
...**...
Di rumah sakit keadaan masih ramai, dua pasien yang mereka rawat hilang begitu saja tanpa jejak pengintaian.
"Ada apa dok?" Tanya Ajudan Aaron yang kebetulan berada di sekitar lobi rumah sakit. Mereka pun bertanya keberadaan dua pasien pada nya, dari jauh pun ada Aaron melihat keadaan yang tengah gempar.
Di sekolah pun gempar karena kedatangan orang-orang berjas hitam, satu wanita di kelilingi banyak pria masuk ke arah ruangan direktur.
"Bukan nya itu orang-orang yang dulu menjemput Asnee?" Glory berdiri dan menilik kedatangan mereka. Kelly dan juga Jessy pun ikut melihat.
"Nanti kita jenguk Asnee, yuk!" Seru Jessy.
"Ok setuju" Sahut kedua teman nya.
Di ruangan petinggi sekolah, Sean, Shane dan juga Shabila duduk berdampingan, nampak Luke pun duduk di hadapan mereka dengan gugup.
"Kau pasti tahu kenapa tiba-tiba di panggil ke sini, bukan?!" Shabila malah menjadi yang pertama bicara di sana, seharusnya pihak sekolah yang bertanya.
"Maaf?" Luke nampak tidak mengerti, entah tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti.
Shane berdiri, dia meletakan beberapa berkas dan dokumen di atas meja yang bertuliskan direktur. "Silahkan! Kami ke sini bukan dengan menyudutkan dan mempertanyakan kualitas sekolah, namun beberapa murid anda telah melakukan hal seolah mereka adalah seorang pembunuh handal"
"Pembunuhan berencana dan pelecehan seksual! Apakah anda tidak tahu ada hal-hal seperti itu terjadi di sekolah elit ini?" Sean ikut berdiri, kedua tangan di masukkan ke dalam saku dan berjalan mendekati Luke yang masih terduduk dengan menyatukan kedua tangan nya di antara dua paha.
"Maksud anda salah satu murid kami melakukan hal yang sangat di larang di sini? Itu sangat tidak mungkin! Mereka selalu di jaga ketat oleh keamanan sekolah dan akan melewati pemeriksaan rutin setiap satu minggu sekali"
"Tidak ada yang mendapati siswa kami melakukan itu" Lanjut sang direktur, beberapa kesiswaan yang bertanggung jawab pun sudah berdiri di salah satu sudut ruangan.
"Sekarang begini, kenapa kami langsung menemui anda? Kenapa tidak ke penanggung jawab saja? Mungkin sampai di sana anda bisa mengerti, pak!" Ujar Shane. Direktur sekolah itu pun reflek menatap Shane, Sean dan Shabila bergantian.
"Maaf menyela, tapi maksud anda apa? Apa sangkut paut nya dengan saya?" Bibir Luke sedikit bergetar karena dia takut rahasia nya terbuka.
"Karena kamu salah satunya, Luke!" Tekan Shabila tidak bisa sabar. "Shane berikan semua bukti yang kita punya, jangan biarkan satu pun dari mereka senang di atas penderitaan Asnee! Enak saja hidup tenang!"
"Dengar, kau terbukti sebagai salah satu orang yang berencana membunuh adik saya! Kau tau Asnee? Ya, dia adik kami yang tengah terbaring lemah di rumah sakit!"
"Oohooo wajah mu terkejut? Tch tch tch jangan sok alim. Nak!" Darah Shabila bergejolak, tangan nya mencengkram kedua pipi Luke. Sorot mata ketakutan langsung muncul, deru nafas Luke pun seketika tak normal.
"Sebentar sebentar! Kita bicarakan baik-baik, masalah nya belum jelas dan kami tidak bisa mengambil keputusan yang akan merugikan satu pihak" Tahan sang direktur karena Luke terlihat tersudutkan.
Usia Luke masih belum matang, masih dalam pengawasan dan perlindungan anak, untuk itu harus hati-hati, di tambah dia salah satu murid dari keturunan bangsawan, membuat pihak sekolah sedikit takut.
