The Future King

The Future King
Eps 148


__ADS_3

"Tuan, ada yang bisa saya bantu?"


Pegawai di lobi menghentikan Asnee. Aat dan pihak Bank telah masuk ke dalam ruangan.


"Kami ada keperluan dengan tamu yang baru saja masuk." Ucap Karl lebih dulu merentangkan satu tangan nya agar pegawai itu tidak menyentuh Tuan nya.


Jika Asnee membuka identitas nya sebagai Pangeran maka tujuan nya akan terbongkar dan pasti saja orang-orang di sekitar akan ribut dengan kedatangan Pangeran Yodrak.


"Maaf tuan, anda jangan mempersulit kerjaan kami. Semuanya sudah ada dalam peraturan! Jika untuk masuk ke dalam harus ada janji dengan pihak reservasi, atau anda bisa menunjukkan kartu Vip anda terlebih dahulu" Tutur pegawai itu, namun dengan penuturan yang sangat tidak sopan.


Karl hendak menegur namun Asnee sudah terlebih dahulu mencegah nya. "Baik, maaf jika sikap saya kurang sopan dan menjadi terkendalanya pekerjaan kalian" Ucap Asnee sopan. Di sambut dengan kesopanan pula oleh pihak hotel.


"Apakah manajer hotel ada datang hari ini? Saya ada perlu dengan beliau!" Tanya Asnee. Karl melirik Asnee.


"Silahkan untuk berbicara dengan resepsionis, mereka akan membantu anda!" Ucapnya dengan kode tangan mempersilahkan ke arah resepsionis.


Karl pun memandu Asnee ke meja resepsionis.


"Maaf, ada bisa kami bantu?" Tanya resepsionis itu.


Seperti biasa, pasti ada saja resepsionis yang kurang ramah menjamu tamu. Asnee menaikkan satu alis nya kala sikap resepsionis itu tidak masuk ke dalam kriteria sebagai resepsionis, untuk itu akan menjadi pertanyaan kenapa bisa lolos seleksi di hotel yang kini menjadi milik nya.


"Maaf nona, kami ingin bertemu dengan manajer di sini. Apa beliau sudah datang?" Tanya Karl.


"Belum, tuan! Silahkan untuk menunggu di ruangan sebelah" Ucap Resepsionis yang satu nya.


"Bukankah pak Manajer sedang ada pertemuan dengan klien di luar? Baru akan kembali nanti jam dua siang" Ucap Resepsionis yang kurang ramah.


"Oh iya tuan, maaf saya baru ingat! Begini saja, saya akan sampaikan informasi kepada beliau. Silahkan cantumkan kontak anda!" Tutur resepsionis itu.


"Baiklah jika begitu tidak perlu, saya ingin bertemu sekarang karena ada hal penting" Seru Asnee.


Resepsionis yang memang kurang ramah semakin berdecih kesal. "Jika begitu silahkan untuk kembali lagi nanti, atau tidak anda bisa menunggu beliau sampai jam dua siang di tuang tunggu!" Mimik wajah nya benar-benar ingin di tampol


Karl melirik Asnee yang sudah menaikkan satu alis nya, itu berarti dia tidak suka.


"Karl hubungi dia." Tepuk Asnee pada pundak Karl dan dia berjalan melewatinya menuju ruang tunggu.


"Maaf nona, boleh saya minta kontak pak Manajer? Atau tidak yang sekarang bersamanya!" Ucap Karl mengabaikan resepsionis yang kurang ramah itu.


"Silahkan" Buku tebal dengan banyak kontak tertera di sana, rapih dan juga jelas.


Karl pun memberi sapa santun, namun tidak pada resepsionis yang tidak ramah itu.


Setelah dapat, Karl menghampiri Asnee sedangkan resepsionis yang tidak ramah itu terus menggerutu pada teman nya yang tadi melayani Karl dan Asnee begitu ramah dan sabar.


Menunggu setengah jam. Mobil terparkir kasar dengan pedal rem yang begitu mendadak.


Ngilu terdengar, satpam hotel pun heran.


"Selamat pagi, Pak" Sapa Dua satpam yang bertugas dengan baju hitam atas bawah.


"Pak Direktur kenapa?" Tanya salah satu satpam itu pada Asisten Pak Direktur yang di mana bos nya itu lari terbirit-birit ke dalam tidak seperti biasa nya.


Pak Direktur sampai di dalam, resepsionis pun menyapa namun pertanyaannya mendahului. "Di mana mereka?" Tanya Pak Direktur sampai nafas nya hampir tercekat.


"Maaf pak, maksud bapak siapa?"


Tentu tidak akan ada yang mengerti dengan pertanyaan Pak Direktur hotel itu yang tiba-tiba.


"Selamat pagi, Pak" Dari belakang, Karl menyapa dan tidak jauh dari mereka asisten pak direktur pun menghampiri.


