
Tring
Layar handphone kembali menyala, Asnee yang tengah memeriksa dokumen di depan nya pun tak bergeming, namun sekali lagi notifikasi masuk.
Asnee pun meraih handphone nya dan meletakkan ballpoint terlebih dahulu, dia menyandarkan punggungnya sesekali menghembuskan nafas pelan.
Kedua sudut bibir pun terulas begitu saja tanpa aba, Asnee pun menekan ikon video untuk mengubah panggilan.
"As apa aku mengganggumu?" Wajah Yaya memenuhi layar handphone Asnee, membuat sang pemilik nama hanya bisa merasa gemas.
Asnee menggeleng penuh mengatakan jika dirinya tidak sedang mengganggunya.
"Lalu kemana saja? Kau tidak ada kabar seharian membuat aku khawatir saja!"
"Itu lagi, Robert dan Kevin tidak menjawab pertanyaan ku dan hanya bilang jika mereka tidak tahu karena kau juga tidak mengabari mereka. Apa benar?! Takutnya mereka membohongiku saja! Dan kalau iya, lihat saja mereka !!"
Nada suara Yaya kesal, menggerutu layaknya anak kecil, intonasi nya sangat unik membuat dia memiliki khas sendiri menurut Asnee.
"Memang nya apa yang kamu tanyakan pada mereka, heum?"
"Hubungi saja aku, kalaupun tidak tersambung berarti aku memang sedang sibuk. Yaya!!" Tutur Asnee dengan lembut namun kening nya masih saja mengkerut.
Mereka berbincang sampai tiga puluh menitan dengan senyum Asnee yang terus melebar tapi sekali lagi, kerutan di kening Asnee tidak hilang seakan masih ada beban di sana.
Ketukan pintu terdengar dan Asnee pun saat itu langsung berpamitan pada Yaya, kemudian sambungan telpon pun terputus.
Aaron masuk dan langsung duduk di sofa.
"Bulan depan ada undangan dari kerajaan tetangga dan Papa akan mengirim mu ke sana sebagai perwakilan"
Asnee menoleh, cahaya dari lampu baca menerangi wajah Asnee sehingga terlihat berwarna kuning langsat.
"Baik pa!" Angguk Asnee tanpa mengelak apalagi berkomentar. Tentu saja Aaron hanya melebarkan kedua kelopak mata nya, bereaksi aneh terhadap anak nya.
"Kau tidak bertanya kenapa harus kamu yang berangkat ke sana?" Aaron bertanya heran. Asnee kembali menoleh pada ayah nya dan perlahan perangai Asnee berubah seketika di tambah kedua sudut bibir melebar.
"Kau ini" Ujar Aaron menggerakkan tangan nya di udara seperti tengah menembak seseorang.
"Istirahatlah! Ini sudah larut,pa" Ucap Asnee.
"Siap, tuan!" Seru Aaron kembali berdiri, mendekati Asnee yang masih berada di meja belajar nya, kemudian menepuk berulang pundak Asnee.
Kamar Asnee pun kembali hening, pintu tertutup pelan sehingga suara semilir angin kembali terdengar di telinga.
__ADS_1
...**...
Dua minggu berlalu, Asnee akhirnya menemukan titik terang akan masalah penjualan furniture juga anggur setelah dirinya mempelajari semua buku keuangan juga beberapa kontrak yang di lakukan oleh pihak nya.
Karl berdiri di depan Asnee yang tengah sibuk dengan tabel-tabel memusingkan di atas kertas.
"Ruang bawah tanah yang terakhir kali di cek ternyata ada yang janggal"
"Arsitek yang membangun gallery itu mengatakan jika mereka tidak membuat ruang bawah tanah dalam desain nya"
"Dia sudah tua, untuk itu kemungkinan kita yang harus menemuinya sendiri! Untuk setiap desain, mereka tahu siapa yang membuat nya" Laporan dari Karl membuat nya semakin yakin jika ada orang dalam istana yang bergerak tidak sesuai aturan.
Asnee termangu sesaat, dia teringat akan tugas Karl yang memerintahkan untuk mengecek setiap perhiasan yang di miliki oleh para wanita di Istana.
Sebenarnya untuk Asnee sendiri dia bukan menyalahkan atau bahkan mencurigai orang-orang di dalam istana, atau bahkan tidak percaya pada orang istana namun tetap harus waspada.
Menurut ajaran keluarga mafia nya sangat dia ingat jika harus mencurigai terlebih dahulu orang terdekat, walaupun nantinya tidak terbukti bersalah tapi tetap saja. Untuk itu, penyelidikan saat ini dilakukan secara pelan dan senyap.
"Karl bagaimana dengan perhiasan itu, apa kau sudah melakukan nya?" Tanya Asnee semakin membuka lebar mata nya.
"Dan orang yang di tahan kakak ku, apa dia sudah buka mulut?"
Karl lebih cepat membalas. "Sudah tuan" Ungkap nya.
"Bagus sekali! Ayo!"
"Pangeran" Sapa Mali dan tentu saja, di mana ada Mali pasti di situ ada Pim juga Jeno. Jeno pun menyapa Asnee dengan sopan.
Sunggingan tipis dari salah satu sudut bibir Asnee tertangkap kilas oleh mata Jeno. Asnee hanya membalas sapaan dari mereka dan melanjutkan langkah nya.
