
Malam kembali tiba, kegemparan masih terjadi, baik di asrama maupun di sekolah. Mulut mereka tidak henti-henti nya bereaksi.
"Apa ? Papa yakin Luke yang melakukan nya? Mereka sudah di tangani pihak berwajib? Ini pasti keliru—
"Hahahah wah bisa-bisa nya dia melakukan hal mengerikan seperti ini?!"
Robert tidak habis pikir, seragam pasien nya masih membalut tubuh asia nya. Kevin yang berada di sana pun kaget, dia benar-benar tidak habis pikir, otak nya pun tidak ada curiga sampai di sana.
"Otak nya bukan pada siswa itu, tapi seorang siswi yang papa dengar kalau dia punya hubungan asmara dengan 0angeran Asnee!"
"Apa?" Robert juga Kevin teriak, jantung mereka seakan copot mendengar informasi itu.
"Kalian mengenal nya?" Papa Robert pun bingung, mereka hanya tahu nama-nama mereka saja.
"Kami sangat mengenal nya. Pa!" Ucap Robert, di angguki oleh Kevin dengan matang nya.
Ruang lingkup mereka tidak luas, walaupun jabatannya sebagai seorang mentri dan jendral, tapi tidak bisa seenak nya mengacau di negeri orang.
Tapi tidak hal nya dengan keluarga mafia itu, mereka berbeda. Relasi dan link yang ada sudah merambah ke negara-negara besar, salah satunya Swedia.
"Apalagi yang kau pikirkan. Asnee?!"
Kerutan di kening masih terpatri jelas, entah apa yang Asnee pikirkan. Dia menoleh dengan sorot mata yang seakan tengah resah dan kecewa.
"Dan sampai kapan kau akan terus bersikap seperti ini?"
Ucapan Rayya terdengar tidak mengenakan, tapi jika mereka yang mengerti tidak akan salah paham terhadap apa yang di sampaikan. "Kenapa? Apa masih menginginkan gadis seperti dia?"
Asnee tidak bicara membuat mereka semua kadang salah paham. Tidak ada yang bisa menebaknya, ekspresi wajah dari Asnee tidak beda, mau itu kesal, marah, kecewa, selalu saja seperti itu.
"Ya terus kenapa?" Seru Rayya sekali lagi saat kepala Asnee menggeleng, menandakan jika dia tidak tengah memikirkan Lukya.
"Bagaimana aku bisa tenang kak? Kakak sendiri bicara nya kaya gitu, mama juga! Diam bisa kan? Aku sedang pusing, kepala ku serasa mau pecah!"
"Huffhh kalian cerewet sekali sih, ah!"
Tampang Rayya membeliak, mulut nya menganga. Asnee malah merajuk seperti anak kecil.
"Dih, kenapa jadi kami yang salah?" Rayya tidak terima.
"Ya sudah, bisa tidak biarkan aku sendiri dulu?! Sakit terus kalau gini cara nya!"
Asnee malah menjatuhkan diri di atas kasur dengan posisi telungkup. Walaupun kondisi nya membaik, tapi suhu badan dan nafas nya masih panas.
"Ya suruh siapa gadis yang kau cintai itu nekad? Tadinya kita tidak akan ikut campur! Kau tahu sendiri bagaimana monster-monster itu! Kalau sudah urusan nyawa, mereka bakal maju paling depan!"
"Tuh lihat Papa. Dia sangat khawatir pada mu! Kau ini memang nya tidak melihatnya?"
Asnee menarik batal dan menutup kepala nya sendiri, ocehan kakak nya menusuk jantung dan otak, jadi sakit semua. Untung sayang, kalau tidak sepertinya Asnee akan kabur saja dari kamar itu, meninggalkan ocehan kakak nya yang tiada henti.
__ADS_1
"Ya memang siapa yang sedang memikirkan itu. Kak?! Ah, kalian berisik sekali!" Sergah nya di balik bantal.
"Ya bagus kalau itu yang bukan kamu pikirkan! Buat apa juga coba. Tidak ada gunanya!"
"Iya iya!" Suara Asnee mulai kesal.
Rayya mendekat, dia duduk di samping kaki Asnee yang menggantung ke lantai.
"Mau ngga, kakak jodohin sama Daniza?!" Seraya menarik bantal di kepala Asnee, Rayya malah berseru dengan kekonyolan nya.
"Kakak!" Teriak Asnee, beringsut bangun. Rayya dengan cepat lari dari samping Asnee dengan gelak tawa nya.
"Siapa Daniza?" Gumam Asnee. Dia mencondongkan tubuh nya dan reflek memegang leher.
"Kalung? Di mana kalung ku?" Asnee berdiri meraba-raba leher nya sesekali ke tubuh. Dia baru sadar jika kalung nya tidak ada.
"Ma"
Teriakan Asnee membuat orang-orang rumah berlarian, termasuk Rayya yang masih tertawa di balik ruang keluarga.
"Ada apa ini?"
Mimik wajah mereka menegangkan. "Ada apa?" Leyka mendekat. Nara pun tidak kalah cepat.
"Kenapa. As?!" Tanya Nara panik.
