
Pagi menjelang, Klakson dari berbagai kendaraan silih menyahut di area jalan. Asnee, dia tengah duduk di dalam mobil dengan menumpang kan kaki nya.
"Jam berapa pertemuan nya?" Tanya Asnee pada Karl yang tengah mengemudikan mobil.
"Jam delapan. Pangeran!" Seru nya sedikit menekan pandangan matanya ke sudut tanda sopan.
Asnee terdiam sejenak, sesekali menoleh ke arah jendela samping mobil. "Kita mampir dulu ke tempat makan. Kau juga belum makan bukan, Karl!?"! Ucap Asnee.
Mobil pun melaju dengan tenang, sampai di mana suara Asnee terdengar sehingga Karl menginjak rem mobil.
"Kita makan di sana saja" Tunjuk Asnee dengan mata nya. Karl pun ikut menoleh pada objek yang di lihat oleh Asnee.
Warung kecil, sederhana tapi nampak bersih terlihat dari halaman nya. Asnee menanggalkan jas nya dan di simpan di dalam mobil agar tidak terlalu mencolok. Karl pun demikian, dia terlihat ke luar lebih dulu dan membukakan pintu untuk tuan nya.
"Bu ayam panggang satu plus nasi di makan di sini" Ucap Asnee ramah, dia pun melebarkan senyum di kedua sudut bibir nya.
Ibu pemilik warung nasi terpaku, dia bukan nya merespon tapi malah menatap Asnee dengan mimik wajah berseri.
"Bu" Ucap Asnee kembali.
Tuk
tuk
tuk
Karl mengetuk dua kali meja yang terbuat dari kayu yang sudah di haluskan. Seketika pemilik warung itu pun tersadar.
"Umm baik baik, silahkan duduk" Ucap ibu itu dengan malu-malu.
"Karl segeralah pesan makan, temani saya!" Seru Asnee menarik kursi dan duduk di sana. Karl pun tidak ada menolak, dia pun memesan makan karena memang benar cacing di perut nya sudah demo sedari tadi.
Tentu saja, Asnee tidak pilih-pilih dalam makanan, sekalipun itu jajanan kaki lima. Bahkan sekarang, dia terlihat lahap memasukkan setiap nasi dan daging ke dalam mulut nya, tidak seperti saat makan di istana.
"Bayar"
__ADS_1
Asnee meletakan dua lembar uang kertas di atas meja dan dekatkan pada Karl. Karl berhenti mengunyah dan sejenak menatap tuan nya.
"Baik, Pangeran!" Seru nya mengangguk.
Asnee pun ke luar dari tempat makan menuju mobil yang dia kendarai. Suasana masih pagi, tidak banyak orang melintas ke area itu membuatnya sedikit aman dan tidak dikenali.
...**...
Perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan itu masih ramai hilir mudik pegawai, Asnee di ikuti Karl masuk ke dalam lift di pandu oleh asisten yang sudah menunggu di lobi untuk pertemuan dengan bos nya.
"Selamat pagi, senang bertemu dengan anda kembali. Tuan Asnee!" Orang yang sama, yang beberapa waktu lalu komplain akan kepalsuan dari lukisan ibu suri.
Mereka duduk berhadapan, Karl dan asisten bos hotel pun menunggu di luar.
"Anda yakin yang mengamati lukisan palsu itu adalah seorang pengamat ahli?"
"Maaf tuan, bukan nya saya tidak percaya kepada anda, tapi sayang nya pengamat yang kau sebutkan itu belum pernah berkunjung ke hotel mu!!"
Tangan kanan Asnee menopang ke sayap kursi sedangkan kaki langsung bertumpu. Tatapan lembut jadi tajam seketika.
"Saya tidak mungkin juga berbohong!"
"Kebohongan semacam itu malah akan merugikan bisnis saya! Seharusnya saya yang tengah merugi di sini, tapi perkataan anda terdengar menyudutkan saya. Tuan Asnee!!"
