
Keluhan yang tidak usai tak menyelesaikan masalah, aura di aula semakin gerah dan panas.
Aat pun datang dengan stelan jas rapih, seperti biasa nya.
"Sebenarnya apa tujuan mu? Membesarkan masalah yang seharusnya kau selesaikan sendiri?"
"Selingkuh? Apa ada aku menyebutkan kata selingkuh pada mu? Aku hanya bertanya ada hubungan apa kamu dengan Jeno. Hanya itu saja ! Bahkan aku tidak mengenal dari mana kau mendapatkan memar di wajah mu itu?!" Ujar Aat menggelengkan kepala nya heran.
Sikap Aat masih bisa di katakan tenang sekarang, seakan-akan tidak ada yang terjadi pada malam itu.
Mali mengepalkan tangan nya, keluarga nya pun tidak terima dengan ketenangan Aat, sangat-sangat menjengkelkan.
"Tidak ada yang memperlakukan istri baik dan setia seperti itu! Sekarang kami yang menjadi curiga kepada anda, pangeran!" Tukas sang paman dari pihak ibu Mali yang juga salah satu pejabat penting.
"Paman" Tahan Mali sandiwara nya agar mendapat simpati lebih dari keluarga.
Yang sudah tahu mah hanya menonton dulu saja, mereka benar-benar menatap jijik dan kasihan pada Mali. Sorot mata Asnee juga Rayya mencolok bagi orang yang paham, tapi untung nya di dalam aula tidak ada yang memperhatikan dan hanya fokus pada Mali.
"Kau harus mendapatkan keadilan di sini" Dengan tegas dan percaya diri, paman itu pun kembali berlutut.
"Kekerasan sangat tidak di perbolehkan di kerajaan, apalagi pengkhianatan!"
Berikan keadilan untuk Mali, Raja! Kami tidak ingin dia mati sia-sia di tangan suami yang arogan dan penuduh seperti itu!" Ucap nya pedas.
"Apa yang di lakukan pangeran Aat sudah di luar batas! Kami sangat menghargai hubungan, jadi mohon untuk tidak memberatkan salah satu pihak. Di sini kami yang akan benar-benar di rugikan!"
"Tunggu—" Pangkas Aat mendahului. "Anda seyakin itu dengan informasi yang hanya kau bisa telan dengan telinga mu, bukan dengan mulut?!"
"Kami memang bertengkar, namun tidak sampai meninggalkan luka di permukaan separah ini! Saya tidak serendah itu dan sekejam itu terhadap wanita!" Aat menjelaskan dengan detail, hati-hati dan tidak kepancing emosi.
Walaupun deru nafas dan warna di wajah telah berubah memerah, Aat berusaha untuk tetap tenang.
"Lalu siapa yang melakukan ini padaku? Semua orang sudah tahu, Aat!"
"Penjaga dan juga pelayan istana pun mendengar apa yang kau lakukan, padaku!" Ujar Mali masih dengan isak nya.
"Mendengar saja tidak cukup ! Itu hanya mendengar, bukan dengan melihat! Bisa jadi dengan hanya mendengar saja, kejadian sebenarnya bukan lah apa yang anda ceritakan. Anda pasti mengerti apa yang saya maksud!"
Asnee menimpali dan menukas pembicaraan Mali dengan kedua tangan tentu saja sekarang berada di dalam kedua saku celana nya.
"Diam kamu Asnee! Jangan mencampuri apalagi menyudutkan saya dengan otak mu yang tidak tahu apa-apa itu!" Sarkas nya, menekan kata di dalam nya, namun Asnee tidak gentar apalagi Rayya yang terlihat kian melebarkan pupil dam juga kedua sudut bibir nya.
Aat yang mendengar itu sangat geram, begitupun dengan Aaron selaku ayah nya.
"Lancang sekali!" Sentak Aat.
__ADS_1
Mali berani, dia menatap balik mata Aat. Sorot mata nya kian menyidik.
"Selama ini saya curiga, kenapa kau selalu membela Asnee dan sangat dekat dengan nya, ketimbang dengan putri mu sendiri?!"
"Jangan bilang dia adalah putra mu dengan nona Prija?" Ucap nya melantur, di buat-buat agar yang mendengar menyudutkan Aat di sana.
"Benar apa yang kamu katakan! Selama ini suami mu sangat dekat bahkan dia tidak segan membela Pangeran Asnee ketimbang dengan ayah nya sendiri! Semua nya pun tahu Raja Aaron tidak dekat dengan Putra nya. Ini sangat mencurigakan"
Bumbu pun di tambah, tidak heran mulut Mali pedas, ternyata lahir dari keluarga yang pintar berbicara dan bersilat lidah.
Lalu kenapa selama ini keluarga istana mempertahan kan nya? Ya karena dia sangat baik dalam mengenakan topeng nya.
"Tutup mulut mu, Mali!"
