
Mentari terbit sudah dua jam lamanya, cahayanya perlahan masuk dari sela tralis. Asnee terganggu karena sinar itu.
',eeeuuhh'
Menggeliat duduk, meregangkan otot nya dengan begitu rileks nya. Perlahan matanya dia selaraskan agar kembali jelas.
"Jam Delapan?" Sontak kelopak mata itu membulat sempurna, dia kembali memastikan jika jam yang ada di depan nya tidak mati.
"Jam Delapan—"
Asnee tentu kaget, dia baru kali ini bangun siang dan dalam keadaan segar di dalam istana. Asnee mengecek pakaian nha dan sama sekali tidak ada yang berubah dari terakhir kali dia memakai nya.
"Gadis itu" Gumam Asnee mengingat Daniza yang seharus nya dia bersamanya saat ini.
Tok
Tok
tok
"Asnee kau sudah bangun?"
Ketukan pintu terdengar begitupun suara Rayya memanggil setelah nya.
Kreaat
Asnee membuka pintu dengan keadaan masih berantakan, mata sembab bangun tidur pun terlihat jelas.
"Eeh?" Selidik Rayya seraya masuk dan kembali menutup pintu.
"Baru bangun? Tumben baru bangun?" Rayya pun nampak kaget dengan adik nya itu. Sembari membereskan tempat tidur, Rayya penasaran.
"Kau sudah mendapat informasi mengenai massa itu. As? Kemarin malam kakak bertemu Karl, tapi dia tidak mengatakan apapun"
"Aneh nya dia ke luar dari ruangan Paman Aat. Apa ada masalah dengan mereka, As?!"
Asnee menoleh pada Rayya yang sedang sibuk merapihkan tempat tidur.
"Aku sedang mencari informasi dari sana. Kakak akan terkejut siapa pelaku dari unjuk rasa itu, ya walaupun dari sebelumnya aku tidak percaya jika itu perbuatan dia, tapi untuk menambah kewaspadaan saja dan itu perlu untuk kita saat ini!" Tutur Asnee.
"As jangan main-main. Lagi pula Paman Aat tidak akan pernah terlibat dalam kasus ini dan lagi pula Paman Aat orang baik, dia tidak akan pernah sekalipun berniat buruk pada kita, terutama pada kau!" Rayya menekankan, dia tidak habis pikir dengan jalan pikir adiknya itu.
Sambil meneguk air mineral, Asnee mengangguk mengerti, dia pun paham dan tidak percaya.
"Manusia itu makhluk yang kompleks, dia bisa berubah kapan saja tanpa terlihat oleh sesamanya. Aku hanya ingin membuktikan kecurigaan ku itu tidak benar jika Paman Aat tidak ada dalam rencana itu!" Seru Asnee.
Dirinya tidak menduga akan berurusan dengan keluarga nya sendiri, bahkan sama sekali tidak ada dalam kepalanya. Asnee tidak mudah menyelesaikan jika dengan pihak istana, tapi dengan keluarga nya apalagi Paman kandung nya sendiri terasa sulit.
"Apa yang akan kamu lakukan jika Paman Aat benar-benar yang melakukan nya? Bukankah kurang menghargai kalau misalnya kita mempertanyakan rencana nya?"
"Lepaskan As. Jika saja dia memiliki tujuan itu, kau bisa melepaskan!" Seru Rayya. Dia benar-benar nampak tidak ingin memperpanjang masalah, tidak ingin pusing masalah tahta.
"Tapi tahta itu hak mu, kau bisa memperjuangkan nya jika mau! Jika saja bicara baik-baik sudah tidak bisa, kau boleh mengambil jalur hukum istana. Tapi kakak sarankan untuk bicara baik-baik dahulu sebelum semua nya terlambat"
Tutur Rayya. Tetap saja hati nya lembut namun tidak dengan sabarnya nya yang setipis tisu.
"Akan aku coba" Seru Asnee.
Maksud Rayya mengatakan itu, dia tidak ingin kegaduhan kembali memporak porandakan kerajaan, terlebih Paman Aat adalah salah satu tiang istana. Rayya yakin ada alasan kenapa Paman nya melakukan itu.
"Katakan pada Kakak jika membutuhkan sesuatu!" Seru Rayya menepuk pucuk kepala Asnee yang masih terduduk dengan rambut berantakan juga mata sembab nya.
"Eum" Angguk Asnee seraya menarik lembut tangan Rayya yang berada di pucuk kepala nya.
"Berhati-hatilah" Ucap Rayya. "Kakak ada mau ke perusahaan dulu, akan ada bank yang survei ke sana! Apa kemarin kau bertemu dengan pihak bank juga?" Ucap Rayya.