__ADS_1
"Kenapa? Kami bisa saja melakukan hal lebih dari ini"
"Oh ya, semua bukti ada di sana termasuk rencana pembunuhan yang mereka lakukan terhadap Asnee dan juga kedua teman nya! Jika anda belum puas maka pihak kepolisian akan melakukan pemeriksaan dan penggeledahan ke sekolah"
"Dengan kata lain, anda dan juga pihak yang lain akan di cap menjadi pihak pendukung dalam kasus-kasus yang ada selama ini termasuk rencana pembunuhan terhadap siswa bernama Asnee Yodrak, putra tunggal dari Raja Aaron Yodrak!"
Penjelasan dari Sean membungkam seisi ruangan, banyak pihak yang langsung membisu seketika, terutama Luke yang baru tahu jika Asnee yang dia pikir miskin dan sekolah mengandalkan beasiswa ternyata putra dari seorang raja.
"Dan satu lagi, jika anda masih melindungi mereka itu berarti anda membiarkan reputasi sekolah menjadi buruk! Jangan bertanya lagi kenapa dan jangan bertanya lagi apa alasan nya!"
"Pilihan nya hanya dua. Mempertahankan siswa seperti mereka dan kasus yang ada akan terus berjalan dan tidak akan habis nya atau memberi mereka pelajaran dan tidak akan ada lagi kasus yang terulang seperti ini?" Bagian Shane, dia seakan tengah bernegosiasi sekarang.
Semua pihak sekolah kalap, di antara mereka tidak ada yang mengetahui wajah-wajah mereka terkecuali satu orang selain direktur.
Bibir Luke terkunci, dia tidak tahu harus mengatakan apa, keberadaan orang-orang di ruangan saat ini sangat menekan membuat bibir nya terkunci rapat.
"Luke, katakan siapa mereka?" Direktur pun langsung bertanya dengan jantung yang sedari tadi berdetak kencang. Dia menutup salah satu berkas yang membuat nya langsung naik pitam. Ternyata di sekolah nya ada pengedar narkoba dan nikotin serta obat-obatan yang sangat di larang.
Direktur itu sesekali menatap wajah si kembar dan beberapa penanggung jawab sekolah.
"Tidak perlu, kami sudah memiliki data mereka"
"Pak tolong panggil mereka ke sini dan kita bisa kabari orang tua mereka termasuk orang tua anak ini!"
Pak Ferdinan, yang juga menjabat setara dengan kepala sekolah langsung berdiri di belakang. "Baik, saya yang akan membawa mereka"
Pak Ferdinan pun langsung pergi dari ruangan itu. Sebagian dari mereka pun pergi dari ruangan, tersisa si kembar, Luke, pak direktur dan kesiswaan.
"Rileks boy" Tepuk Shane namun penuh dengan intimidasi, santai nya Sean dan sarkas nya Shabila membuat pak direktur memijit kening. Mungkin dalam hatinya menggerutu ,mengumpat, dan bertanya-tanya kenapa bisa ada orang yang melabrak dan menyudutkan seseorang dengan begitu terang-terangan seperti ini.
Luke duduk tapi dia seperti patung yang masih dalam posisi sama dari awal, dia seperti tak bernyawa di bawah tekanan orang-orang mirip dan tidak dia kenali.
"Siapa Asnee sebenar nya?" Gumam Luke dalam hati nya.
Tindakan yang diambil keluarga mafia itu tidak terlalu kasar, mereka seakan menyeimbangkan, memilih hukuman apa yang pantas untuk mereka, jika melenyapkan nyawa sepertinya tidak mungkin untuk dilakukan, tapi untuk menghancurkan masa depan orang-orang seperti Luke dan Yaya adalah pilihan terbaik.
Tangan mereka gatal apalagi darah yang sudah memanas, namun mereka kembali memikirkan dampak nya.
"Pak, mereka ada di sini" Lapor pak Ferdinan.
"Kumpulkan di ruangan kesiswaan dan panggil orang tua mereka! Besok kita adakan pertemuan" Titah pak direktur langsung di catat, bagian kesiswaan langsung melakukan perintah dan membuat undangan untuk siswa yang bersangkutan.