Bukan lagi Aat yang menggemakan suara nya, melainkan Aaron yang langsung berdiri dengan gagah.
"Lancang sekali anda menuduh kami dengan mulut mu itu!" Telunjuk Aaron mengarah pada Mali. Auman singa pun kini kalah dengan suara Aaron.
Tidak ada yang pernah mengatakan ini sebelum nya dan sekarang mereka seakan menjadi tertuduh.
"Kenapa?"
Mali benar-benar berani. "Bukan kah itu kenyataan nya. Raja?"
"Diam kau, Mali!" Aat pun naik pitam. "Dengar, tidak ada yang di perbolehkan ikut campur di sini! Kalian semua saya biarkan di sini, tapi harus diam. Jika tidak maka saya tidak segan menjatuhkan hukuman pada kalian!"
Semua orang pun tidak berani lagi bersuara. Rayya memerintahkan Karl untuk membawa nenek buyut nya ke luar.
Ananada dan Rataporn pun ikut mengantar karena khawatir akan kesehatan nenek buyut.
Lexi tidak bergeming, dia tentu masih berdiri di sudut pintu aula memperhatikan nona dan tuan kecil nya, selain dari itu dia nampak tidak peduli.
Pensri, dia biasa nya tidak ingin ikut dalam perkumpulan seperti ini, tapi untuk kali ini dia nampak antusias.
"Berikan kami bukti jika Asnee memang lah putra ku!" Seru Aat menantang, langsung pada intinya.
"Bukti tentu pasti ada! Sekarang kita bisa melakukan tes DNA pada nya! Apa kau berani, suami ku?"
Mali benar-benar sudah melantur, dia sudah tidak takut lagi dengan Aat juga Aaron sekarang. Sepertinya dia pun lupa akan hukuman yang akan di berikan pada orang yang menuduh dengan keji tanpa bukti.
"Silahkan!" Timpal Aaron.
Untuk mengamankan kesalahan nya, Mali mencoba untuk mengacau sekarang. Tapi tuduhan nya itu malah akan mempersulit nya.
"Baik! Jika nanti yang saya ucapkan benar, maka ada harga yang harus di bayar atas penghinaan ini!" Tegas Mali begitu percaya diri.
__ADS_1
"Katakan!" Ucap Aaron.
"Tidak ada lagi pengangkatan Raja terhadap Asnee! Jika dia benar adalah putra dari suami saya maka Raja di masa depan adalah, Aat!"
Mali benar-benar gila, dia seakan-akan memanah nyawa ribuan orang. Tidak ada yang tidak kaget, mereka semua seakan jantungan.
"Yaaakk apa yang kau katakan. Mali! Lancang sekali!" Sentak Aat dengan kemarahan nya.
"Kenapa? Apa permintaan ku berlebihan ? Tentu saja tidak! Penghinaan dan juga kebenaran ini memang benar ada nya, kau juga akan di untungkan. Menjadi Raja setelah kakak mu dan putra mu akan segera memanggil mu dengan sebutan ayah" Celetuk Mali, mulut nya benar-benar minta di robek.
"Gila, kau sudah sangat gila. Mali!"
Aat menatap Aaron, dia mencoba untuk menenangkan Aaron.
**
"Sudah bicara nya?"
Sudah tidak dapat lagi membiarkan, mimik wajah Asnee sudah sangat tidak bisa di ajak kompromi. Tatapan nya sudah malas
"Bibi, kau terlalu serakah!"
"Oww, bahkan sekarang aku malu sendiri mendengar panggilan ku untuk mu. Mali!" Decih Rayya menimpali dengan tubuh ke luar dari belakang Asnee.
"Jadi sekarang kami sudah tahu kenapa kau melakukan itu—"
Belum juga Asnee selesai bicara, dengan marah nya Mali menukas.
"Melakukan apa?" Selidik Mali.
"Ahsss!! Sebenarnya kami sudah malas menjelaskan, tapi sepertinya semakin di biarkan kau semakin ngelunjak"
Perkataan Asnee seakan terkontaminasi oleh gaya keluarga Mafia nya, gaya nya pun mirip dengan kakak kembar nya.
"Membahas DNA kebetulan sekali!"
Asnee menoleh pada Rayya. Rayya pun mengerti.
"Paman boleh aku minta tolong?" Suara Rayya sedikit berteriak. Lexi pun meluruskan tatapan nya.
Semua mata beralih pada keberadaan Lexi, yang ternyata mereka semua tidak sadar ada keberadaan orang dengan perawakan pria Eropa di antara mereka.
Lexi dengan tidak mempedulikan siapapun mendekati Rayya. "Ada yang bisa bantu, nona kecil?!" Tanya Lexi.
Dengan hanya kode mata, Lexi mengerti dan langsung beranjak ke luar.
__ADS_1
"Kalian mau apa?" Belum juga beberapa menit, Mali sudah menggagap. Bagaimanapun dia tahu siapa yang bersama dengan Rayya.