"Tuan?" Ucap Pak Direktur menduga-duga apakah pria di depan nya ini pemilik hotel baru.


"Silahkan"


Karl menunjukkan ke arah ruang tunggu di mana di sana Asnee berada, walaupun dengan bingung, Pak Direktur pun mengikuti Karl.


Tiga orang di sana bingung dengan reaksi pak Direktur, karena biasanya pak Direktur sangat tenang.


"Pangeran" Ucap Karl. Pak Direktur sejenak menatap Karl lalu menatap Asnee.

__ADS_1


Asnee pun berdiri, Pak Direktur menatap tanya pada Asnee.


"Silahkan" Ucap Karl mempersilahkan Pak Direktur itu duduk di ikuti oleh Asnee.


"Maaf, anda cucu dari Pak Lio? Tuan Asnee pemilik baru dari hotel ini?" Pak Direktur bertanya untuk semakin meyakinkan.


"Benar"


"Asnee Yodrak. Pangeran dari kerajaan Yodrak?" Pak Direktur, perlahan menyebut lengkap nama Asnee.


"Benar," Sahut Asnee seraya mengangguk.


"As-s-taga. Pangeran salam, maaf atas kelancangan saya" Pak Direktur itu langsung bertekuk di bawah sofa.


"Tidak perlu seperti itu, Pak! Saya ke sini bukan sebagai Pangeran, melainkan sebagai pemilik baru dari hotel ini." Asnee membantu Pak Direktur itu bangun dan kembali duduk.


Raut wajah Asnee mulai serius sekarang. "Ada sesuatu yang ingin saya periksa, bisa anda tunjukkan jalan nya?" Ucap Asnee.


Pak Direktur pun tentu mengangguk. "Baik, tuan! Sebelum nya maaf, anda memerlukan apa?" Tanya Pak Direktur itu dengan sangat terlihat menjaga kalimat nya, mungkin takut salah berucap.


"Ruang Cctv. Sekarang!" Seru Asnee..


"Baik, tuan. Silahkan!" Ucap Pak Direktur, mempersilahkan Asnee untuk mengikuti nya.


Ke luar dari ruang tunggu, Asisten pak Direktur ternyata masih berada di meja resepsionis.


"Pak" Asisten nya hendak bicara tapi lebih dulu di cegah dengan kode tangan, sampai membuat dia dan dua resepsionis bingung.


"Silahkan lewat sini, tuan!" Ucap Pak Direktur kembali, menunjukkan koridor paling ujung dari hotel itu, sampai di mana berhenti di depan pintu yang bertuliskan 'Hanya untuk petugas'


"Pak" Sapa petugas CCTV menyapa.


"Silahkan tuan, anda bisa memeriksa nya dengan mereka." Ucap Pak Direktur.


Petugas di dalam ruangan cctv itu ada tiga orang dan kini tengah menatap tanya pada pak Direktur.


"Oh iya, Perkenalkan. Beliau pemilik hotel baru!" Ucap Pak Direktur itu pada petugas Cctv.


"Silahkan, ada yang bisa kami bantu?" Ucap mereka.


"Karl"


Karl pun mendekati pengendali Cctv untuk memeriksa.


"Tunjukkan rekaman ruangan Vip satu jam yang lalu" Ucap Karl. Mereka pun mencoba untuk mengikuti perintah atasan barunya.


"Speaker nya apa tidak bisa di aktifkan?" Tanya Asnee.


"Maaf tuan, tidak bisa" Ucap petugas itu.


"Karl, pasang perekam" Asnee memberikan alat perekam pada Karl. Karl tentu bingung, kapan tuan nya mempersiapkan alat itu.


"Pak bisa anda bantu dia?" Ucap Asnee pada Pak Direktur.


"Tentu bisa, tuan! Mari." Ucap Pak Direktur itu pada Karl.


Asnee memantau dari Cctv, Karl telah kembali namun tanpa Pak Direktur.


Seorang pelayan hotel terlihat masuk dengan hidangan yang di pesan, sekitar tiga orang masuk dengan seragam hotel.


Setelah menyajikan hidangan, salah satu dari pelayan itu menatap ke arah Cctv sesuai dengan arahan dari Karl, yang berarti perekam itu sudah terpasang di tempat tersembunyi.


Asnee pun memasang earphone yang sudah tersambung dan suara di dalam sangat terdengar jelas. Sudut bibir Asnee menyungging.


Hadiah ulang tahun dari Aarav memang sangat mengagumkan, dia harus membuat nya lebih banyak untuk keperluan keamanan.


"Karl pasang ini" Asnee mengulurkan tangan nya, memberikan satu earphone yang sama dengan nya. Karl pun yang tengah berdiri di dekat pintu pun mendekat.


"Dengarkan dengan baik" Ucap Asnee.


Petugas Cctv pun hanya saling tatap sesekali memantau layar di depan mereka.