__ADS_1
"Kami akan menunggu dan kami harap mereka semua hadir dalam pertemuan besok dan untuk kau, jangan berpikir bisa melarikan diri! Kemanapun kau melarikan diri di sana akan ada kami yang akan menyeret mu" Shabila kembali memperingati.
"Dan untuk anda, pak! Silahkan untuk memeriksa berkas yang kami berikan dengan seksama, mungkin akan membantu masalah yang terjadi saat ini"
"Kami tidak memaksa, tapi kami berhak mendapat keadilan di sini! Untuk itu kami permisi undur diri dan besok akan kami tunggu undangan pertemuan nya!" Tutur Shabila.
"Tunggu saja, nak!" Bisik Shane menepuk pundak Luke dan undur diri, diikuti Sean dan Shabila.
Pintu ruangan pun tertutup dan seketika nafas yang di buang serempak terdengar.
"Huffhh"
"Kau keluar" Usir pak Direktur pada Luke, sia sudah sangat kesal, kepalanya pening seakan-akan mau pecah.
"Pak Ferdinan, siapa sebenarnya mereka?" Pak Direktur oun duduk di kursi kerja nya. Pak Ferdinan dan satu kesiswaan yang masih berada di sana berdiri di seberang meja.
"Mafia"
Satu kata dari mulut pak Ferdinan menghantam dua kepala yang sama sekali tidak mengenal mereka.
"Ma—mak—sud nya apa?" Sahut pak Direktur tergagap.
"Asnee memang putra tunggal dari Raja di negara Thailand, tapi mungkin itu sudah menjadi hal biasa di lingkungan kami tapi yang tidak biasa adalah keluarga angkat nya! Mereka kumpulan mafia dari negara Irlandia, Thailand, Jerman, China dan beberapa daratan besar di dunia,"
"Apakah anda pernah mendengar mafia Red Phoenix yang di pimpin seorang Lady?"
Pak Direktur pun berdiri dan mengangguk tahu. Kepala kesiswaan pun ikut mengangguk karena keberadaan dan juga nama itu sangat tabu, seakan akan percaya tidak percaya jika organisasi terbesar itu memang ada.
"Lady yang kita kenal adalah nenek angkat dari murid sekolah kita, tuan kecil Asnee yang biasa di panggil di keluarga mafia itu"
Seperti genderang mau perang, jantung mereka seakan-akan mau copot setelah mendengar informasi dari mulut pak Ferdinan.
"Dan tuan kecil Asnee adalah kesayangan semua orang di sana termasuk keluarga dari SMITH, pengusaha elit di negara Jerman seperti hari lalu yang menjadi pemateri di sekolah! Dua wanita hebat itu adalah kakak dari tuan kecil Asnee"
"Anda juga pasti tidak asing dengan nama ARESHA, tapi jika yang tidak mengenal nama itu pasti panggilan Dokter Nara dan Dokter Leyka akan mudah di ingat. Dokter terkenal dan di usut sebagai dokter muda dan ahli dalam bidang bedah itu adalah orang tua angkat dari tuan kecil Asnee"
Berita menegangkan yang tidak ada habis nya dari mulut pak Ferdinan, semakin membuat lutut mereka lemas tak berdaya.
"Ternyata murid yang mandiri dan cerdas itu tidak hanya putra dari Raja Yodrak? Tapi juga kesayangan dari organisasi yang sangat ditakuti di dunia bawah?" Pak Direktur tidak bisa lagi berkata apa-apa akan informasi ini.
"Sekarang bagaimana nasib kita, pak?" Ucap nya lemas lunglai.
__ADS_1
"Walaupun mereka dari organisasi mafia, tapi mereka sangat adil dan bisa menempatkan sesuatu pada tempat nya! Seharusnya jika instansi kita tidak berada dalam posisi yang salah maka kita akan selamat, pak!"
Perbincangan masih belum usai, pak Ferdinan masih bercerita, karena dia memang sudah menjadi bagian dari organisasi seperti tuan Corner yang berada di kedutaan, untuk itu dia mengenal seluk beluk itu,walau dari cerita orang-orang terdahulu yang lebih awal gabung.