
"Paman—"
Dari belakang, Iswara mengejutkan Eiji yang tengah menonton berita melalui Ipad nya.
Eiji menoleh seraya membalikkan Ipad itu. Iswara berjalan memutari sofa panjang dan sekarang duduk begitu dekat dengan Eiji.
Satu Alis Eiji terangkat, menandakan jika dia tengah bertanya ada apa dengan Iswara, tidak seperti biasa nya.
Iswara menatap dengan manik lurus. "Paman sedang melihat apa? Apa Wara mengganggumu?"
Eiji sedikit menggeser duduk nya karena Iswara benar-benar begitu rapat dengan lengan nya.
"Hanya pekerjaan saja." Sahut nya singkat. Memang tidak bisa mendapatkan informasi apapun dari Eiji.
Iswara menatap selidik. "Kalau begitu kenapa dua hari ini dan sekarang Paman tidak membawa Wara ke rumah nyonya Ruby? Apakah Wara sudah sembuh?! Apa begitu?"
Awal nya kening mengkerut tapi tiba-tiba wajah berseri dengan senyum senang terpatri lebar dari bibir Iswara.
"Ucapan mu selalu menjadi kejutan—" Eiji malah menghela nafas seraya meletakan Ipad yang sudah off ke atas meja.
"Mereka sedang ada urusan. Jadi kau boleh istirahat sepuas nya di sini!" Ucap Eiji, menyilangkan kaki dan tangan sesekali melirik Iswara.
"Tch tch tch, apa selama hidup ekspresi wajah Paman cuman satu? Aneh!"
"Jadi rasa peduli mu itu seakan menyuruh ku mati. Paman!" Cengir Iswara. Eiji hanya menarik sudut bibir nya dan menatap Iswara dari kening hingga dagu.
"Perasaan mu saja! Kalau misalnya kau merasa seperti itu berarti sebelum mati, kau harus mencoba hal ekstrem, biar tidak menyesal!" Ucap Eiji mendekat seraya kemudian berbisik.
"Hal Ekstrem? Apa apa?" Dengan tidak sabar Iswara menoleh. Wajah Eiji yang belum di tarik kini bertabrakan dengan hidung mancung Iswara.
Iswara terdiam, baru kali ini dia merasakan nafas hangat dan wangi dari orang yang dia panggil Paman itu.
"Memakan mu. Itu hal Ekstrem yang saya katakan!" Seru Eiji beberapa detik saat menatap Iswara begitu dekat, hanya seujung kuku jarak mereka tadi.
Iswara malah diam, dia tidak merubah posisi. Ekspresi nya malahan semakin aneh saat Eiji mengatakan itu.
"Memang nya paman bisa memakan, Wara?Bagaimana caranya!" Tanya nya begitu polos semakin mendekatkan wajah nya pada Eiji.
Eiji menoleh tidak tahu lagi harus seperti apa di hadapan kecebong satu di depan nya ini.
"Ah sudah lah!" Tepis Eiji malah merasa kesal. Dia semakin berpikir, apakah Iswara sedang berpura-pura polos atau memang dia gadis polos?. Pasal nya gadis-gadis di sekitar nya tidak ada yang sepolos Iswara, termasuk Finola dan juga Rayya.
Eiji berdiri melangkah pergi dengan seraya memijat kening akan sikap Iswara yang semakin hari semakin membuat nya ingin sekali memakan gadis itu.
"Apa aku salah?" Gumam Iswara menatap kepergian Eiji dengan banyak pertanyaan di benak nya.
...**...
Sean dan Shane mendampingi Aat yang tengah di rawat, sedikit mengerti medis, adik kakak itu memutuskan untuk membawa Aat ke Jerman dan di tangani Dokter handal di sana.
__ADS_1
"Lion, kondisi Pangeran Aat sudah sangat memburuk. Beliau hanya memiliki beberapa hari untuk bertahan, untuk itu beliau harus di tangani secepat mungkin"
"Alat medis di sini tidak membantu apapun dan dari divisi kami alat medis untuk kasus pencucian otak ada di Rumah sakit khusus dan itu ada di Jerman. Kami sudah menghubungi rekan kami yang ada di rumah sakit itu"!
Tutur Dokter mafia yang datang tadi malam dengan helly.
Shane dan Sean paham, tapi mereka harus menghubungi pihak keluarga untuk persetujuan lebih lanjut.
"Arghhhh"
Erangan dadakan dan berjarak dari mulut Aat kerap terdengar.
"Paman?" Shane sedikit menyentuh lengan Aat dan mengguncang nya. Namun tetap saja Aat tidak sadar, hanya erangan dan erangan yang kerap terdengar.
Sean berbalik, dia merogoh handphone nya untuk menghubungi daddy nya.
Di Istana, Edward pun segera mencari Ruby dan juga yang lain nya. Mereka harus tahu segera, tapi pastinya hari ini Raja Aaron dan keluarga istana yang lain nya tidak dapat di ganggu karena sibuk.
"Honey?"
Sery Ruby akan kedatangan Edward ke kamar Rayya.
