
Langit Swedia telah menggelap, Yaya menunggu di depan asrama Asnee, dia sepertinya hendak menemui nya namun Asnee tidak kunjung menerima telpon.
"Kau di sini?"
Robert dan Kevin terlihat muncul dari gerbang asrama dengan jaket tebal membalut tubuh mereka.
"Eh kalian?!" Seru Yaya sesekali mengepal kedua tangan nya karena dingin.
Tentu saja masih musim dingin, Kevin pun menanggalkan jaket nya dan mengenakan nya pada Yaya walau Yaya memakai jaket.
"Masuk? Apa boleh?" Sahut Yaya menengadah, menggapai mata Kevin juga Robert bergantian.
"Tenang, ada kita!" Timpal Robert sesekali memeriksa jam di tangan nya.
Mereka pun masuk, mengapit Yaya di antara dua tubuh tinggi milik Robert juga Kevin. Sepertinya Robert dan Kevin peduli dengan Yaya, karena di antara semua murid perempuan yang dekat dengan mereka, hanya Yaya yang terlihat spesial.
"Kalian mengobrol lah, kita akan kembali nanti" Ucap Kevin setelah mereka sampai di dalam kamar. Asnee hanya menoleh sekilas dan kembali fokus pada buku nya.
Yaya tentu saja canggung dan itu terlihat saat ini. Kini hanya mereka berdua yang berada di kamar, Robert juga Kevin sudah ke luar.
"Duduk lah!" Asnee membenarkan duduk nya, beranjak berdiri hendak kembali meletakan bukunya di rak.
Yaya pun duduk perlahan dengan canggung nya. Asnee kembali dengan teh hangat di bawa nya, asap nya pun masih mengepul ke udara.
"Hangatkan dulu badan mu, setelah itu bicara lah!" Gelas teh itu di sodorkan dan Yaya pun mengambil nya dengan canggung.
Jari jemari nya dia mainkan di permukaan gelas bagian luar, terlihat Yaya bingung harus mulai dari mana pembicaraan itu.
"Luke teman masa kecil aku, As! Kita baru kembali bertemu seminggu yang lalu dan kepindahan dia sangat tidak terduga, aku sama sekali tidak tahu" Tutur Yaya.
Asnee masih belum merespon, dia hanya menatap Yaya tanpa berpaling dalam duduk nya. Tentu akan membingungkan karena dari wajah pun, Luke sudah ke tebak jika dia berdarah Eropa.
"Ayah ku dan Ayah Luke berteman saat aku kecil dulu, kita bertetangga di Thailand! Setelah masuk sekolah menengah pertama, dia pindah lagi ke negara nya karena bisnis papa nya itu"
"Dan—"
__ADS_1
Yaya menghentikan ucapan nya sejenak dan memberanikan diri menatap Asnee.
"Dan kita memang sudah di pasangkan sejak kecil, tapi di antara kami tidak ada yang setuju dan memilih hanya berteman saja" Lanjut nya.
Keadaan masih canggung, jeda dari penuturan Yaya sangat lama dan Asnee masih diam tanpa membuka suara nya.
"Asnee jangan diam seperti ini! Diam nya kamu membuat hati aku sakit"
"Lalu aku tidak? Menurut mu seperti itu kah?" Seru Asnee, dia menyandarkan punggung nya dan memalingkan tatapan nya ke samping.
Yaya hanya bereaksi tidak enak karena masalah ini.
"Aku sudah menjelaskan kebenaran nya, untuk selanjutnya terserah pada mu. As! Aku tidak akan memaksa kau percaya pada ku, tapi satu yang harus kau tahu, jika aku tidak ada hubungan apapun dengan Luke"
Sifat Asnee yang tidak terlalu menanggapi urusan seperti itu tidak berlaku sekarang, sepertinya Yaya memang menarik perhatian nya di awal bertemu.
Suasana masih hening
Huffhh !!
"Baik lah! Mungkin aku yang terlalu berpikir"
"Tapi aku akan mengingatkan mu dari sekarang, Lukyanova! Dengarkan ini!"
"Aku tidak main-main dalam hubungan, tidak ada perselingkuhan, pengkhianatan dan bermain-main! Kau wanita ku mulai sekarang dan selama nya. Ingat ucapan ku"
Asnee berdiri, memasukkan kedua tangan nya ke dalam saku dan menatap dalam mata Yaya lurus ke bawah karena dia masih terduduk.
Deug !!!
Jantung Yaya terhenti namun secepat kilat kembali berdetak dan memompa darah ke seluruh tubuh dengan teratur.
Klaim Asnee terhadap Yaya seakan terdengar mutlak, tidak bisa di ganggu gugat. Yaya masih terdiam namun segera tersadar karena tatap Asnee perlahan mulai melembut.
"Jadi sekarang kita berstatus kah?" Perlahan Yaya bertanya, berdiri pun seakan tidak mampu.
__ADS_1
"Jika tidak sanggup, maka dari hari ini kita tidak perlu saling mengenal! Aku tidak sula memperkeruh keadaan yang fakta nya baik-baik saja" Ucap Asnee dengan keputusan mantap nya.
"Tentu sanggup! Asal kan bersama kamu!" Yaya mendekati Asnee dan kini berdiri tepat di hadapan nya. "Terimakasih sudah percaya padaku" Ucap Yaya mencengkram kedua pinggang dan menatap kedua bola mata tajam Asnee yang melembut.
"Eumh" Seru Asnee mengacak gemas pucuk kepala Yaya. Wajah Yaya memerah, dia menahan malu tapi juga senang karena Asnee ternyata memiliki perasaan yang sama terhadap nya.
"Terimakasih" Tiba-tiba Yaya memeluk Asnee namum Asnee tidak membalas nya dan hanya melebarkan kedua kelopak mata.
"Segeralah kembali, cuaca akan semakin dingin di malam ini!"
"Ini. Pakai jaket ini biar badan mu hangat"
Asnee dengan cekatan membantu Yaya mengenakan jaket sesaat setelah menanggalkan jaket milik Kevin.
"Eum!" Angguk Yaya senyam-senyum tidak karuan. "Sampai bertemu besok! Aku kembali dulu"
Asnee mengantar Yaya ke luar asrama agar tidak terlalu banyak orang yang mengikuti gadis dari asrama sebelah.
"Masuk saja, tidak perlu mengantar! Cepat masuk!" Yaya seolah mengusir Asnee saat ini.
"Tidak, aku tidak mau! Kau cepat pulang lah, aku akan menunggumu di sini sampai kau tidak terlihat lagi" Asnee pun tidak ingin kalah jika soalan ini.
"Udududud sudah baikam ternyata hahaha!" Robert heboh, dia kembali ke depan karena Asnee tidak ada di kamar.
"Wah wajib traktir nih!" Goda Kevin.
"Harus, itu wajib traktir! Tidak boleh tidak hahaha" Robert benar-benar puas, dia pun senang akhirnya masalah sudah lurus.
"Selamat" Kevin juga Robert ikut mengacak rambut Yaya seakan mereka benar-benar sudah dekat. Yaya hanya tertawa kecil namun kebahagiaan nya terpancar jelas.
"Awas saja kalau kau mempermainkan, Yaya! Urusan nya dengan kita. Iya kan Vin?!" Robert menunjuk wajah Asnee namun dengan tawa kecil di bibir nya
"Ciih! Seharusnya kau yang ngaca. Bert!" Tepis Asnee pada telunjuk Robert.
Yaya sudah kembali ke asrama nya dan Asnee juga yang lain nya kembali masuk ke asrama dengan segala tingkah dari Robert juga Kevin.
__ADS_1