukum. Salah satu dari mereka pun menangis membuat sikap itu terlihat benar-benar nyata.
"Di suruh oleh siapa? Jawab!" Tegas Aaron sudah tidak sabar lagi.
Ketiga pasang mata laki-laki itu mengarah pada Asnee namun hanya sekilas dan langsung menunduk kembali.
__ADS_1
Tapi tentu saja mata Aaron dan yang lain pun ikut melirik pada Asnee.
"Jawab, siapa yang menyuruh kalian?! Jawab jujur atau kalian akan di hukum mati sekarang juga" Ancam Aaron.
"Pangeran maafkan kami, kami benar-benar meminta maaf"
Asnee kaget, ketiga pria itu berlutut di hadapan nya tiba-tiba sehingga dia reflek mundur selangkah.
"Apa yang kalian lakukan?" Sentak Asnee. Dia menyentak karena kaget, bukan karena bersalah.
"Ada apa ini sebenarnya?" Aaron sepertinya akan gila jika masalah ini belum selesai juga.
Tadi Asnee terus menekan Jeno, tapi sekarang keadaan malah membalik dan dia yang tersudut kan, itu yang di inginkan oleh pihak Jeno, tapi lihatlah! Asnee begitu tenang.
"Sebaiknya anda harus melihat potongan CCTV yang saya dapatkan, agar tidak ada yang menuduh jika saya tengah membual sekarang!"
i-Pad yang berukuran sedang pun di berikan oleh asisten pak Betta-ayah Jeno.Jeno pun mengambil alih dan menggulir ikon di layar.
"Silahkan!" Ucap Jeno mem play video di gallery.
Pertama biasa aja, namum di durasi ke sepuluh, kedua mata Aaron melotot dan urat di tangan nya meregang seperti urat pria yang sudah berolahraga.
Aat pun ikut melihat begitu pula dengan sang ayah-Ananada.
Seorang pria yang tentu mata mereka mengenali dengan jelas.
"Kenapa kalian menatap ke arah ku seperti itu?" Asnee semakin curiga. Dia buru-buru merebut i-Phad itu dengan sedikit kasar.
Asnee ikut menajamkan penglihatan nya
__ADS_1
"Asnee bisa jelaskan kenapa kamu berada di sana?"