
Di dalam aula, anggota kerajaan telah berkumpul atas permintaan Asnee. Tidak ada orang luar terlihat di sekitar sana, hanya ada juru bicara dan beberapa kepercayaan anggota kerajaan.
Aaron tentu saja berada di kursi yang semestinya, seorang Raja yang siap mendengar, menghakimi dan mengasihi.
"Ada apa ini, tiba-tiba berkumpul?" Jeno menuntun tangan Pim dari arah luar pintu dan di dekat sana pun Mali sudah menunggu.
"Sayang, ada apa?" Aat terlihat kembali menghampiri Mali dari dalam aula. Jeno dan Mali serta Pim menoleh bersamaan.
"Papa" Pim mengulurkan kedua tangan nya pada Aat, minta di gendong.
"Sayang" Aat pun membawa Pim ke dalam pangkuan nya. Mali dan Jeno sekilas saling lirik.
"Suamiku, ayo kita masuk" Ucap Mali menggandeng lengan Aat.
"Kau juga ikut lah!" Ajak Aat pada Jeno. Jeno pun merespon dengan senyum nya.
"Paman, biarkan Pim bermain di luar! Dia pasti lelah seharian belajar di perpustakaan"
Suara Asnee menghentikan langkah mereka. "Dan maaf tuan, orang luar tidak saya perbolehkan masuk!"
Tatapan mereka saling bertemu satu sama lain, tertegun dan kaget akan perkataan Asnee yang cukup kasar terdengar nya.
"Jaga ucapan mu, Pangeran!" Sentak Mali namun tidak terlalu keras, hanya mereka yang ada di sana saja yang mendengarnya.
Jeno hanya diam memperhatikan dengan smirk tipis tersulam sini. Asnee pun membalas sulaman tipis di sudut bibir nya. Jeno seketika melebarkan kelopan matanya akan ekspresi Asnee yang seakan mengerti dan tahu dari ekspresi tipis nya.
Apa sekarang ini dia tengah ketahuan? Jeno sesekali meneguk ludah nya kasar.
"Kau yang sedikit kasar sekarang, Mali" Tukas Aat seraya memberikan Pim pengasuh nya. "Ajak tuan putri bermain di istana samping" Ucap Aat. Pelayan pun mengajak Pim menjauh dari para orang dewasa itu.
Suara Aat biasa saja, tapi seperti orang yang tengah mengadili. Asnee menaikkan satu alis nya dan melebarkan ke dua senyum nya, mengeluarkan kedua tangan nya dari saku celana.
"Tapi sepertinya aku menarik ucapan ku, paman! Ayo kita masuk"
"Anda juga, tuan Jeno!" Lanjut Asnee berhenti di samping Jenoo.
"Ayo" Ucap Asnee pada Aat menundukkan tatapan nya.
Di dalam aula sudah berkumpul semua anggota, termasuk nenek suri pun sudah ada di sana bersama dengan pelayan menantunya-ibu dari Aaron. Asnee pun berdiri di tengah-tengah mereka.
__ADS_1
"Informasi apa yang hendak kamu sampaikan, Pangeran?!" Aaron mengawali percakapan.
"Ini masalah kebakaran Gallery. Papa!"
Jawaban Asnee membuat orang-orang di sana terdiam seketika. Mereka penasaran dan tidak sabar, namun ada pula yang tidak senang dengan jawaban Asnee.
"Gallery ? Kau sudah mendapat titik terang nya?" Nenek suri menimpali, kedua mata nya berbinar namun juga berembun. Wajah tua renta nya tak dapat menahan ekspresi senang saat mendengar ucapan Asnee.
"Betul nenek" Jawab Asnee.
Terutama Mali dan juga Jeno, mereka menegang namun tidak berani memotong pembicaraan saat ini.
"Katakan" Titah Aaron.
Asnee berdiri tegap, membenarkan baju nya kembali agar terlihat rapih. Tatapan nya lurus dan percaya diri, dari postur nya pun sudah terlihat jika Asnee sudah memecahkan masalah yang begitu rumit.
"Dari segi penyebab setelah di cari akar masalah nya bukan dari kosleting listrik ataupun dari segi panas nya cahaya matahari masuk tembus melalui jendela jika di katakan tengah ada pemanasan global"
"Di Gallery pun tidak ada alat masak terutama yang berbau gas dan tidak ada pula semacam pemanggang atau apapun di area gallery"
"Semuanya sudah di periksa dari hal terkecil!"
Karl datang, mendekati Asnee. Dia terlihat memberikan botol kecil berwarna bening di mana di dalam nya terdapat cairan hitam yang menyengat.