"Iya kak. Bank di bawah kendali kita sistemnya ada yang menyusup! Pelakunya pasti orang dalam, soalnya tidak mungkin Bank yang begitu ketat dan tidak transparan bisa begitu saja di tembus." Seru Asnee. Tentu saja Rayya kaget, permasalahan nya begitu bersamaan, tidak sedikitpun di beri celah untuk tarik nafas.
"Dan secara keseluruhan, semua yang berhubungan dengan kerajaan di danai oleh mereka! Tidak sedikit kekayaan kita pun di simpan di sana, untuk itu salah satu pihak yang begitu berpengaruh terhadap pengangkatan seorang Raja adalah Bank. Tidak heran badan itu salah satu yang diincar"
__ADS_1
Rayya menduga-duga, besar kemungkinan akan seperti itu.
"As, Kakak akan ikut memastikan!" Rayya mulai serius, sepertinya dia mendapat titik terang.
"Kak, info aku jika pihak Bank sudah ke luar dari perusahaan! Aku akan mengikuti nya. Pasti salah satu dari pihak mereka ada yang melapor pada Paman"
"Paman tidak menyimpan bukti di ruangan nya, itu berarti ada tempat lain di mana Paman bekerja!"
Rayya mengangguk paham, dia pun berdiri dan pamit pergi.
Di luar, istana pusat ramai karena kegaduhan yang semakin menjadi. "Mereka tidak bisa di redam, unjuk rasa itu semakin hari semakin banyak! Ron, perintahkan prajurit untuk berjaga-jaga di depan." Ananada pun mulai gelisah.
Untuk pengangkatan Raja kali ini banyak sekali yang menentang. Polemik yang muncul begitu tiba-tiba dan sesingkat itu menjadi ramai.
"Tidak ada alasan yang pasti dalam penangguhan Raja selanjutnya, mereka sepertinya menggertak pihak yang mendukung kita! Alasan mereka akan di pertanyakan, jika lolos berarti selama ini ada yang tengah bermain-main dengan urusan kerajaan"
Aaron berdiam, dia berpikir dengan isu yang tengah gencar di negara nya. Sebagian pihak yang menentang semakin berkobar kala salah satu lembaga yang berpengaruh terhadap keputusan kenaikan tahta kerajaan kini bergabung dengan pihak pengunjuk rasa.
"Bagaimana dengan Aat? Papa lihat sekarang dia sibuk di luar. Apa ada masalah dengan perusahaan?" Tanya Ananada.
"Sepertinya ada, tapi tidak juga. Dia tengah mengurus proyek baru, mungkin hal itu yang membuatnya sibuk!" Ucap Aaron karena itu yang dia tahu, selebihnya untuk urusan lain dia tidak tahu.
"Baiklah! Jika dia kembali suruh temui Papah." Ucap Ananada, dia pun keluar dari ruangan putra nya.
...**...
"Terimakasih atas ketersediaan nona, untuk menyelesaikan transaksi ini!"
Rayya dan pihak Bank pun berjabat tangan. "Untuk pemindahan rekening atas nama tersebut bisa anda datangi Bank secara pribadi, dengan membawa berkas-berkas yang nanti akan saya informasikan kepada nona" Lanjutnya pihak Bank itu berucap.
"Baik bu, terimakasih atas kunjungan anda" Ucap Rayya.
Pihak Bank yang datang terlihat tiga orang, masing-masing datang dengan tugas berbeda namun dalam satu pemberkasan.
Setelah mereka pergi, Rayya pun menghubungi Asnee yang sepertinya sudah berada di sekitar perusahaan.
"As, mereka sudah pergi_"
"Karl, ikuti mereka—" Tunjuk Asnee pada mobil yang baru ke luar dari perusahaan.
"Baik Pangeran" Angguk Karl.
"Kak, nanti Asnee hubungi lagi ya"
"Okey, hati hati" Ucap Rayya. Setelah itu sambungan pun terputus.
...***...
"Tuan"
Daniza dan Aat berpapasan saat hendak ke luar. Daniza bersiap dengan tas jinjing nya hendak menemui Simon dan juga Ahan.
Aat mengulas senyum, sepertinya dia pun hendak ke luar kembali, soalnya beberapa menit yang lalu baru sampai di istana tapi sekarang sudah mau ke luar lagi.
"Kau mau ke mana?" Tanya Aat seraya membuka pintu mobil.
"Saya ada keperluan sebentar di luar. Saya duluan!" Ucap Daniza seraya berlalu pergi karena supir istana tengah menunggu.
Siapapun di istana tidak ada yang akan menyangka kalau Pangeran Aat yang begitu baik menyembunyikan sesuatu yang mengerikan di belakang nya.
"Baik. Berhati-hatilah! Eum apa Asnee sudah tahu? Jika dia tidak tahu takutnya akan ada kegaduhan sebentar lagi" Ucap Aat saat Daniza telah masuk ke dalam mobil.
