
Sebagian tamu undangan sudah pamit pulang, namun ada juga yang masih berada di dalam. Kevin, Jane dan Robert pun masih berada di dalam menemani Asnee.
"Yuhuuuu Asnee Aunty cantik mu datang"
Dari ambang pintu datang Savira dengan ketukan langkah seorang model, di tangan nya pun terlihat melambai-lambaikan sebuah map.
Tentu saja siapa yang tidak penasaran dengan suara melengking itu.
"Siapa dia?" Tunjuk Robert dengan dagu nya pada Kevin juga Jane. Mereka pun masih terlihat memperhatikan wajah-wajah orang yang baru datang.
Pernah bertemu saat perayaan natal, namun Kevin dan Robert tentu akan buram mengingat mereka karena banyak nya keluarga angkat Asnee.
"Fifi juga datang. Yuhuuu! Rayaa aku datang"
Ulang tahu sang Pangeran istana bak perayaan anak kecil yang bebas teriak kesana-kemari. Seperti tidak memiliki attitude terhadap kerajaan sampai-sampai sebagian dari tamu undangan yang masih di dalam menatap Savira dan Fifi jijik.
Prajurit istana dengan jas hitam membalut tubuh yang berdiri seperti patung pun langsung bertindak karena berpikir jika Finola juga Savira tidak sopan.
"Maaf, berhenti!" Hadang mereka dengan merentangkan salah satu tangan mereka dan tangan kiri bersiap menyingkap jas untuk menarik pistol.
"Ow" Savira dan Finola mengangkat tangan mereka bersamaan, mimik wajah yang di buat-buat seakan mereka takut namun ekspresi yang tipis itu seolah tengah bermain-main.
Tidak ada yang membantu, mereka hanya melihat saja apa yang dilakukan prajurit itu. Sedangkan Alejandro dan yang lain nya menghampiri Asnee yang segera berdiri dari duduk nya.
"Hey Tuan, selamat ulang tahu" Ucap Alejandro begitupun dengan Jasmin san istri dari Revan juga Revin, mengucapkan selamat ulang tahun bergantian.
"Lepaskan mereka" Rayya baru saja kembali dari luar bersama dengan Ahan di belakang nya. Finola juga Savira pun di lepaskan dengan sopan.
"Baik, putri!" Ucap salah satu dari mereka.
"Aaaaa Raya nya aku" Finola dengan segala tingkah konyol nya berlari memeluk Rayya. "Uuuu sayang" Tingkah bahagia yang selalu terpancar dari aura Finola selalu berdampak baik bagi Rayya, contoh nya walaupun Finola memeluk Rayya erat seperti itu dia malah tertawa senang.
__ADS_1
"Ok ok sudah" Sedikit kasar Rayya melepas pelukan Finola yang seperti orang kesurupan.
"Aunty" Sapa Rayya dengan mengatupkan kedua telapak tangan nya sopan.
"Salam" Balas Savira sesaat setelah mengelus lengan Rayya.
"Aunty" Asnee pun mendekat. Savira membalikkan badan nya.
"Salam Tuan Kecil" Sapa Savira mengulas senyum bangga nya. "Selamat ulang tahuun"
Grephhh
Tangan Savira sepertinya gatal, dia langsung saja memeluk Asnee tanpa melihat siap dia sekarang. Mungkin Savira hanya tahu jika dia adalah Tuan Kecil nya yang imut.
Sejenak Asnee terdiam dengan pelukan Savira, tapi sebenarnya dia sudah terbiasa di peluk oleh wanita-wanita yang ada di dalam keluarga Mafia nya.
Asnee pun mengelus punggung Savira. "Terimakasih, Aunty!" Ucap Asnee.
"Aunty, salam!" Sapa mereka berdua dan Savira pun membalasnya dengan senyum juga kedua telapak tangan mengatup.
Kening Asnee mengerut kala membaca isinya. "Ini—?"
"Itu dari Brayn untuk mu" Ucap Savira. Asnee menatap lekat wajah Savira dan perlahan samar mata nya melihat Brayn, Rayzen, Revan dan Revin baru saja masuk.
"Sesuai janji, Jet Pribadi untuk Tuan Kecil nya Paman" Pungkas Brayn, Savira pun membalikkan badan nya.
Suara Brayn tidak lah pelan tidak juga keras tapi orang yang ada di sekitar Asnee pasti mendengar nya.
"Apa?" Kaget mereka. Belum juga hadiah yang tadi sekarang hadiah selanjutnya semakin mengagetkan mereka.
Aaron, Aat, Ananada juga Rataporn kembali menghampiri Asnee. Savira juga yang lain nya pun memberi salah hangat pada mereka dan di balas sopan.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Aaron. "Kenapa kaget seperti itu?"
Brayn tidak berbicara, dia hanya diam seperti biasa karena jika sudah sekali mengatakan tidak ada yang di ulang kecuali di hadapan pawang nya.
"Itu hadiah dari Brayn" Savira yang menjawab nya.
Rayzen semakin mendekat. "Dan ini untuk mu" Rayzen pun memberikan berkas dengan warna map sama.
"Dan ini dari Aunty" Savira pun memberikan map yang sama.
Aaron dan Aat menerima berkas itu bersamaan.
Kedua bola mata Raja dan Pangeran kerajaan itu membola sempurna membuat orang-orang yang ada di dalam semakin penasaran, kecuali keluarga Mafia, mereka tampak menikmati hidangan dan berbincang ringan di baris kanan paling akhir, begitupun dengan anak-anak.
"Kapal Pesiar?" Aat tergagap, tenggorokan nya tercekat kala nama sang pemilik dengan tanda tangan sempurna di atas materai.
Mulut mereka menganga, kapal pesiar di hadiahkan begitu saja tanpa ada embel-embel apapun. Tenggorokan semakin kering dan telinga serasa mulai berdenging kembali. Hadiah yang para pejabat dan bangsawan itu ternyata tidak ada apa-apa nya.
Robert terduduk lemas dengan kembali mendengar hadiah yang diterima teman nya itu.
"Dan Aunty hanya bisa memberikan sebuah tanah saja pada mu. As!" Ucap Savira.
"Saja? Ukuran tanah ini sangat luas bahkan setara dengan lapangan bandara internasional!" Aaron kembali menelan ludah mereka. Ananada dan Ratapon selaku menek dan kakek dari Asnee terdiam seperti patung.
"Sudah sudah, Kepala Asnee pusing" Keluh Asnee tiba-tiba, dia pun memijit kening nya sendiri.
"Terima saja" Savira nampak geli, dia ingin tertawa menutupi mulutnya dengan tangan. Sikap Asnee layak nya orang yang tengah mabok, mungkin hadiah yang dia terima membuat kepala mau pecah.
"Hadiah ini jika kau tidak memerlukan nya tinggal di jual saja, atau tidak di buang juga tidak apa. Bukan begitu, Ray, Brayn?!" Seru Savira melirik Rayzen juga Brayn.
"Paman tidak masalah" Celetuk Rayzen.
__ADS_1