__ADS_1


"Kami pun masih belum sepenuh nya mendukung, beliau!"


"Bukan tidak percaya, namun untuk Raja selanjutnya pasti akan berat jika di hadapkan dengan masalah-masalah masyarakat yang terdapat di zaman yang serba sulit ini. Tapi kami masih mencoba!"


"Tapi jika Pangeran bersedia dan kualifikasi terpenuhi sebagai seorang pemimpin, kami bisa menyokong. Bukan kami hendak berkhianat, tapi hanya sebagai pilihan saja!"


"Kami selaku salah satu penyokong, membicarakan masalah ini hanya perlu tanggung jawab sebenarnya. Lalu apakah anda bisa menjaga kepercayaan kami?"


Setelah pembicaraan mengenai kunjungan mereka ke perusahaan yang di pimpin oleh Rayya, nampak Aat tidak tertarik dan tidak memperpanjang pembahasan.


Aat pun mengalihkan pembahasan. Raut wajah Aat nampak kurang suka, bahkan sekalipun pihak dari kubu Raja memang susan untuk di dekati.


"Baik baik, saya senang bisa berbincang panjang lebar dengan kalian semua! Untuk rencana selanjutnya, saya harap kita bisa melakukan pertemuan kembali"


Ucap Aat seakan mengakhiri obrolan mereka.


Asnee terus mendengarkan, namun terhenti kala sang paman menyebutkan beberapa parlemen yang ternyata kini bergabung bersama nya.


Asnee dan juga Karl pun lempar tatap dengan apa yang mereka dengar. Itu berarti Paman Aat telah menyiapkan rencana itu sudah lama dan kini tinggal meyakinkan penyokong raja yang benar-benar berpengaruh terhadap pengangkatan, agar tidak terlihat sebagi kudeta.


"Pantas saja, pihak itu sekarang terlihat mempersulit pekerjaan Papa!" Gumam Asnee.


Pertemuan mereka hampir memakan waktu lama, kini Aat pun telah pergi dari Hotel itu begitupun dengan pihak Bank.


"Tuan Lio merencanakan acara pemindahtanganan hotel ini, tapi untuk tanggal nya belum pasti. Apakah anda sudah di beri tahu?" Tanya manajer itu yang saat ini mereka telah berada di ruangan yang bertuliskan Manager.


"Kakek belum memberitahu, mungkin masih dalam rencana! Untuk saat ini saya akan jarang berkunjung ke sini, tapi jika ada masalah harus secepatnya di laporkan. Anda bisa menghubungi kepercayaan saya terlebih dahulu"


Tunjuk Asnee dengan tatapan nya pada Karl.


"Baik, Pangeran!" Ucap Karl, diangguki juga oleh pak Manajer.


tok


tok


tok


Pintu terbuka, pelayan yang tadi bertugas untuk memasang penyadap pun terlihat kembali di ambang pintu bersama dengan Asisten dari Pak Manajer.


"Saya mau menyerahkan ini" Ucap pegawai hotel itu seraya menyerahkan penyadap yang kembali di bawa.


Karl pun mengambil nya mewakili Asnee.


"Kau bisa kembali ke pekerjaan mu" Ucap Pak Manajer dengan gerakan tangan nya.


Masih dalam mode penasaran, Pak Manajer pada Asnee yang menguntit paman nya sendiri tapi selebihnya dia tidak peduli, hanya saja penasaran.


"Baik, jika begitu kami permisi" Ucap Asnee.


"Baik, tuan!" Seru Pak Manajer berdiri lebih dulu dan mengulurkan tangan, Asnee pun menjabat tangan.


...**...


Aaron dengan keras membalikkan badan nyan saat mendengar Asnee mengatakan hal yang sangat tidak terduga.


"As, Dia paman mu. Kenapa kau tega menuduh dia seperti itu?!" Aaron sangat marah. Asnee duduk dengan tegap seperti biasa.


"Asnee mengatakan semua itu dengan bukti, Pa!" Seru Asnee.


"Bukti?"


"Ada salah satu bukti, Asnee yakin papa akan mengerti!" Ucap Asnee sambil memberikan bukti rekaman yang ternyata penyadap itu terhubung ke memori yang bisa di simpan di perangkat lain.


"Ini baru sebagian. Papa cek saja dahulu untuk memastikan nya!"


"Pa—" Ucap Asnee kembali karena Aaron belum mengindahkan perkataan nya.


Perlahan Aaron berbalik, menepuk pundak putra sulung nya dengan tatapan kuat. "Papa akan memeriksa nya! Sebelum itu jangan terlalu kentara, biarkan sembunyi-sembunyi dahulu sebelum semua nya terbukti." Ucp Ananada. Kemungkinan besar akan ada polemik baru jika terbongkar tanpa bukti.


Asnee semakin mengangguk dengan arahan dari Papa nya

__ADS_1


__ADS_2