"Sudah," Angguk Daniza seraya berlalu pergi mendahului Aat.
Senyum Aat semakin lebar, manik mata pun tidak dapat berbohong akan kedekatan Daniza dengan Asnee.
"Jalan" Ucap Aat.
...**...
__ADS_1
"Mereka tidak memakai jalur itu untuk pergi ke Bank, Pangeran! Sepertinya ada yang tidak beres." Tutur Karl dengan memperjelas pengawasan nya.
Asnee pun ikut memperjelas penglihatan nya.
"Baik. Terus ikuti mereka jangan sampai terlepas!" Ucap Asnee.
Mobil yang di kendarai Asnee pun terhenti di sebuah hotel yang ternyata hotel itu milik dari kakek Lio, yang kini sudah sah menjadi milik nya, namun Asnee jarang berkunjung karena kesibukan nya.
Handphone Asnee pun bergetar, dia sesekali melihat nama yang tercantum. Ikon hijau pun dia geser dan nama Daniza tertera di sana.
"Tadi Paman Aat pulang, tapi tidak lama di ke luar lagi, sepertinya ada keperluan mendesak! Tumben juga nyapa, biasa nya hanya memberi salam saja"
Daniza menghubungi Asnee bukan karena apa, tapi dia hanya terkaget saja saat Aat menyapa dan bertanya pada nya. Sudah lama dari sejak dia masuk ke istana sebagai pelayan, Aat tidak banyak menyapa walau dekat dengan Asnee sekali pun.
"Sekarang apa dia sudah pergi? Kau di mana sekarang?" Tanya Asnee.
"Sepertinya sudah," Ucap Daniza.
"Aku sudah di perjalanan. Simon dan Ahan menunggu di alamat itu" Ucap Daniza dan sebelumnya sudah share lokasi pada Asnee.
"Okey okey, kalau misalnya ada apa-apa bilang! Pulang nya jangan malam-malam. Saat saya sampai di istana kau harus sudah pulang. Mengerti?!" Tutur Asnee
"Okey"
Sambungan pun terputus. Asnee masih duduk di dalam mobil menunggu kedatangan seseorang karena dia yakin pad
...**...
Irlandia,
"Kau sudah mencari tahu informasinya? Pembebasan gadis itu tidak masuk akal! Bukankah ada satu sidang lagi yang harus dia lakukan? Sidang pemutusan yang sepertinya jika jatuh tidak bisa di lakukan denda karena dia sudah melenyapkan nyawa seseorang juga." Shane pun merasa aneh.
Shabila, Sean dan juga Shane yang kini tengah berkumpul di Irlandia berbincang.
Sean pun merasa kecolongan. Seharus nya gadis itu tidak akan bebas hanya dengan jaminan biasa, masalah nya pasal yang dia dapat bukan pasal main-main, untuk itu bebasnya dia dengan begitu mudah nya sangat aneh.
"Di sana masih ada intel kita. Kan? Kerahkan mereka untuk mencari tahu!" Ucap Shane.
"Tidak perlu, kita tunggu informasi sebentar lagi! Tidak ada yang boleh terlewat dari pengawasan" Cegah Sean.
"Di Canada pun kita sudah menempatkan mata-mata" Timpal Shabila.
"Okey, kita tunggu informasi selanjutnya. Pembebasan gadis itu tidak beda jauh dengan pengumuman acara pertunangan Asnee! Kita lihat, rencana apa yang mereka buat!"
"Jika merugikan, kita tuntaskan sekarang! Lebih cepat lebih baik"
Shane dan Shabila mengangguk dengan perkataan Sean.
Pembebasan gadis itu seperti penghinaan untuk mereka.
Berbincang lumayan lama, Sean pun menerima informasi dari mata-mata yang di tempatkan.
"Ini Tuan Aat? Sedang apa dia?" Kelopak mata Shane terbuka lebar. Shabila pun merebut handphone itu dari tangan Shane.
Terdiam, tidak ada suara saat ini di antara mereka bertiga
"Dan pria ini adalah orang yang sekarang bersama dengan mereka_" Lanjut Shabila menunjuk orang di sebelah Paman Aat.
"Awasi mereka" Ucap Sean di balik Earphone nya yang sedari tadi menyala.
...**...
Mobil yang di tumpangi Aat benar saja masuk.
"Pangeran" Mata Karl pun tidak bis diam, dia membantu mengawasi. Asnee yang merasa di panggil langsung duduk tegap
"Ayo" Ucap Asnee berjalan ke dalam.
Berjalan semakin dalam, Asnee langsung ke arah di mana Aat menuju.
__ADS_1
Dari jauh pun terlihat Aat tengah berjabat tangan dengan pihak Bank dan ternyata tidak hanya Paman aat dan pihak Bank.
"Mereka orang-orang itu?!" Ucap Karl. Asnee semakin fokus pada mereka.