Tidak ingin kalah, dia memang tidak berbohong akan kepalsuan lukisan itu. Senyum Smirk pun terbit dari sudut bibir Asnee.
"Benarkah? Bukan kah kau mendapat dua kali lipat dari lukisan itu. Tuan?"
"Salah satu nya dari ganti rugi yang nanti akan kau terima dari kami!"
Bos hotel itu semakin mengerutkan dahi nya kala Asnee bercakap, namun otak sulit mencerna perkataan nya.
Asnee merogoh handphone nya dan meletakan di atas meja,.
"Di antara mereka, siapa yang menemui anda?" Tunjuk Asnee pada layar handphone nya yang di mana di sana potret Jeno dan Mali terpampang di layar.
__ADS_1
"Saya tidak mengenal mereka berdua"
Dari tegukan ludah pun, Asnee sudah bisa menilai jika kegugupan dari bos hotel itu begitu kentara.
"Lalu siapa pengamat yang anda sebutkan saat pertemuan pertama kita saat itu? Saya akan percaya jika dalam bisnis ini tidak ada campur tangan siapapun dan tidak ada yang di rugikan"
"Saya memang belum terjun dalam dunia bisnis, tapi perlu anda tahu juga jika semua keluarga saya adalah pebisnis sukses dalam berbagai bidang. Tentu saja nilai kritis selalu saya pelajari baik itu dari orang baru maupun dari orang lama sekalipun!"
Suara Asnee semakin bernada rendah, santai tapi terkesan penuh dengan ancaman.
"Haha ! Ha-ha-ha-ha-ha tentu saja kami tahu tuan ! Kami pun berbisnis tidak mencontoh pada mereka yang menyepelekan, kami juga tidak pernah mengambil keuntungan dari kerugian pihak lain." Ujar Bos hotel itu.
Keadaan yang sebenarnya nya adalah, Lukisan itu memang terjual dengan lukisan palsu dan yang asli di pegang oleh Mali bersama dengan antek-antek nya. Di samping itu, Mali memberitahu jika lukisan yang di beli oleh pihak terkait adalah palsu dan rencana nya agar bisnis yang tengah di geluti oleh Aaron tidak lagi di percaya dan akan berdampak pada Asnee.
Tidak ada maksud lain dari permainan itu, mereka hanya mengambil keuntungan seri dari sana, menambah kekayaan yang tiada tara. Pihak terkait pun di dorong untuk meminta ganti rugi akan kepalsuan lukisan kepada pihak Aaron dan menurut mereka rencana itu pasti akan berhasil.
Tapi tidak di sangka, masalah itu malah di ambil alih oleh Asnee. Sangat di luar rencana mereka.
"Jadi, entah siapa yang bodoh di sini" Seru Asnee menarik kembali handphone nya.
"Kita adalah pihak yang sama-sama di rugikan ! Dan yang mengambil keuntungan malah pihak lain" Lanjut nya merapihkan duduknya dan kembali menopang kaki nya.
"Besok saya akan mengirim lukisan aslinya"
Perkataan Asnee tentu membuat bos hotel itu kaget.
"Kami berbisnis bukan untuk membalikkan surat perjanjian, tapi untuk memperpanjang! Namun jika anda tidak setuju maka kerjasama di antara kita akan kami akhiri sampai di sini"
Setiap kata yang ke luar dari mulut Asnee begitu tegas dan mengancam sampai bos hotel yang bermulut besar itu tidak bisa berkutik sedikit pun sekalipun hanya untuk menyangkal saja.
Bos hotel itu tentu tidak terima, kerjasama yang menguntungkan nya mana ada boleh berakhir. Dia terlalu mendengarkan wanita itu sampai lupa jika pondasi bisnis nya hampir terguncang.
"Besok saya tunggu lukisan aslinya dan saya siap jika anda membutuhkan sesuatu" Ucap bos hotel itu dengan mantap.
"Baiklah! Besok akan ada orang yang mengantar lukisan aslinya dan akan saya hubungi dan kau harus datang saat saya minta" Ucap Asnee.
__ADS_1
...***...