"Ma, kalung ku hilang!" Ucap Asnee.
"Mom, kalung Asnee tidak ada! Apa ada yang menyimpan nya?!"
Ruby pun mendekat seraya menggeleng tidak tahu. "Mommy tidak tahu!"
"Dokter Fian mana? Coba tanyakan pada nya, soalnya dia yang ada di sana saat Asnee di rumah sakit!"
Lucky pun menghubungi dokter Fian.
"Bagaimana?" Tanya Nara. Lucky menggeleng, menandakan jika Dokter Fian pun tidak tahu soal kalung itu.
Erickson atau biasa di panggil Ahan kembali ke luar di mana ada Daniza di sana. "Padahal hanya sebuah kalung" Ujar nya kembali duduk di atas tembok pendek penyekat halaman.
Mafioso yang ada di sana pun berbondong-bondong ke luar, menaiki dua mobil bersamaan dan berlalu pergi.
"Kalung apa? Mereka pada mau ke mana? Kenapa Pangeran Asnee berteriak?" Pertanyaan beruntun. Kedua mata Daniza melihat ke arah mobil yang sudah tertelan oleh pagar seraya bertanya beruntun.
"Dia kehilangan kalung nya. Niza! Padahal hanya kalung saja, tapi kenapa semua keluarga nya mengerahkan para bawahan nya untuk mencari?" Tutur Ahan.
"Penting mungkin!" Desis nya. "Ngga mungkin juga ribut seperti itu jika tidak penting! Kadang otak anda lemot, tuan!" Daniza malah meledek nya.
Ahan mendelik, sudut mata nya tajam menatap Daniza.
__ADS_1
"Mata kana atau mata kiri? Apa mau mulut mu dulu saya sobek. heum?!" Ahan mengeluarkan pisau kecil dari saku kanan nya. Nada nya tidak serius, untuk itu Daniza hanya cengengesan.
"Panggil saya kakak saja. Kau ini bodoh atau tuli? Saya ini bukan tuan. Mu! Kau mengerti?!" Tidak canggung. Ahan malah menyentil kening Daniza.
"Iya iya!" Cebik Daniza.
Senyum smirk Ahan terpatri, namun tipis. "Iya apa?" Tanya nya kembali.
"Ishh! Apaan sih. Ah! Bisa diam tidak?!" Malah jadi galak. Wajah Daniza lucu bagi Ahan, dia menggemaskan. Walaupun padangan nya dingin dan kosong tapi menurut dirinya sangat lucu.
"Dih!"
"Apa?" Mata Daniza melotot.
"Hahaha, lucu sekali!" Seperti halnya squishy, Ahan tidak segan menguyel pipi Daniza.
Sedangkan dari jauh, Rayya memperhatikan mereka berdua.
"Bisa tertawa juga? Heumm aku kira sudah lupa cara tertawa!" Ucap Rayya melebarkan kelopak mata nya.
"Tapi aku tidak suka melihat kau tertawa karena gadis kecil itu. Erick!" Rayya kembali bergumam, dia nampak cemburu tapi dari wajah nya tidak memperlihatkan jika dia tengah tidak suka.
Rayya pun ke luar pintu. "Daniza" Panggil nya.
Sang pemilik nama pun menoleh. "Saya. Putri!" Daniza pun mendekat. Ahan kembali berdiri dari duduk nya.
"Coba kau ke rumah sakit, tolong carikan kalung di ruang rawat Asnee sebelum nya! Katakan pada perawat jika kau kehilangan benda di ruangan itu!"
"Nanti kabari saya, ada atau tidak nya kalung itu! Bisa?"
Daniza menyanggupi, dia mengangguk paham dengan perintah tuan putri nya.
"Ayo!" Pungkas Ahan. Daniza pasti butuh kendaraan pastinya, untuk itu dia lebih dulu mengajak nya.
Kedua perempuan itu menoleh. "Kamu tetap di sini! Daniza akan pergi bersama dengan Mommy juga Daddy. Dia juga ada keperluan di sana!" Ucap Rayya.
"Baik, putri! Jika begitu saya permisi!" Daniza pergi. Ahan memperhatikan, sesekali melirik Rayya yang tidak biasa nya.
"Anda baik-baik saja?" Tanya Ahan.
"Kenapa? Kau mau ikut dengan nya?" Mata memicing, nada suara sinis. Ahan pun heran, tidak biasa nya tuan putri ini berkata dengan ketus.
"Apa? Mau saya potong gaji mu?" Ucapan Rayya semakin tidak di mengerti.
"Saya di gaji oleh Tuan Lexi. Sepuluh kali-lipat!" Celetuk Ahan. Kenyataan nya memang seperti itu, tidak ada yang salah.
"Dih sombong!" Rayya melipat kedua tangan nya di depan perut, berlalu pergi kembali ke dalam.
"Aneh" Seru Ahan benar-benar aneh dengan sikap majikan nya itu.
__ADS_1
Sedangkan di tempat kejadian, Hampir delapan orang mafioso tengah mencari-cari kalung milik tuan kecil mereka. Dua orang ke tempat rongsokan mobil, karena mobil yang Asnee tumpangi sudah ringsek.