Walaupun cairan itu adalah salah satu dari proses penyulingan setengah jadi, tapi tetap saja jika di taburkan dan di beri api akan sangat berbahaya.
Semua mata tertuju pada pada benda yang tengah di pegang oleh Asnee.
"Itu berarti kebakaran Gallery bukan lah kebakaran biasa, tapi kebakaran yang telah di rencanakan!"
Mata Asnee menoleh kilas pada Jeno juga Mali namun kembali lurus pada Aaron di depan, juga Ananada-Raja terdahulu.
"Tapi Asnee, cairan minyak seperti itu tidak pernah masuk ke dalam istana dan jika pun ada mungkin hanya untuk keperluan pabrik di perkebunan anggur sebagai bahan bakar, itu pun jarang kita pakai"
Aat mengambil alih botol kecil itu, mencermati cairan hitam yang terlihat sangat jelas.
"Aneh juga bukan, Paman?" Ujar Asnee. "Setahu ku, setelah beberapa hari mencari asal dari minyak itu, bukan kah hanya tuan Jeno yang bisa menjelaskan nya?"
Tiba-tiba Asnee menodong Jeno dengan seruan nya, tidak ada aba dan ancang-ancang sampai sang pemilik nama gugup.
__ADS_1
Kebenaran nya adalah, pemilik dari penyulingan minyak itu di pegang oleh keluarga Jeno dari pihak sebelah nya namun hubungan mereka pun tidak bisa jika dikatakan harmonis, tapi juga kadang harmonis.
"Jeno bisa kau jelaskan?" Seru Aat membalikkan badan nya, mengarah pada Jeno yang masih berdiri bersama dengan Karl di samping nya.
"Aat, kau juga tahu jika aku dan keluarga paman tidak akur! Jadi aku tidak tahu kenapa bahan itu di temukan di sekitar Gallery"
"Di sini untuk masalah bukti yang di temukan pangeran sepertinya harus pupus! Bukankah cairan seperti itu sudah banyak diperjual belikan di luar istana?" Ujar Jeno meyakinkan.
"Betul apa yang tuan Jeno katakan!" Timpal Mali yang sepertinya baru pertama kali ini ikut bersuara di tengah perbincangan serius.
"Tapi tuan, pertanyaan nya adalah kenapa bahan ini bisa masuk istana dengan mudah? Bukankah keamanan istana sangat ketat? Apakah untuk saat ini pemeriksaan setiap barang datang dari luar ke dalam istana bebas masuk?"
"Bahkan perkebunan pun tidak di area istana, melainkan di liar istana sebelah Timur! Bukankah itu sudah termasuk luar?"
Asnee semakin menekan setiap kalimat nya agar otak mereka berjalan dan cara berpikir mereka semakin cepat.
"Tadi anda mengatakan bahan seperti ini sudah banyak diperjual belikan, bukan? Tapi kenyataan nya tidak seperti itu!"
"Minyak ini sudah terkena hak sebuah perusahaan dan hanya mereka yang legal bisa memperjual belikan nya. Tidak sembarang orang! Lagipun ini bahan setengah jadi, tapi tetap saja hanya pemilik yang berhak menggenggam nya"
Hubungan Jeno kuat dengan paman nya dan lagi tidak mungkin kalau tidak ada keuntungan di antara mereka.
"Ampun Raja" Jeno bersikap layaknya korban saat ini. Panggilan tuan pun sudah menjadi Raja untuk Aaron, itu berarti sikap Jeno semakin membuat Asnee curiga.
"Perkataan Pangeran memang benar adanya, namun saya betul-betul tidak mengetahui asal muasal barang bukti itu!"
Dia ternyata mudah terprovokasi membuat jalan Asnee semakin mudah.
Langkah sepatu Asnee terdengar, mereka pun hanya diam mendengarkan, terutama Nenek dan juga ibu suri. Mali pun diam namun keringat dingin mulai bercucuran.
"Padahal perkataan saya tidak ada menyudutkan anda, tuan! Tapi kenapa kau langsung berlutut?"
Nada bicara Asnee semakin merendah namun tidak dengan tatapan nya. Smirk di sudut bibir dan gerakan kelopak mata yang siapa saja tahu jika ekspresi itu adalah ekspresi jahat.
"Pangeran, bukankah perkataan anda ini terlalu menyudutkan?" Kedua tangan Mali mengepal longgar, rahang pun perlahan menegas namun dia tahan karena kesal bercampur gugup bersatu.
Hanya dengan ucapan Asnee, Jeno terperangkap.
"Sial" Umpat Jeno kesal.
__ADS_1