"Kita akan melakukan nya malam ini! Semakin cepat akan lebih baik. Sebelum dia mengetahui semua nya" Ucap Jeno pelan tapi Mali mendengar dengan jelas.
...**...
Rumah putih dengan bentuk tidak biasa nya menambah kesan klasik namun juga modern, sentuhan budaya negeri Asia dan Eropa menyatu pada desain rumah itu.
Karl berjalan di belakang Asnee setelah mereka sampai. satpam yang bekerja di sana pun menutup gerbang setelah mereka masuk.
"Selamat siang, tuan" Sapa Karl pada mengulurkan tangan sopan pada lelaki paruh baya yang sudah beruban. Rambut nya di ikat sempurna dengan sedikit janggut yang juga sudah beruban.
"Wah wah saya tidak mengira akan kedatangan orang-orang dari istana!"
"Eum kalau begitu masuklah dahulu ! Ada masakan istri ku yang sangat enak sekali. Kalian beruntung datang tepat waktu"
__ADS_1
Ujar nya dengan senyum bahagia, karena entah kebajikan apa yang senantiasa mereka lakukan sampai-sampai keluarga kerajaan mengunjungi rumah nya.
Asnee melirik Karl sekilas akan apa yang di ucapkan oleh Arsitek itu. Bukankah baru dia yang berkunjung ? Kenapa orang-orang istana ? Bukankah jika begitu tidak hanya dirinya yang datang ?.
Asnee tak menukas ataupun menahan nya, dia dengan sopan masuk dan menyapa istri dari pak arsitek itu.
"Mari" Ajak nya kembali. Asnee melempar senyum nya sopan.
"Maaf paman jika saya tidak sopan, tapi ada hal penting yang ingin saya katakan dan ingin saya ketahui! Mungkin saya tunggu saja di sini dan sebelum itu maaf, maaf sudah mengganggu makan siang anda"
Tutur Asnee menolak ajakan makan siang pak arsitek itu secara halus. Karl berdiri jauh di belakang tuan nya dan terlihat pula istri dari arsitek itu pun menyiapkan makanan kecil untuk di hidangkan dengan peka.
"Sayang ini ambillah ke ruang pribadi mu! Nanti kita akan makan setelah kalian berbincang" Ucap wanita baya itu dengan senyum keriput di wajah nya, namun tetap terlihat enak di pandang.
...**...
Dari taman luar, Asnee terlihat tengah berbincang di dalam ruangan dengan dinding terbuat dari kaca sehingga siapapun yang berada di luar akan melihat ke atas, namun hanya suara saja yang tidak terdengar.
"Paman, tadi kau mengatakan orang-orang istana berdatangan ke rumah mu. Bolehkah saya tahu siapa mereka? Dan apa yang mereka lakukan di sini ?"
Gerakan bibir Asnee ternyata lebih cepat, sehingga pak Arsitek itu hanya mengulas senyum sesekali meneguk sedikit demi sedikit air putih nya yang sudah tersedia.
Kegugupan sedikit terpancar dari pak Arsitek itu, sepertinya dia tadi keceplosan saking bahagia nya. Dia tengah berpikir bagaimana untuk menjawab nya.
"Aku sendiri yang akan melindungi keluarga mu dan aset-aset yang kau miliki !"
"Kau cukup mengatakan sebenarnya bagaimana ruang bawah tanah terbangun tanpa sepengetahuan ibu suri dan tentu nya siapa yang merancang itu?"
Kebiasaan akan tetap menjadi kebiasaan, Asnee sudah sangat terlihat bukan tipe orang yang suka basa-basi. Orang di depan nya merasa tertekan, sangat terlihat merasa jika dia tidak memberi informasi maka kepala nya yang akan hilang, karena dia paham bagaimana hukum kerjaan atas penghianat, jika memberikan semua informasi apakan benar nyawa nya akan selamat?
Pikiran nya buntu. "Baiklah!" Ucap pak arsitek itu.
"Setelah saya melihat-lihat rancangan ruang bawah tanah itu pastinya yang membuat nya sudah sangat ahli sekali ! Rancangan yang di antarkan oleh tuan Karl adalah milik putra saya yang kini sudah bekerja di perusahaan X di ibu kota"
"Hampir sama dengan milik rekan putra saya, tapi gambar itu terlalu kentara dan jelas untuk itu saya menghubungi pitra saya dan ternyata benar dia yang merancang nya tapi tidak ikut mengatur dan mengawasi pembuatan ruang bawah tanah itu—"
Ucapan pak Arsitek itu terjeda saat selembar photo di perlihatkan oleh Asnee.
"Benar, dia orang nya ! Diapun berkunjung beberapa hari yang lalu" Reflek Pak Arsitek itu menunjuk photo di atas meja.
Asnee bereaksi santai, salah satu alis nya terangkat seraya kedua tangan melipat di depan perut.
"Baiklah maaf mengganggu waktu anda, paman!" Asnee tiba-tiba berdiri mengagetkan pak arsitek yang masih fokus pada photo di depan nya.
__ADS_1
"Terimakasih, paman" Lanjut Asnee menundukkan pandangan nya. "Dan keamanan mu akan di perketat sekarang sampai pekerjaan selesai" Ucap Asnee.
Dalam photo itu terpampang jelas wajah Mali dan Jeno. Tapi yang tidak dia mengerti kenapa dengan bangunan itu ? Apakah desain dari tim putra nya bermasalah ? Pak Arsitek itu tidak bisa lagi berpikir dengan tenang.