"Dia masih belum sadar?" Edward mendekati ranjang, menatap Rayya yang masih senang dengan pejaman mata nya.
Ruby ikut mendekat. "Ada masalah?" Tanya Ruby tidak melepas tatapan nya.
"Jerman?" Tukas Ruby.
Edward mengangguk. "Izin penerbangan nya akan di cegah jika kita langsung membawa dia, jadi harus ada surat izin dari sini dan Rumah Sakit yang biasa menangani kesehatan anggota kerajaan!" Ucap Edward kembali.
Tanpa mereka berdua sadari, mata Rayya sudah terbuka walau tidak penuh, telinga nya mendengar jelas perbincangan Edward juga Ruby.
"Lakukan apa yang terbaik, Rayya akan mengatur urusan perizinan dan akan di kirim melalui surel nanti!"
Edward dan juga Ruby reflek menoleh dan langsung terduduk di samping ranjang.
"Rayya" Usap Ruby lembut pada kepala Rayya.
Semburat senyum terpatri jelas di sudut bibir Rayya. "Rayya baik-baik saja" Ucap nya dengan wajah pucat namun bawah mata sedikit merah.
"Baik-baik bagaimana? Orang baru bangun dari malam!" Suara nya begitu ketus dan sikap itu sangat menggelikan ke luar dari mulut Leyka.
"Pa—" Tukas Rayya.
"Kami pergi, titip anak-anak!" Seru Edward berdiri. Leyka mengangguk tanpa bertanya alasan apa yang membuat mereka seperti terburu-buru.
Mereka pun pergi dengan Edward merangkul pinggang Ruby seperti biasa.
'heeeeuum'
__ADS_1
Leyka duduk di samping Rayya dan membantu Rayya untuk duduk. "Mama di mana?" Tanya Rayya saat Leyka membantu mengangkat gelas minum untuk Rayya.
"Kau sudah pasti tahu—"
Leyka malah membuang nafas kasar, tapi Rayya tidak demikian, dia sedikit menggeleng kepala.
Di ruang bawah tanah, di mana Aat Palsu berada. Ruang itu benar-benar gelap sampai tetesan air dari puing tua terdengar jelas di telinga.
Penjaga ruang penjara bawah tanah ternyata orang-orang dari Ibu Suri Rataporn, mereka khusus bertugas di sana.
"Arrghhhhh"
Dari lorong, erangan menyakitkan mengganggu telinga karena gema nya tidak kecil.
"Aarghhhh"
Erangan mengerikan kembali terdengar, semakin dalam masuk semakin gelap dan cahaya matahari masuk hanya melewati dinding yang berlubang dan itupun sangat kecil.
"Kau kira saya tidak tahu siapa kau? Hahaha tidak bisa menyentuh keluarga inti saya, kau malah pergi ke sini? Tch Tch Tch memang licik!"
',Arrghhh'
Darah segar melumuri wajah, rambut Aat palsu pun basah dengan darah.
"Dengar baik-baik Kapten, keluarga anda hancur karena ulah mereka sendiri dan kau tidak berhak menyalahkan kami! Keponakan anda yang hendak melenyapkan putra saya, jadi hanya hukuman penjara saja seharusnya sudah ringan!"
"Tch tch tch tapi kau masih tidak puas?"
Nara menekan rambut Aat palsu ke belakang, bau amis begitu menyengat.
Brughh
Nara mendorong pria itu, kondisi nya begitu memprihatinkan dan serasa nyawa dia pun sudah berada di tenggorokan.
Nara mengusap ujung belati yang masih menggantung buliran darah di sana. "Saya buta jika sudah menyangkut keluarga. Seharus nya anda mencari tahu terlebih dahulu sebelum memutuskan! Kau pun dalam posisi di manfaatkan oleh pejabat itu. Dasar bodoh!" Hardik Nara mendorong kursi dengan tumit nya lumayan kasar karena kursi itu langsung menjungkir.
"Arghh uuhh" Ringisan itu semakin pelan, dari sorot matanya bayangan Nara pun menjauh dan hilang.
Setelah di telusuri oleh Collen, akhirnya mencapai kesimpulan dan juga informasi yang di dapat memang merujuk ke sana.
Kapten Moen, tapi sekarang bukan lagi sebagai Kapten dari kesatuan melainkan Kapten dari organisasi yang sama persis dengan Mafia.
Waktu itu, Moen kembali ke rumah nya yang ada di London hendak temu kangen dengan mereka, namun kabar mengejutkan melumpuhkan rencana nya.
Ya, dia adalah Paman kandung dari Luke Mattew yang dulu satu Universitas dengan Asnee juga Lukya. Dendam itu bermula dari sana sampai akhirnya dia bertemu dengan Orang suruhan daru keluarga cendana Pak Mentri Keuangan itu.
Ingin menghancurkan Asnee sampai dia rela mengganti wajah nya sesuai dengan skenario yang sudah di susun dan di rapihkan seperti buku.
Dan pada akhirnya rencana itu gagal total, dia tidak lebih dulu mengenal lawan nya.
__ADS_1